Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

ANGIN MASA SILAM

Malam merambat merangkul sunyi  aku lebur dalam hangatnya bayang rembulan,   Menghanyutkan angan yang lapang   pada angin masa silam.   Ada tangis tersekat di sela tulang,   mendesak di antara rusuk yang telah tumbuh,   bersama carut-marut dunia yang terus berderama.   Semua terasa getir syair-syairku mengalir, menguras hati   yang tak lagi kuasa menahan   mengurai janji-janji yang mengeras.   Kini tawa kecil itu bagai denda,   tak pernah sanggup kulunaskan.   Ia memenuhi lorong-lorong hampa,   sementara gelap malam menjadi saksi bisu.   Biarkan kenangan larut dalam angin,   agar setiap nafasku masih bisa merasakan.  Langit yang tak pernah sudi menggenggam,   kini tersedu oleh kelam yang lembut.   Bintang-bintang tak lagi memaksakan terang   Mereka diam, mendengar rintih yang tersumbat.   Seperti aku...

JIWA YANG TERUS TUMBUH...eps.3

Gambar
--- Hari itu sekolah sedikit lebih cerah dari biasanya. Ia tak menyangka pagi tadi, ibunya menyelipkan sebuah amplop cokelat ke dalam tasnya. “Kamu ambil saja daftar study tour itu, Nak,” ucap ibunya sambil memalingkan wajah, seolah tak ingin terlihat goyah. Ia terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Amplop itu berisi cukup uang untuk biaya pendaftaran yang selama ini hanya jadi mimpi baginya. Tapi pertanyaannya cuma satu: dari mana? Sepulang sekolah, ia tak langsung masuk ke rumah. Dari sela-sela dinding bambu, ia melihat ayahnya duduk di beranda, menggenggam sebungkus plastik kecil berisi kain batik dan sepasang gelang perak yang sudah dibungkus rapi. Plastik itu kosong. Ia mengenali kain itu. Pernah sekali, di malam sunyi, ibunya memeluk kain itu sambil bercerita, “Dulu kami menikah hanya dengan itu, Nak. Tak ada emas, tak ada pesta. Hanya doa dan tekad.” Tubuhnya tiba-tiba terasa ringan. Tapi dadanya sesak. Ia masuk ke rumah perlahan, lalu duduk tanpa suar...

TERMENUNG DI AWAL KEHIDUPAN

Dia duduk di tepi pagi,   kabut menggulung tubuhnya   seperti selimut yang lupa dirajut oleh waktu.   Angin berbisik dari selasela telinga   tentang nama-nama yang menguap   sebelum sempat melekat.   Di tangannya, ada dingin yang tak mau cair:   remang-remang kenangan,   jejak kaki yang terhapus embun.   Matanya memungut bayangan  dari pucuk pepohonan,   lalu menaruhnya kembali   ke dalam kantong sunyi.   Dunia di luar sana terlalu terang,   sedangkan dia  masih menyimpan seluruh hujan   di balik kelopak mata yang seakan tak mau pergi.

KISAH YANG TAKTERBACA

Dirimu seperti kisah yang tak pernah selesai,   terbuka di halaman pertama, tapi  terkunci dalam huruf-huruf yang hanya bisa kusentuh   dalam gelap.   Bibir itu, lembut bagai puisi yang terpotong,   menyimpan nama-nama yang gagal diucapkan.   Alismu adalah tanda tanya,   menggantung di udara tanpa jawaban.   Tapi mata itu…   Mata itu adalah laut diam yang menenggelamkanku,   mengirimkan badai lewat kesenyapan.   Aku terjaga dalam pusarannya:   terlalu dalam untuk berenang,   terlalu sunyi untuk berteriak.  

JIWA YANG TERUS TUMBUH...eps.2

Gambar
h Malam itu hujan turun perlahan. Atap seng rumah mereka mengetuk lembut seperti irama doa. Di sudut ruangan yang hanya diterangi lampu minyak, ia duduk termenung. Tubuhnya masih terasa pegal setelah seharian di sawah, tapi bukan itu yang membuatnya diam begitu lama. Ia baru saja pulang dari sekolah, dan hari itu bukan hari yang mudah. Teman-teman sekelasnya sedang sibuk membahas rencana study tour ke kota. Semua terlihat antusias, saling bertukar cerita tentang baju apa yang akan dipakai, dan bekal apa yang akan dibawa. Ia hanya tersenyum kecil dari jauh. Tak banyak bicara. Ia tahu, uang untuk ikut study tour itu setara dengan satu bulan beras di rumah. Bahkan mungkin lebih. Jadi, ia hanya diam. Lagi-lagi memilih menelan rasa ingin, sendirian. Salah satu temannya sempat bertanya, "Kamu ikut, kan?" Ia menjawab singkat, “Nggak bisa.” Tak ada yang tahu bahwa sepulang sekolah, di jalan setapak menuju rumah, air matanya jatuh satu per satu. Tak ada yang meliha...

GUGUR DALAM DIAM

kelopak bunga itu jatuh dari senja yang patah menimpa daun cempaka   seperti rindu yang tak sempat   terucap Angin berbisik   tentang halaman rumah   yang kini jadi puing rindu Berbisik pada kenangan   yang gagal jadi sejarah   Dan waktu... Diam seribu bahasa mengunyah sunyi   sampai tak tersisa   kecuali bayangmu   di ranting senja yang padam

SENDU

Matahari Senja Bagai fatamorgana di tengah sepinya gurun sahara, menari dalam cahaya lembut," menggoda setiap langkah yang sudah letih. Dan di sana, di ujung langit yang pudar, cerita-cerita yang tak pernah terucap, berbisik dalam bait yang sendu  tersimpan di balik awan, seperti kenangan yang tak mau pergi."

JIWA YANG TERUS TUMBUH...eps.1

Gambar
--- Di sebuah desa yang sederhana, hiduplah seorang remaja yang berbeda dari teman-teman sebayanya. Ia bukan anak yang tumbuh dengan kemewahan, bukan pula yang punya waktu untuk bersenang-senang seperti remaja lain nya. Namun, satu hal yang tak pernah hilang darinya: semangat dan harapan bangkit bersama kasih sayang bunda nya. --- Ayah dan ibunya menyayanginya dengan sepenuh hati, meski mereka tak bisa memberikan segalanya. Mereka bukan keluarga kaya, tapi cinta di rumah itu tak pernah kurang. Setiap pagi, remaja ini bangun lebih awal dari teman-temannya. Bukan untuk bermain, tapi untuk membantu ibunya di sawah. Tangannya yang kecil terbiasa menggenggam cangkul dan mencabuti rumput, bukan memegang gadget atau menikmati kopi di kafe seperti anak kota nan jauh di sana. Hidupnya sederhana, tapi cita-citanya besar. Dalam diamnya, ia sering menatap langit sambil berdoa, berharap suatu hari nanti bisa mengubah nasib keluarganya. Ia ingin melihat senyum bangga ...

BOCAH BOCAH KESEPIAN

Bocah-bocah kesepian   menangis di sudut kota,   air mata mereka mengalir   ke selokan-selokan yang tak peduli.   Bocah-bocah kesepian   berjalan di jalanan sunyi,   kaki kecil mereka menginjak   reruntuhan mimpi yang hancur.   Bocah-bocah kesepian   tidur di bawah jembatan,   dihantui dingin malam   dan suara-suara yang tak pernah menjawab.   Bocah-bocah kesepian   memandang langit kelam,   bertanya pada bintang-bintang bisu,   "Apakah ada yang masih ingat kami?"   Bocah-bocah kesepian   menjadi bayangan yang hilang,   tersapu angin, lenyap ditelan waktu,   tanpa jejak, tanpa suara.   Bocah-bocah kesepian   adalah kita yang dulu,   tersesat dalam dunia   yang tak pernah sungguh-sungguh memeluk.  

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

Gambar
--- Pagi itu, udara terasa segar setelah hujan semalam. Embun masih menempel di ujung daun, dan suara ayam peliharaan mulai ramai di belakang rumah. Gadis itu baru saja selesai menyapu halaman saat ibunya memanggil dari dalam rumah. “Ndok… ada tamu.” Ia melangkah ke ruang tamu dengan langkah santai. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Di sana, lelaki itu duduk rapi, mengenakan kemeja putih yang jarang dipakainya, celana hitam, dan wajah yang sedikit pucat mungkin karena gugup. Di sampingnya, ada dua orang: ibunya, dan seorang paman dari kota. Gadis itu tercekat. Pandangan mereka bertemu. Lelaki itu tidak senyum seperti biasa wajahnya serius, tapi matanya tetap hangat. “Aku datang… bukan cuma untuk ngobrol atau ngopi,” katanya pelan. “Aku datang untuk minta izin.” Gadis itu menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu hidup kita nggak mewah, nggak sempurna. Tapi aku mau kita jalanin bareng. Aku mau bangun pagi dan ngelihat kamu lagi masak air. Aku m...

getir yang berkarat

Gema rintihan hatiku telah lama pupus diterjang badai kehidupan yang tandus dan kejam Kini sirna  digulung ombak penyesalan yang tak memberi ampun menyeruak jadi benalu dalam gelap yang diam-diam menelan Meski hujan membasahi bumi, tak setetes pun angin rela melihat bunga tumbuh dan bersemi Neraka kepedihan, cakrawala penderitaan terbuka lebar, menelan getir yang berkarat di dada yang luka Langit bisu menatap langkah-langkah yang terseret pada jalan berlumpur berhiaskan duri-duri kesendirian Tak ada tangan yang menggenggam hanya bayang masa lalu menari di balik kabut menyiksa dalam diam yang tak kunjung reda Namun dalam bayang kelam, ada satu cahaya kecil  redup tapi setia, yang menolak padam meski dihempas ribuan malam Cahaya itu, barangkali adalah suara hatiku sendiri, yang lelah menangis namun belum mau mati

matahari kecilku

Perasaan ini terlalu lembut untuk kusentuh Bagaikan malam menggulung gelap, Dinginnya hati tanpa selimut yang utuh Membuatku tersapu dalam kelam. Matahari kecilku, kaulah pelita jiwaku Yang diam tanpa kata, terbentuk tanpa rupa, Namun jejakmu membekas jauh di pelupuk dada  Seperti embun yang tak pernah jatuh tapi selalu ada. Dan jika malam terlalu panjang tuk kujalani, Biarlah bayangmu jadi payung langitku, aku tak perlu pelukan dunia  cukup hangatmu, walaupun takpernah nyata  namun selalu terasa.

Rintihan jiwa pendosa

Oh jiwa, kau sedang gundah gulana di pagi yang indah ini. Apa yang membuat tawamu tertahan bagai kelopak bunga yang enggan mekar oleh cahaya pagi Mungkinkah… di sana ada rindu yang kau sembunyikan, yang tak kau izinkan menangis Biarlah begitu, karena waktu akan tetap berjalan, mengiringi lampu-lampu jalan yang perlahan padam. Tenanglah… kau akan kubawa pulang hanya lewat jalan-jalan sunyi ,dalam bait rintihan jiwa pendosa yang memohon ampunan jagat penguasa semesta.

Harapan yang tak pernah pupus...eps.10

Gambar
--- Hari-hari setelah itu berjalan tanpa drama. Tak ada janji-janji manis, tak ada genggaman tangan yang buru-buru. Tapi juga tak ada keraguan yang menggelayut. Mereka kembali duduk di pematang. Kadang bicara, kadang diam saja. Tapi diam itu bukan lagi sepi—diam itu jadi ruang untuk merasa. Untuk membiarkan hati saling membaca tanpa harus selalu bicara. Suatu malam, mereka duduk di bawah langit penuh bintang. Angin desa yang tenang membelai lembut, dan suara air irigasi terdengar mengalir dari kejauhan. “Aku pernah nulis surat buat kamu,” gadis itu berkata tiba-tiba. Lelaki itu menoleh. “Kapan?” “Dulu. Waktu kamu mulai jaga jarak... Tapi surat itu nggak pernah aku kirim. Aku takut kamu marah. Atau sedih. Atau malah datang dan bikin aku ragu lagi.” Ia tertawa kecil. “Tapi lucunya, waktu aku lihat kamu duduk di pemakaman waktu ayahku meninggal… aku tahu, kamu nggak pernah benar-benar pergi.” Lelaki itu hanya menatap bintang, matanya tenang. Tapi dadanya hangat. “S...

pupus

Langkah-langkahku tertatih, Menyusuri lembah keabadian luka, Dalam gulita yang membungkus malam tanpa janji, Embun pun menyerah, Diseret habis oleh teriakan mentari tanpa belas kasih. Kelopak bunga seruni, Luruh kering tanpa sempat bermimpi, Menghantarkan aroma kematian Di sela-sela desir angin yang patah. Cakrawala hatiku, Menyusut menjadi retakan kecil, Menganga bisu dalam debu-debu busuk kehidupan. Luka menganga, membusuk dalam diam, Tetesan darahnya bukan lagi doa, Melainkan sumpah bisu Yang karam bersama cahaya yang menghilang.

Bunga yang malang

Bunga mawar di tengah semak belukar, Tumbuh sendiri dalam diam, Bukan di taman istana, Tapi di tanah retak yang tak dijamah mata. Cahayamu menembus jauh, Menyusup ke relung rasa yang nyaris beku, Menggugah jiwa yang lama tertidur, Dengan keharuman yang tak pernah kau pamerkan. Mawar liar, Kau tak bergandeng dengan anggrek dari kaca, Tak berdansa dalam festival cahaya, Namun sinarmu  Melampaui kemilau palsu dari bintang-bintang buatan. Kau hidup bukan untuk dilihat, Tapi untuk mengingatkan, Bahwa keindahan sejati tak perlu panggung, Cukup dengan keberanian untuk tumbuh… meski di tanah penuh duri. Dalam pelukan semak belukar, Kau merangkul kesepian, Menjadi saksi bahwa luka pun bisa berakar, dan rasa sakit bisa melahirkan cahaya. Mawar liar, Kau bukan simbol kelemahan, Tapi bukti bahwa hal paling indah, Sering lahir dari tempat yang paling gelap.

bayang kesunyian

Malam yang menyimpan pesona sunyi, Seperti lukisan tanpa warna, hanya bisa dilihat oleh hati yang luka. Bayangmu berjalan di ujung cahaya, hilang... perlahan seperti kabut pagi yang dicuri mentari. Hati ini menadah gemetar, mencari sisa jejakmu di antara bisik angin, namun yang tertinggal hanya dingin, dan kenangan yang tak pernah selesai dihapus waktu.

Harapan yang tak pernah pupus...eps.9

Gambar
--- Sejak malam itu, lelaki itu mulai menjaga jarak. Bukan karena menyerah, tapi karena tak ingin jadi penonton dalam cerita yang mungkin bukan untuknya. Ia tetap menyapa gadis itu saat berpapasan, tapi tak lagi singgah. Tak lagi duduk lama di pematang atau berbagi tawa kecil. Dan gadis itu… juga tak menjelaskan apa pun. Sampai suatu pagi, saat hujan baru reda, ia datang. Berdiri di depan rumah lelaki itu, mengenakan jaket tipis, rambutnya lembap, mata bengkak seperti habis menangis. “Aku nggak nyangka kamu bakal pergi kayak gitu,” katanya. Lelaki itu membuka pintu, menatapnya pelan. “Aku nggak pergi… cuma nggak tahu harus gimana.” Gadis itu menggigit bibir bawahnya. “Reno nggak minta apa-apa. Dia cuma pulang. Tapi kamu... kamu malah pergi pas aku butuh kamu tetap di situ.” Sunyi lagi. Suara air menetes dari atap terdengar jelas. “Kalau kamu butuh aku tetap di situ,” lelaki itu akhirnya berkata, “kenapa kamu nggak bilang? Kenapa kamu biarin aku ngerasa kayak orang asing di ...

Rembulan di balik awan

Rembulan bersinar redup, Di balik awan ia sembunyi, menunggu seperti bayang, Menyimpan kisah yang hanya bisa aku baca lewat sajak kerinduan Harum mewangi aroma bayangmu menyelimuti malam, menambah hangat rasa. Namun hati ini, tetap tenggelam di dalam gelap, Seperti arus yang tak pernah bisa dihentikan, Menarik setiap hela nafas, jauh ke dasar. Tenggelam dalam pesona yang tak terungkap, Rembulan menjadi saksi sunyi perjalanan jiwa, Hati ini terus mencari, namun tak pernah menemukan. Raut wajahmu adalah peta yang tak bisa kubaca.

Rindu

Rinduku padamu tak pernah sopan, Datang tiba-tiba, mendobrak sunyi malam. Ia tak mengetuk pintu dada, Langsung menyelinap, mengusik jiwa. Di tiap bait yang kutulis, kau sembunyi di antara huruf, Seperti angin yang diam-diam mencumbu daun kering. Tak terlihat, tapi terasa… Tak bersuara, tapi menggema. Ya itu kamu, rinduku ini bukan sekadar kata, Ia hujan yang tak sabar jatuh di musim kemarau. Kau adalah nama yang terus kupanggil, Bahkan saat bibirku diam, hatiku tetap ribut mencarimu.

kilau cahaya sendu

Matahari senja, bagai fatamorgana di tengah sepinya gurun sunyi, menari diam, tanpa suara berbisik lirih bagai mutiara  kaulah cahaya senja. Lembut mengurai pedih, menyapa jiwa yang kian retak. Malam pun ikut berbicara, "tidurlah," katanya... dalam dekapan cahaya lampu jalan, yang ditemani ilalang kehidupan. Dan dalam hening, aku mengerti, setiap senja mengajarkan aku tentang kesendirian, perjalanan yang tak selalu harus dipahami. Malam menyambut dengan penuh pengertian, Seperti pelukan hangat yang tak pernah gagal menyembuhkan. Dalam setiap kelam, ada harapan yang menunggu di balik bintang.

Harapan yang tak pernah pupus...eps.8

Gambar
 --- Beberapa hari berlalu sejak pagi itu. Mereka tak lagi hanya saling diam. Sudah mulai ada obrolan ringan, tawa kecil, bahkan nostalgia yang bikin pipi memanas. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang belum dibicarakan. Sesuatu yang seperti bayangan di ujung mata—tak terlihat jelas, tapi terasa ada. Suatu sore, saat mereka duduk berdua di pinggir pematang sawah, gadis itu akhirnya membuka suara. “Aku pernah hampir nikah, tahu?” katanya tanpa menoleh. Lelaki itu menoleh pelan. Diam. “Orangnya baik, tapi aku nggak bisa… tiap kali dia pegang tanganku, yang aku ingat bukan dia.” Ada jeda panjang. Hanya suara jangkrik dan desir angin yang menyapu daun padi. “Dan kamu?” ia bertanya balik. “Pernah nyoba lupain aku bener-bener?” Lelaki itu tersenyum tipis, tapi matanya menyimpan sesuatu yang berat. “Pernah. Lewat banyak cara. Tapi semua perempuan yang datang, nggak ada yang bikin aku tenang kayak waktu kita duduk bareng di gang belakang sekolah.” Ia menarik napas p...

bayangan

Aku tak punya tubuh, hanya jejak gelap di tanah yang basah, mengikuti langkahmu, tanpa pernah bisa mendahului arah. Aku tak bisa menangis, tapi kulihat air matamu jatuh dalam senyap, kutemani kau di pelataran duka, meski tak pernah kau sadari pelukanku ada. Aku tak bisa mencintai, namun kusaksikan matamu berbinar pada cinta, saat tanganmu meraba pipi kekasih, aku hanya menjadi gores samar di antara cahaya. Aku bayangmu  selalu ada, tapi tak pernah nyata, dan dalam keabadian sunyiku, aku iri pada hidup yang kau punya.

lembah kehidupan

Aku berjalan menyusuri lembah kehidupan, Tak kenal lelah, walau penuh cobaan. Angin berlalu menyapa tiap hela nafas tertahan, Kucoba tenang dalam pangkuan malam  Yang kelam, penuh tantangan. Embun pagi menggigil di sela-sela jari kakiku, Langkah demi langkahku mengalun pelan pilu nansendu  Di ujung jalan yang jauh dan bisu, Tersirat kilau cahaya lampu-lampu  Yang membeku. Namun aku tetap melangkah, meski perlahan, Menjemput pagi di balik kabut harapan. Sebab di setiap gelap yang menelan pandangan, Selalu ada cahaya menanti dalam kesabaran.

Lorong tak bermula

Di antara kelopak bunga yang tak pernah mekar, Ada mata yang mengintai dalam gelap yang sabar. Jiwa-jiwa lama terperangkap di kelam, Menari di bawah langit tanpa bulan. Angin tak sekadar bertiup ia membisikkan nama, Nama yang tak boleh disebut, Nama yang pernah membuat bunga layu di tangan pemuja waktu. Malam membentang seperti lorong tak bermula, Aku melangkah tanpa bayangan, Membawa jiwa yang haus jawaban, Dan sepasang mata yang tak pernah terpejam.

Harapan yang tak pernah pupus...eps.7

Gambar
---   Malam makin larut. Langit tak lagi gelap pekat bintang-bintang mulai bermunculan, malu-malu seperti perasaan mereka yang kini perlahan muncul ke permukaan. Angin kampung berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan keheningan yang tak menakutkan lagi. Dia menyandarkan punggung ke dinding kayu di baliknya, menatap lelaki itu yang masih duduk dengan tangan di pangkuan. Lalu pelan, ia berkata: “Kalau dulu aku lebih berani bilang aku butuh kamu, bukan waktu… mungkin semuanya beda.” Lelaki itu menoleh, matanya hangat. Tak ada penyesalan. Hanya pemahaman yang baru. “Kalau dulu aku lebih jujur soal rasa takutku kehilangan kamu… mungkin aku nggak akan membiarkan kita hancur diam-diam.” Hening sejenak, lalu dia tertawa kecil—bukan karena lucu, tapi karena akhirnya mereka bisa mengakuinya tanpa sakit. “Tapi mungkin… kita harus jatuh dulu, biar tahu caranya bangun.” Lelaki itu mengangguk pelan. Kemudian, ia mengulurkan tangannya. Tak mendesak. Hanya isyarat kecil yang meny...

Nafasku

Biarkan aku terus bersair mengalahkan kata-kata yang tak sempat tumpah, karena dadaku penuh sesak haus akan kebebasan yang tak kunjung datang. Butir-butir sajakku mungkin tak lagi indah, sebab ruang ini terlalu sempit, menekan tiap desah napas, hingga terasa berat memikul sunyi. Aku hanya ingin rindu ini dimengerti, bukan sekadar didengar, tapi dirasakan… seperti nyanyianmu yang dulu meredam badai di jiwaku. Aku tak meminta pintu dibuka selebar harapan, cukup secelah untuk napasku bisa masuk, dan rinduku bisa pulang.

Taman padang rumput ilalang

Taman padang rumput ilalang di pojok rumah masa kanak-kanak Angin timur menyentuh ujung-ujung dedaunan Membawa secercah cahaya di ujung gelap Melihat langkah-langkah pulang yang tak kunjung sampai Jiwa berkelana tanpa gema Aku rindu cahaya kecil di ujung gelap

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.6

Gambar
--- Mereka mulai berjalan pelan menyusuri jalan tanah yang masih basah. Tak ada tujuan pasti, hanya mengikuti arah kaki membawa. Langkah mereka tak bersentuhan, tapi bayangan mereka di bawah cahaya lampu jalan yang perlahan memudar ke belakang berjalan berdampingan. “Masih inget nggak?” tanyanya tiba-tiba, lirih. Lelaki itu menoleh, tersenyum samar. “Inget apa?” Dia menunjuk sebuah pohon jambu yang berdiri di tepi jalan. “Dulu kamu pernah manjat itu buat aku, padahal aku cuma bilang pengen makan jambu yang warnanya merah tua.” Mereka berdua tertawa kecil. Lelaki itu mengangguk. “Aku inget. Waktu turun, celana aku sobek, terus kita lari-lari takut dimarahin orang rumah.” “Iya… dan kamu nyalain aku,” balasnya sambil mencubit pelan udara di sebelahnya, pura-pura kesal. “Tapi malam itu lucu banget. Aku nggak pernah lupa.” Suara mereka pelan, seperti takut mengganggu malam. Setiap tawa terdengar seperti bisikan masa lalu yang muncul kembali. Mereka terus berjalan. Sampai akhirny...

Cawan kerinduan

Di cawan kecil itu, ada madu yang tertinggal, Pahitnya tak terlihat, manisnya meresap pelan. Setiap tetesnya seperti rindu yang tertahan, Mengalir ke dalam jiwa yang tak pernah berhenti menunggu. Harap itu mekar di antara kesunyian, Berbunga di tempat yang terlupakan. Di setiap sudut hati, ada tangis yang menunggu, Memanggilmu dalam diam yang tak bisa kau dengar. Cawan itu kini kosong, Namun madu yang ada di dalamnya, Tersisa di bibirku, Meninggalkan rasa yang tak bisa hilang.

Langkah yang tak di ingat angin

Di ujung senja yang kering dan menggigit, seorang musafir berjalan pelan di antara gumuk pasir yang tak pernah menjanjikan arah. Langkahnya terseret, bukan karena lelah semata, tetapi karena beban yang tidak bisa dilihat beban rindu, kehilangan, dan keraguan yang dikubur dalam diam. Di sakunya tergantung kantong kain lusuh, berisi koin-koin bulan yang konon bisa dipakai sebagai ongkos pulang. Tapi setiap keringat yang menetes, setiap panas yang menempel di kulitnya, menyedot satu demi satu koin itu tanpa suara, tanpa ampun. Musafir itu tak pernah menghitung berapa koin yang tersisa. Baginya, berhenti hanya berarti mati. Jadi ia terus berjalan, meski setiap jejak yang ia tinggalkan terhapus angin sebelum sempat menjadi kenangan. Di balik sorot matanya yang sunyi, tersimpan satu tanya sederhana: Apakah pulang itu masih ada, atau hanya dongeng yang ia pertahankan agar tidak gila?

ketika senja hanya tinggal nama

Mentari merunduk pelan di ufuk barat, mewarnai langit dengan merah jingga. Di balik cahayanya yang memudar, rinduku berdiri, tak berani menyapa. Senja itu indah, tapi tak seindah tatapanmu yang kini hanya bayang. Kupeluk sisa harimu dalam diam, meski tak ada suara yang bisa kupanggil pulang. Langit perlahan gelap, namun rinduku tetap menyala. Di balik kilau senja yang perlahan padam, namamu tetap bersinar dalam dada yang diam.

Cahaya samar

Aku menanti malam indah itu, seperti seorang peziarah yang lelah berjalan di padang sunyi, menunggu pelukan langit yang mengganti debu dengan cahaya. Siang hari kini terasa berat, bukan karena dunia terlalu keras, tapi karena rindu yang tak bisa ditidurkan. Aku ingin tidur bersamanya bukan tubuh, tapi hatinya… yang menyelinap lewat layar kecil dalam genggamanku. Dialah cahaya samar, yang datang dari balik layar HP yang usang, tapi mampu menghangatkan lebih dari selimut dan matahari yang menyala. Saat dunia tak lagi ramah, dan mata mulai letih membaca wajah-wajah palsu, hatiku selalu ringan dalam dekapannya ia tak bernama, tapi malam jadi rumah saat aku bersamanya.

Harapan yang tak pernah pupus...eps.5

Gambar
--- Keesokan paginya, kabut masih menggantung rendah di antara pohon-pohon. Lelaki itu seperti biasa berjalan pelan di jalan kecil kampung itu. Tapi hari ini, ada yang berbeda. Di pagar bambu rumah itu yang biasanya kosong tergantung satu benda kecil: sebuah bunga kamboja putih, masih basah oleh embun, diikat dengan benang merah sederhana. Bukan hiasan. Bukan kebetulan. Karena di bawahnya, terselip secarik kertas kecil, dilipat rapi. Tulisan tangan yang ia kenal baik. “Aku juga suka hujan. Tapi kadang, hujan membuatku takut akan hal yang dulu.” Ia menatap kertas itu cukup lama. Tak ada nama. Tak ada ajakan. Tapi ia tahu, ini bukan sekadar bunga atau kata-kata. Ini adalah undangan diam-diam. Sebuah pengakuan samar bahwa dia sedang membuka sedikit ruang. Dan lelaki itu, untuk pertama kalinya, tak merasa canggung. Ia tak mencoba mencari makna di balik tiap huruf. Ia hanya tersenyum senyum yang penuh sabar, senyum yang siap menunggu, karena sekarang ia tahu satu hal: Dia masih ...

Bisikan yang tak tersiar

Aku lahir dari rahim kesunyian, dibuai oleh denting waktu yang retak  dan didarma oleh embun yang tak pernah dijanjikan pagi. Namaku tak tercatat di sorak manusia, hanya angin yang tahu, aku pernah menangis tanpa suara. Aku berbicara pada tembok yang diam-diam menyerap luka, pada langit yang gelapnya serupa jubah yang kupakai agar takutku tidak terlihat. Ketakutanku adalah burung liar yang kupelihara dalam sangkar dada  tak kuusir, tapi kuberi nama: "Keberanian yang belum tumbuh sempurna." Langkahku tak bergema, namun jejaknya ditulis oleh bayangan yang setia mengekor, meski aku tak pernah menengok. Mereka lihat aku beku  padahal aku adalah sungai yang mengalir diam-diam di bawah tanah retak mencari mata air yang belum kutemui. Dan ketika aku berbisik, itu bukan kelemahan, itu adalah mantra sunyi yang kugoreskan pada malam, agar aku tahu: Aku masih ada.

Getir di ujung lidah

Kau datang lagi,   membawa debu-debu rindu yang pecah,   mengguncang dinding-dinding kesabaran,   hingga retak-retak itu berbicara   dalam bahasa yang hanya air mata yang paham.   Aku terjaga di tengah malam buta,   mendengar langkah-langkahmu yang berat,   seperti hujan yang tak mau berhenti   menampar atap-atap ingatan.   Kau ajari aku tentang getir,   tentang bagaimana hidup kadang   hanya soal bertahan di antara   yang patah dan yang masih mencoba tegak.   Tapi di sini, di sudut sunyi ini,   aku pelan-pelan belajar:   bahwa badai bukan hanya tentang   angin yang merobek-robek tenang,   tapi juga tentang akar   yang semakin dalam mencengkeram bumi,   tentang tangan-tangan yang ternyata   lebih kuat dari yang kuduga.   Aku masih gemetar, ya,   masih ada getir di ujung ...

Langkahku

Di bawah langit yang tak lagi biru, Langkahku diam di ujung waktu, Angin tak paham arah yang kutuju, Tapi hatiku tetap berdetak, walau ragu. Kau cahaya di balik kelamku, Meski tak selalu nyata dalam pandang, Namamu kutulis di dinding waktu, Sebagai alasan aku terus berjalan.

Harapan yang tak pernah pupus...eps.4

Gambar
--- Hari berganti, tapi langkah lelaki itu belum juga menjauh dari jalan kecil itu. Ada sesuatu yang menahannya—bukan sekadar pemandangan kampung yang menenangkan, tapi bayangan seseorang yang kini mengisi pikirannya seperti alunan lagu lama yang tak pernah selesai dinyanyikan. Ia kembali lewat depan rumah itu. Sekilas. Seolah hanya melintas. Tapi matanya tetap curi-curi pandang, mencari sosok yang entah muncul atau tidak. Dan benar saja. Dari balik jendela, tirai itu bergerak. Tapi tak ada sapaan. Tak ada senyum seperti kemarin. Hanya bayangan. Hanya siluet samar yang muncul lalu menghilang, seperti menantang: "Kalau memang ingin tahu, datang dan tanyalah langsung." Tapi lelaki itu diam. Ia memilih untuk menunggu. Karena ia tahu, beberapa cerita butuh waktu. Beberapa luka butuh keberanian untuk diungkap. Dan beberapa rindu… hanya bisa dinikmati dari kejauhan. Malamnya, ia kembali menerima pesan. “Kamu masih di sini?” Ia menatap layar ponsel cukup lama...

Kembali pulang

airku adalah doa.   laraku adalah bahasa.   dan gelap yang terpeluk  sebenarnya adalah mihrab di mana Dia mendengar bisikan yang tak terucap.   Kau bilang ahli rindu....   Tapi tahukah engkau?   Yang Maha agung justru merindumu lebih dahulu,   sebelum kakimu goyah menjauh.   Dia tak pernah menagih kesempurnaan   hanya ketulusan  seperti debu yang pasrah dihempas angin,   tetap diterima oleh bumi.   Pulanglah... Pintu Nya tak pernah terkunci,   hanya hatimu yang sesak oleh bayangan sendiri.   Dia tak bertanya mengapa kau pergi- Hanya bertanya..  Sudahkah kau lelah? Aku di sini. Malam ini,   jatuhkan saja segala beban di ambang rahmat-Nya.   Kau boleh menangis dengan kotor, karena Dia mengenal debu dijalanan yang melekat dalam dadaku dan tetap memeluk erat.

Harapan yang tak pernah pupus...eps.3

Gambar
___ …Hari-hari berikutnya berlalu perlahan, tapi di benaknya, semuanya terasa seperti film yang tak berhenti diputar. Setiap langkah menuju jalan kecil itu, setiap bunyi pintu rumahnya yang terbuka, selalu membuat jantungnya berdebar sedikit lebih kencang. Ia mencoba tetap tenang, seperti tak ada apa-apa. Tapi dunia batinnya ribut, riuh oleh kenangan dan kemungkinan. Sore itu, hujan turun tiba-tiba. Lelaki itu berteduh di warung kecil di ujung jalan. Dan seperti cerita lama yang menemukan bab baru, dia datang gadis itu berlari kecil sambil tertawa, rambutnya basah, dan mata yang langsung menatap ke arahnya begitu ia sadar sedang diperhatikan. Tak ada yang diucapkan. Tapi senyum itu muncul lagi. Senyum yang tak berubah, hanya kini ada kedewasaan yang menyertainya. “Masih suka hujan, ya?” tanyanya tiba-tiba, suaranya lembut tapi penuh isyarat. Lelaki itu nyaris lupa bagaimana caranya bicara. Tapi ia menjawab, “Masih… apalagi kalau hujannya kayak gini.” “Maksudnya?” Ga...

Bara api angkara murka

Di pulau terlarang Kau menelusuri licin nya batu batu asmara tiap sudut dan tubuh nya menyimpan segala rasa Bagai peta harta karun yang penuh dengan teka teki kata Oh.... kau terhempas ke dalam kubangan bara api iblis yang menyala nyala Lahar menggelegar keluar dari mulut mulut jiwa yang penuh napsu asusila Biarkan cerita ini menjadi asa yang terpatri kuat dalam lingkar panas nya desahan angkara murka

Harapan yang tak pernah pupus...eps2

Gambar
--- Malamnya, lelaki itu duduk di teras rumah ibunya, memandangi langit kampung yang masih setia dengan sinar rembulan nya. Angin membawa aroma tanah basah dan suara jangkrik yang tak pernah berubah sejak ia kecil. Tapi malam itu, semuanya terasa berbeda karena senyumnya. Senyum gadis kecil yang kini telah tumbuh jadi wanita, dan entah bagaimana, masih menempati sudut ingatannya dengan cara yang sama seperti dulu. Ia mencoba menepis perasaan itu, menasihati dirinya sendiri bahwa ini hanya nostalgia. Tapi detak jantungnya tak sepakat. Ada rasa penasaran, ada rasa yang tak selesai. Dan diam-diam, ada harapan kecil yang menyelinap: “Apakah dia mengingatku seperti aku mengingatnya?” Keesokan harinya, ia kembali melintas depan rumah itu kali ini dengan alasan yang ia buat-buat sendiri. Sekadar mencari udara segar. Namun yang ia temukan adalah dirinya sendiri, berdiri canggung di depan pagar kayu yang sudah mulai lapuk, sambil menunggu keajaiban kecil berupa tatap mata atau sapaa...

Dalam Sunyi yang Menghujam

Kerinduan adalah hujan yang tak terlihat, Menetes lembut di jendela hati yang sunyi, Setiap tetesnya membawa bisikan angin, Menyusup ke dalam ruang kosong yang menunggu. Aku berjalan di jalanan waktu yang berdebu, Langkahku adalah bayang-bayang di antara lampu jalan, Mencari jejak yang sudah lama hilang, Sementara malam memelukku dalam pelukan yang dingin. Rindu ini adalah lautan tak bertepi, Membuatku tenggelam dalam kedalamannya, Tak ada kapal yang datang menepi, Hanya suara ombak yang terus berteriak, Menyebut nama yang sudah lama terlupakan. Namun, di atas cakrawala yang gelap, Ada bintang yang tetap setia bersinar, Seperti kenangan yang tak bisa padam, Memandu langkahku meski terhalang kabut.

Harapan yang tak pernah pupus...eps.1

Gambar
--- Di sebuah kampung kecil yang damai, di antara barisan rumah-rumah tua dan suara ayam bersahutan tiap pagi, ada dua anak yang tumbuh dalam dunia yang sama, tapi dengan arah pandang yang berbeda. Yang satu senang bermain dengan teman-teman sebayanya, sementara yang satu lagi hanya duduk memperhatikan dari kejauhan. Anak laki-laki itu, sejak kecil sudah mengenal kerasnya hidup. Ia bekerja sejak usianya belum genap dewasa. Tak banyak waktu untuk bermain, tak ada ruang untuk bersenda gurau seperti teman-temannya. Namun di balik kelelahan itu, ada satu sosok yang tak pernah luput dari pandangannya—tetangga kecil yang selalu ceria suka tersenyum dan tertawa di halaman rumah tempat bermain nya Waktu terus berjalan, namun perasaan itu tak pernah benar-benar pudar. Ia pergi mencari jati diri nya, meninggalkan kampung, meninggalkan semua bayangan dan kenangan yang sempat tertanam. Tapi satu hal yang tak pernah pergi: rasa ingin tahu tentangnya, tentang kehidupan si gadis y...

Bayang di balik Kabut

Gambar
--- Senja telah menumpahkan warna kelabu di langit Desa Pangguyangan. Kabut turun perlahan, menyelimuti pepohonan tua yang berdiri bisu di tepian hutan. Di tengah jalan setapak yang becek oleh sisa hujan semalam, seorang gadis berusia tujuh belas tahun berjalan tertatih sambil menggenggam buntalan kain usang. Namanya bunga. Ia tidak tahu lagi harus ke mana setelah kepergian ayah nya dan ibunya menghilang begitu saja dua pekan lalu tanpa jejak. Kata orang-orang, ibunya dibawa oleh "Bayang Kabut", makhluk yang katanya datang dari celah waktu pengembara jiwa-jiwa tersesat. Bunga tidak percaya. Tapi setiap malam sejak kepergian ibunya, ia mendengar bisikan di telinganya saat ia hampir tertidur. Suara perempuan… lirih, seolah memanggil namanya dari ujung hutan. "Bunga… tempatmu bukan di sana… datanglah ke bayang-bayang..." Dan malam ini, ia mengikutinya. Kabut semakin tebal, angin membawa aroma tanah basah bercampur  kenanga. Setiap langkah bunga terasa berat...