Postingan

Entri yang Diunggulkan

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

Gambar
--- Pagi itu, udara terasa segar setelah hujan semalam. Embun masih menempel di ujung daun, dan suara ayam peliharaan mulai ramai di belakang rumah. Gadis itu baru saja selesai menyapu halaman saat ibunya memanggil dari dalam rumah. “Ndok… ada tamu.” Ia melangkah ke ruang tamu dengan langkah santai. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Di sana, lelaki itu duduk rapi, mengenakan kemeja putih yang jarang dipakainya, celana hitam, dan wajah yang sedikit pucat mungkin karena gugup. Di sampingnya, ada dua orang: ibunya, dan seorang paman dari kota. Gadis itu tercekat. Pandangan mereka bertemu. Lelaki itu tidak senyum seperti biasa wajahnya serius, tapi matanya tetap hangat. “Aku datang… bukan cuma untuk ngobrol atau ngopi,” katanya pelan. “Aku datang untuk minta izin.” Gadis itu menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu hidup kita nggak mewah, nggak sempurna. Tapi aku mau kita jalanin bareng. Aku mau bangun pagi dan ngelihat kamu lagi masak air. Aku m...

DUA JIWA, SATU TAKDIR...eps.7

DI BALIK PERASAAN DAN KEINGINAN Malam merangkak turun di atas desa itu. Kabut tipis menyelimuti pematang sawah, sementara suara hewan malam bersahutan dari balik rerumputan.  Di beranda rumah tua, pemuda itu duduk termenung, menggenggam liontin perak yang seolah menyimpan serpihan masa lalu. Perkataan lelaki tua yang pernah ia temui beberapa waktu lalu kembali terngiang di benaknya. “Terkadang, orang yang paling dekat dengan kita adalah orang yang paling tahu di mana harus menyembunyikan kebenaran.” Tokecang. Nama itu berulang kali melintas dalam pikirannya. “Tokecang, aku berharap kau tidak akan pernah mengkhianatiku.” Gumaman itu meluncur lirih, tetapi mengandung ketegasan yang tak pernah terdengar sebelumnya. Raden Mas Arya bukanlah lelaki yang gemar menghardik siapa pun. Namun, kali ini, kecurigaan yang tumbuh di dalam dadanya mulai mengusik ketenangan yang selama ini ia pertahankan. "Apakah dia menyembunyikan sesuatu dariku?" Sahabat lama yang menyambutnya dengan senyum,...

DUA JIWA, SATU TAKDIR...eps.6

NAPAK TILAS PENGHIANATAN Senja kembali turun di atas dusun itu. Cahaya matahari yang semula keemasan perlahan meredup, meninggalkan semburat jingga di balik bukit.  Di antara rumah-rumah kayu, seperti biasa asap dapur mulai mengepul, sementara suara anak-anak yang bermain di halaman satu per satu menghilang, digantikan panggilan orang tua yang meminta mereka pulang sebelum malam tiba. Pemuda itu berjalan menyusuri jalan tanah dengan langkah lambat. Sejak meninggalkan rumah perempuan paruhbaya itu, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Kalimat yang didengarnya terus berulang, menyelinap di antara suara langkah dan desir angin yang menyentuh dedaunan. Dua orang bisa sama-sama menunggu, tetapi tidak pernah tahu bahwa mereka sedang menunggu satu sama lain. Ia tidak memahami maksudnya. Atau mungkin, ada bagian dari dirinya yang memahami, tetapi belum mampu menerimanya. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan liontin perak yang sejak pagi tak pernah jauh darinya. Ia membuka penutupnya, ...

DUA JIWA, SATU TAKDIR...eps.5

Jejak langkah Rani Langkah sang pemuda menyusuri jalan berbatu yang masih menyisakan genangan air hujan. Di belakangnya, rumah tua dengan tanaman obat yang tertata rapi perlahan menjauh, meninggalkan kesan ganjil yang sejak tadi mengusik benaknya. Di seberang jalan, sebuah rumah berdinding kayu berdiri setengah tersembunyi di balik rimbunnya dedaunan. Bingkai jendelanya telah kusam dimakan usia, sementara beberapa bagian dindingnya tampak menghitam akibat kelembapan.  Rumah itu seolah telah lama berdamai dengan kesunyian, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan di luar sana. Pemuda itu berhenti tepat di depan pintunya. Entah mengapa, ada dorongan aneh yang membuatnya ingin mengetuk rumah itu, meskipun ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dicarinya. Setelah pintu di ketuk. Beberapa saat berlalu sebelum terdengar langkah kaki dari dalam. Pintu kayu itu kemudian terbuka perlahan, memperlihatkan seorang perempuan paruh baya dengan rambut beruban di bagian pelipisnya. Begitu ...

DUA JIWA, SATU TAKDIR...eps.4

Rumah yang tak menyimpan nama Pagi telah meninggi ketika sang pemuda akhirnya tiba di sebuah dusunkecil. Jalan tanah yang semalam ditinggalkannya kini mulai mengering di bawah sinar matahari.  Di sepanjang tepian jalan, genangan air masih tersisa di antara bebatuan, memantulkan cahaya yang bergetar setiap kali langkah-langkah penduduk melintasinya, menyeret pagi ke dalam denyut kehidupan dusun yang perlahan terjaga. Asap tipis mengepul dari beberapa dapur rumah penduduk. Suara burung saling bersahutan di atas ketinggian pepohonan yang tampak rindang, sementara dari kejauhan seorang perempuan tua menyapu halaman di bawah pohon randu. Segalanya terlihat biasa. Terlalu biasa, bahkan, jika dibandingkan dengan malam yang baru saja dilewatinya. Sang pemuda berjalan perlahan, membiarkan pandangannya menyusuri rumah-rumah yang berjajar di sepanjang jalan. Ia mengenali beberapa di antaranya, meskipun sebagian telah berubah sejak terakhir kali ia memperhatikan perkampungan itu dengan sa...

DUA JIWA, SATU TAKDIR...eps.3

Liontin Kenangan Malam perlahan kehilangan pekatnya. Di balik rimbunnya kanopi hutan, semburat cahaya fajar mulai merayap, menembus sela-sela dedaunan yang basah oleh embun.  Kabut yang sejak semalam mencengkeram pepohonan perlahan menipis, menyisakan selimut putih yang menggantung rendah di antara batang-batang tua. Di bawah sebuah pohon beringin berakar besar, sang pemuda masih tersimpuh lesu dan tanpa sadar  tubuhnya bersandar  pada batang yang lembap. Ia tak tahu berapa lama telah berlalu sejak sosok Rani menghilang di balik pusaran kabut.  Malam terasa begitu panjang, seolah waktu sengaja berhenti untuk membiarkannya berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu ia jawab. Kata-kata terakhir gadis itu terus terngiang di telinganya. Pulanglah… sebelum kau mengingat semuanya. Apa sebenarnya yang harus ia ingat? Mengapa nama Rani terasa begitu dekat, sementara wajah dan suaranya seolah berasal dari kehidupan yang telah lama terkubur? Sang pemuda me...

DUA JIWA, SATU TAKDIR...eps.2

Lorong yang menelan ingatan Hutan itu mendadak sunyi. Gerimis yang sejak tadi membasahi dedaunan berhenti begitu saja, menyisakan tetesan air yang jatuh satu demi satu dari ujung ranting. Di balik tirai kabut, sesosok bayangan masih berdiri membelakanginya, seolah sengaja menunggu keputusan sang pemuda. “Rani…?” panggilnya sekali lagi. Sosok itu perlahan menoleh. Namun, sebelum wajahnya benar-benar terlihat, kabut kembali merayap di antara pepohonan, menutupi pandangan seperti tirai yang sengaja direntangkan untuk menyembunyikan sebuah rahasia. Sang pemuda terdiam. Napasnya tertahan, sementara pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. Seharusnya ia pergi. Nalarnya berkata bahwa hutan itu bukan tempat yang aman untuk dijelajahi seorang diri, terlebih ketika malam mulai merayap dan jalan pulang perlahan menghilang di balik pekatnya kabut. Namun, ada sesuatu yang lebih kuat daripada ketakutannya. Sesuatu yang membuatnya merasa bahwa jika ia berbalik sekar...