Postingan

Entri yang Diunggulkan

DUA JIWA, SATU TAKDIR...eps.1

Gambar
Jejak di ujung senja Langit senja merendah, menumpahkan gerimis yang membasahi tanah liat di sepanjang tepian pematang sawah. Udara dingin menyusup melalui celah kemejanya, membawa aroma tanah basah yang berpadu dengan wangi jerami tua yang perlahan melapuk. Di tempat itulah sang pemuda berdiri seorang diri. Ia terdiam tanpa arah yang pasti, membiarkan rintik hujan membasuh wajahnya yang tampak lelah. Di hadapannya, hamparan sawah membentang luas dalam balutan kabut tipis yang turun merayap dari kaki bukit. Garis-garis pematang perlahan mengabur, melebur bersama warna kelabu senja yang kian tenggelam di balik cakrawala. Namun, di tengah kesunyian sore itu, pandangannya mendadak terpaku pada sesuatu. Di ujung pematang, tak jauh dari deretan pohon bambu yang berdesir lirih ditiup angin, sesosok bayangan tampak berdiri. Seorang gadis. Parasnya begitu jelita, seolah menyimpan cahaya tersendiri di antara temaram senja. Sisa sinar matahari yang menembus tirai kabut menyentuh waja...

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.9

Gambar
DI BALIK SELIMUT KABUT Pagi datang dengan semburat jingga yang perlahan menyingkap garis cakrawala. Namun, sisa malam seolah tak rela pergi; kabut tipis masih memeluk dingin, menggantung di ujung-ujung dahan yang basah oleh embun.  Di meja kecil di sudut beranda, uap tipis mengepul dari secangkir kopi hangat, berpacu dengan hening yang teramat panjang.  Ia menyeduh takdir dengan sabar berharap angin pagi membawa kabar tentang langkah yang kelak kembali.  Nirmala. Di pesisir, perahu-perahu kayu mulai merapat setelah semalaman berhadapan dengan ombak. Para nelayan turun membawa hasil tangkapan, sementara beberapa pedagang telah menunggu di sekitar pelelangan. Suara tawar-menawar yang biasanya terdengar sejak fajar kembali memenuhi udara, bercampur dengan pekikan burung camar dan deru mesin perahu yang mulai dipadamkan. Sekilas, semuanya tampak berjalan seperti biasa. Namun, bagi mereka yang menggantungkan hidup pada hasil laut, pagi itu membawa kabar yang cukup menggembirak...

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.8

Gambar
PENDAR LAMPU REDUP DI UJUNG JALAN Di setiap pagi yang masih basah oleh embun,  Di antara dinginnya kabut yang memeluk malam, tersimpan hangatnya satu keyakinan yang enggan padam, Nirmala melangkah pelan menuju pesisir. Hatinya sudah lebih dulu sampai di tepi laut, menanti sosok yang selalu membuat dadanya berdegup hangat.  Nelayan tua itu… bukan sekadar lelaki yang bertaruh nyawa di tengah ombak samudra. Bagi Nirmala, ia adalah napas yang dinanti,  seseorang yang dengan kesederhanaan dan ketulusannya mampu meredakan kegaduhan yang kerap bersemayam didalam dadanya. Ketika perahu kayu itu perlahan membelah kabut pagi, ketegangan di dada Nirmala mencair menjadi kelegaan. Ia tersenyum kecil, seolah waktu berhenti demi menyambutnya. Sang nelayan merapatkan perahunya ke pasir basah, sesaat kemudian mengangkat wajahnya, mendapati Nirmala berdiri setia di antara buih-buih ombak.  “Pagi ini lautnya cukup ramah, Nirmala,” suara serak lelaki itu memecah sunyi, sarat kelelahan y...

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.7

Gambar
KESUNYIAN DALAM DEKAPAN TAKDIR  Pagi itu, laut tampak lebih tenang daripada biasanya. Hamparan air membentang di bawah langit yang pucat. Perahu-perahu kayu mulai merapat ke dermaga dengan muatan hasil tangkapan semalam, sementara burung-burung camar berputar rendah di atas permukaan air, sesekali menukik untuk menyambar ikan kecil. Dari kejauhan, pesisir terlihat seperti biasa. Nelayan kembali dari laut, pedagang menyiapkan lapak, dan para pembeli mulai berdatangan. Kehidupan berjalan mengikuti iramanya sendiri, seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Namun, di tempat pelelangan ikan, ketenangan itu perlahan kehilangan maknanya. Nirmala berdiri di samping beberapa keranjang ikan yang baru diturunkan dari perahu. Jemarinya memilah hasil tangkapan, memisahkan ikan yang masih segar dari ikan yang harus segera dijual untuk konsumsi lokal. Luka di tangannya belum sepenuhnya sembuh. Sesekali rasa perih menyelinap ketika kulitnya bersentuhan dengan sisik ikan, tetapi ia tidak ...

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.6

Gambar
PENDAR SENJA DI UJUNG DERMAGA Angin laut bertiup lebih kencang daripada biasanya, seolah ingin membawa pergi semua pertanyaan yang menggantung di antara dua orang yang berdiri di ujung dermaga. ​Nirmala menatap lelaki berjas rapi itu dengan bingung.  Mata lelaki itu masih berkaca-kaca, tapi ia berusaha menahan diri. Ia tidak ingin langsung menumpahkan semua dugaan yang bergolak di dadanya. ​“Namaku… Nirmala,” jawab gadis itu pelan. ​“Saya tidak punya orang tua, Tuan. Saya besar dan tumbuh di desa, lalu datang ke sini mencari penghidupan.” ​Lelaki berjas rapi itu mengangguk pelan. Jari-jarinya yang gemetar sedikit mengepal di balik saku celana mewahnya. Desa itu... batinnya. Ia ingin sekali bertanya lebih jauh tentang liontin perak yang sempat terlihat, tentang sorot mata yang terlalu mirip, tentang garis rahang yang mengingatkannya pada seseorang yang sudah lama tiada. Namun ia menahan diri. ​“Nirmala…” gumamnya, seolah menguji rasa nama itu di lidahnya. “Nama yang indah.” ​Ia ters...