Postingan

Entri yang Diunggulkan

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

Gambar
--- Pagi itu, udara terasa segar setelah hujan semalam. Embun masih menempel di ujung daun, dan suara ayam peliharaan mulai ramai di belakang rumah. Gadis itu baru saja selesai menyapu halaman saat ibunya memanggil dari dalam rumah. “Ndok… ada tamu.” Ia melangkah ke ruang tamu dengan langkah santai. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Di sana, lelaki itu duduk rapi, mengenakan kemeja putih yang jarang dipakainya, celana hitam, dan wajah yang sedikit pucat mungkin karena gugup. Di sampingnya, ada dua orang: ibunya, dan seorang paman dari kota. Gadis itu tercekat. Pandangan mereka bertemu. Lelaki itu tidak senyum seperti biasa wajahnya serius, tapi matanya tetap hangat. “Aku datang… bukan cuma untuk ngobrol atau ngopi,” katanya pelan. “Aku datang untuk minta izin.” Gadis itu menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu hidup kita nggak mewah, nggak sempurna. Tapi aku mau kita jalanin bareng. Aku mau bangun pagi dan ngelihat kamu lagi masak air. Aku m...

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.7

Gambar
KESUNYIAN DALAM DEKAPAN TAKDIR  Pagi itu, laut tampak lebih tenang daripada biasanya. Hamparan air membentang di bawah langit yang pucat. Perahu-perahu kayu mulai merapat ke dermaga dengan muatan hasil tangkapan semalam, sementara burung-burung camar berputar rendah di atas permukaan air, sesekali menukik untuk menyambar ikan kecil. Dari kejauhan, pesisir terlihat seperti biasa. Nelayan kembali dari laut, pedagang menyiapkan lapak, dan para pembeli mulai berdatangan. Kehidupan berjalan mengikuti iramanya sendiri, seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Namun, di tempat pelelangan ikan, ketenangan itu perlahan kehilangan maknanya. Nirmala berdiri di samping beberapa keranjang ikan yang baru diturunkan dari perahu. Jemarinya memilah hasil tangkapan, memisahkan ikan yang masih segar dari ikan yang harus segera dijual untuk konsumsi lokal. Luka di tangannya belum sepenuhnya sembuh. Sesekali rasa perih menyelinap ketika kulitnya bersentuhan dengan sisik ikan, tetapi ia tidak ...

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.6

Gambar
PENDAR SENJA DI UJUNG DERMAGA Angin laut bertiup lebih kencang daripada biasanya, seolah ingin membawa pergi semua pertanyaan yang menggantung di antara dua orang yang berdiri di ujung dermaga. ​Nirmala menatap lelaki berjas rapi itu dengan bingung.  Mata lelaki itu masih berkaca-kaca, tapi ia berusaha menahan diri. Ia tidak ingin langsung menumpahkan semua dugaan yang bergolak di dadanya. ​“Namaku… Nirmala,” jawab gadis itu pelan. ​“Saya tidak punya orang tua, Tuan. Saya besar dan tumbuh di desa, lalu datang ke sini mencari penghidupan.” ​Lelaki berjas rapi itu mengangguk pelan. Jari-jarinya yang gemetar sedikit mengepal di balik saku celana mewahnya. Desa itu... batinnya. Ia ingin sekali bertanya lebih jauh tentang liontin perak yang sempat terlihat, tentang sorot mata yang terlalu mirip, tentang garis rahang yang mengingatkannya pada seseorang yang sudah lama tiada. Namun ia menahan diri. ​“Nirmala…” gumamnya, seolah menguji rasa nama itu di lidahnya. “Nama yang indah.” ​Ia ters...

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.5

Gambar
BENANG TAKDIR DALAM PINTALAN WAKTU Hari-hari di pesisir berjalan dengan dinamika yang baru bagi Nirmala. Insiden konfrontasinya dengan Maheswari menyisakan rasa segan campur kagum dari para nelayan dan pedagang sekitar.  Mereka kini melihat gadis itu bukan lagi sebagai buruh asing yang lemah, melainkan sosok berhati baja yang tidak mudah diinjak. ​Namun, ketenangan itu rupanya hanyalah jeda sebelum badai yang lebih besar datang menerjang. ​Bagi Maheswari, kejadian di pelelangan ikan tempo hari adalah aib terbesar dalam hidupnya. Selama bertahun-tahun, ia terbiasa menjadi pusat kepatuhan seorang perempuan terpandang yang titahnya adalah hukum tak tertulis di kalangan pedagang lokal. Dihina dan diskakmat di muka umum oleh seorang gadis tanpa kejelasan asal usulnya adalah luka harga diri yang tidak akan pernah ia biarkan begitu saja. ​Malam itu, di ruang tamu rumahnya yang mewah, Maheswari mondar-mandir dengan gelisah. Tangannya yang mengenakan cincin berlian menggenggam cangkir teh y...

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.4

Gambar
Debar di Balik Ombak Pesisir ​Malam yang panjang merayap lambat di dalam kamar sempit tempat Nirmala melepas lelah. Di atas tikar tipis yang dingin, Nirmala terjaga dalam sunyi. Matanya menatap langit-langit kamar yang kusam, sementara sisa air mata di pipinya telah mengering, meninggalkan jejak perih yang menyayat hati. ​Ia merasa terempas. Kota besar yang tadinya ia bayangkan sebagai hamparan peluang ternyata tidak lebih dari rimba beton yang kejam, tempat tetes keringat dan kejujuran bisa diinjak-injak begitu saja oleh arogansi seseorang seperti Maheswari. ​"Apakah aku harus menyerah?" bisiknya lirih pada kegelapan malam. "Apakah aku harus kembali ke desa dan mengakui bahwa aku gagal?" ​Bayangan wajah sang ayah, Raden Mas Arya, tiba-tiba berkelebat di benaknya. Lelaki yang takpernah mengenal kata mundur itu menghabiskan sisa hidupnya dengan keteguhan yang luar biasa, memikul beban ingatan yang hilang, merawat kenangan ibunya,  dan mengajarinya arti kesabaran tanp...

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.3

Gambar
Gema Rintik di Ujung Pesisir Mentari baru saja merayap naik di balik cakrawala, menyisakan sisa embun yang membasahi dedaunan. Nirmala menarik napas panjang, lalu mulai melangkah. Tanpa tujuan pasti, ia hanya tahu satu hal: ia harus bergerak. Barangkali, di tempat yang belum pernah ia jamah, ada awal baru yang tengah menantinya. Tak ada hidangan istimewa yang mengisi perutnya. Hanya sarapan sederhana, cukup untuk menahan lapar dan menguatkan langkahnya menjalani hari. Pakaian yang dikenakannya pun tak lebih dari kain sederhana yang telah beberapa kali dicuci membuat warnanya sedikit pudar. Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan tekad yang belum bersedia menyerah kepada nasib. Kemarin, ia telah mendatangi begitu banyak gedung, mengetuk pintu-pintu kesempatan, dan pulang tanpa membawa kabar baik. Namun, percakapannya dengan nelayan tua di tepi pantai masih terngiang dalam ingatan. "Jangan sampai kita menghabiskan seluruh tenaga hanya untuk memukul pintu yang sama, sementara di...