Postingan

Entri yang Diunggulkan

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

Gambar
--- Pagi itu, udara terasa segar setelah hujan semalam. Embun masih menempel di ujung daun, dan suara ayam peliharaan mulai ramai di belakang rumah. Gadis itu baru saja selesai menyapu halaman saat ibunya memanggil dari dalam rumah. “Ndok… ada tamu.” Ia melangkah ke ruang tamu dengan langkah santai. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Di sana, lelaki itu duduk rapi, mengenakan kemeja putih yang jarang dipakainya, celana hitam, dan wajah yang sedikit pucat mungkin karena gugup. Di sampingnya, ada dua orang: ibunya, dan seorang paman dari kota. Gadis itu tercekat. Pandangan mereka bertemu. Lelaki itu tidak senyum seperti biasa wajahnya serius, tapi matanya tetap hangat. “Aku datang… bukan cuma untuk ngobrol atau ngopi,” katanya pelan. “Aku datang untuk minta izin.” Gadis itu menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu hidup kita nggak mewah, nggak sempurna. Tapi aku mau kita jalanin bareng. Aku mau bangun pagi dan ngelihat kamu lagi masak air. Aku m...

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.2

Gambar
Kepingan Asa yang Tak Pernah Sirna ​Perlahan pagi itu mulai merayap di balik gedung-gedung pencakar langit yang menjulang angkuh, memantulkan pijar matahari pada dinding-dinding kaca yang berkilauan. Di pusat kota, kehidupan berdenyut dalam irama yang nyaris tak memberi ruang bagi siapa pun untuk sekadar berhenti.  Kendaraan berdesakan di ruas jalan, langkah-langkah kaki bergegas menembus kerasnya trotoar, dan wajah-wajah manusia tampak sibuk mengejar sesuatu yang tak selalu dapat dipahami oleh sesama. ​Di tengah riuhnya nadi kota, langkah seorang gadis terayun pelan. Sebuah map tipis ia dekap erat di dadanya, seolah menjadi benteng pertahanan terakhir dari dunia yang begitu bising. ​ Nirmala. ​Di balik sampul map itu, tersimpan selembar ijazah sekolah menengah yang tertahan pintunya menuju gerbang sarjana, beberapa lembar salinan dokumen, serta sisa-sisa asa yang sejak fajar ia jaga agar tak lebur diterpa angin keras. ​Nirmala baru saja meninggalkan gang sempit tempat ia mele...

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.1

Gambar
Di antara rimba kabut yang merangkak dari kaki bukit, di mana angin malam membawa sisa-sisa kidung duka yang tak pernah selesai, terlahirlah ia Nirmala. Nama yang menyimpan sebuah makna suci tanpa noda, sebuah ironi yang dipahat langsung dari air mata sejarah yang lama mengering. --- ​Sebelum Nirmala mengenal dunia, semesta telah lebih dulu menuliskan takdirnya dengan tinta penderitaan dan kesetiaan yang luar biasa.  Ayahnya, Raden Mas Arya seorang pemuda berdarah bangsawan pernah singgah di sebuah dusun terpencil dan menambatkan seluruh hatinya kepada seorang gadis jelita bernama Rani. ​Namun, kebahagiaan itu tidak  selalu abadi. Salah satu dari sahabat terdekatnya yang diracuni cemburu buta, menebar duri dalam keremangan. Sebuah sabotase keji merenggut kesadaran Raden Mas Arya, melemparkannya jauh ke kota metropolitan tanpa sisa ingatan, terputus dari pelukan Rani yang terus menunggu dalam janji-janji semu. ​Rani, dengan kesetiaan yang menolak tunduk pada waktu, ...

SISA SISA KEYAKINAN

Hati terkungkung pada janji yang fana, Langkahgontai di hamparan hampa, Bayang harappudar entah ke mana, Tersisatorehan di palung jiwa. Cahaya mimpi mengapur lalu sirna, Tersapugelombang dusta sesama, Air matatumpah tiada suara, Hanyasenyap yang merasuki jiwa. Janji manis berubah jadi nista, Kata lembutmenikam dada, Kepercayaanruntuh tak tersisa, Hanyapedih yang menunggu waktinya. Malam panjang menjulur tanpa cahaya mentari, Angin dinginmembelai lara, Kenangan indahkini bagai mayat, Tinggalsiluet tanpa makna. Namun di balik zaman kelam yang mendera, Adasisa-sisa tekad untuk berdaya, Walau hatipernah remuk dihantam parah, Sebuah pijarbaru akan menyala.

DUA JIWA, SATU TAKDIR...eps.8

SISA CINTA DI AKHIR CERITA Ada perjalanan yang begitu jauh bukan karena panjangnya jalan, melainkan karena waktu yang dibutuhkan untuk menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang. Bagi Raden Mas Arya, perjalanan itu telah berlangsung bertahun-tahun. Ia telah menyusuri pematang sawah, menembus hutan berkabut, mengetuk pintu-pintu kenangan, dan mengumpulkan serpihan masa lalu yang tak lagi utuh dalam ingatannya. Sebuah liontin, foto yang mulai memudar, serta janji yang terus bergaung di dalam dada telah menuntunnya menuju satu nama yang tak pernah benar-benar lenyap: Rani. Nama itu kini bukan lagi sekadar bayangan yang berkelebat di antara kabut. Bukan pula sosok samar yang menghilang setiap kali hendak ia dekati. Rani berada di suatu tempat. Dan kali ini, pemuda itu tidak akan membiarkan dirinya kembali pulang hanya dengan membawa kerinduan. Namun, ia belum tahu bahwa di ujung pencarian, ada kenyataan yang jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan. Sebab, terkadang, takdir tidak menge...

DUA JIWA, SATU TAKDIR...eps.7

DI BALIK PERASAAN DAN KEINGINAN Malam merangkak turun di atas desa itu. Kabut tipis menyelimuti pematang sawah, sementara suara hewan malam bersahutan dari balik rerumputan.  Di beranda rumah tua, pemuda itu duduk termenung, menggenggam liontin perak yang seolah menyimpan serpihan masa lalu. Perkataan lelaki tua yang pernah ia temui beberapa waktu lalu kembali terngiang di benaknya. “Terkadang, orang yang paling dekat dengan kita adalah orang yang paling tahu di mana harus menyembunyikan kebenaran.” Tokecang. Nama itu berulang kali melintas dalam pikirannya. “Tokecang, aku berharap kau tidak akan pernah mengkhianatiku.” Gumaman itu meluncur lirih, tetapi mengandung ketegasan yang tak pernah terdengar sebelumnya. Raden Mas Arya bukanlah lelaki yang gemar menghardik siapa pun. Namun, kali ini, kecurigaan yang tumbuh di dalam dadanya mulai mengusik ketenangan yang selama ini ia pertahankan. "Apakah dia menyembunyikan sesuatu dariku?" Sahabat lama yang menyambutnya dengan senyum,...

DUA JIWA, SATU TAKDIR...eps.6

NAPAK TILAS PENGHIANATAN Senja kembali turun di atas dusun itu. Cahaya matahari yang semula keemasan perlahan meredup, meninggalkan semburat jingga di balik bukit.  Di antara rumah-rumah kayu, seperti biasa asap dapur mulai mengepul, sementara suara anak-anak yang bermain di halaman satu per satu menghilang, digantikan panggilan orang tua yang meminta mereka pulang sebelum malam tiba. Pemuda itu berjalan menyusuri jalan tanah dengan langkah lambat. Sejak meninggalkan rumah perempuan paruhbaya itu, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Kalimat yang didengarnya terus berulang, menyelinap di antara suara langkah dan desir angin yang menyentuh dedaunan. Dua orang bisa sama-sama menunggu, tetapi tidak pernah tahu bahwa mereka sedang menunggu satu sama lain. Ia tidak memahami maksudnya. Atau mungkin, ada bagian dari dirinya yang memahami, tetapi belum mampu menerimanya. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan liontin perak yang sejak pagi tak pernah jauh darinya. Ia membuka penutupnya, ...