Entri yang Diunggulkan

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

Gambar
--- Pagi itu, udara terasa segar setelah hujan semalam. Embun masih menempel di ujung daun, dan suara ayam peliharaan mulai ramai di belakang rumah. Gadis itu baru saja selesai menyapu halaman saat ibunya memanggil dari dalam rumah. “Ndok… ada tamu.” Ia melangkah ke ruang tamu dengan langkah santai. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Di sana, lelaki itu duduk rapi, mengenakan kemeja putih yang jarang dipakainya, celana hitam, dan wajah yang sedikit pucat mungkin karena gugup. Di sampingnya, ada dua orang: ibunya, dan seorang paman dari kota. Gadis itu tercekat. Pandangan mereka bertemu. Lelaki itu tidak senyum seperti biasa wajahnya serius, tapi matanya tetap hangat. “Aku datang… bukan cuma untuk ngobrol atau ngopi,” katanya pelan. “Aku datang untuk minta izin.” Gadis itu menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu hidup kita nggak mewah, nggak sempurna. Tapi aku mau kita jalanin bareng. Aku mau bangun pagi dan ngelihat kamu lagi masak air. Aku m...

Harapan yang tak pernah pupus...eps.1

---
Di sebuah kampung kecil yang damai, di antara barisan rumah-rumah tua dan suara ayam bersahutan tiap pagi, ada dua anak yang tumbuh dalam dunia yang sama, tapi dengan arah pandang yang berbeda. Yang satu senang bermain dengan teman-teman sebayanya, sementara yang satu lagi hanya duduk memperhatikan dari kejauhan.

Anak laki-laki itu, sejak kecil sudah mengenal kerasnya hidup. Ia bekerja sejak usianya belum genap dewasa. Tak banyak waktu untuk bermain, tak ada ruang untuk bersenda gurau seperti teman-temannya. Namun di balik kelelahan itu, ada satu sosok yang tak pernah luput dari pandangannya—tetangga kecil yang selalu ceria suka tersenyum dan tertawa di halaman rumah tempat bermain nya

Waktu terus berjalan, namun perasaan itu tak pernah benar-benar pudar. Ia pergi mencari jati diri nya, meninggalkan kampung, meninggalkan semua bayangan dan kenangan yang sempat tertanam. Tapi satu hal yang tak pernah pergi: rasa ingin tahu tentangnya, tentang kehidupan si gadis yang dulu hanya bisa dilihatnya dari balik pagar.

Setelah bertahun-tahun, ia pulang. Tak ada yang berubah di desa itu, kecuali dirinya sendiri. Namun hari itu, ketika ia melintas di depan sebuah rumah sederhana, ia melihatnya. Sosok itu sedang duduk memetik sayur, dan tiba-tiba... menyapa dengan raut muka manis nya untaian kata kata itu keluar bersma keraguan yang sempat menghiasi senyum nya.

Sapaan itu sederhana. Namun bagi dirinya, sapaan itu seperti gemuruh lembut yang menyentuh relung terdalam hatinya. Suara yang selama ini hanya hidup dalam ingatan, kini kembali dalam bentuk nyata—dan bahkan lebih indah dari yang pernah ia bayangkan.

Tak mampu berkata banyak, ia melanjutkan langkah. Tapi hatinya tertinggal di halaman itu.





Bersambung......

Postingan populer dari blog ini

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.3

PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.4