Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

DEBU WAKTU

Aku adalah besi yang tertanam dalam rahim bumi, tidak gemerlap, tidak berbunyi  hanya diam, berkarat oleh detik-detik yang melata tanpa makna. Waktu bagiku bukan aliran, tapi gigitan; perlahan menggerogoti sisi dalam, seperti kenangan yang tak sempat pulang, seperti rindu yang membusuk di liang sepi yang berselimut bayang masa. Aku adalah cermin retak, memantulkan hari-hari yang terperangkap dalam lingkaran sama. Tak pernah kuditanya apakah ingin tumbuh, atau sekadar jadi artefak, terpendam di sela akar dan bisik tanah yang asing. Andai kaubalut aku dalam harap, seperti kulit baru yang menahan luka, mungkin takkan kukeropos diterpa hujan dan rintik air mata. Tapi aku tetap di sini, menggenggam karat sebagai bukti, Karena besi pun merindukan makam, meski tubuhnya telah jadi debu waktu.

LANGKAH YANG TERASINGKAN

Aku adalah hujan yang jatuh diam-diam, mencium tanah yang tak pernah menungguku. Langit tak memberi isyarat, angin pun enggan bercerita  aku datang hanya sebagai sepi yang mencari peluk di balik debu. Tanah itu dingin, kering, keras, tak lagi mengingat aroma tetes pertama yang pernah membuatnya hidup. Namun aku tetap jatuh,   tanpa undangan,   tanpa janji  hanya ingin menjadi rindu   yang membasahi parut luka yang mengering.   Dan saat fajar menyingsing,   aku akan menguap,   hanya tinggalkan bekas   yang mungkin tak kan dikenang.

JIWA YANG TERUS TUMBUH...eps.7

Gambar
--- Hari itu panas, seperti hari-hari lainnya di kota. Ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain, dari satu proyek ke proyek lain. Bertanya, mengajukan diri, kadang cuma dijawab gelengan kepala, kadang bahkan tak dipandang sama sekali. Tapi dia masih terus melangkah. Sampai sore datang, dan matahari mulai meredup,.. Kabar itu  dari desa. Salah satu teman nya menyodorkan hp nya Pesan yang membuat kakinya lemas, dan tubuhnya nyaris rebah di trotoar: “Nak, Ayahmu telah pergi. Pulanglah…” Seolah waktu berhenti. Suara kota menghilang. Hanya sisa detak jantung yang menghantam di dada, dan tangis yang tertahan di tenggorokan. Tak ada uang di dompet. Tapi tak mungkin tidak pulang. Dia menjual jam tangan satu-satunya—pemberian ayahnya dulu. Dia naik bus malam dengan tubuh menggigil dan mata sembab. Dalam gelapnya jalanan, ia menatap keluar jendela, memandangi bayangan dirinya sendiri yang tak pernah merasa sepenuh ini… kehilangan. --- Saat fajar menyapa desa kecil ...

MUSAFIR WAKTU

Di tengah malam yang sepi, gelap menggulung sunyi, lelaki itu tampak gelisah seakan ada sesuatu yang menggantung dalam lamunannya. Langkah kakinya menyusuri jalanan yang basah oleh embun, tanpa arah pasti, hanya ditemani desir angin dan bayang-bayang masa lalu yang enggan pergi. Ia bukan pengejar mimpi, bukan pula pelari dari kenyataan, melainkan seorang pengembara yang mencari arti, tentang siapa dirinya sebenarnya, dan ke mana harus ia tuju di dunia yang kian asing ini. “Aku tak tahu ke mana arah ini membawaku… tapi aku tak bisa lagi diam di tempat.” Sesekali ia menatap langit, berharap bintang-bintang memberi petunjuk, namun malam hanya menyuguhkan kelam. Dalam hatinya, ada kerinduan yang tak ia mengerti, ada luka yang tak bisa ia jelaskan. Hatinya penuh tanya yang tak mendapat jawaban, dan dirinya terasa seperti bayang-bayang yang kehilangan tubuh. “Adakah yang mendengarkan hatiku... atau memang aku harus terus bicara pada sunyi?” gumam nya," Setiap langkahnya adalah pertaruha...

NYALA KECIL DI UJUNG SENJA

Di saat langit mulai lelah Ada cahaya kecil yang tetap menyala, Meski angin mencoba memadamkannya Ia bertahan… seperti harapan di ujung do'a. Langkah-langkahku mungkin terseok Jalanan gelap, kadang tak terlihat arah Namun cahaya itu tak pernah hilang Ia tinggal diam, tapi tak pernah pasrah. Bukan terang yang membutakan Tapi hangat yang menguatkan Seperti bisikan pelan dalam harap Yang tak terdengar, tapi tak pernah hampa. Aku pernah hampir menyerah, Tenggelam dalam sepi dan gelisah Tapi harapan itu datang diam-diam Menyentuh jiwaku... membisikkan "jangan". Dan di malam paling pekat Saat dunia tampak begitu berat Harapan itu tetap bertahan Seperti bintang… menolak padam.

JIWA YANG TERUS TUMBUH...eps.6

Gambar
Kemeja, sepatu hasil menyisihkan makan seminggu. Di tangan kanannya, map plastik yang sudah kusam. Tapi di hatinya, harapan masih bersinar, walau redup oleh kenyataan. Hari itu, dia berdiri di depan gedung bertingkat yang asing. Bukan hanya dinding kacanya yang dingin… tapi juga wajah-wajah yang berlalu lalang, seakan semua terburu waktu, dan tak satu pun yang menoleh padanya. Setelah antre panjang dan ditanya macam-macam, ia hanya bisa menunduk saat HRD berkata, "Maaf, kami mencari yang sudah berpengalaman." Sore itu dia duduk di tepi trotoar. Tangannya menggenggam map yang kini mulai lembap oleh peluh dan air mata yang tak sengaja jatuh. Tapi dia tahu: "Malu bukan alasan untuk pulang, gagal bukan tanda untuk menyerah." Di benaknya, wajah Ibu yang tersenyum meski letih, dan suara Ayah yang selalu bilang: "Tak apa lambat, asal tetap melangkah." --- Malam itu, dia kembali ke kamar kos sempitnya. Dindingnya kayu lapuk, kipas angin tua menggerung ...

TERSESAT DI UJUNG PENANTIAN

Langit sore itu menggurat jingga pucat. Udara terasa ganjil, seperti menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Aku berdiri di persimpangan jalan yang tak tercatat di peta mana pun, menatap setapak sunyi yang memanjang entah ke mana ujungnya. Tak ada petunjuk arah, hanya rerimbun ilalang, pohon tua yang diam menatapku, dan desir angin yang membawa bisikan asing. Aku tak pernah berniat tersesat. Tapi hidup, seperti jalan ini, kadang membawa kita menjauh dari yang kita tahu, dari yang kita yakini sebagai rumah. Langkahku gemetar, bukan karena takut, tapi karena keraguan yang tak pernah selesai kujinakkan. Aku tak tahu apakah jalan ini akan membawa pulang, atau justru menjauhkan segalanya. Tapi entah kenapa, aku tetap melangkah. Barangkali, dalam setiap jalan yang tampak buntu, ada makna yang menunggu untuk dipahami.

JIWA YANG TERUS TUMBUH...eps.5

Gambar
Ibu masih memegang erat surat dari anaknya. Tapi matanya mulai menerawang, menembus jendela rapuh penuh kenangan. Di dalam benaknya, bayangan masa muda pun hadir perlahan… Dulu, sebelum mereka menjadi orang tua, mereka juga dua anak muda biasa yang saling mencinta. Tak ada tukang pos Yang ada hanya secarik surat, yang disisipkan di pagar bambu tua. Suaminya, yang kini berdiri di belakangnya dengan tangan di punggung, ikut tenggelam dalam kenangan. Ia tersenyum kecil, lalu berkata pelan: "Inget gak, Bu… waktu aku tulis surat yang selipkan di celah pagar dulu, nulisnya pakai bolpen pinjem, nempel di bungkus nasi?" Ibu tertawa kecil, air mata belum sempat kering. "Dan kamu lupa nulis nama. Aku tebak dari tulisan miringmu yang jelek itu." Tawa mereka lirih, tapi hangat. Meja kayu yang sama, tempat mereka dulu membaca surat cinta, kini menjadi tempat mereka membaca surat dari anak mereka. Waktu memang berjalan, tapi rasa… tetap tinggal. Di sebuah ...

AMARAH JIWA YANG KOSONG

Hari-hari ketika manusia berjalan tanpa peta. Mereka melangkah, tapi tak tahu menuju ke mana. Mereka tersenyum, tapi tak tahu untuk siapa. Mereka bekerja, mencintai, bertahan... tapi di balik semua itu, ada ruang kosong yang menganga dalam dada. Di tengah hiruk pikuk dunia, suara hati mereka makin samar, seperti bisikan angin di tengah badai. Mereka dulu punya mimpi, dulu punya nyala yang membakar mata, tapi perlahan, mimpi itu dikebiri oleh rutinitas, oleh keharusan yang dipaksa dunia, oleh ketakutan akan kekurangan. Mereka lupa kenapa dulu berlari, lupa kenapa dulu bersumpah pada diri sendiri. Yang tersisa hanya tubuh yang berjalan otomatis, dan hati yang kadang berteriak lirih dalam sepi. Tapi, sesekali... di antara gerimis malam atau sepotong senyum asing, mereka mendadak teringat: bahwa hidup bukan sekadar bergerak. Bahwa ada alasan kenapa mereka pernah memulai. Dan dalam sekejap, langkah kecil itu terasa berarti kembali, walau dunia tetap bising, walau hati tetap retak. Mereka ad...

JIWA YANG TERUS TUMBUH...eps.4

Gambar
--- Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika ia berdiri di depan rumah kayu itu. Sebuah tas sederhana menggantung di pundaknya isinya tak banyak, hanya pakaian secukupnya, buku-buku usang, dan sebungkus nasi yang dibungkus daun pisang buatan ibu. Ibu berdiri di ambang pintu, matanya sembab meski berusaha tersenyum. “Jangan khawatir soal kami di sini,” kata ayah pelan, “di tanah ini kami sudah terbiasa sendiri. Tapi kamu... kamu harus pergi untuk tahu bagaimana dunia di luar sana.” Anak itu hanya mengangguk. Tak sanggup berkata-kata. Di dalam dirinya, ada gempuran rasa: senang karena diberi kesempatan, takut meninggalkan yang ia cintai, dan cemas pada dunia yang belum pernah ia lihat. Sebelum melangkah, ibu memeluknya dari belakang. Pelukan itu seperti pelukan terakhir erat, lembut, penuh makna. “Nak… jangan lupa dari mana kamu berasal. Dunia bisa besar, bisa membuatmu lupa arah… tapi hati yang kuat akan selalu pulang.” Mobil putih itu akhirnya tiba. Ia menoleh ...

REL KERETA TUA

Kereta itu melaju tanpa suara, Menembus senja yang mengaburkan mata. Tiupan angin yang membawa debu kenangan, Mengukir rindu yang tak pernah terucap. Malam datang pelan, membawa beban, Setiap derap langkah dalam kesendirian. Dingin yang menusuk ke dalam hati, Mengingatkan aku pada sesuatu yang hilang di ujung rel. Tiada kata, hanya isyarat, Hanya hembusan angin yang menyapa sepi. Kereta itu terus berjalan, Dan aku mengikuti jejaknya, tanpa tahu arah.