DEBU WAKTU
Aku adalah besi
yang tertanam dalam rahim bumi,
tidak gemerlap, tidak berbunyi
hanya diam,
berkarat oleh detik-detik
yang melata tanpa makna.
Waktu bagiku bukan aliran,
tapi gigitan;
perlahan menggerogoti sisi dalam,
seperti kenangan yang tak sempat pulang,
seperti rindu yang membusuk
di liang sepi yang berselimut bayang masa.
Aku adalah cermin retak,
memantulkan hari-hari
yang terperangkap dalam lingkaran sama.
Tak pernah kuditanya
apakah ingin tumbuh,
atau sekadar jadi artefak,
terpendam di sela akar
dan bisik tanah yang asing.
Andai kaubalut aku dalam harap,
seperti kulit baru yang menahan luka,
mungkin takkan kukeropos
diterpa hujan
dan rintik air mata.
Tapi aku tetap di sini,
menggenggam karat sebagai bukti,
Karena besi pun
merindukan makam,
meski tubuhnya
telah jadi debu waktu.