Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

DI UJUNG MALAM YANG SEMAKIN TUA

Kehidupan, tak selalu berseri seperti yang mereka tulis di papan-papan harapan. Kadang ia datang dalam bentuk dingin yang menusuk seperti selimut basah di bawah langit yang menangis Menyaksikan relung penderitaan anak sang pewaris. Ada malam yang semakin tua, menyusutkan cahaya hingga hanya tersisa bayang-bayang panjang dan suara detak jantung yang berdetak seperti bisikan takut dalam lorong kegelapan. Aku pernah terbaring di samping air got kadaluarsa yang aromanya lebih jujur dari janji-janji yang mereka lempar dari mimbar emas dan balkon bercahaya. Mereka tak tahu rasanya, berjalan tanpa kaki yang kuat, berharap tanpa tempat berteduh, hidup tanpa pilihan selain terus menggenggam luka dan menjadikannya alasan untuk tetap bangun esok pagi.

JIWA YANG TERUS TUMBUH...eps.10

Gambar
--- Beberapa tahun kemudian... Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti sawah. Warung tua di pinggir pematang yang dulu hanya tinggal kenangan kini telah berdiri kembali, lebih kokoh, tapi tetap mempertahankan kesederhanaannya. Papan kayu di depan bertuliskan: “ bangkit bersama kasih   ibu " Seorang lelaki muda dengan kemeja sederhana, celana dilipat di ujung, tampak sedang menyapu pelataran. Senyumnya ramah menyapa siapa pun yang lewat. Ia_ si anak itu yang kini telah menjadi pengelola warung dan menjadi pusat kehidupan baru di kampung. Di dalam, ibu nya duduk di sudut dapur, kini tak lagi memasak sendirian. Ada dua orang pegawai muda yang ia bimbing, seperti dulu ia membimbing suaminya. Senyumnya mengembang, bukan karena bangga, tapi karena bersyukur. Suatu hari, seorang wartawan lokal datang meliput. “Mas, ini warungnya sudah terkenal. Banyak orang kota yang datang. Apa yang membuat Mas semangat membangun ini dari awal?” Lelaki muda itu tersenyum. Tatapannya ...

JIWA YANG TERUS TUMBUH...eps.9

Gambar
--- Pagi itu matahari enggan bersinar terang, seolah ikut merasakan kehilangan. Tapi di balik kabut tipis yang menggantung di pematang sawah, seorang anak lelaki kini berdiri memandangi sebuah lahan kecil yang dulu pernah jadi tempat tawa, aroma gorengan hangat, dan ramainya anak-anak petani mampir membeli es lilin. Warung tua itu… kini hanya tinggal rangka kayu yang lapuk dan papan nama pudar, tapi di mata anak itu, ia melihat jauh lebih dari itu: Ia melihat senyum Ayah yang dulu mengantar bahan-bahan dagangan. Ia melihat Ibu muda yang dengan sabar melayani sambil menggendong dirinya yang masih kecil. Ia menarik napas dalam-dalam. "Bu… kalau aku bangun lagi warung ini, Ibu mau temani aku di sana?" Ibu yang berdiri di belakangnya masih menyeka sisa air mata yang belum sepenuhnya kering tersenyum lirih. "Kalau itu yang bisa buat kamu tetap di sini, ibu akan temani. Warung ini bukan cuma tempat jualan… tapi tempat kita dulu belajar saling mencintai ...

RINDU YANG TAK MENUNTUT PULANG

Aku menanam luka di antara waktu, berharap sunyi menjadi hujan, dan langit membisikkan rindu yang tak pernah kau pulangkan... Kubiarkan waktu berlari, menyusuri lorong-lorong kenangan, menyelinap, membawa pedih yang tertanam di balik tulang rusukku. Bahkan malam semakin sunyi, merasuk dalam lamunan, seolah membisikkan kata-kata pilu  dari masa yang enggan pergi. Oh, langit tidakkah kau saksikan betapa bumi mengorbankan dirinya?Memberi ruang, memberi pijakan, untuk gelap yang tak pernah peduli... Beban itu terus menekan, tak sempat lagi mengeluh. Rindu yang tertahan dalam nafas kehampaan namun tetap tak menuntut pulang.

Luka yang Tak Terdengar

Puisi Tentang Ketimpangan Sosial, Kelaparan, dan Kerakusan Manusia Kau bisa menyantap segalanya, dengan gerigi beragam yang kau miliki. Tapi disana, di sudut-sudut kota, masih terdengar gemuruh perut yang lapar? Lidahmu menjelajah tujuh samudra rasa, sementara di bawah kaki gemuruh perut kosong terangkai dalam sunyi, tak pernah dijamu seteguk pun. Bumi ini kaya, setiap jengkalnya bersedia memberi. Namun tangan-tangan rakus memalingkan muka, mengganti ladang dengan menara impian. Kau membuang roti karena kurang lembut?, sementara di sana, ada yang mengunyah batu dalam dingin yang bisu. Segelintir orang mengurung tanah, hingga ia lupa cara menghijau. Di balik pesta meja mahoni, seorang anak menjadikan bintang sebagai teman nasi satu-satunya lauk yang tak pernah mengecewakan. Kau sebut dirimu makhluk paling sempurna, tapi kerap melahap lebih dari yang kau perlu, sementara di kejauhan, yang lain hanya mendapat sisa aroma. Dan tanpa beban, tangan-tangan itu ...

LETIH YANG TAKBERUJUNG

Aku berjalan di lorong waktu yang tak pernah pulang, mengais cahaya di antara reruntuhan harap yang retak pelan. Langit menua di mataku, sementara malam tak lagi bicara selain diam yang menggigilkan dada. Adakah yang tahu betapa beratnya bernapas tanpa arah? Aku letih... bukan karena langkah, tapi karena tak ada tempat yang benar-benar menunggu. Dahulu aku punya tawa, kini hanya suara napas yang mengendap di sela-sela doa. Aku mencintai hidup seperti debu mencintai angin  dibawa ke mana saja, asal tidak sendirian. Namun dunia terlalu sunyi untuk mengerti dan terlalu ramai untuk peduli. Maka biarlah aku tetap di sini, menggenggam waktu dengan tangan yang gemetar, mencari arti dari letih yang tak kunjung berakhir.

JIWA YANG TERUS TUMBUH...eps.8

Gambar
--- Langit mendung, tapi tak turun hujan. Seperti hati yang penuh, tapi tak sanggup menumpahkan air matanya lagi. Di dapur yang sepi, hanya suara air mendidih dari panci kecil. Anak itu duduk di bangku panjang, memeluk lututnya, sementara sang ibu sibuk memotong sayuran, meski tak tahu untuk siapa. "Bu… Ayah pernah bilang, nggak apa-apa gagal, asal jangan lupa pulang… Tapi aku pulang bukan karena gagal. Aku pulang karena kehilangan." Ibu itu berhenti memotong sayur. Pisau diletakkan perlahan di atas talenan. Tangannya gemetar. "Ibu juga kehilangan, Nak. Tapi lebih sakit lagi... kehilangan tanpa bisa bilang selamat tinggal." --- "Aku gak sempat liat mata Ayah terakhir kali, Bu. Gak sempat bilang aku sayang dia. Gak sempat… minta maaf." Ibu nya menghampiri dan Mengusap pundaknya perlahan. "Ayahmu tahu, Nak. Dia tahu kamu berjuang. Dia cuma ingin kamu pulang sebagai anak yang kuat, bukan sebagai anak yang sempurna." Sunyi lagi. Tapi buka...