Entri yang Diunggulkan

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

Gambar
--- Pagi itu, udara terasa segar setelah hujan semalam. Embun masih menempel di ujung daun, dan suara ayam peliharaan mulai ramai di belakang rumah. Gadis itu baru saja selesai menyapu halaman saat ibunya memanggil dari dalam rumah. “Ndok… ada tamu.” Ia melangkah ke ruang tamu dengan langkah santai. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Di sana, lelaki itu duduk rapi, mengenakan kemeja putih yang jarang dipakainya, celana hitam, dan wajah yang sedikit pucat mungkin karena gugup. Di sampingnya, ada dua orang: ibunya, dan seorang paman dari kota. Gadis itu tercekat. Pandangan mereka bertemu. Lelaki itu tidak senyum seperti biasa wajahnya serius, tapi matanya tetap hangat. “Aku datang… bukan cuma untuk ngobrol atau ngopi,” katanya pelan. “Aku datang untuk minta izin.” Gadis itu menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu hidup kita nggak mewah, nggak sempurna. Tapi aku mau kita jalanin bareng. Aku mau bangun pagi dan ngelihat kamu lagi masak air. Aku m...

Luka yang Tak Terdengar

Puisi Tentang Ketimpangan Sosial, Kelaparan, dan Kerakusan Manusia

Kau bisa menyantap segalanya,
dengan gerigi beragam yang kau miliki.
Tapi disana, di sudut-sudut kota,
masih terdengar gemuruh perut yang lapar?

Lidahmu menjelajah tujuh samudra rasa,
sementara di bawah kaki
gemuruh perut kosong terangkai dalam sunyi,
tak pernah dijamu seteguk pun.

Bumi ini kaya,
setiap jengkalnya bersedia memberi.
Namun tangan-tangan rakus memalingkan muka,
mengganti ladang dengan menara impian.

Kau membuang roti karena kurang lembut?,
sementara di sana,
ada yang mengunyah batu dalam dingin yang bisu.

Segelintir orang mengurung tanah,
hingga ia lupa cara menghijau.
Di balik pesta meja mahoni,
seorang anak menjadikan bintang sebagai teman nasi
satu-satunya lauk yang tak pernah mengecewakan.

Kau sebut dirimu makhluk paling sempurna,
tapi kerap melahap lebih dari yang kau perlu,
sementara di kejauhan,
yang lain hanya mendapat sisa aroma.

Dan tanpa beban,
tangan-tangan itu meremas bumi
layaknya kertas tak berguna,
lalu menimbunnya dalam perut-perut buncit
yang tak paham arti kata "kejam".

Dengan topeng darah manusia,
mereka berdiri bangga.

Postingan populer dari blog ini

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.3

Dalam Sunyi yang Menghujam