Luka yang Tak Terdengar
Puisi Tentang Ketimpangan Sosial, Kelaparan, dan Kerakusan Manusia
Kau bisa menyantap segalanya,
dengan gerigi beragam yang kau miliki.
Tapi disana, di sudut-sudut kota,
masih terdengar gemuruh perut yang lapar?
Lidahmu menjelajah tujuh samudra rasa,
sementara di bawah kaki
gemuruh perut kosong terangkai dalam sunyi,
tak pernah dijamu seteguk pun.
Bumi ini kaya,
setiap jengkalnya bersedia memberi.
Namun tangan-tangan rakus memalingkan muka,
mengganti ladang dengan menara impian.
Kau membuang roti karena kurang lembut?,
sementara di sana,
ada yang mengunyah batu dalam dingin yang bisu.
Segelintir orang mengurung tanah,
hingga ia lupa cara menghijau.
Di balik pesta meja mahoni,
seorang anak menjadikan bintang sebagai teman nasi
satu-satunya lauk yang tak pernah mengecewakan.
Kau sebut dirimu makhluk paling sempurna,
tapi kerap melahap lebih dari yang kau perlu,
sementara di kejauhan,
yang lain hanya mendapat sisa aroma.
Dan tanpa beban,
tangan-tangan itu meremas bumi
layaknya kertas tak berguna,
lalu menimbunnya dalam perut-perut buncit
yang tak paham arti kata "kejam".
Dengan topeng darah manusia,
mereka berdiri bangga.