JIWA YANG TERUS TUMBUH...eps.10

Beberapa tahun kemudian...

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti sawah. Warung tua di pinggir pematang yang dulu hanya tinggal kenangan kini telah berdiri kembali, lebih kokoh, tapi tetap mempertahankan kesederhanaannya. Papan kayu di depan bertuliskan:

bangkit bersama kasih ibu"

Seorang lelaki muda dengan kemeja sederhana, celana dilipat di ujung, tampak sedang menyapu pelataran. Senyumnya ramah menyapa siapa pun yang lewat. Ia_ si anak itu yang kini telah menjadi pengelola warung dan menjadi pusat kehidupan baru di kampung.

Di dalam, ibu nya duduk di sudut dapur, kini tak lagi memasak sendirian. Ada dua orang pegawai muda yang ia bimbing, seperti dulu ia membimbing suaminya. Senyumnya mengembang, bukan karena bangga, tapi karena bersyukur.

Suatu hari, seorang wartawan lokal datang meliput. “Mas, ini warungnya sudah terkenal. Banyak orang kota yang datang. Apa yang membuat Mas semangat membangun ini dari awal?”

Lelaki muda itu tersenyum. Tatapannya beralih pada ibu yang sedang mengelap meja.

“Saya hanya meneruskan cinta yang belum selesai. Warung ini bukan sekadar tempat makan ini rumah bagi kenangan, perjuangan, dan cinta orang tua saya. Dan sekarang, tempat ini jadi harapan baru buat banyak orang.”

Beberapa tahun berselang...

Langit senja menyorot lembut ke jendela kaca salah satu cabang warung kenangan itu, kini berdiri di kota besar. menjadi simbol khas yang dikenali banyak orang. Tidak hanya satu, tapi sudah lebih dari dua puluh cabang tersebar di berbagai kota.

Si anak yang kini sudah dewasa dan dikenal sebagai pengusaha muda penuh inspirasi tampil sederhana dalam setiap wawancara. Jasnya rapi, tapi tetap memancarkan kesahajaan dari desa. Tiap kali ditanya soal kesuksesannya, jawabannya tetap sama:

“Semua berawal dari dapur kayu dan senyuman Ibu.”

Ia tak pernah lupa. Setiap cabang warung memiliki sudut kecil pojok kenangan yang menampilkan foto dapur kayu pertama, sepucuk surat lama, dan payung tua tergantung di dinding.

Dalam satu seminar kewirausahaan, ia naik ke panggung membawa sebongkah kayu tua yang sudah dipernis.

“Ini sisa papan warung kami dulu di pinggir pematang. Banyak yang anggap ini kayu lapuk, tapi dari sinilah semua cerita bermula. Setiap impian besar, lahir dari sesuatu yang kecil, asal disirami cinta dan keyakinan.”

Di tengah tepuk tangan para peserta, ia tetap terdiam sesaat. Ia tahu, meski kini sukses dan dipandang banyak orang, yang paling berharga bukanlah jumlah cabang, melainkan satu warung pertama yang dibangun bersama cinta dan air mata.



TAMAT

Postingan populer dari blog ini

gerimis dalam jiwa

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

REL KERETA TUA