Entri yang Diunggulkan
--- Pagi itu, udara terasa segar setelah hujan semalam. Embun masih menempel di ujung daun, dan suara ayam peliharaan mulai ramai di belakang rumah. Gadis itu baru saja selesai menyapu halaman saat ibunya memanggil dari dalam rumah. “Ndok… ada tamu.” Ia melangkah ke ruang tamu dengan langkah santai. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Di sana, lelaki itu duduk rapi, mengenakan kemeja putih yang jarang dipakainya, celana hitam, dan wajah yang sedikit pucat mungkin karena gugup. Di sampingnya, ada dua orang: ibunya, dan seorang paman dari kota. Gadis itu tercekat. Pandangan mereka bertemu. Lelaki itu tidak senyum seperti biasa wajahnya serius, tapi matanya tetap hangat. “Aku datang… bukan cuma untuk ngobrol atau ngopi,” katanya pelan. “Aku datang untuk minta izin.” Gadis itu menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu hidup kita nggak mewah, nggak sempurna. Tapi aku mau kita jalanin bareng. Aku mau bangun pagi dan ngelihat kamu lagi masak air. Aku m...
DI UJUNG MALAM YANG SEMAKIN TUA
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kehidupan,
tak selalu berseri seperti yang mereka tulis di papan-papan harapan.
Kadang ia datang
dalam bentuk dingin yang menusuk
seperti selimut basah di bawah langit yang menangis
Menyaksikan relung penderitaan anak sang pewaris.
Ada malam yang semakin tua,
menyusutkan cahaya
hingga hanya tersisa bayang-bayang panjang
dan suara detak jantung
yang berdetak seperti bisikan takut dalam lorong kegelapan.
Aku pernah terbaring
di samping air got kadaluarsa
yang aromanya lebih jujur
dari janji-janji yang mereka lempar
dari mimbar emas dan balkon bercahaya.
Mereka tak tahu rasanya,
berjalan tanpa kaki yang kuat,
berharap tanpa tempat berteduh,
hidup tanpa pilihan selain terus menggenggam luka
dan menjadikannya alasan untuk tetap bangun esok pagi.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan populer dari blog ini
Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11
--- Pagi itu, udara terasa segar setelah hujan semalam. Embun masih menempel di ujung daun, dan suara ayam peliharaan mulai ramai di belakang rumah. Gadis itu baru saja selesai menyapu halaman saat ibunya memanggil dari dalam rumah. “Ndok… ada tamu.” Ia melangkah ke ruang tamu dengan langkah santai. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Di sana, lelaki itu duduk rapi, mengenakan kemeja putih yang jarang dipakainya, celana hitam, dan wajah yang sedikit pucat mungkin karena gugup. Di sampingnya, ada dua orang: ibunya, dan seorang paman dari kota. Gadis itu tercekat. Pandangan mereka bertemu. Lelaki itu tidak senyum seperti biasa wajahnya serius, tapi matanya tetap hangat. “Aku datang… bukan cuma untuk ngobrol atau ngopi,” katanya pelan. “Aku datang untuk minta izin.” Gadis itu menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu hidup kita nggak mewah, nggak sempurna. Tapi aku mau kita jalanin bareng. Aku mau bangun pagi dan ngelihat kamu lagi masak air. Aku m...
PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.3
Sudah tiga bulan berlalu sejak pesan terakhir yang tak dibalas itu. Di papan kalender kecil di dinding kontrakan, setiap tanggal yang ditandai lingkaran merah kini mulai memudar warnanya. Ia masih menghitung hari bukan karena janji, tapi karena rindu yang belum menemukan ujung. Sore itu, ia menerima kabar dari teman sekampung. "Katanya gadismu sering terlihat sama seseorang… yang itu, karibmu sendiri." Kata-kata itu datang ringan, tapi menancap seperti paku di dada. Ia terdiam lama. Lalu tersenyum kecut. “Ah, mungkin cuma salah lihat,” katanya pelan. Namun, malam itu, ia tak bisa memejamkan mata. Ia mencoba menulis surat balasan tapi setiap kalimat berhenti di tengah. "Aku percaya padamu" terasa terlalu berat, sedangkan ...
Dalam Sunyi yang Menghujam
Kerinduan adalah hujan yang tak terlihat, Menetes lembut di jendela hati yang sunyi, Setiap tetesnya membawa bisikan angin, Menyusup ke dalam ruang kosong yang menunggu. Aku berjalan di jalanan waktu yang berdebu, Langkahku adalah bayang-bayang di antara lampu jalan, Mencari jejak yang sudah lama hilang, Sementara malam memelukku dalam pelukan yang dingin. Rindu ini adalah lautan tak bertepi, Membuatku tenggelam dalam kedalamannya, Tak ada kapal yang datang menepi, Hanya suara ombak yang terus berteriak, Menyebut nama yang sudah lama terlupakan. Namun, di atas cakrawala yang gelap, Ada bintang yang tetap setia bersinar, Seperti kenangan yang tak bisa padam, Memandu langkahku meski terhalang kabut.