JIWA YANG TERUS TUMBUH...eps.8
Langit mendung, tapi tak turun hujan. Seperti hati yang penuh, tapi tak sanggup menumpahkan air matanya lagi.
Di dapur yang sepi, hanya suara air mendidih dari panci kecil. Anak itu duduk di bangku panjang, memeluk lututnya, sementara sang ibu sibuk memotong sayuran, meski tak tahu untuk siapa.
"Bu… Ayah pernah bilang, nggak apa-apa gagal, asal jangan lupa pulang… Tapi aku pulang bukan karena gagal. Aku pulang karena kehilangan."
Ibu itu berhenti memotong sayur. Pisau diletakkan perlahan di atas talenan. Tangannya gemetar.
"Ibu juga kehilangan, Nak. Tapi lebih sakit lagi... kehilangan tanpa bisa bilang selamat tinggal."
---
"Aku gak sempat liat mata Ayah terakhir kali, Bu. Gak sempat bilang aku sayang dia. Gak sempat… minta maaf."
Ibu nya menghampiri dan Mengusap pundaknya perlahan.
"Ayahmu tahu, Nak. Dia tahu kamu berjuang. Dia cuma ingin kamu pulang sebagai anak yang kuat, bukan sebagai anak yang sempurna."
Sunyi lagi. Tapi bukan sunyi yang canggung. Itu sunyi yang saling mengerti.
dengan suara hampir patah:
"Aku capek, Bu… capek jadi kuat sendirian."
Ibu nya menahan tangis..
"Mulai sekarang… kita kuat sama-sama, ya Nak. Karena separuh jiwa Ibu… udah ikut Ayah pergi."
Malam tiba dengan angin dingin yang menyusup lewat celah jendela kayu. Ibu sudah tertidur di kamarnya, menyisakan lampu temaram yang menyala di ruang tamu. Si anak duduk sendiri, tangannya menggenggam buku-buku lama peninggalan ayahnya yang disimpan rapi di rak sederhana.
Ia menelusuri satu per satu ada debu, ada kenangan. Dan di tengah-tengah halaman buku tua bertuliskan “JIWA YANG TERUS TUMBUH”, ia menemukan secarik kertas yang terlipat rapi.
Dengan tangan gemetar, ia membuka lipatan itu… dan membaca.
---
Jika suatu hari Ayah tak lagi bisa menjawab panggilanmu, itu bukan karena Ayah tak mau… tapi karena waktu sudah lebih dulu memanggil Ayah pulang.
Ayah tahu, kamu akan tumbuh jadi laki-laki yang kuat. Tapi Ayah juga tahu, bahkan laki-laki terkuat pun berhak menangis.
Jangan takut gagal. Jangan malu pulang. Rumah ini bukan tempat untuk sempurna rumah ini tempat untuk kembali.
Jika jalanmu terasa gelap, cari cahaya itu… di dalam hatimu sendiri. Karena separuh dari cahaya itu, Ayah titipkan di sana sejak kamu lahir.
Jaga Ibumu. Dengarkan dia. Dan hidupkan kembali warung kecil kita bukan karena dagangannya, tapi karena cintanya yang dulu merawat harapan kita di sana.
Ayah selalu bersamamu… dari kejauhan, dari keabadian.
---
Si anak tak bisa menahan air matanya. Ia mencium surat itu, lalu mendekapnya erat ke dada. Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, ia menangis seperti anak kecil. Tapi kali ini, bukan karena lemah… tapi karena merasa disayangi, bahkan dari tempat yang tak lagi terlihat.
Bersambung...