JIWA YANG TERUS TUMBUH...eps.9

Pagi itu matahari enggan bersinar terang, seolah ikut merasakan kehilangan. Tapi di balik kabut tipis yang menggantung di pematang sawah, seorang anak lelaki kini berdiri memandangi sebuah lahan kecil yang dulu pernah jadi tempat tawa, aroma gorengan hangat, dan ramainya anak-anak petani mampir membeli es lilin.

Warung tua itu… kini hanya tinggal rangka kayu yang lapuk dan papan nama pudar, tapi di mata anak itu, ia melihat jauh lebih dari itu:
Ia melihat senyum Ayah yang dulu mengantar bahan-bahan dagangan. Ia melihat Ibu muda yang dengan sabar melayani sambil menggendong dirinya yang masih kecil.

Ia menarik napas dalam-dalam.

"Bu… kalau aku bangun lagi warung ini, Ibu mau temani aku di sana?"

Ibu yang berdiri di belakangnya masih menyeka sisa air mata yang belum sepenuhnya kering tersenyum lirih.
"Kalau itu yang bisa buat kamu tetap di sini, ibu akan temani. Warung ini bukan cuma tempat jualan… tapi tempat kita dulu belajar saling mencintai dalam diam."

Si anak menatap Ibu. Dalam hatinya, ia tahu:
Ini bukan soal dagang. Ini tentang pulang, tentang kembali menenun harapan dari sisa-sisa yang pernah tercerai.


---

Dan di hari itu, warung tua di pinggir sawah mulai kembali berdiri.
Tak mewah. Hanya dinding kayu dan atap seng. Tapi ada aroma baru: aroma rindu yang dijahit dengan cita-cita.
Ada meja kecil tempat Ibu menata dagangan, dan di sudut, ada sebuah papan kayu yang tertulis:

"Untuk Ayah, yang selalu percaya bahwa anak desa bisa jadi cahaya."

---

Hari pertama warung itu dibuka kembali, tak ada spanduk besar. Tak ada promo. Hanya satu wajan tua yang mulai mengeluarkan bunyi khas ketika minyak panas menyambut tempe-tempe yang mulai garing di pinggirannya.

Ibu berdiri di belakang meja. Tatapannya gugup, tapi tangannya lincah seperti dulu. Si anak, kini bukan anak kecil lagi, berdiri di depan warung menyapa tetangga yang lewat, menahan rasa haru tiap kali ada yang berhenti dan berkata:

"Wah… ini warung Bu dulu ya? Dulu tempat kita ngumpul kalau pulang dari sawah… masih ingat, Bu.”

Ibu hanya tersenyum, bibirnya bergetar.

Lalu datanglah anak-anak kecil. Mereka tidak tahu cerita masa lalu warung ini. Tapi aroma gorengan, suara ketukan centong pada panci, dan senyum hangat dari ibu muda itu semua terasa akrab…
Dan di tengah riuh kecil itu, si anak duduk di kursi kayu, menatap warung mereka.

Lalu dia berkata pelan ke dirinya sendiri:

 "Aku gak tahu apa aku bisa bahagiain Ayah di atas sana. Tapi kalau ini yang bikin Ibu tersenyum lagi, aku akan jaga tempat ini seperti aku jaga kenangan kalian."

---

Dan warung itu pun mulai hidup…

Setiap pagi ada harapan baru, setiap senja ada cerita yang dikumpulkan dari pembeli yang datang dan pergi.
Dan Ibu? Ia tak pernah benar-benar berhenti merindukan Ayah. Tapi kini, ia punya alasan untuk tersenyum di antara kenangan yang tak lagi hanya menyakitkan.




Bersambung...

Postingan populer dari blog ini

gerimis dalam jiwa

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

REL KERETA TUA