Di sebuah desa terpencil, hiduplah seorang pemuda bernama Tertakuterkuter. Ia dikenal pendiam, misterius, dan selalu membawa sabun setiap pagi.
Bukan untuk mandi.
Bukan untuk cuci tangan.
Tapi untuk… membersihkan batang pohon pisang di belakang rumahnya.
"Ini ritual, bukan sembarang bersih-bersih," katanya suatu hari ketika warga desa bertanya.
Tak ada yang berani protes. Soalnya, setiap habis dia nyabunin batang pisang itu, selalu turun hujan lokal hanya di atas rumahnya.
Suatu pagi, seperti biasa, Tertakuterkuter pergi belenha (beli sabun) di warung Mbok Juminah. Tapi saat kembali, dia terpeleset kulit pisang dan...
masuk ke dimensi lain.
Di sana, semua orang bernama seperti dia.
Tertakuterkuter 1, Tertakuterkuter 2, Tertakuterkuter Junior…
Semuanya hidup hanya untuk satu misi:
Menyabuni batang pohon agar dunia tetap seimbang.
Namun…
Tanpa sengaja, Tertakuterkuter asli menyabuni batang yang tidak boleh disabuni.
Akibatnya? Dunia mulai terbelah antara yang wangi sabun dan yang bau amis durjana.
Setelah insiden menyabuni batang terlarang, Tertakuterkuter terlempar kembali ke desanya. Tapi ada yang aneh...
Desanya gak lagi sama.
Pohon pisang pada botak.
Air sumur bau wangi sabun lavender.
Dan warga semua jadi kinclong licin kayak habis di-lotion-in tiap lima menit.
Dia langsung ke warung Mbok Juminah buat minta petunjuk.
> Tertakuterkuter:
"Mbok... aku salah nyabun batang dimensi lain..."
> Mbok Juminah (sambil nyruput kopi):
"Aku sudah tahu, Le. Ramalan itu sudah turun sejak zaman mbahnya mbahku. Dulu tertulis di bungkus sabun:
‘Jika batang terlarang disabuni, maka akan datang masa tertakuterkuterisasi dunia.’”
Tertakuterkuter gemetar.
> Tertakuterkuter:
"Terus gimana mbok? Apa aku harus nyabunin ulang pake sabun lain?"
> Mbok Juminah (tatapannya tajam):
"Tidak, Le. Hanya satu sabun yang bisa menetralkan semuanya...
Sabun Terakhir.
Letaknya? Di puncak Gunung Ketombe.”
Gunung Ketombe adalah gunung legendaris. Katanya siapa pun yang naik ke puncaknya…
akan dihujani serpihan putih, bukan salju… tapi rasa malu dan kegatalan kepala.
Tertakuterkuter tak punya pilihan lain.
Dia menggendong ransel, membawa handuk sakti, dan meninggalkan desa.
Langkah demi langkah, ia menuju Gunung Ketombe, ditemani angin dan... seekor ayam bernama Kukuter, yang tak pernah berhenti ngoceh soal teori konspirasi sabun palsu.
Perjalanan Tertakuterkuter ke Gunung Ketombe dimulai dengan mantap.
Di sampingnya, si ayam Kukuter terus ngoceh:
> “Bro, lo tau gak... sebenernya sabun itu bukan buat bersih-bersih, tapi alat komunikasi alien! Gue baca di forum ayam underground!”
Tertakuterkuter cuma ngangguk. Bukan karena setuju. Tapi karena gak paham.
Saat mereka mencapai kaki Gunung Ketombe, hujan mulai turun… tapi bukan air.
Rontokan ketombe halus dari langit berjatuhan.
Setiap serpihannya bikin leher gatal dan bikin kamu mempertanyakan semua keputusan hidupmu.
Mereka mendaki sambil menggaruk-garuk.
Tiba-tiba, muncul sosok misterius—seorang pria tua berjubah dari botol shampoo daur ulang.
> "Aku adalah Penjaga Ketombe, Sang Anti-Kelemumur."
> Tertakuterkuter:
"Aku datang untuk mencari Sabun Terakhir, Penjaga. Dunia sedang tertakuterkuterisasi!"
> Penjaga Ketombe:
"Banyak yang datang ke sini demi sabun itu… Tapi hanya yang hatinya bersih yang bisa mendapatkannya.”
> Kukuter (dengan muka sotoy):
“Gue bersih. Gue mandi pasir tiap hari.”
Penjaga Ketombe menatap Tertakuterkuter.
Kemudian…
mengangkat sebatang sabun berwarna emas, beraroma campuran jeruk, mint, dan sedikit kebingungan.
> “Ambillah. Tapi ingat… sabun ini hanya bisa digunakan sekali, dan harus dipakai di batang pertama yang kau bersihkan dulu.”
---
Tanpa pikir panjang, Tertakuterkuter mengambil sabun itu, berlari menuruni Gunung Ketombe,
ditemani angin, ketombe, dan suara Kukuter yang nyanyi lagu OST Naruto.
Misi:
Bersihkan batang pertama. Selamatkan dunia. Hindari licin terpeleset.
---
To be continued...
Episode Kedua: Sabun, Slip, dan Nasib yang Menggelikan
Tertakuterkuter memegang erat Sabun Emas, jantungnya berdebar kencang. "Batang pertama... batang pertama..." pikirnya sambil matanya melirik ke sekeliling.
Di kejauhan, terlihat sebuah tiang bendera berkarat—sisa-sisa peninggalan Perang katombe tahun 1998.
Kukuter (terengah):
"Bro, lo yakin itu 'batang' yang bener? Gue rasa itu cuma tiang tua—"
Tertakuterkuter sudah tidak mendengarkan. Dengan semangat membara, ia menggosokkan Sabun Emas ke tiang itu.
Sreeeet!
Bukan kilau kebersihan yang muncul, melainkan... suara mesin diesel menyala.
Tiang itu bergetar, karatnya rontok, dan... ternyata itu bukan tiang bendera.
ITU ADALAH PELUNCUR ROKET UDARA KETOMBE.
Penjaga Ketombe (tiba-tiba muncul di balik awan ketombe):
"Salah baca manual, ya? Sabun itu harus dipakai di batang tubuhmu sendiri dulu! Sekarang... roket ini akan meluncur ke Ibu Kota Ketombe!"
Kukuter mematung.
Tertakuterkuter mematung lebih kaku.
Kukuter:
"...Jadi kita harus naik itu, ya?"
Roket mendesis. Ketombe berterbangan. Dan di kejauhan, suara iklan sampo anti-ketombe berkumandang: "Dandruff? More like... DAN-DON’T!"
Misi baru:
- Bertahan hidup di dalam roket ketombe.
- Cari cara membatalkan peluncuran.
- Jangan sampai Tertakuterkuter kehilangan sabunnya lagi.