PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.3

Sudah tiga bulan berlalu sejak pesan terakhir yang tak dibalas itu. Di papan kalender kecil di dinding kontrakan, setiap tanggal yang ditandai lingkaran merah kini mulai memudar warnanya. Ia masih menghitung hari bukan karena janji, tapi karena rindu yang belum menemukan ujung.

Sore itu, ia menerima kabar dari teman sekampung.
                           "Katanya gadismu sering terlihat sama seseorang… yang itu, karibmu sendiri."

Kata-kata itu datang ringan, tapi menancap seperti paku di dada.
Ia terdiam lama. Lalu tersenyum kecut.
                   “Ah, mungkin cuma salah lihat,”
katanya pelan.
Namun, malam itu, ia tak bisa memejamkan mata.

Ia mencoba menulis surat balasan tapi setiap kalimat berhenti di tengah.
              "Aku percaya padamu" 
terasa terlalu berat,
sedangkan 
                "Aku rindu" 

terasa terlalu jujur untuk hati yang sedang goyah.

Di sisi lain, gadis itu duduk di teras rumah. Wajahnya letih, bukan karena bekerja, tapi karena berperang dengan pikirannya sendiri. Sang karib kini semakin sering datang, membawa kabar seolah-olah ingin menenangkan, tapi justru menambah resah.

“Dia pasti sudah lupa, Rin. Kota bisa membuat orang berubah.”

Rini menatap jauh ke arah jalan. 

“Mungkin memang aku yang terlalu percaya.” ?!

Angin berembus lembut, tapi ada dingin yang aneh di dada. Ia memeluk dirinya sendiri, seperti berusaha melindungi sesuatu yang masih tersisa entah cinta, entah kesetiaan.

Sementara di kota, ia menatap tiket pulang yang sudah ia beli seminggu lalu.
Tapi setiap kali hendak berangkat, ia menatap dirinya di cermin dan bertanya pelan,
"Apa aku siap melihat kebenaran yang mungkin tak ingin kutemui?"

Lalu ia menunda lagi.
Dan setiap penundaan itu seperti jarum yang meneteskan racun pelan-pelan ke dalam hatinya.

--'--->"NAMUNN..!!!

Kereta sore melaju pelan meninggalkan kota.
Jendela yang berkabut menyimpan pantulan wajahnya mata yang sudah letih menahan banyak hal: harapan, ragu, dan cinta yang kehilangan bentuk.
Di pangkuannya, tiket pulang yang sudah lecek; di dadanya, doa yang tak lagi lengkap.

Ia pulang dengan langkah yang ragu tapi hati yang ingin percaya sekali lagi.
Ia ingin membuktikan bahwa kabar buruk hanyalah kabar, bukan kenyataan.
Namun langit desa yang menyambutnya tak sehangat dulu; mendungnya seperti menyimpan rahasia yang tak sabar dibuka.

Di ujung jalan, terdengar suara gamelan dari rumah besar di tengah kampung.
Lampu hias berkelap-kelip, tamu lalu-lalang dengan senyum dan ucapan selamat.
Ia berhenti. Dadanya sesak. Langkahnya berat, tapi rasa ingin tahu menuntun lebih jauh.

“Pesta siapa ini?” tanyanya pada anak kecil yang berlari membawa bunga.
Anak itu menjawab polos, “Mbak Rini nikah, Kak. Sama Mas Ardi…”
Sendok yang dibawanya terjatuh dan menimpa seng 
yang sudah agak bekarat😁. Dunia di sekitarnya membisu.

Ia menatap dari jauh di pelaminan itu, dua orang yang dulu paling ia percaya tersenyum di bawah tirai putih.
Senyum yang dulu ia tunggu di akhir setiap doa, kini menjadi pisau yang paling tajam.
Waktu seolah berhenti; hanya angin yang lewat membawa bau melati dan kenangan yang retak.

Tangannya gemetar. Antara ingin berteriak atau berlutut.
Namun yang keluar hanya bisikan, hampir tak terdengar:
“Selamat… kalau memang bahagia…”

Ia berbalik sebelum ada yang menyadari. Langkahnya pelan, tapi matanya kosong.
Setiap derap terasa seperti mematahkan sisa-sisa dari dirinya sendiri.

Malam itu, di tepi pematang sawah yang dulu sering mereka lalui berdua,
ia duduk menatap bulan yang separuh hilang.
Tak ada air mata hanya diam panjang, seperti hening setelah badai.
Dalam hati kecilnya, ia tahu:
beberapa janji memang diciptakan hanya untuk diuji, bukan untuk ditepati.


---

🔥 Teaser Episode 4: “Bangkit dari Reruntuhan Hati”
Dari serpihan itu, apakah ia akan kembali menutup diri, atau menemukan cara baru untuk mencintai tanpa takut kehilangan?



To be continued...

Postingan populer dari blog ini

gerimis dalam jiwa

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

REL KERETA TUA