Postingan

Entri yang Diunggulkan

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

Gambar
--- Pagi itu, udara terasa segar setelah hujan semalam. Embun masih menempel di ujung daun, dan suara ayam peliharaan mulai ramai di belakang rumah. Gadis itu baru saja selesai menyapu halaman saat ibunya memanggil dari dalam rumah. “Ndok… ada tamu.” Ia melangkah ke ruang tamu dengan langkah santai. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Di sana, lelaki itu duduk rapi, mengenakan kemeja putih yang jarang dipakainya, celana hitam, dan wajah yang sedikit pucat mungkin karena gugup. Di sampingnya, ada dua orang: ibunya, dan seorang paman dari kota. Gadis itu tercekat. Pandangan mereka bertemu. Lelaki itu tidak senyum seperti biasa wajahnya serius, tapi matanya tetap hangat. “Aku datang… bukan cuma untuk ngobrol atau ngopi,” katanya pelan. “Aku datang untuk minta izin.” Gadis itu menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu hidup kita nggak mewah, nggak sempurna. Tapi aku mau kita jalanin bareng. Aku mau bangun pagi dan ngelihat kamu lagi masak air. Aku m...

SENYUM DI AKHIR KESUNYIAN MALAM..eps.3

Jejak yang Tertinggal Bersama Waktu ​Ada nama-nama yang setelah bertahun-tahun tidak pernah lagi kita sebut, tetapi anehnya masih mampu membuat hati berhenti sejenak ketika mendengarnya. ​Bukan selalu karena rindu. ​Kadang karena kenangan mempunyai caranya sendiri untuk mengetuk pintu yang sudah lama kita kira tertutup. ​Begitulah yang terjadi pada gadis itu. ​Sore itu mereka duduk di sebuah warung kecil di pinggiran pematang sawah, menikmati rindangnya ranting pepohonan yang tampak melambai tertiup semilir angin. ​Hujan baru saja turun. Udara masih menyimpan bau tanah basah, sementara suara kendaraan sesekali terdengar dari jalan raya di seberang sana. ​Lelaki itu sedang bercerita tentang pekerjaannya. ​Gadis itu mendengarkan sambil sesekali tersenyum. ​Semuanya terasa biasa. ​Sampai seorang lelaki yang duduk tidak jauh dari mereka memanggil temannya. ​“Mas... Dimas, nanti malam jadi berangkat?” ​Tangan si gadis yang sedang memegang gelas tiba-tiba berhenti. ​Hanya sepers...

SENYUM DI AKHIR KESUNYIAN MALAM..eps.2

Pintu yang Tidak Pernah Benar-Benar Tertutup ​Waktu berjalan lebih cepat daripada yang mereka sadari. ​Hubungan mereka yang awalnya hanya dipenuhi percakapan sederhana perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih serius. ​Mereka mulai saling mengenal keluarga. ​Mulai tahu kebiasaan masing-masing. ​Mulai mengetahui hal-hal kecil yang bahkan tidak pernah mereka ceritakan kepada orang lain. ​Lelaki itu tahu gadis ini selalu sulit tidur ketika pikirannya sedang penuh. ​Gadis itu tahu lelakinya akan menjadi lebih pendiam ketika ada sesuatu yang mengganggunya. ​Mereka mulai seperti dua orang yang terbiasa berjalan berdampingan. ​Namun semakin dekat hubungan mereka, semakin sering lelaki itu melihat sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. ​Bukan tentang perubahan sikap si gadis kepadanya. ​Justru sebaliknya. ​Gadis itu tetap perhatian. ​Tetap hangat. ​Tetap membuatnya merasa dicintai. ​Tetapi kadang-kadang, ketika mereka sedang duduk bersama dan suasana menjadi terlalu sunyi, panda...

SENYUM DI AKHIR KESUNYIAN MALAM...Eps.1

Orang yang Pertama Membuka Mata Hujan baru saja berhenti ketika lelaki itu melihat perempuan tersebut untuk pertama kalinya. Bukan pertemuan yang istimewa. Tidak ada musik. Tidak ada tatapan panjang seperti dalam film. Bahkan perempuan itu tidak menyadari bahwa sejak saat itu, hidupnya akan meninggalkan bekas yang begitu dalam di ingatan lelaki yang melihatnya. Sebut saja gadis itu Laras . Ia duduk sendirian di ujung teras sebuah rumah, memegang gelas teh yang sudah lama tidak disentuh. Rambutnya sedikit basah terkena percikan hujan. Sesekali ia melihat jalan, seolah sedang menunggu seseorang. Lelaki itu sebenarnya hanya lewat. Namun ada sesuatu pada wajah Laras yang membuat langkahnya melambat. Bukan kecantikan semata. Lebih seperti seseorang yang sedang berusaha terlihat baik-baik saja. “Menunggu siapa?” Pertanyaan itu keluar begitu saja. Gadis itu menoleh. “Kenapa?” “Dari tadi lihat jalan.” Gadis itu tersenyum kecil. “Memangnya nggak boleh?” “Ah... tidak. Bukan begi...

SIMFONI DERITA DI UJUNG RINDU..eps.3

Rintik di Antara Dua Tafsir ​Di sebuah petak kamar sewa yang lembap dan sempit, ia terbaring dalam temaram lampu yang menggantung redup. ​Dari luar, angin malam menyusup melalui celah jendela, membawa dingin yang perlahan merayap ke celah relung jiwanya. ​Tangannya sempat singgah di perut yang sejak tadi mengirim isyarat kecil, nyaris tak terdengar. Di hadapannya masih terlipat bungkus salah satu makanan yang paling sederhana; ia seolah menyisakan jejak dari makan malam yang terlalu cepat berlalu. ​Ia menoleh pada dompet yang tergeletak di atas meja. ​Beberapa lembar uang tersusun rapi di dalamnya. Tidak banyak. Namun, sebagian telah lebih dulu memiliki tujuan. ​Untuk rumah. Untuk istri yang menunggu. Untuk anak yang mungkin pagi nanti akan bertanya apakah ayahnya sudah mengirim uang bulan ini. ​Ia tersenyum tipis. ​Bukan karena hidup sedang ramah kepadanya, melainkan karena ia tahu ada hal-hal yang harus sampai lebih dahulu sebelum dirinya sendiri. ​Malam itu, ia kembali merebahkan tu...

SIMFONI DERITA DI UJUNG RINDU..eps2

Tirai rindu yang berduri ​Pagi itu datang tanpa senyum. Langit mendung menggantung rendah di atas atap rumah, seolah ikut menimbang beban berat yang sebentar lagi dipikul oleh dinding-dindingnya. ​Kepompong kehangatan itu mendadak terasa sempit. Koper tua berbahan kain kanvas tergeletak di lantai ruang tamu benda bisu yang menjadi saksi di awal mula sebuah perpisahan.  Di luar, roda-roda kereta mulai berputar di atas kerikil basah, memanggil sang suami untuk melangkah keluar dari hangat nya sebuah keluarga, m enuju rimba kehidupan yang asing dan tak berpijak pada kepastian. ​"Jangan menoleh ke belakang saat gerbang terbuka,"  Bisik sang suami, suaranya tercekat di tenggorokan, berusaha menelan ludah yang terasa sepahit empedu.  Tangannya menggenggam erat bahu istrinya, mencoba menyalurkan sisa-sisa keyakinan.  "Perjalananku bukan untuk meninggalkan, tapi untuk membangun pagar pelindung yang lebih tinggi bagi kita." ​Sang istri hanya bisa mengangguk, meski air matany...

SIMFONI DERITA DI UJUNG RINDU..eps.1

Gambar
Semerbak harum bunga ​Rumah kecil itu bukan sekadar bangunan dari batu dan kayu; ia adalah kepompong tempat dua jiwa merajut musim-musim terindah.  Di bawah atap yang sama, waktu berjalan lambat, seolah enggan beranjak dari dekap kehangatan yang tercipta setiap waktu. ​Bagi mereka, dunia luar hanyalah angin lalu yang menderu.  Kekayaan sejati bukanlah deretan angka di atas kertas, melainkan tawa renyah sang buah hati yang menggema di setiap sudut ruangan seperti melodi loceng kecil yang menepis segala resah. ​Suatu senja, di teras depan saat jingga langit perlahan melukis cakrawala, sang istri menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.  Secangkir teh hangat mengepulkan uap, menari-nari bersama angin malam yang mulai turun. ​"Rumah ini sudah terlalu penuh oleh tawa kecilnya," Bisik sang istri pelan, jemarinya menggenggam erat telapak tangan suaminya yang kasar namun selalu menenangkan.  "Aku takut... jika suatu hari nanti, kebahagiaan ini terlalu sempurn...

penyesalan di ujung waktu

Detik jarum jam berdetak, kau anggap nyanyian sepi, Musim berganti warna, kau tatap tanpa peduli. "Esok masih panjang," bisikmu menipu diri, Menyimpan peluk dan rindu, di dalam saku yang mati. ​Kau biarkan debu menebal pada bingkai kenangan, Kau biarkan tangan yang menunggu, jatuh dalam kedinginan. Matahari terbenam, kau kira esok akan selalu kembali, Tanpa sadar ada napas yang redup, lalu pergi tak terganti. ​Kini cermin menertawakan guratan lelah di wajahmu, Ruang kosong ini memantulkan gema suaramu yang ragu. Kau berlari memungut serpihan hari yang telah usang, Meminta satu jam saja, dari masa yang terlanjur hilang. ​Tapi waktu adalah hakim yang tak memendam iba, Ia takkan berputar balik oleh air mata atau doa. Kau berdiri di penghujung senja, memeluk udara yang hampa, Menangisi hidup dan cinta, yang membusuk karena kata "nanti".