Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

Entri yang Diunggulkan

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

Gambar
--- Pagi itu, udara terasa segar setelah hujan semalam. Embun masih menempel di ujung daun, dan suara ayam peliharaan mulai ramai di belakang rumah. Gadis itu baru saja selesai menyapu halaman saat ibunya memanggil dari dalam rumah. “Ndok… ada tamu.” Ia melangkah ke ruang tamu dengan langkah santai. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Di sana, lelaki itu duduk rapi, mengenakan kemeja putih yang jarang dipakainya, celana hitam, dan wajah yang sedikit pucat mungkin karena gugup. Di sampingnya, ada dua orang: ibunya, dan seorang paman dari kota. Gadis itu tercekat. Pandangan mereka bertemu. Lelaki itu tidak senyum seperti biasa wajahnya serius, tapi matanya tetap hangat. “Aku datang… bukan cuma untuk ngobrol atau ngopi,” katanya pelan. “Aku datang untuk minta izin.” Gadis itu menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu hidup kita nggak mewah, nggak sempurna. Tapi aku mau kita jalanin bareng. Aku mau bangun pagi dan ngelihat kamu lagi masak air. Aku m...

Rumah yang Tak Lagi Mengenali

Langkah kaki meniti malam sedingin embun pertama. Ranting-ranting tua berbisik lirih, seolah hendak menyapa, namun gugur sebelum sempat mengucap. Bayang purnama meninggi, tersangkut di sela-sela rindu yang membeku. Tak ada nisan sebagai penanda arah pulang; yang tersisa hanyalah jejak-jejak sunyi yang menghapus dirinya sendiri. Napas yang menua berdesir pelan di bibir waktu, menahan sembilu agar tak menjelma jerit. Dan aku berdiri, memandang keabadian yang menggulirkan musim demi musim, sementara nama-nama perlahan luruh dari ingatan bumi. Barangkali, yang paling sunyi bukanlah kehilangan, melainkan perjalanan panjang menuju rumah yang tak lagi mengenali penghuninya. Maka kurebahkan lelah di ambang batas, membiarkan sunyi merayakan dirinya. Tanpa kata. Tanpa arah. Hanya senyap yang perlahan mengatupkan mata.