Entri yang Diunggulkan
SENYUM DI AKHIR KESUNYIAN MALAM...Eps.1
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Orang yang Pertama Membuka Mata
Hujan baru saja berhenti ketika lelaki itu melihat perempuan tersebut untuk pertama kalinya.
Bukan pertemuan yang istimewa.
Tidak ada musik. Tidak ada tatapan panjang seperti dalam film. Bahkan perempuan itu tidak menyadari bahwa sejak saat itu, hidupnya akan meninggalkan bekas yang begitu dalam di ingatan lelaki yang melihatnya.
Sebut saja gadis itu Laras.
Ia duduk sendirian di ujung teras sebuah rumah, memegang gelas teh yang sudah lama tidak disentuh. Rambutnya sedikit basah terkena percikan hujan. Sesekali ia melihat jalan, seolah sedang menunggu seseorang.
Lelaki itu sebenarnya hanya lewat.
Namun ada sesuatu pada wajah Laras yang membuat langkahnya melambat.
Bukan kecantikan semata.
Lebih seperti seseorang yang sedang berusaha terlihat baik-baik saja.
“Menunggu siapa?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Gadis itu menoleh.
“Kenapa?”
“Dari tadi lihat jalan.”
Gadis itu tersenyum kecil.
“Memangnya nggak boleh?”
“Ah... tidak. Bukan begitu. Boleh-boleh saja kok.”
“Kalau begitu kenapa ditanya?”
Lelaki itu tersenyum.
Percakapan itu seharusnya selesai sampai di sana.
Tapi ternyata tidak.
Hari berikutnya mereka bertemu lagi.
Kemudian lagi.
Lalu mulai terbiasa.
Mula-mula hanya percakapan ringan. Tentang pekerjaan, keluarga, teman-teman, hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.
Tetapi justru dari hal-hal kecil itulah kedekatan sering tumbuh.
Lelaki itu mulai tahu bahwa gadis ini tidak suka ditanya ketika sedang sedih.
Gadis itu pun mulai tahu bahwa lelaki ini selalu diam kalau sedang kecewa.
Dan tanpa mereka sadari, mereka mulai saling membaca.
Ada satu hal yang membuat lelaki ini semakin tertarik.
Laras tidak pernah menceritakan masa lalunya secara lengkap.
Setiap kali percakapan mendekati sesuatu yang pribadi, ia selalu menemukan jalan untuk mengalihkannya.
“Dulu pernah pacaran?”
“Pernah.”
“Siapa?”
“Ngapain tahu?”
“Ya cuma penasaran.”
“Jangan.”
Jawaban itu selalu disertai senyum.
Bukan marah.
Bukan takut.
Lebih seperti seseorang yang sedang menjaga pintu agar tidak dibuka oleh orang lain.
Lelaki itu pun menghormatinya.
Setidaknya untuk sementara.
Sampai suatu malam Laras tiba-tiba berkata,
“Kalau suatu hari kamu tahu sesuatu tentang aku yang nggak kamu suka, kamu bakal pergi?”
Lelaki itu menatapnya.
“Kenapa nanya begitu?”
“Jawab aja.”
“Aku nggak tahu.”
Gadis itu tertawa pelan.
“Jujur sekali.”
“Aku bisa bilang nggak akan pergi. Tapi itu cuma janji. Aku belum tahu apa yang akan terjadi.”
Gadis itu terdiam.
Untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya hilang.
“Bagus,” katanya kemudian.
“Bagus?”
“Iya. Jangan pernah janji sesuatu yang belum tentu bisa kamu tepati.”
Lelaki itu pun tidak tahu bahwa kalimat sederhana itu sebenarnya adalah peringatan.
Bertahun-tahun kemudian, ia baru memahami maksudnya.
Hubungan mereka tumbuh dengan cara yang sederhana.
Tidak sempurna.
Ada pertengkaran. Ada kecemburuan. Ada hari-hari ketika mereka saling diam.
Tetapi ada pula sesuatu yang membuat si lelaki merasa hubungannya berbeda.
Gadis itu membuatnya merasa diperlukan.
Ketika lelaki ini lelah, gadis itu pun tahu.
Ketika lelakinya marah, gadis itu pun tahu kapan harus mendekat dan kapan harus membiarkannya sendiri.
Dan ketika lelakinya mulai meragukan dirinya sendiri, gadis ini selalu mempunyai cara untuk membuatnya merasa berharga.
Itulah yang membuat si lelaki jatuh semakin dalam.
Ia tidak sadar bahwa manusia sering kali paling mudah terikat bukan kepada orang yang selalu membuatnya bahagia, melainkan kepada orang yang mampu membuatnya merasa dipahami.
Beberapa bulan kemudian, lelaki itu pun akhirnya bertanya lagi.
“Kamu pernah benar-benar mencintai seseorang sebelum aku?”
Dan si gadis tidak langsung menjawab.
Ia menatap lelaki itu cukup lama.
“Pernah.”
“Masih ingat?”
“Kenapa nggak?”
Lelaki itu lalu tersenyum.
“Berarti masih sayang?”
Dan si gadis menggelengkan kepalanya.
“Belum tentu.”
Jawaban itu membuat lelaki itu terdiam.
“Lalu kenapa masih ingat?”
Gadis itu memandang ke langit yang hampir gelap, namun masih menyimpan cahaya keemasannya.
“Karena ada orang yang sudah nggak kita cintai, tapi tetap meninggalkan sesuatu di dalam diri kita.”
Lelaki itu tidak menjawab.
Ia belum memahami kalimat itu.
Ia juga belum tahu bahwa suatu hari nanti, justru kalimat tersebut yang akan menghantuinya.
Karena masa lalu si gadis ternyata bukan sekadar cerita lama.
Ada seseorang di dalamnya.
Seseorang yang pernah menjadi alasan gadis itu mengenal cinta untuk pertama kalinya.
Dan tanpa disadari, orang itu masih menyimpan sebuah pintu yang belum sepenuhnya tertutup.
Pintu yang suatu hari nanti akan terbuka kembali.
Bukan karena gadis itu ingin kembali.
Melainkan karena masa lalu, seperti luka lama, kadang tidak benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu seseorang menyentuhnya.
Bersambung...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya