Entri yang Diunggulkan

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

Gambar
--- Pagi itu, udara terasa segar setelah hujan semalam. Embun masih menempel di ujung daun, dan suara ayam peliharaan mulai ramai di belakang rumah. Gadis itu baru saja selesai menyapu halaman saat ibunya memanggil dari dalam rumah. “Ndok… ada tamu.” Ia melangkah ke ruang tamu dengan langkah santai. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Di sana, lelaki itu duduk rapi, mengenakan kemeja putih yang jarang dipakainya, celana hitam, dan wajah yang sedikit pucat mungkin karena gugup. Di sampingnya, ada dua orang: ibunya, dan seorang paman dari kota. Gadis itu tercekat. Pandangan mereka bertemu. Lelaki itu tidak senyum seperti biasa wajahnya serius, tapi matanya tetap hangat. “Aku datang… bukan cuma untuk ngobrol atau ngopi,” katanya pelan. “Aku datang untuk minta izin.” Gadis itu menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu hidup kita nggak mewah, nggak sempurna. Tapi aku mau kita jalanin bareng. Aku mau bangun pagi dan ngelihat kamu lagi masak air. Aku m...

SIMFONI DERITA DI UJUNG RINDU..eps.3

Rintik di Antara Dua Tafsir

​Di sebuah petak kamar sewa yang lembap dan sempit, ia terbaring dalam temaram lampu yang menggantung redup.

​Dari luar, angin malam menyusup melalui celah jendela, membawa dingin yang perlahan merayap ke celah relung jiwanya.

​Tangannya sempat singgah di perut yang sejak tadi mengirim isyarat kecil, nyaris tak terdengar. Di hadapannya masih terlipat bungkus salah satu makanan yang paling sederhana; ia seolah menyisakan jejak dari makan malam yang terlalu cepat berlalu.

​Ia menoleh pada dompet yang tergeletak di atas meja.

​Beberapa lembar uang tersusun rapi di dalamnya. Tidak banyak. Namun, sebagian telah lebih dulu memiliki tujuan.

​Untuk rumah.

Untuk istri yang menunggu.

Untuk anak yang mungkin pagi nanti akan bertanya apakah ayahnya sudah mengirim uang bulan ini.

​Ia tersenyum tipis.

​Bukan karena hidup sedang ramah kepadanya, melainkan karena ia tahu ada hal-hal yang harus sampai lebih dahulu sebelum dirinya sendiri.

​Malam itu, ia kembali merebahkan tubuh.

​Menelan sesuatu yang tak bernama bersama ludahnya, lalu menarik selimut hingga ke dada.

​Di salah satu sudut kota yang begitu jauh dari rumah, ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa rasa yang mengganjal di perut itu tidak seberapa.

​Selama di sana, di balik jarak yang tak bisa ditempuh malam ini, lampu rumah mereka tetap menyala dan meja makan tak sepenuhnya kosong.

​Barangkali begitulah cara seseorang mencintai dari kejauhan.

​Mengurangi bagian dirinya sendiri, sedikit demi sedikit, agar orang-orang yang dicintainya tetap merasa memiliki cukup.

​Namun, cinta sering kali rabun di hadapan jarak.

​Ponsel di atas meja berdering nyaring, memecah kesunyian kamar petak itu.

​Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa payah, sang suami mengangkatnya, berharap mendengar suara lembut penawar lelah.

​Yang menyambutnya justru dera napas berat dan suara serak penuh amarah dari ujung sana.

​"Kamu pikir aku ini patung, Mas?! Hidup sendiri mengurus anak tanpa pegangan, sementara di sana kamu asyik dengan duniamu sendiri!" bentak sang istri, air matanya tumpah bukan karena sedih, melainkan karena tumpukan emosi yang sudah meracuni akal sehatnya.

​Sang suami tertegun.

​Tenggorokannya terasa tercekat, lebih karena rasa perih di dada daripada sisa lapar yang mendera.

​"Aku di sini berjuang banting tulang," Sayang...itu semua demi masa depan kita, demi anak kita..."

​"Berjuang?!" potong sang istri dengan nada tinggi, racun perbandingan itu akhirnya meledak. "Seseorang yang pernah bersamaku dulu tidak pernah menyiksaku seperti ini! Dia ada di dekatku, bisa menggandeng tanganku setiap hari, tidak sepertimu yang pengecut, lari dari kenyataan demi alasan mencari penunjang hidup yang tidak jelas ujungnya!"

​Deg.

​Kalimat itu meluncur begitu saja, bagaikan belati tajam yang menembus ulu hati sang suami.

​Seketika, ruangan sempit itu terasa berputar; pandangannya kosong menerawang jauh bersama perasaannya yang sulit untuk digenggam, lelaki itu seakan berpisah dari raganya.

​Pengorbanan yang ia bayangkan sebagai bentuk cinta kasih yang suci, di mata istrinya justru dianggap sebagai pelarian dan kebodohan. Ia menahan lapar, ia menahan rindu yang menyiksa, tapi yang ia dapatkan di ujung telepon adalah vonis bahwa dirinya adalah pria yang gagal.

​"Kamu... benar-benar berpikir begitu tentangku?"

​Bisik sang suami, suaranya yang terbata-bata sedikit tak terdengar, tenggelam oleh rasa kecewa yang amat sangat dalam. Suara angin malam di luar jendela ikut menderu menghiasi perasaannya yang nyaris sirna.

​"Iya! Kalau kamu tidak sanggup, buat apa bertahan?!"

​Klik. Sambungan telepon terputus sepihak.

​Di kamar sempit itu, sang suami jatuh tanpa disadarinya; lututnya gemetar tanpa tenaga untuk menyangga, hingga ia bersimpuh di lantai yang dingin.

​Tidak ada tangis yang meledak, hanya ada sesak yang teramat sangat di dada, menjalar hingga ke ujung jemari. 

Ia menatap layar ponselnya yang gelap, sementara di dalam perutnya, rasa lapar itu mendadak hilang, kalah telak oleh rasa sakit di lubuk hatinya yang paling dalam.

​Di rumahnya, sang istri bernapas memburu, dadanya naik-turun menahan sisa amarah. Ia merasa menang telah menumpahkan unek-uneknya, tanpa pernah tahu bahwa malam itu, ia baru saja menutup rapat pintu permaafan terakhir bagi suaminya.

​


Bersambung....

Postingan populer dari blog ini

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.3

PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.4