Entri yang Diunggulkan
SENYUM DI AKHIR KESUNYIAN MALAM..eps.3
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Jejak yang Tertinggal Bersama Waktu
Ada nama-nama yang setelah bertahun-tahun tidak pernah lagi kita sebut, tetapi anehnya masih mampu membuat hati berhenti sejenak ketika mendengarnya.
Bukan selalu karena rindu.
Kadang karena kenangan mempunyai caranya sendiri untuk mengetuk pintu yang sudah lama kita kira tertutup.
Begitulah yang terjadi pada gadis itu.
Sore itu mereka duduk di sebuah warung kecil di pinggiran pematang sawah, menikmati rindangnya ranting pepohonan yang tampak melambai tertiup semilir angin.
Hujan baru saja turun. Udara masih menyimpan bau tanah basah, sementara suara kendaraan sesekali terdengar dari jalan raya di seberang sana.
Lelaki itu sedang bercerita tentang pekerjaannya.
Gadis itu mendengarkan sambil sesekali tersenyum.
Semuanya terasa biasa.
Sampai seorang lelaki yang duduk tidak jauh dari mereka memanggil temannya.
“Mas... Dimas, nanti malam jadi berangkat?”
Tangan si gadis yang sedang memegang gelas tiba-tiba berhenti.
Hanya sepersekian detik.
Begitu singkat sampai mungkin orang lain tidak akan menyadarinya.
Tetapi lelaki di depannya melihat.
Ia tidak langsung bertanya.
Ia hanya menyimpan perubahan kecil itu di dalam kepalanya.
Beberapa menit kemudian mereka meninggalkan warung.
Lelaki itu berjalan di sampingnya.
“Nama itu...”
Gadis itu menoleh.
“Nama apa?”
“Dimas.”
Gadis itu diam.
“Kamu kenal?”
“Kenal.”
Jawabannya terlalu cepat.
Lelaki itu tersenyum tipis.
“Teman?”
Gadis itu mengangguk.
“Teman.”
“Teman lama?”
“Iya.”
“Yang dulu pernah kamu ceritakan?”
Langkah si gadis terhenti.
Ia menatap lelaki itu.
“Kenapa?”
“Cuma nanya.”
“Jangan mulai jadi detektif lagi.”
Lelaki itu tertawa kecil.
“Aku cuma penasaran.”
Gadis itu kembali berjalan.
Namun kali ini langkahnya lebih pelan.
Malamnya, si gadis menjadi lebih pendiam.
Lelaki itu tidak menyinggung nama tersebut lagi.
Ia tahu kapan harus bertanya dan kapan harus membiarkan seseorang menyimpan sesuatu untuk dirinya sendiri.
Tetapi sekitar tengah malam, ketika mereka sedang duduk berdua, justru gadis itu yang membuka pembicaraan.
“Dimas itu bukan orang yang pertama.”
Lelaki itu menoleh. Keningnya berkerut, nyaris tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Yang kamu tanyakan tadi.”
“Maksudmu... terus?”
Gadis itu menarik napas.
“Dia bukan orang pertama yang pernah aku cintai.”
Lelaki itu terdiam.
Kalimat sederhana itu ternyata memiliki berat yang berbeda setelah keluar dari mulutnya.
“Berarti ada sebelum dia?”
Gadis itu mengangguk.
“Dan sesudahnya?” Lelaki itu menahan napas, bersiap untuk jawaban apa pun yang akan keluar.
Gadis itu tersenyum tipis.
“Banyak yang kamu nggak tahu.”
“Kenapa nggak pernah cerita?”
“Karena dulu aku pikir semuanya sudah selesai.”
“Dan sekarang?”
Gadis itu menatapnya.
“Sekarang aku juga masih berpikir begitu.”
“Tapi?”
Gadis itu tidak langsung menjawab.
Ia memandang ke arah jendela.
Di luar, malam terlihat begitu tenang.
“Kenangan nggak selalu meminta kita kembali,” katanya pelan.
“Kadang dia cuma ingin diakui bahwa dia pernah ada.”
Lelaki itu memperhatikannya.
“Dimas penting?”
Gadis itu tersenyum kecil.
“Pernah.”
“Sekarang?”
“Sekarang dia cuma bagian dari hidupku yang sudah lewat.”
“Kalau begitu kenapa tadi kamu berhenti waktu dengar namanya?”
Gadis itu terdiam.
Pertanyaan itu seperti batu kecil yang dilemparkan ke permukaan air tenang.
Riaknya menyebar ke mana-mana.
“Aku juga nggak tahu.”
Jawaban yang sama.
Entahlah.
Tetapi kali ini lelaki itu tidak puas.
Beberapa hari kemudian, mereka sedang membersihkan sebuah lemari lama di rumah si gadis.
Sebuah kotak kecil jatuh dari bagian paling atas.
Tidak besar.
Warnanya sudah kusam.
Gadis itu buru-buru mengambilnya.
Namun sebelum ia sempat menyimpannya, lelaki itu melihat sesuatu di dalamnya.
Sebuah foto.
Hanya terlihat sebentar.
Seorang perempuan muda berdiri di samping seorang lelaki yang tampak tidak asing.
Itu dia. Jauh lebih muda.
Dan di sebelahnya seorang lelaki yang tersenyum ke arah kamera.
Lelaki yang berdiri di hadapannya saat ini tidak bertanya.
Ia hanya melihat wajah si gadis.
Wajah yang biasanya mudah menyembunyikan perasaan itu kali ini berbeda.
Bukan bahagia.
Bukan sedih.
Lebih seperti seseorang yang baru saja membuka pintu kamar lama dan mendapati udara di dalamnya masih memiliki bau yang ia kenal.
“Siapa?”
Gadis itu menundukkan foto itu.
“Orang lama.”
“Dimas?”
Gadis itu menggeleng.
“Bukan.”
“Lalu siapa?”
Gadis itu menatap foto tersebut beberapa detik.
“Dia...”
Ia berhenti.
Seolah nama itu terlalu lama tidak digunakan oleh lidahnya.
“Dia orang pertama.”
Lelaki itu tidak mengatakan apa-apa.
Gadis itu memasukkan foto tersebut kembali ke dalam kotak.
Menutupnya.
Lalu menyimpannya kembali.
Tetapi lelaki itu sudah melihat sesuatu yang tidak bisa lagi ia lupakan.
Ada perbedaan antara seseorang yang sekadar mengingat masa lalu...
dan seseorang yang masih mengenali perasaan ketika melihatnya kembali.
Malam itu sang lelaki berbaring di samping kekasihnya.
Perempuan itu sudah tertidur.
Ia memandang wajahnya dalam cahaya redup.
Untuk pertama kalinya ia tidak merasa cemburu kepada lelaki yang ada di foto tadi.
Ia justru merasa penasaran.
Apa yang pernah dilakukan lelaki itu sehingga menjadi orang pertama?
Apa yang membuat seorang perempuan muda sepertinya menyerahkan bagian dirinya kepada seseorang?
Dan mengapa, setelah bertahun-tahun, hanya melihat sebuah foto lama saja sudah cukup untuk membuatnya kehilangan kata-kata?
Ia menutup matanya.
Tetapi sebuah pertanyaan tetap tinggal.
Pertanyaan yang mungkin tidak akan bisa dijawab hanya dengan bertanya kepadanya.
Karena ada kisah-kisah tertentu yang tidak tersimpan dalam kata-kata.
Ia tersimpan dalam cara seseorang diam.
Dalam cara tangannya tiba-tiba berhenti bergerak.
Dalam cara matanya memandang sebuah foto.
Dan dalam satu nama...
yang ternyata masih mampu membuat masa lalu terasa begitu dekat.
Bersambung....
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya