PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.2
Malam di kota itu tak pernah benar-benar sepi.
Lampu-lampu jalan berbaris seperti bintang buatan, dan suara kendaraan menjadi musik yang tak pernah berhenti.
Bagi sebagian orang, itu pertanda kehidupan.
Bagi dia, itu pengingat bahwa ia jauh dari rumah.
Tiga minggu sudah berlalu sejak kepergiannya.
Surat-suratnya belum sempat dikirim terlalu lelah setiap pulang dari kerja.
Ia bekerja pagi,siang dan malam di salah satu sudut kota, tempat suara jalanan lalulalang beradu jadi irama harian.
Tangannya penuh luka kecil, tapi ia selalu tersenyum.
Setiap kali hawa aspal jalan yang panas sesekali menyambar, yang ia lihat bukan rasa gerah di badan ,melainkan wajah seseorang yang menunggu di kejauhan.
Kadang saat malam turun, ia keluar ke beranda kontrakannya yang sempit.
Menatap langit tanpa bintang, ia membayangkan desa nya yang teduh.
Bayangan itu sederhana:
Gadis itu itu menyapu halaman, menatap jalanan yang kosong, berharap ada bayangan dirinya datang di ujung sore.
Tapi seiring waktu, rasa sepi berubah menjadi kabut yang pelan-pelan menutup matanya.
Ia mulai jarang bermimpi.
Mulai terbiasa hidup dengan rindu yang tak bisa dibagi.
“Lima bulan cepat berlalu,” katanya pada diri sendiri.
Namun waktu di perantauan tak pernah berjalan secepat yang diinginkan.
Hari-hari kerja terasa panjang, dan malam selalu lebih dingin dari yang ia kira.
Suatu hari, ia menerima kabar dari seorang teman dari desa nya, kabar singkat, nyaris seperti angin yang berbisik:
“Dia sekarang sering bersama karibmu. Katanya, mereka akrab.”
Ia membaca pesan itu berulang kali, lalu menghela napas panjang.
Tidak ada marah, hanya hening.
“Ah, mungkin cuma kabar angin,” gumamnya pelan.
Tapi di dadanya, janji yang dulu kokoh mulai retak halus seperti kaca yang tak terlihat pecah, namun menunggu waktu untuk benar-benar patah.
Malam itu, hujan turun deras.
Untuk pertama kalinya, ia menatap cermin di kamar kosnya dan berkata pelan:
“Aku harus pulang lebih cepat…”
Bukan lagi karena ingin memberi kejutan,
tapi karena takut kehilangan sesuatu yang tak sempat dijaga.
----
Malam itu, hujan turun seperti luka yang tak mau kering. Di kamar kontrakan sempit, ia menatap layar ponselnya yang redup nama itu tetap sama, tapi pesan yang dulu hangat kini berubah jadi dingin.
"Sudah makan?" balasnya pelnan, meski tahu pesan terakhirnya seminggu lalu belum dibaca.
Ia mencoba menenangkan diri. “Mungkin dia sibuk di sawah, atau jaringan di sana sedang mati,” gumamnya. Tapi batin manusia tak bisa dibohongi. Diam-diam, ketakutan menjelma menjadi bayangan yang tak mau pergi.
Di desa, gadis itu duduk di tepi jendela, menatap hujan yang sama. Di tangannya, sepucuk surat yang belum sempat dikirim. Ia menulis, menghapus, lalu menulis lagi setiap kata seolah menyembunyikan rahasia.
Seseorang mengetuk pintu.
"Sendiri aja, Rin?" suara itu lembut tapi asing. Kariblama yang dulu sering datang membawa kabar dari kota, kini lebih sering datang tanpa alasan.
gadis itu tersenyum kaku. “Hanya hujan yang menemaniku.”
Lelaki itu menatapnya lama, lalu duduk tanpa diminta. "Kau kelihatan lelah. Dia sibuk ya di sana?"
Pertanyaan itu sederhana, tapi seperti pisau yang diselipkan di antara kata.
ya sang gadis hanya menunduk. Ada getar halus di dada yang tak ingin diakui. Antara kesepian dan kerinduan, ia berjalan di tepian jurang yang licin.
Malam makin larut. Di kejauhan, gonggongan anjing menggema. Sementara di kota, lelaki yang pernah bersumpah untuk pulang sebelum janji retak, menatap foto mereka yang rapi tersimpan dalam sebuah dompet usang, untuk pertama kalinya, merasa takut menatap matanya sendiri.
---
🔥 Penutup bab (teaser untuk episode 3):
Ada keputusan besar yang akan diambilnya bukan karena ingin membuktikan cinta, tapi karena ingin memastikan apa yang tersisa masih layak disebut setia.
To be continued...