PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.1
Sore itu, langit berwarna tembaga. Matahari seperti enggan tenggelam, seolah tahu ada dua hati yang sebentar lagi akan berpisah.
Di bawah pohon di halaman rumahnya, ia berdiri dengan raut wajah yang sulit disembunyikan antara tekad dan kesedihan.
“Lima bulan saja,” ucapnya pelan. “Lima bulan aku pergi, lalu kembali membawa harapan untuk kita.”
Perempuan di depannya menunduk. Jarinya bermain di ujung kain, menahan getar yang tak bisa diucapkan.
“Kenapa harus sejauh itu?” tanyanya nyaris berbisik.
“Karena di sini aku tak bisa menjanjikan apa-apa,” jawabnya, menatap lurus ke mata kekasihnya.
“Aku ingin sesuatu yang layak untukmu.”
Suasana hening sejenak. Hanya suara burung sore yang berbalas di kejauhan, seakan ikut menahan napas.
Ia melangkah satu langkah lebih dekat.
“Percayalah padaku, aku akan kembali. Aku janji, tidak akan ada yang bisa menggantikanmu di hati ini.”
Perempuan itu tersenyum tipis, senyum yang berusaha tegar, tapi matanya basah.
“Aku percaya,” katanya. “Tapi janji, kirim kabar kalau kau sempat. Aku tak ingin menunggu dalam sepi.”
Ia mengangguk. Lalu mengulurkan tangannya, menggenggam lembut jemari yang mulai bergetar.
Di genggaman itu, ada kehangatan, tapi juga ketakutan yang diam-diam menyelinap.
Sebab mereka berdua tahu, jarak tidak hanya memisahkan tubuh tapi juga bisa menguji setia.
Malam datang lebih cepat dari biasanya. Angin berhembus membawa aroma hujan yang tertahan.
Ia melangkah meninggalkan rumah itu dengan langkah berat, memikul tas kecil dan harapan besar.
Setiap langkah di jalan tanah yang becek terasa seperti menjauh dari dirinya sendiri.
Di belakang, perempuan itu berdiri di beranda, menatap punggung yang perlahan mengecil dalam kabut senja.
Hatinya berdoa dalam diam semoga lelaki itu benar-benar kembali.
Sementara di dadanya, janji itu terukir jelas:
“Aku akan menunggumu.”
Pagi berikutnya, ia sudah berada di dermaga yang ramai oleh lalulalang penumpang namun serasa hening semacam takpercaya,mata nya berkaca kaca, bibir nya bergetar halus seolah ingin berkata numun tak kuasa.
Ia menatap tiket di tangannya, menatap langit yang kini mulai cerah.
Di kepalanya berputar bayangan wajah sang kekasih, senyumnya, suaranya, dan tatapan yang menahan air mata.
Dalam hati, ia berjanji untuk tidak mengecewakan.
Perjalanan panjang di depan terasa ringan, sebab di ujungnya ada cinta yang menunggu.
Dan di sanalah, cerita ini benar-benar dimulai dari sebuah perpisahan yang penuh keyakinan. dalam kisah "PENGORBANAN SEBUAH JANJI"