Postingan

Entri yang Diunggulkan

DUA JIWA, SATU TAKDIR...eps.1

Gambar
Jejak di ujung senja Langit senja merendah, menumpahkan gerimis yang membasahi tanah liat di sepanjang tepian pematang sawah. Udara dingin menyusup melalui celah kemejanya, membawa aroma tanah basah yang berpadu dengan wangi jerami tua yang perlahan melapuk. Di tempat itulah sang pemuda berdiri seorang diri. Ia terdiam tanpa arah yang pasti, membiarkan rintik hujan membasuh wajahnya yang tampak lelah. Di hadapannya, hamparan sawah membentang luas dalam balutan kabut tipis yang turun merayap dari kaki bukit. Garis-garis pematang perlahan mengabur, melebur bersama warna kelabu senja yang kian tenggelam di balik cakrawala. Namun, di tengah kesunyian sore itu, pandangannya mendadak terpaku pada sesuatu. Di ujung pematang, tak jauh dari deretan pohon bambu yang berdesir lirih ditiup angin, sesosok bayangan tampak berdiri. Seorang gadis. Parasnya begitu jelita, seolah menyimpan cahaya tersendiri di antara temaram senja. Sisa sinar matahari yang menembus tirai kabut menyentuh waja...

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.11

Gambar
JEJAK KELABU PERISTIWA MASALALU Matahari belum sepenuhnya menampakan wajah, Ketika sebuah mobil hitam membelah jalan desa yang meliuk-liuk di antara rimbunnya pepohonan. ​Hamparan aspal yang mulus perlahan menyerah pada jalur berbatu yang sempit dan tak rata. Genangan sisa hujan semalam masih berkaca-kaca memantulkan kelabu langit, sementara rumah-rumah bersahaja berdiri berjauhan dalam sunyi, Beriringan dengan kebun-kebun kecil dan pagar bambu yang lapuk digerus usia, Desa itu tampak asing bagi Haryo. ​Di balik kemudi, sang sopir memperlambat laju kendaraan, berhati-hati menembus kabut tipis yang merayap turun menyelimuti pagi. "Apakah benar tempat yang Bapak cari berada di sekitar sini?" tanyanya. "Menurut informasi yang berhasil kita dapatkan, benar. Tetapi kita masih perlu memastikan alamatnya." Pengacara tua itu memandang keluar jendela. Usianya telah membuat perjalanan jauh terasa lebih melelahkan daripada dahulu. Namun, ada sesuatu yang membuatnya...

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.10

Gambar
Jejak Sunyi di Awal Langkah Masalalu. Derit lambung perahu kayu telah terdengar menandakan perjalanan pulang Nelayan telah sampai di dermaga, disusul jerit tertahan para buruh angkut dan riuh rendah pasar lelang yang menggeliat dalam kelam. Udara fajar merayap lembap, membawa aroma garam yang pekat berkelindan dengan amis ikan segar dan basahnya kayu perahu yang menyimpan rahasia gelombang. ​Bagi kebanyakan orang, pagi hanyalah roda waktu yang berputar tanpa iba, mengulang alur hari kemarin dalam rutinitas yang hambar. Namun, di hadapan semesta yang sendu itu, Nirmala memeluk sunyinya sendiri. Setiap kali fajar menyingsing, selalu terselip tanya yang sama, tajam bagai sembilu: adakah sisa peluh kemarin yang cukup untuk merajut napasnya bertahan hidup barang sehari lagi? Ia berdiri di samping keranjang ikan milik kakek nelayan. Jumlah tangkapan pagi itu tidak terlalu banyak. Beberapa ekor ikan berukuran sedang, sejumlah ikan kecil, dan beberapa hasil laut lain yang masih cukup segar unt...

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.9

Gambar
DI BALIK SELIMUT KABUT Pagi datang dengan semburat jingga yang perlahan menyingkap garis cakrawala. Namun, sisa malam seolah tak rela pergi; kabut tipis masih memeluk dingin, menggantung di ujung-ujung dahan yang basah oleh embun.  Di meja kecil di sudut beranda, uap tipis mengepul dari secangkir kopi hangat, berpacu dengan hening yang teramat panjang.  Ia menyeduh takdir dengan sabar berharap angin pagi membawa kabar tentang langkah yang kelak kembali.  Nirmala. Di pesisir, perahu-perahu kayu mulai merapat setelah semalaman berhadapan dengan ombak. Para nelayan turun membawa hasil tangkapan, sementara beberapa pedagang telah menunggu di sekitar pelelangan. Suara tawar-menawar yang biasanya terdengar sejak fajar kembali memenuhi udara, bercampur dengan pekikan burung camar dan deru mesin perahu yang mulai dipadamkan. Sekilas, semuanya tampak berjalan seperti biasa. Namun, bagi mereka yang menggantungkan hidup pada hasil laut, pagi itu membawa kabar yang cukup menggembirak...

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.8

Gambar
PENDAR LAMPU REDUP DI UJUNG JALAN Di setiap pagi yang masih basah oleh embun,  Di antara dinginnya kabut yang memeluk malam, tersimpan hangatnya satu keyakinan yang enggan padam, Nirmala melangkah pelan menuju pesisir. Hatinya sudah lebih dulu sampai di tepi laut, menanti sosok yang selalu membuat dadanya berdegup hangat.  Nelayan tua itu… bukan sekadar lelaki yang bertaruh nyawa di tengah ombak samudra. Bagi Nirmala, ia adalah napas yang dinanti,  seseorang yang dengan kesederhanaan dan ketulusannya mampu meredakan kegaduhan yang kerap bersemayam didalam dadanya. Ketika perahu kayu itu perlahan membelah kabut pagi, ketegangan di dada Nirmala mencair menjadi kelegaan. Ia tersenyum kecil, seolah waktu berhenti demi menyambutnya. Sang nelayan merapatkan perahunya ke pasir basah, sesaat kemudian mengangkat wajahnya, mendapati Nirmala berdiri setia di antara buih-buih ombak.  “Pagi ini lautnya cukup ramah, Nirmala,” suara serak lelaki itu memecah sunyi, sarat kelelahan y...

Postingan populer dari blog ini

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.9

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.4