Entri yang Diunggulkan

DUA JIWA, SATU TAKDIR...eps.1

Gambar
Jejak di ujung senja Langit senja merendah, menumpahkan gerimis yang membasahi tanah liat di sepanjang tepian pematang sawah. Udara dingin menyusup melalui celah kemejanya, membawa aroma tanah basah yang berpadu dengan wangi jerami tua yang perlahan melapuk. Di tempat itulah sang pemuda berdiri seorang diri. Ia terdiam tanpa arah yang pasti, membiarkan rintik hujan membasuh wajahnya yang tampak lelah. Di hadapannya, hamparan sawah membentang luas dalam balutan kabut tipis yang turun merayap dari kaki bukit. Garis-garis pematang perlahan mengabur, melebur bersama warna kelabu senja yang kian tenggelam di balik cakrawala. Namun, di tengah kesunyian sore itu, pandangannya mendadak terpaku pada sesuatu. Di ujung pematang, tak jauh dari deretan pohon bambu yang berdesir lirih ditiup angin, sesosok bayangan tampak berdiri. Seorang gadis. Parasnya begitu jelita, seolah menyimpan cahaya tersendiri di antara temaram senja. Sisa sinar matahari yang menembus tirai kabut menyentuh waja...

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.10


Jejak Sunyi di Awal Langkah Masalalu.

Derit lambung perahu kayu telah terdengar menandakan perjalanan pulang Nelayan telah sampai di dermaga, disusul jerit tertahan para buruh angkut dan riuh rendah pasar lelang yang menggeliat dalam kelam. Udara fajar merayap lembap, membawa aroma garam yang pekat berkelindan dengan amis ikan segar dan basahnya kayu perahu yang menyimpan rahasia gelombang.

​Bagi kebanyakan orang, pagi hanyalah roda waktu yang berputar tanpa iba, mengulang alur hari kemarin dalam rutinitas yang hambar. Namun, di hadapan semesta yang sendu itu, Nirmala memeluk sunyinya sendiri. Setiap kali fajar menyingsing, selalu terselip tanya yang sama, tajam bagai sembilu: adakah sisa peluh kemarin yang cukup untuk merajut napasnya bertahan hidup barang sehari lagi?

Ia berdiri di samping keranjang ikan milik kakek nelayan. Jumlah tangkapan pagi itu tidak terlalu banyak. Beberapa ekor ikan berukuran sedang, sejumlah ikan kecil, dan beberapa hasil laut lain yang masih cukup segar untuk dijual.

Nirmala memeriksa satu per satu, memastikan tidak ada ikan yang rusak sebelum mengaturnya kembali di dalam keranjang.

"Kita tidak sebanyak kemarin, Kek," katanya pelan.

Kakek nelayan mengangguk sambil merapikan tali di dekat perahunya.

"Angin berubah arah semalam. Aku tidak bisa terlalu jauh ke tengah. Ombaknya juga kurang bersahabat, Nirmala."

Nirmala menatap laut yang membentang di hadapan mereka.

Ia memahami bahwa hasil tangkapan tidak selalu bisa diprediksi. Ada hari ketika laut memberikan lebih dari yang mereka harapkan, tetapi ada pula hari ketika nelayan harus pulang dengan hasil seadanya.

"Kalau begitu, hari ini kita jual secukupnya saja. Aku tidak ingin memaksakan pesanan yang belum tentu bisa kita penuhi."

Kakek nelayan tersenyum tipis.

"Itu baru pikiran seorang pedagang. Jangan sampai keinginan mendapatkan uang membuatmu lupa menghitung kemampuan sendiri."

Nirmala membalas senyumnya. Belakangan ini, ia mulai memahami bahwa berdagang bukan semata-mata tentang mendapatkan pembeli. Ada kepercayaan yang harus dijaga, ada perhitungan yang tidak boleh diabaikan, dan ada batas kemampuan yang harus diakui.

Ia kemudian mengangkat keranjang kecilnya dan berjalan menuju tempat biasa ia berjualan.

Namun, suasana pelelangan pagi itu terasa sedikit berbeda.

Di beberapa sudut, para nelayan terlihat berkumpul dengan wajah yang lebih cerah daripada hari-hari sebelumnya. Percakapan mereka sesekali diselingi tawa kecil ketika seorang pengepul datang menawarkan harga pembelian yang cukup tinggi untuk jenis ikan tertentu.

Nirmala tidak perlu bertanya terlalu jauh untuk memahami apa yang sedang terjadi.

Maheswari masih menjalankan strateginya.

Perempuan itu tidak sekadar mengandalkan ancaman atau larangan. Ia menggunakan sesuatu yang jauh lebih sulit diabaikan oleh orang-orang yang menggantungkan hidup pada hasil laut: harga.

Bagi nelayan yang harus membeli bahan bakar, memperbaiki jaring, dan memenuhi kebutuhan keluarga, selisih harga sekecil apa pun dapat berarti banyak.

Nirmala tidak menyalahkan mereka.

Ia tahu, tidak semua orang memiliki kemewahan untuk mempertahankan pendirian ketika kebutuhan sehari-hari terus menuntut untuk dipenuhi.

Di tengah kesibukan itu, seorang pedagang yang beberapa hari sebelumnya sempat berbincang dengannya melintas sambil membawa keranjang kosong.

"Nirmala, hari ini tidak membawa banyak ikan?"

"Memang tidak banyak, Pak. Hasil tangkapan kakek berkurang."

Pedagang itu melirik keranjangnya.

"Sayang sekali. Kalau barangmu lebih banyak, mungkin aku bisa mengambil beberapa."

Nirmala tersenyum sopan.

"Tidak apa-apa, Pak. Lain kali kalau hasil tangkapannya cukup, saya kabari."

Pedagang itu mengangguk, lalu berlalu tanpa janji apa pun.

Nirmala kembali menunduk, memeriksa ikan-ikannya.

Ia tidak kecewa. Setidaknya, percakapan itu memberinya gambaran bahwa peluang selalu ada, meskipun belum tentu datang pada waktu yang ia inginkan.

Tak lama kemudian, seorang pembeli dari warung makan yang sebelumnya memesan ikan darinya datang menghampiri.

"Bagaimana ikan hari ini?" tanyanya.

"Masih segar, Pak. Hanya jumlahnya tidak sebanyak kemarin."

Pembeli itu memeriksa beberapa ekor ikan, lalu mengamati isi keranjang.

"Saya butuh sedikit lebih banyak dari ini. Warung sedang ramai. Tetapi kalau memang tidak ada, saya ambil yang tersedia saja."

Nirmala terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Maaf, Pak. Untuk hari ini saya belum bisa menjanjikan tambahan. Saya hanya menjual hasil tangkapan kakek yang membantu saya. Kalau hasil lautnya sedikit, barang yang bisa saya bawa juga terbatas."

Pembeli itu mengangkat wajah, memandang Nirmala seolah baru memahami mengapa gadis itu tidak pernah datang dengan keranjang yang berlimpah.

"Jadi, kamu memang belum punya pemasok lain?"

"Belum, Pak."

"Kalau begitu, bagaimana kalau suatu hari saya membutuhkan jumlah yang lebih besar?"

Nirmala menarik napas perlahan.

"Saya akan berusaha memenuhi kalau memang mampu. Tapi saya tidak ingin menjanjikan sesuatu yang belum pasti. Saya lebih baik mengatakan tidak bisa daripada membuat Bapak menunggu pesanan yang tidak datang."

Lelaki itu terdiam sesaat, lalu mengangguk.

"Baiklah. Untuk hari ini saya ambil yang ada. Nanti kalau kebutuhan saya berubah, kita bicarakan lagi."

"Terima kasih, Pak."

Setelah pembeli itu pergi, Nirmala menghitung kembali uang yang diterimanya. Keuntungan pagi itu tidak besar. Bahkan, jika dibandingkan dengan waktu dan tenaga yang ia keluarkan, hasilnya masih jauh dari cukup untuk membawanya keluar dari kesulitan.

Namun, ia tidak merasa usahanya sia-sia.

Hari ini, setidaknya, ia tidak kehilangan uang. Pembelinya juga tidak pulang dengan kekecewaan akibat janji yang tak terpenuhi.

Bagi Nirmala, itu adalah awal yang kecil, tetapi nyata.

​Sementara itu di balik dinding rumah megah yang berdiri angkuh tak jauh dari jantung kota yang bising, Maheswari merajut sunyi di ruang kerjanya.
​Sehelai kipas sutra tergeletak pasrah di atas meja, berdampingan dengan lembaran catatan pembelian ikan dari tangan-tangan nelayan yang letih. 

Cahaya matahari menyusup lembut lewat celah tirai, melukis garis-garis tipis yang gemetar pelan seirama desau angin jendela.
​Di hadapannya, seorang anak buahnya berdiri menunduk, menuturkan laporan tentang denyut pasar lelang yang kian bergelora dalam cemas.

"Sebagian nelayan kembali menjual kepada pengepul yang biasa bekerja sama dengan kita, Nyonya. Harga yang kita tawarkan cukup menarik bagi mereka."

Maheswari mengangguk kecil.

"Bagaimana dengan Nirmala?"

"Dia masih menjual ikan milik nelayan tua itu. Jumlahnya tidak banyak. Pembelinya juga masih terbatas pada sebuah warung makan."

Lagi-lagi aheswari menyandarkan punggungnya.

"Jadi, sampai sekarang dia belum punya pemasok lain?"

"Belum, Nyonya. Setidaknya, itu yang kami ketahui."

Senyum itu tersungging tipis di sudut bibirnya.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ia merasa situasi kembali berada dalam jangkauan kendalinya.

Nirmala memang berhasil menemukan celah kecil setelah diboikot. Akan tetapi, celah itu belum cukup lebar untuk menjadi ancaman serius bagi usahanya.

Dalam perdagangan, jumlah barang menentukan banyak hal. Seorang pedagang boleh saja memiliki niat baik dan pembeli yang bersedia bekerja sama, tetapi tanpa pasokan yang stabil, usahanya akan sulit berkembang.

Maheswari memahami hal itu dengan baik.

"Jangan ganggu warung yang membeli ikannya," katanya kemudian.

Anak buahnya tampak sedikit terkejut.

"Jadi, kita membiarkannya, Nyonya?"

Maheswari menatapnya tajam.

"Aku tidak mengatakan kita harus membiarkannya. Aku hanya tidak ingin membuat keributan yang tidak perlu."

Ia mengambil salah satu catatan di atas meja, lalu membacanya sekilas.

"Selama dia hanya menjual ikan dalam jumlah kecil, dia belum menjadi pesaing yang berarti. Kita lihat saja berapa lama dia mampu bertahan dengan cara seperti itu."

"Baik, Nyonya."

"Dan jangan menaikkan harga untuk semua jenis ikan sekaligus. Pertahankan harga tinggi hanya pada jenis yang memang banyak dicari. Aku tidak mau mengeluarkan uang lebih banyak daripada yang diperlukan."

Pegawai itu mengangguk sebelum meninggalkan ruangan.

Maheswari kembali memandang catatan di tangannya.

Ia tidak pernah menganggap Nirmala sebagai lawan yang sepadan. Baginya, gadis itu hanyalah orang asing yang kebetulan berani menentangnya di hadapan banyak orang.

Namun, justru karena itulah ia belum ingin berhenti.

Maheswari ingin melihat sendiri kapan keberanian itu mulai terkikis oleh kebutuhan hidup. Ia ingin tahu apakah Nirmala akan tetap mempertahankan pendiriannya ketika uang semakin sulit didapatkan dan orang-orang yang semula bersimpati mulai sibuk menyelamatkan kepentingan masing-masing.

Sebab, bagi Maheswari, kemenangan yang sesungguhnya bukanlah membuat seseorang pergi dengan paksa.

Kemenangan adalah ketika orang itu akhirnya menyerah atas kemauannya sendiri.

Dan ia bersedia menunggu.

Sementara itu, jauh dari hiruk-pikuk pelelangan ikan, Haryo masih duduk sendirian di ruang arsip yang telah lama menjadi bagian dari kehidupannya.
Ruangan itu tidak terlalu luas. Rak-rak kayu tua memenuhi sebagian dinding, menyimpan berkas perkara, salinan akta, dan dokumen hukum yang sebagian usianya bahkan lebih tua daripada beberapa orang yang kini bekerja di kantornya.

Di atas meja, sebuah lampu baca menerangi tumpukan dokumen yang sejak beberapa hari terakhir menyita perhatiannya.

Usianya telah melewati masa ketika ia sanggup bekerja semalaman tanpa merasakan letih. Kini, membaca beberapa halaman saja terkadang membuat matanya perih. Namun, ada sesuatu dalam berkas yang ditugaskan Darta lelaki berjas rapi itu, Tugas itulah yang membuatnya enggan berhenti.

Empat puluh lima tahun.

Waktu yang terlalu panjang untuk sebuah perkara yang belum sepenuhnya dimengerti, tetapi juga terlalu singkat untuk menghapus segala sesuatu yang pernah terjadi di dalamnya.

Ia membuka kembali map berwarna cokelat yang sebelumnya ditemukan di dalam brankas lama.

Di antara sejumlah dokumen, terdapat salinan catatan mengenai sebuah kecelakaan di desa yang namanya mulai berulang kali muncul dalam arsip. Beberapa halaman tampak menguning, sementara bagian pinggirnya rapuh akibat usia.

Haryo membaca baris demi baris dengan teliti.

Ada tanggal.

Ada nama.

Ada keterangan singkat mengenai kejadian yang berlangsung pada masa itu.

Namun, beberapa bagian penting tidak tercantum dalam salinan yang berada di tangannya.

Tidak ada penjelasan memadai mengenai hasil pemeriksaan lanjutan. Tidak ada keterangan lengkap tentang orang-orang yang terlibat. Bahkan, catatan mengenai tindak lanjut perkara itu terasa terlalu singkat untuk sebuah kejadian yang, menurut dokumen lain, sempat menyita perhatian keluarga yang bersangkutan.

Haryo membalik halaman berikutnya.

Kosong.

Ia kembali memeriksa lembar sebelumnya, memastikan tidak ada halaman yang terlewat.

Kemudian, ia mengambil buku catatan kecil dan menuliskan beberapa pertanyaan.

Di mana laporan lengkapnya?

Siapa yang menyusun kesimpulan akhir?

Mengapa catatan lanjutan tidak ditemukan dalam berkas ini?

Pena di tangannya berhenti.

Kekurangan dokumen bukan sesuatu yang asing dalam perkara lama. Arsip bisa rusak, dipindahkan, atau tersimpan di tempat yang keliru. Ia sudah terlalu lama menjadi pengacara untuk langsung menyimpulkan bahwa setiap kekosongan berarti ada seseorang yang sengaja menyembunyikan sesuatu.

Namun, ia juga terlalu berpengalaman untuk mengabaikan kejanggalan yang muncul berulang kali.

Haryo membuka laci meja, mengeluarkan selembar kertas berisi nama desa yang ditemukan dalam beberapa dokumen, lalu meletakkannya berdampingan dengan catatan kecelakaan itu.

Keduanya berasal dari berkas berbeda.

Akan tetapi, nama desa itu sama.

Ia bersandar sejenak, membiarkan ingatannya kembali pada percakapan dengan Darta beberapa waktu lalu.

Darta tidak banyak menjelaskan ketika memberikan tugas itu. Lelaki itu hanya meminta agar perkara lama itu dibuka kembali dan semua informasi yang masih dapat ditemukan dikumpulkan.

Permintaan yang terdengar sederhana.

Tetapi mengapa sekarang?

Mengapa setelah puluhan tahun berlalu, perkara itu kembali menjadi sesuatu yang harus dicari jawabannya?

Haryo tidak memiliki cukup bukti untuk mencurigai siapa pun. Ia juga tidak berniat membangun kesimpulan hanya berdasarkan perasaan.

Namun, ia mulai menyadari bahwa tugasnya mungkin jauh lebih rumit daripada yang semula ia bayangkan.

Ia mengambil telepon dan menghubungi seseorang yang pernah membantunya mengurus arsip perkara lama.

Setelah beberapa saat, sambungan terhubung.

"Selamat siang. Saya Haryo."

​Suaranya tertahan tipis saat menyebutkan rentetan angka berkas yang tengah ia bedah, merangkai tanya tentang lembaran kelanjutan sebuah perkara yang kian mengabur.

​Di ujung sambungan sana, helaan napas berat terdengar sebelum lelaki itu meminta waktu untuk meraba-raba tumpukan catatan yang berserak.

​Haryo terpaku. Menelan detik demi detik dalam debar yang kian mendingin.
​Beberapa menit berlalu membawa hampa. Suara dari seberang akhirnya memecah sunyi tanpa membawa terang dokumen yang dicari tak kunjung ditemukan di barisan arsip yang tersedia. Ia mungkin terselip di sudut asing yang tak terjamah, atau benar-benar raib ditelan waktu, meninggalkan tanya tanpa ujung yang menggantung rapuh di udara.

"Kalau begitu, tolong periksa kembali daftar pemindahan arsip pada masa itu," ujar Haryo. "Saya tidak membutuhkan kesimpulan sementara. Saya hanya ingin tahu apakah dokumen itu pernah tercatat."

Ia menutup telepon setelah mengucapkan terima kasih.

Untuk beberapa saat, ia tidak bergerak.

Di luar jendela, langit mulai meredup. Cahaya sore merambat di antara bangunan, sementara suara kendaraan terdengar samar dari jalan di bawah.

Haryo kembali menatap berkas di hadapannya.

Ia belum tahu siapa yang harus dipercaya dalam perkara ini. Bahkan, ia belum mengetahui apakah kekosongan dokumen itu memiliki arti penting atau sekadar akibat buruknya pengelolaan arsip pada masa lalu.

Tetapi satu hal mulai terasa jelas baginya.

Jika ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi empat puluh lima tahun silam, ia tidak bisa hanya mengandalkan dokumen yang telah disiapkan untuknya.

Ia harus mencari sumber lain.

Dan desa yang namanya berulang kali muncul dalam arsip itu mungkin menjadi tempat pertama yang perlu ia datangi.

Haryo mengambil buku catatannya, menuliskan nama desa itu sekali lagi, lalu memberi garis di bawahnya.

Ia belum memutuskan kapan akan berangkat.

Namun, untuk pertama kalinya sejak menerima tugas dari Darta lelaki berjas rapi itu, ia mulai menyusun langkah penyelidikannya sendiri.

Malampun merayap turun perlahan di garis pantai, memeluk pesisir dengan selimut kelam yang sunyi.

​Usai riuh rendah reda, Nirmala melangkah pelan dengan langkah yang gontay menuju kamar sewa remangnya. Tubuhnya remuk redam didera penat, membawa sekeping uang hasil usahanya yang begitu tipis. Ia melepaskan tas kecilnya di atas meja, lalu terduduk pasrah di tepi sudut kamarnya yang mulai menghitam.

​Hari itu memang tak membawa kelimpahan. Namun, di balik rasa sesak yang menggelayut, masih tersisa rezeki secuil untuk menyambung napas esok hari. Setidaknya, sang kakek nelayan tak perlu menanggung lara karena hasil jerih payahnya terbuang sia-sia.

​Dalam temaram lampu, ia membuka buku catatan yang mulai usang. Menghitung kembali sisa asa di antara barisan angka, lalu menorehkan goresan tinta terakhir untuk merangkum hari yang kembali diuji kesabaran.

Angkanya sederhana.

Tidak ada sesuatu yang dapat membuat orang lain terkesan.

Tetapi bagi Nirmala, setiap angka merupakan bagian dari perjuangan untuk membangun hidup yang selama ini terasa selalu menjauhinya.

Ia teringat perkataan kakek nelayan bahwa kepercayaan harus berjalan bersama perhitungan.

Dahulu, ia mungkin mengira ketekunan saja cukup untuk mengubah nasib. Sekarang ia mulai memahami bahwa ketekunan harus disertai kemampuan membaca keadaan, keberanian menerima kenyataan, dan kesediaan belajar dari kegagalan.

Nirmala menutup buku catatannya.

Di luar, suara kendaraan sayup-sayup terdengar sendu, seolah mengingatkannya bahwa hidup tidak pernah benar-benar diam. Permukaannya bisa tenang pada suatu waktu, lalu berubah keras ketika angin datang dari arah yang berbeda.

Barangkali hidup pun demikian.

Ia tidak selalu dapat menentukan ke mana arus akan membawanya. Namun, ia masih bisa belajar menjaga langkah agar tidak mudah terseret.

Jemari letihnya meraih pelita, memadamkan sisa pijar terakhir, lalu merebahkan tubuh ke dalam pelukan malam yang legam.

​Nirmala tak pernah menduga, di balik pekatnya malam dan di belahan sunyi yang lain, ada seseorang tengah menyibak jejak-jejak kelam sebuah tragedi lama yang bersemayam jauh sebelum ia sempat belajar memaknai kehilangan.

​Ia juga tidak tahu, bahwa di dalam lembaran arsip yang telah menguning, nama sebuah desa terpencil perlahan mulai membuka tabir, menenun benang merah yang menuntun kembali ke masa lalu yang terpisah sekat waktu darinya.

Untuk malam itu, Nirmala hanya ingin beristirahat.

Sebab, esok pagi, ia harus kembali ke pesisir.

Dan di sana, perjuangannya belum selesai.



Sampai jumpa di episode berikutnya....

Gema di Balik Kabut

Langit senja merendah di beranda, menumpahkan gerimis tipis ke cangkir kopi yang mengepul. Ada rindu yang tertinggal di ujung jerami, menyapa angin malam yang mulai berselimut sunyi. Di antara dua tafsir waktu, kita pernah mengeja nama yang sama sebelum malam menyembunyikan senyum dan menyisakan bayang di balik kabut kelabu.

💌

Postingan populer dari blog ini

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.9

PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.3