PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.9

DI BALIK SELIMUT KABUT

Pagi datang dengan semburat jingga yang perlahan menyingkap garis cakrawala. Namun, sisa malam seolah tak rela pergi; kabut tipis masih memeluk dingin, menggantung di ujung-ujung dahan yang basah oleh embun. 
Di meja kecil di sudut beranda, uap tipis mengepul dari secangkir kopi hangat, berpacu dengan hening yang teramat panjang. 
Ia menyeduh takdir dengan sabar berharap angin pagi membawa kabar tentang langkah yang kelak kembali. Nirmala.

Di pesisir, perahu-perahu kayu mulai merapat setelah semalaman berhadapan dengan ombak. Para nelayan turun membawa hasil tangkapan, sementara beberapa pedagang telah menunggu di sekitar pelelangan. Suara tawar-menawar yang biasanya terdengar sejak fajar kembali memenuhi udara, bercampur dengan pekikan burung camar dan deru mesin perahu yang mulai dipadamkan.

Sekilas, semuanya tampak berjalan seperti biasa.

Namun, bagi mereka yang menggantungkan hidup pada hasil laut, pagi itu membawa kabar yang cukup menggembirakan.

Maheswari menaikkan harga beli beberapa jenis ikan yang paling banyak diminati pasar.

Kenaikannya tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk membuat para nelayan menghitung ulang keuntungan yang bisa mereka bawa pulang. Bagi mereka yang harus membayar bahan bakar, memperbaiki jaring, dan memenuhi kebutuhan keluarga, selisih harga sekecil apa pun tetap memiliki arti.

Seorang nelayan yang baru menurunkan keranjang ikannya segera menghampiri petugas penimbangan.

"Benarkah harga hari ini naik?" tanyanya.

Petugas itu mengangguk.

"Benar. Ada penyesuaian harga dari pihak Bu Maheswari."

"Semua jenis ikan?"

"Tidak semuanya. Hanya beberapa jenis tertentu."

Nelayan itu tersenyum lega. Ia segera memanggil rekannya untuk membantu memindahkan keranjang berikutnya.

Kabar itu menyebar dengan cepat. Beberapa nelayan yang sebelumnya sempat mempertimbangkan untuk menjual ikan melalui jalur lain kini kembali menimbang keuntungan yang bisa mereka peroleh.

Di antara mereka, tidak sedikit yang memilih mendekati para pengepul yang bekerja sama dengan Maheswari.

Bukan karena mereka tidak menyukai Nirmala.

Mereka hanya sedang berusaha memperoleh penghasilan terbaik dari pekerjaan yang tidak pernah memberikan kepastian.

Dan Maheswari memahami betul bagaimana cara kerja pertimbangan semacam itu.

Ia tidak perlu melarang siapa pun berhubungan dengan Nirmala. Ia hanya perlu membuat pilihannya sendiri tampak lebih menguntungkan.

Di tempatnya biasa berjualan, Nirmala tiba bersama kakek nelayan.

Pagi itu, lelaki tua itu hanya membawa hasil tangkapan dalam jumlah sedang. Beberapa jenis ikan yang diperolehnya semalam cukup baik, tetapi jumlahnya tidak banyak karena keadaan laut kurang mendukung.

Nirmala membantu menurunkan keranjang, kemudian menyusun ikan-ikan itu di atas meja kayu.

"Kita berharap hari ini lebih baik, Kek," katanya sambil merapikan alas keranjang.

Kakek nelayan mengangguk.

"Semoga saja, Nak. Laut tidak selalu memberikan apa yang kita harapkan."

Nirmala tersenyum tipis.

"Tapi kita tetap harus menyambutnya dengan baik, bukan?"

"Betul. Selama masih bisa melaut, kita masih punya alasan untuk berharap."

Lelaki tua itu kemudian duduk di bangku kecil dekat lapak. Ia terlihat lelah, tetapi wajahnya tetap menyimpan ketenangan yang selama ini menjadi salah satu sumber kekuatan Nirmala.

Beberapa saat kemudian, seorang pedagang yang biasa membeli ikan di pelelangan melintas di depan mereka.

Nirmala segera menyapanya.

"Selamat pagi, Pak. Hari ini ada ikan yang mungkin cocok untuk kebutuhan Bapak."

Pedagang itu berhenti sebentar, melirik hasil tangkapan di atas meja.

"Ikanmu kelihatannya bagus, Nak."

"Alhamdulillah, Pak. Masih segar."

Pedagang itu mengangguk, tetapi tidak segera menanyakan harga.

"Sayangnya, pagi ini aku sudah membeli dari tempat lain."

"Oh, begitu. Tidak apa-apa, Pak."

Lelaki itu sempat terdiam sebelum melanjutkan.

"Kamu tahu, harga beli beberapa jenis ikan hari ini naik. Kalau kau ingin menjual, mungkin sebaiknya kamu mempertimbangkan tawaran dari pengepul besar."

Nirmala menatapnya.

"Apakah kenaikannya cukup besar, Pak?"

"Lumayan. Untuk beberapa jenis ikan, selisihnya bisa terasa."

Nirmala mengangguk pelan.

"Terima kasih atas informasinya."

Pedagang itu kemudian melanjutkan langkahnya.

Nirmala kembali memandangi ikan-ikan di hadapannya. Ia mulai memahami bahwa perubahan harga itu bisa menjadi persoalan bagi usahanya.

Jika para pengepul menawarkan harga lebih tinggi, kakek nelayan tentu berhak mempertimbangkan pilihan yang paling menguntungkan baginya.

Nirmala tidak memiliki alasan untuk meminta lelaki tua itu mengorbankan pendapatannya demi mempertahankan usaha kecil mereka.

Ia justru ingin memastikan bahwa perjuangan mereka tidak berubah menjadi beban bagi orang yang telah menolongnya.

"Kek," panggilnya pelan.

Lelaki tua itu menoleh.

"Ya, Nak?"

"Kalau hari ini ada yang menawarkan harga lebih tinggi, Kakek boleh mempertimbangkannya."

Kakek nelayan mengernyit.

"Maksudmu?"

Nirmala menunduk sebentar, mencari kata-kata yang tepat.

"Aku tidak ingin Kakek kehilangan kesempatan mendapatkan penghasilan lebih baik hanya karena kita sedang mencoba menjual ikan sendiri. Aku tahu usaha kita belum tentu selalu berhasil."

Lelaki tua itu memandangnya lama.

Kemudian, ia mengembuskan napas pelan.

"Nak, Kakek memang membutuhkan uang untuk hidup. Tapi uang bukan satu-satunya hal yang Kakek pertimbangkan."

Nirmala mengangkat wajah.

"Apa maksud Kakek?"

"Saya juga harus memikirkan apakah cara kita bekerja selama ini masih bisa dijalankan. Kalau hari ini Kakek menjual semuanya kepada pengepul karena harganya lebih tinggi, mungkin itu keputusan yang baik untuk hari ini. Tapi kalau besok harga berubah lagi, kita akan kembali menghadapi persoalan yang sama."

Ia berhenti sejenak.

"Namun, Kakek juga tidak akan memaksakan diri jika Nirmala sudah capek dengan hasil yang justru membuat kita rugi. Kita harus menghitung semuanya dengan baik."

Nirmala terdiam.

Jawaban lelaki tua itu terasa sederhana, tetapi mengandung sesuatu yang selama ini berusaha ia pahami.

Kesetiaan bukan berarti seseorang harus menutup mata terhadap keadaan. Kepercayaan juga bukan alasan untuk mengabaikan kenyataan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan hidup.

Mereka harus menemukan cara agar usaha kecil itu bisa bertahan tanpa meminta salah satu pihak menanggung seluruh risiko.

"Kalau begitu, kita hitung lagi, Kek," kata Nirmala pada akhirnya.

Lelaki tua itu tersenyum.

"Nah, begitu lebih baik."

Angka-angka itu berbaris kaku di atas kertas buram, menuntut keadilan di antara lelah yang belum sepenuhnya tuntas. Tiap coretan adalah sebuah pertaruhan; antara peluh yang menetes di dermaga subuh tadi dan senyum kecil yang mereka harapkan. Keuntungan yang tersisa memang tak seberapa, sekadar cukup untuk menyambung napas hari ini dan menambal harap esok hari.

​Di luar, bising kendaraan mulai memecah pagi, menyingkirkan sisa-sisa sunyi. Namun, di sudut kecil itu, Nirmala menutup buku catatannya dengan perlahan, lalu menarik napas dalam-dalam. Ada harga dari sebuah kepercayaan yang harus terus dibayar dengan kejujuran, dan di balik kabut tipis yang mulai sirna, ia tahu langkah kakinya harus tetap tegap berjalan.

Hasilnya membuat dahinya berkerut.

Jika ia mengikuti kenaikan harga beli sepenuhnya, keuntungan yang diperolehnya akan semakin tipis. Bahkan, apabila biaya pengiriman meningkat atau ada ikan yang tidak terjual, ia bisa mengalami kerugian.

Dilema itu bergelayut berat, menghimpit dada di antara dua sisi mata pisau yang sama tajamnya. Di satu sisi ada utang budi rasa hormat dan terima kasih yang teramat dalam pada tangan yang menengadah menolong saat ia terpuruk di titik nadir terakhirnya. 

Di sisi lain ada napas usahanya sendiri yang butuh rencana matang untuk tetap hidup. Menjaga hubungan baik adalah harga mati, tetapi membiarkan perahunya karam karena salah menakar angka bukanlah bentuk pengabdian, melainkan kepasrahan yang menyiksa perlahan.

​Ia menatap keluar jendela, membiarkan pandangannya menerobos kabut tipis yang kini benar-benar buyar disengat terik matahari. 

Hidup memang tak pernah menawarkan jalan yang lurus; selalu ada tikungan tajam yang menguji batas antara ketulusan niat dan keteguhan bertahan hidup.
"Sepertinya kita harus bicara dengan pemilik kedai itu," akhirnya kata-kata itupun keluar.

Kakek nelayan yang sudah lama menunggu cukup lama pada akhirnya mengangguk, Namun masih menyimpan tanda tanya yang menggantung.

"Untuk apa?"

"Menanyakan apakah ia bersedia menyesuaikan jumlah pesanannya dengan ikan yang benar-benar bisa kita sediakan. Kalau jumlahnya lebih kecil, mungkin kita bisa mengurangi biaya pengiriman atau mengantarkannya pada waktu yang lebih tepat."

"Kalau dia tidak bersedia?"

Nirmala tersenyum kecil.

"Berarti kita harus mencari perhitungan lain, Kek."

Lelaki tua itu terkekeh.

"Kau mulai terbiasa dengan jawaban seperti itu."

Nirmala ikut tertawa.

"Karena ternyata hampir semua persoalan tidak punya satu jawaban yang selalu benar."

Ia kembali membuka buku catatannya.

Kali ini, ia tidak berusaha mencari cara untuk mengalahkan Maheswari.

Ia hanya berusaha memastikan bahwa keputusan yang diambilnya tidak membuat usaha kecil mereka kehilangan keseimbangan.

Sementara itu, di Ruangkerjanya, Maheswari menerima laporan mengenai keadaan pasar.
Seorang anak buahnya berdiri tepat di hadapannya sambil membawa beberapa lembar catatan transaksi.

"Harga baru mulai menarik perhatian para nelayan, Nyonya. Beberapa orang yang sebelumnya menjual ikan melalui jalur lain sekarang kembali menawarkan hasil tangkapan mereka kepada pengepul kita."

Maheswari mengangguk puas.

"Bagus. Bagaimana dengan gadis itu?"

"Sejauh ini, ia masih menjual ikan hasil tangkapan seorang nelayan tua. Jumlahnya tidak banyak."

Maheswari menyandarkan punggungnya.

"Jadi, usahanya masih bergantung pada satu orang?"

"Benar, Bu."

Senyum tipis muncul di wajah Maheswari.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ia merasa keadaan mulai kembali berada dalam kendalinya.

Ia tahu Nirmala memiliki keberanian. Namun, keberanian tidak selalu cukup untuk mempertahankan sebuah usaha.

Perdagangan membutuhkan modal, pasokan yang stabil, biaya operasional, dan kemampuan menghadapi perubahan harga. Seseorang yang tidak memiliki cadangan dana cukup besar bisa terdesak hanya oleh satu atau dua keputusan yang keliru.

Maheswari memahami semua itu.

Dan ia yakin, cepat atau lambat, Nirmala akan merasakan batas kemampuannya sendiri.

"Jangan ganggu gadis itu untuk sementara," katanya.

Anak buahnya tampak sedikit terkejut.

"Jadi, kita membiarkannya berjualan seperti biasa, Nyoonya?"

Maheswari mengangkat cangkir di atas meja. Ia menyesap minumannya sruuuupsss...., lalu meletakkan cangkir itu kembali ke tatakannya, klikk. Suara kecil itu bagai dentang lonceng yang menyadarkannya dari perang batin yang panjang. Keputusan tidak lahir dari keraguan yang dipelihara, melainkan dari keberanian untuk menghadapi kenyataan.

"Biarkan dia mencoba. Kalau memang usahanya bisa berkembang, kita akan melihatnya. Tapi kalau tidak, keadaan akan menjawab semuanya tanpa kita perlu melakukan apa-apa." Dengan keyakinan yang takdapat di bendung maheswari mengambil keputusan.

"Lalu, Nyonya.?"

"Pertahankan harga yang sudah ditetapkan. Jangan menaikkannya lagi tanpa perhitungan. Kita berdagang untuk memperoleh keuntungan, bukan sekadar membuktikan siapa yang paling kuat."

Lelaki itu mengangguk penuh keyakinan, "baik Nyonya."

Maheswari kemudian mengalihkan pandangan ke arah jendela.

Ia merasa telah mengambil langkah yang tepat.

Namun, di balik keyakinan itu, ada sesuatu yang belum ia perhitungkan.

Nirmala tidak sedang berusaha membangun usaha besar dalam semalam.

Gadis itu hanya sedang belajar memahami keadaan, sedikit demi sedikit.

Dan orang yang belajar bertahan dengan kesabaran terkadang jauh lebih sulit dihentikan daripada orang yang hanya mengandalkan keberanian sesaat.

Menjelang siang, Nirmala pergi ke kedai yang sehari sebelumnya bersedia membeli ikan darinya.

Ia tidak membawa banyak hasil tangkapan. Sebelum berangkat, ia telah menghitung jumlah ikan yang tersedia dan memastikan bahwa pesanan yang akan ditawarkan sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Pemilik kedai sedang mengatur beberapa bahan masakan ketika melihatnya datang.

"Ah, Nak...Nirmala. Bagaimana keadaan ikan hari ini?"

Nirmala meletakkan keranjangnya dengan hati-hati.

"Masih ada beberapa jenis ikan yang segar, Bu. Tapi jumlahnya tidak sebanyak kemarin."

Pemilik kedai memeriksa ikan-ikan itu.

"Kalau begitu, kamu bisa menyediakan berapa?"

"Untuk hari ini, saya bisa menyediakan jumlah yang lebih kecil. Kalau Ibu berkenan, kita bisa menyesuaikan pesanan dengan persediaan yang ada."

Perempuan itu mengerutkan kening.

"Masalahnya, aku membutuhkan jumlah yang cukup untuk melayani pelanggan sampai sore."

Nirmala mengangguk.

"Saya mengerti, Bu. Saya tidak ingin menjanjikan jumlah yang belum bisa saya penuhi. Kalau persediaan saya belum cukup, mungkin Ibu bisa mengambil kekurangannya dari pemasok biasa."

Pemilik kedai menatapnya beberapa saat.

"Kau tidak keberatan kalau aku tetap membeli dari pemasok lain?"

Nirmala tersenyum tipis.

"Tentu tidak, Bu. Saya baru memulai usaha ini. Saya juga belum bisa menyediakan semua yang Ibu butuhkan."

Jawaban itu membuat pemilik kedai sedikit melunak.

Ia memandang ikan yang tersedia, lalu kembali menatap Nirmala.

"Baiklah. Untuk hari ini, aku ambil yang ada. Tapi aku tidak bisa menjanjikan akan selalu membeli darimu. Aku harus menyesuaikan dengan kebutuhan kedai."

Nirmala mengangguk.

"Saya mengerti, Bu. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan."

Transaksi itu berlangsung sederhana.

Tidak ada janji besar. Tidak ada pembicaraan tentang kerja sama jangka panjang.

Namun, Nirmala pulang dengan membawa sesuatu yang tidak kalah penting daripada keuntungan.

Ia mulai memahami bahwa membangun usaha tidak selalu berarti membuat orang lain bergantung kepadanya.

Terkadang, usaha yang sehat justru tumbuh ketika kedua belah pihak tetap memiliki kebebasan untuk memilih.

Sore hari, ketika Nirmala kembali ke pesisir, kakek nelayan sedang duduk di dekat perahunya.

Lelaki tua itu mengangkat wajah ketika melihatnya datang.

"Bagaimana, Nak?"

Nirmala menceritakan hasil penjualannya, termasuk jumlah ikan yang masih tersisa dan biaya yang harus dikeluarkan.

Kakek nelayan mendengarkan dengan saksama.

"Jadi, belum banyak yang berubah?"

"Belum, Kek."

Nirmala duduk di sampingnya.

"Tapi setidaknya kita mulai tahu apa yang harus diperbaiki. Aku juga sudah belajar bahwa kita tidak bisa hanya mengandalkan satu pembeli."

Lelaki tua itu mengangguk.

"Itu benar. Namun, jangan terburu-buru mencari terlalu banyak pembeli kalau kita belum sanggup memenuhi kebutuhannya."

"Aku akan mengingatnya."

Mereka terdiam sejenak, membiarkan angin sore melewati sela-sela perahu.

Kemudian, Nirmala menatap lelaki tua itu.

"Kek, bolehkah aku bertanya sesuatu?"

"Tentu, Nak."

"Kalau suatu hari nanti usaha kita benar-benar tidak bisa bertahan, apakah Kakek akan menyesal pernah membantuku?"

Lelaki tua itu menoleh.

Pertanyaan itu membuatnya terdiam cukup lama.

"Kenapa kamu bertanya begitu, Nak.?"

Nirmala menunduk.

"Aku hanya tidak ingin kebaikan Kakek berakhir menjadi kerugian."

Lelaki tua itu menghela napas, lalu menepuk pelan bahu Nirmala.

"Nak, Kakek menolongmu bukan karena berharap kau akan membuat Kakek kaya. Kakek menolongmu karena saat itu kau membutuhkan pertolongan."

Ia berhenti sejenak.

"Kalau usaha kita gagal, kita akan memikirkan jalan lain. Kalau kita rugi, kita belajar dari kerugian itu. Tapi jangan sampai rasa takut kehilangan membuat kita lupa mengapa kita memulai sesuatu." 

Nirmala tersenyum.

Senyum itu selalu berhasil meluruhkan separuh beban yang bergelayut di pundaknya. Tanpa perlu banyak kata, lelaki tua itu seolah membaca badai kecil yang baru saja reda di kepala Nirmala bahwa hidup tidak selalu tentang siapa yang menang atau kalah dalam urusan angka, melainkan bagaimana menjaga marwah kejujuran di atas napas yang sama-sama berjuang.

Nirmala mengangkat wajah.

Di hadapannya, lelaki tua itu tersenyum dengan ketenangan yang tidak pernah dibuat-buat.

"Kau tidak harus membalas kebaikan Kakek dengan keberhasilan besar, Nak. Cukup jangan berhenti belajar menjadi manusia yang baik."

Mata Nirmala terasa hangat.

Ia segera mengalihkan pandangan ke arah laut, berusaha menyembunyikan perasaan yang mendadak memenuhi dadanya.

Selama bertahun-tahun, ia terbiasa mengukur dirinya melalui hal-hal yang tidak berhasil ia capai. Pekerjaan yang gagal diperoleh, pintu-pintu yang tertutup, dan kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan sepenuhnya telah membuatnya sering merasa bahwa keberadaannya tidak cukup berarti.

Namun, lelaki tua itu tidak pernah menilainya berdasarkan semua kegagalannya.

Ia hanya melihat seseorang yang sedang berusaha menjalani hidup.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nirmala merasa bahwa dirinya tidak harus membuktikan sesuatu kepada dunia setiap saat sekadar agar pantas menerima kebaikan.

​Sementara itu, jauh dari riuh debur ombak pesisir, malam merayap sunyi di sebuah ruangan kerja. Haryo kembali membuka berkas-berkas lama yang tersimpan di dalam lemari arsip.

​Cahaya lampu meja kuning temaram jatuh menimpa lembaran dokumen yang telah menguning dimakan usia. Di antara tumpukan catatan usang, salinan surat, serta deretan tinta yang mulai memudar, ada satu nama desa yang terus berulang seolah sengaja memanggil-manggil untuk ditemukan dalam lembaran cerita yang berbeda.

Haryo telah memeriksanya selama beberapa hari.

Semakin banyak halaman yang dibacanya, semakin jelas bahwa catatan itu bukan sekadar arsip biasa. Ada bagian-bagian yang tidak lengkap, tanggal yang tidak cocok, dan keterangan yang tampaknya sengaja dibiarkan tanpa penjelasan.

Ia mengambil selembar kertas, lalu menuliskan nama desa itu.

Di bawahnya, ia menambahkan beberapa pertanyaan yang belum terjawab.

Siapa yang mengalami kecelakaan di sana?

Mengapa peristiwa itu dicatat dalam arsip keluarga?

Dan mengapa sebagian dokumen yang berkaitan dengannya tidak pernah dilengkapi?

Haryo melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidung.

Ia tahu bahwa ingatan manusia bisa memudar, sementara dokumen dapat rusak atau hilang. Jika ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, ia harus mencari orang-orang yang mungkin masih menyimpan potongan cerita itu.

Namun, ia juga menyadari bahwa menyelidiki masa lalu keluarga bukan perkara yang bisa dilakukan tanpa pertimbangan.

Ada kemungkinan bahwa kebenaran yang ditemukannya kelak akan mengubah cara sejumlah orang memandang kehidupan mereka sendiri.

Haryo kembali mengenakan kacamatanya.

Ia menatap nama desa yang tertulis di atas kertas.

"Sepertinya aku harus datang langsung ke sana," gumamnya.

Keputusan itu belum menyelesaikan satu pun misteri.

Namun, untuk pertama kalinya, penyelidikannya mulai memiliki arah yang lebih jelas.

Di luar jendela, malam telah turun sepenuhnya.

Jauh di garis pesisir, Nirmala mungkin tengah memejamkan mata, membiarkan lelah mereda setelah hari yang panjang berlalu. 

Ia belum sepenuhnya tahu, bahwa dari lembaran-lembaran arsip yang mulai menguning, sebuah nama dari masa lalu perlahan tengah menuntun langkah seseorang menuju tempat di mana jejaknya pernah tertinggal.

​Dan sementara roda hari terus berputar di antara hitungan angka dan harga yang dipertaruhkan, waktu diam-diam menggerakkan hal-hal yang takkan pernah bisa dibeli dengan uang.

​Ada rahasia yang masih lelap dalam tidur panjangnya.

Ada kebenaran yang sabar menanti waktu untuk menemukan suaranya.

Dan ada satu pertemuan yang belum siapa pun tahu kapan garis takdir akan mempertemukannya.
​

Bersambung......

Postingan populer dari blog ini

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.3

PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.4