JEJAK KELABU PERISTIWA MASALALU
Matahari belum sepenuhnya menampakan wajah, Ketika sebuah mobil hitam membelah jalan desa yang meliuk-liuk di antara rimbunnya pepohonan.
Hamparan aspal yang mulus perlahan menyerah pada jalur berbatu yang sempit dan tak rata. Genangan sisa hujan semalam masih berkaca-kaca memantulkan kelabu langit, sementara rumah-rumah bersahaja berdiri berjauhan dalam sunyi, Beriringan dengan kebun-kebun kecil dan pagar bambu yang lapuk digerus usia, Desa itu tampak asing bagi Haryo.
Di balik kemudi, sang sopir memperlambat laju kendaraan, berhati-hati menembus kabut tipis yang merayap turun menyelimuti pagi.
"Apakah benar tempat yang Bapak cari berada di sekitar sini?" tanyanya.
"Menurut informasi yang berhasil kita dapatkan, benar. Tetapi kita masih perlu memastikan alamatnya."
Pengacara tua itu memandang keluar jendela.
Usianya telah membuat perjalanan jauh terasa lebih melelahkan daripada dahulu. Namun, ada sesuatu yang membuatnya tetap ingin menyelesaikan pencarian ini sendiri.
Empat puluh lima tahun bukan waktu yang singkat.
Orang-orang yang dahulu menyaksikan sebuah peristiwa mungkin sudah meninggal dunia. Mereka yang masih hidup bisa saja telah melupakan sebagian kejadian atau memilih untuk tidak membicarakannya lagi.
Haryo memahami kemungkinan itu.
Karena itulah ia tidak ingin datang dengan membawa tuduhan. Ia hanya ingin mengumpulkan keterangan, memeriksa kesesuaiannya dengan dokumen, dan mencari tahu mengapa catatan tentang kecelakaan itu bisa tidak lengkap.
Mobil berhenti di dekat sebuah warung kecil di persimpangan jalan.
Haryo turun perlahan, membenarkan kerah kemejanya, kemudian menghampiri pemilik warung yang sedang menyapu halaman.
"Selamat pagi, Bu."
Perempuan paruh baya itu menghentikan pekerjaannya.
"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?"
"Maaf mengganggu. Saya sedang mencari informasi tentang sebuah kejadian lama di desa ini. Kira-kira, apakah ada warga yang sudah tinggal di sini sejak lebih dari empat puluh tahun lalu?"
Pemilik warung mengerutkan kening.
"Empat puluh tahun? Wah, kalau begitu, orang yang Bapak cari pasti sudah cukup tua."
"Saya mengerti. Saya tidak membutuhkan banyak orang. Satu atau dua orang yang masih mengingat keadaan desa pada masa itu sudah cukup untuk memulai."
Perempuan itu menatap sebuah rumah tua dan mencoba mengingat.
"Kalau orang lama, mungkin Pak Samin. Rumahnya dekat musala, di ujung jalan sebelah sana. Beliau sudah tinggal di sini sejak masih muda."
Haryo mengangguk.
"Terima kasih, Bu. Apakah beliau bersedia menerima tamu?"
"Silakan dicoba. Tapi jangan berharap beliau masih mengingat semuanya. Ingatan orang tua kadang-kadang tidak seperti dahulu."
"Tentu. Saya hanya ingin bertanya, bukan memaksakan jawaban."
Setelah mengucapkan terima kasih, Haryo kembali ke mobil.
Ia tidak merasa telah memperoleh banyak hal. Namun, pencarian yang baik memang sering dimulai dari petunjuk sederhana.
Dan untuk saat ini, nama Pak Samin adalah satu-satunya pintu yang bisa diketuknya.
Rumah Pak Samin berada tidak jauh dari musala tua yang disebutkan pemilik warung.
Musala itu berdiri bersahaja dinding papannya menyimpan sisa cerita masa lalu, terdapat beranda kecil di muka pintunya. Jejeran pot tanaman berjejer rapi di dekat tangga, di dekatnya sebuah kursi kayu tua yang setia menghadap luasnya halaman.
Di atas kursi itulah seorang lelaki tua duduk merajut senyap. Rambut di kepalanya telah memutih seutuhnya, merenggut sisa keemasan masa muda. Tubuhnya kian renta termakan usia, namun tatapan matanya masih menyala jernih, tajam mengawasi mobil yang perlahan berhenti di halaman rumahnya.
Haryo turun dan berjalan mendekat.
"Selamat pagi, Pak. Apakah benar ini rumah Pak Samin?"
Lelaki tua itu mengangguk.
"Benar. Ada keperluan apa?"
Haryo memperkenalkan diri, kemudian menjelaskan bahwa ia sedang menelusuri dokumen lama mengenai sebuah kecelakaan yang terjadi di desa itu puluhan tahun silam.
Ketika mendengar kata kecelakaan, tangan Pak Samin yang semula bertumpu pada lututnya perlahan terangkat.
Ia tidak langsung menjawab.
Matanya menatap Haryo dengan perhatian yang berbeda.
"Kecelakaan yang mana?" tanyanya.
Haryo mengeluarkan catatan dari dalam map.
"Menurut dokumen yang saya miliki, kejadian itu berlangsung sekitar empat puluh lima tahun lalu. Saya belum bisa memastikan lokasi maupun seluruh orang yang terlibat."
Pak Samin menunduk.
Beberapa saat berlalu sebelum ia kembali mengangkat wajah.
"Di desa ini, banyak kejadian yang sudah lama berlalu, Tuan. Sebagian orang mungkin masih mengingatnya, tetapi tidak semuanya ingin membicarakannya."
"Saya memahami itu, Pak. Saya tidak bermaksud membuka luka siapa pun. Saya hanya ingin memastikan apa yang sebenarnya tercatat dan apa yang masih perlu diperiksa."
Pak Samin sekali lagi memperhatikan lelaki di hadapannya.
Barangkali ia sedang menimbang apakah Haryo datang untuk mencari kebenaran atau justru membawa persoalan yang akan mengusik ketenangan desa.
"Siapa yang meminta Tuan datang ke sini?"
Pertanyaan itu membuat Haryo terdiam sejenak.
Ia tidak berniat menyembunyikan bahwa dirinya bekerja atas permintaan seseorang. Namun, ia juga tidak ingin menyebut nama Darta sebelum mengetahui apakah nama itu memiliki arti bagi orang yang sedang dihadapinya.
"Saya mendapat tugas untuk memeriksa kembali perkara lama. Saya seorang pengacara, Pak. Pekerjaan saya memastikan bahwa kesimpulan yang diambil memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan."
Pak Samin mengangguk perlahan.
"Kalau begitu, saya harap Tuan tidak hanya percaya pada apa yang tertulis di kertas."
Haryo menatapnya dengan saksama.
"Apa maksud Bapak?"
Lelaki tua itu mengalihkan pandangannya ke sebuah rerimbunan semak dari kejauhan tampak hamparan pepohonan yang menjulang tinggi.
"Kadang-kadang, yang tertulis dalam dokumen hanya bagian yang dianggap perlu diketahui orang lain. Sementara yang benar-benar terjadi bisa jauh lebih rumit."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, bagi Haryo, ada sesuatu di baliknya yang patut diperhatikan.
Ia membuka buku catatannya.
"Apakah Bapak mengetahui sesuatu tentang kecelakaan yang saya maksud?"
Pak Samin tidak langsung menjawab.
Ia memandangi halaman rumahnya, lalu mengembuskan napas panjang.
"Saya masih ingat ada sebuah kejadian yang membuat desa ini ramai dibicarakan orang pada masa itu. Tetapi saya tidak bisa memastikan apakah itu perkara yang sedang Tuan cari."
Haryo tidak mendesaknya.
"Kalau Bapak bersedia, saya ingin mendengar apa yang masih Bapak ingat."
Pak Samin memejamkan mata sejenak, membiarkan kelopak matanya yang berkerut menelan sisa-sisa cahaya pagi. Napasnya menderu pelan, terdengar berat dan rapuh, seolah ia sedang meraba-raba lorong waktu yang telah puluhan tahun terkunci rapat oleh debu dan kebisuan.
Di dalam kepalanya, serpihan-serpihan ingatan yang berserakan mulai ia kumpulkan satu per satu bagaikan kepingan teka-teki yang lama terpendam di dasar palung sunyi.
Angin desa berembus pelan, menggoyang dedaunan kering di halaman seolah mendesaknya untuk segera memecah sekat yang selama ini dijaga ketat.
Ketika ia kembali membuka mata, pandangannya menerawang jauh menembus batas pagar bambu, seolah menatap bayang-bayang masa lalu yang kini perlahan bangkit berdiri di hadapannya. Suaranya bergetar parau, pecah di antara udara pagi, mengalun pelan menuturkan sebuah kisah yang telah lama mati suri tentang tragedi itu, Misteri duka yang terkubur bersama angin malam empat puluh lima tahun yang lalu.
"Pada waktu itu, saya masih muda," ujar Pak Samin. "Belum berkeluarga. Saya bekerja membantu seorang pedagang yang sering mengantar barang ke desa sebelah."
Haryo mendengarkan dengan seksama tanpa menyela sedikitpun.
"Suatu sore, kabar itu datang memecah senja di jalan pinggiran sawah..." Pak Samin memulai, suaranya berderak parau, menyerupai ranting kering yang diinjak angin. Ia menelan ludah perlahan, seolah ada duri tajam yang tersangkut di kerongkongannya.
"Orang-orang berkerumun dalam ketakutan. Ada yang bergidik mengatakan musibah itu akibat longsor yang menyeret seseorang jatuh ke dalam jurang legam. Namun, ada pula bisik-bisik lain yang lebih mengerikan menyebutkan ada hantaman batu dan reruntuhan tebing hutan yang sengaja meremukkan tubuh korban."
Lelaki tua itu terdiam sejenak. Manik matanya meredup, menyisakan kilat ngeri yang lama dipendam di balik kerutan usianya.
"Anehnya... hanya dalam hitungan hari, tragedi itu lenyap begitu saja. Seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang buru-buru menutup lembarannya, menghapus jejak dari ingatan desa ini," gumamnya lirih, nyaris tak terdengar di antara desau angin.
Ia menunduk, menatap jemarinya yang gemetar menahan gelombang sesak.
"Dan yang tertinggal setelah badai itu reda bukanlah kebenaran, melainkan sisa-sisa lara yang meremukkan hidup seorang gadis di desa ini."
"Apakah Bapak melihat kejadian itu secara langsung?"
Pak Samin menggeleng.
"Tidak. Saya datang setelah orang-orang mulai berkumpul. Saya hanya melihat kerumunan dan mendengar cerita dari beberapa warga."
Haryo mencatat keterangannya.
Ia tidak ingin menjadikan kabar yang didengar seseorang sebagai fakta. Namun, keterangan itu bisa menjadi titik awal untuk mencari saksi yang benar-benar melihat kejadian itu.
"Apakah Bapak mengetahui siapa yang mengalami kecelakaan?"
Pak Samin mengerutkan kening.
"Saya pernah mendengar sebuah nama keluarga disebut-sebut dalam desas-desus samar..." Pak Samin menjeda kalimatnya, menarik napas panjang untuk mengusir rasa gamang yang tiba-tiba menyesakkan dada.
"Tapi... saya tidak berani memastikannya sekarang. Waktu telah berlalu begitulama untuk merajut kembali jaraknya."
Ingatan lelaki tua itu memang tak lagi utuh. Sebagian kepingannya telah terkikis kabut usia, bergeser menjadi bayangan-bayangan buram yang sulit diurai. Namun, di balik senja usianya, ada satu nama dan satu garis nasib yang terlalu tajam untuk dibiarkan lenyap ditelan zaman.
"Namanya Rani..." Suaranya melemah, bergetar tipis seiring desau angin yang mempermainkan uban di pelipisnya.
"Gadis muda yang jiwanya seketika remuk redam. Entah benar-benar patah karena tragedi sore itu, atau ada rahasia lain yang lebih kelam menghancurkannya dari dalam."
Pak Samin menunduk, menatap lantai beranda yang lapuk.
"Sudah lama sekali... tapi orang-orang tua di sini belum sepenuhnya lupa. Mereka masih mengenang dengan dada sesak, bagaimana gadis malang itu akhirnya terasing dan merana di balik dinginnya dinding rumah sakit jiwa."
"Apakah nama itu berkaitan dengan keluarga Raden Mas Arya?"
Tangan Pak Samin yang bertumpu pada sandaran kursi mendadak menegang.
Perubahan itu kecil, tetapi Haryo melihatnya.
Lelaki tua itu menoleh dengan tatapan yang lebih tajam.
"Dari mana Tuan mengetahui nama itu?"
Haryo tidak segera menjawab.
Ia telah menduga bahwa nama keluarga itu mungkin memiliki hubungan dengan perkara yang sedang diperiksanya. Namun, ia tidak menyangka pertanyaan itu akan menimbulkan reaksi sedemikian rupa.
"Saya menemukan nama itu dalam sejumlah dokumen lama. Karena itu, saya ingin mengetahui apakah ada hubungannya dengan kejadian yang sedang saya telusuri."
Pak Samin menunduk kembali.
Lama ia terdiam.
Ketika akhirnya berbicara, suaranya terdengar lebih pelan.
"Saya tidak tahu banyak tentang keluarga itu. Yang saya ingat, setelah kejadiannya, beberapa orang datang ke desa. Mereka berbicara dengan perangkat desa dan sejumlah warga."
"Apakah mereka petugas yang menangani kecelakaan?"
"Mungkin. Saya tidak tahu pasti."
"Apakah Bapak pernah melihat mereka sebelumnya?"
Pak Samin menggeleng.
Haryo menutup buku catatannya sejenak.
Ia tidak ingin terus mengajukan pertanyaan ketika orang yang dihadapinya belum yakin dengan ingatannya sendiri.
"Baik, Pak. Saya tidak akan meminta Bapak menjawab sesuatu yang tidak Bapak ketahui."
Pak Samin memandangnya.
"Tuan datang jauh-jauh hanya untuk menanyakan perkara yang sudah berumur puluhan tahun. Pasti ada alasan yang cukup besar."
Haryo terdiam.
Ia teringat surat Darta dan alasan yang diberikan lelaki berjas rapi itu ketika memintanya membuka kembali sebuah perkara.
Namun, ia belum bisa menjelaskan lebih jauh. Ia sendiri belum memahami keseluruhan persoalan.
"Saya hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi," jawabnya. "Kalau ada sesuatu yang selama ini salah dipahami, saya ingin memastikan apakah kesalahan itu masih bisa diperbaiki."
Pak Samin menatapnya lama.
Kemudian, ia berkata, "Kalau Tuan ingin mencari orang yang benar-benar mengetahui kejadian itu, mungkin Tuan harus menemui Bu Rukayah."
Haryo segera membuka buku catatannya.
"Siapa beliau, Pak?"
"Seorang perempuan tua yang tinggal di bagian utara desa. Dahulu, keluarganya cukup dekat dengan rumah tempat beberapa orang yang terlibat dalam kejadian itu pernah tinggal."
"Apakah beliau masih hidup?"
"Sejauh yang saya tahu, masih. Tapi saya tidak tahu apakah beliau bersedia bercerita."
Haryo menuliskan nama itu.
Rukayah.
Nama baru yang belum pernah ia temukan dalam dokumen yang diperiksanya.
"Terima kasih, Pak. Informasi ini sangat membantu."
Pak Samin mengangguk.
Namun, ketika Haryo hendak berdiri, lelaki tua itu kembali memanggilnya.
"Tuan."
Haryo menoleh.
"Kalau nanti Tuan bertemu Bu Rukayah, jangan langsung bertanya tentang siapa yang bersalah."
Haryo mengernyit.
"Kenapa, Pak?"
Pak Samin memandang jauh ke arah jalan desa. Lelaki tua itu menghela napas panjang, membiarkan sisa usianya bergetar bersama angin pagi yang kian menghangat. Tatapannya menerawang jauh, menembus kabut tipis yang perlahan sirna.
"Karena terkadang, orang yang paling lama menyimpan cerita bukanlah orang yang paling memahami semuanya," bisik Pak Samin parau, sarat akan kepasrahan. "Mereka hanya orang-orang yang masih bertahan hidup, setelah orang lain memilih pergi dan berhenti bertanya."
Haryo terpekur. Kalimat itu menyelinap dengan pesat jauh kedalam celah relung hatinya yang paling dalam, meruntuhkan keyakinannya selama ini yang hanya bersandar pada tumpukan kertas arsip di ruang kerjanya. Ia tidak langsung menjawab; suaranya seolah tercekat di tenggorokan, kalah oleh beban masa lalu yang berembus pelan dari celah-celah papan rumah tua itu.
Ia hanya mengangguk pelan sebuah gestur penuh takzim pada seorang saksi sejarah yang menanggung sisa hari dalam sunyi.
Langkah kakinya lantas berbalik, meninggalkan beranda yang menyimpan seribu rahasia. Bebatuan kecil berderak pelan di bawah sol sepatunya, mengiringi jalan pulang menuju mobil hitam yang terparkir menanti.
Sepanjang perjalanan pendek itu, kalimat Pak Samin terus berdengung, berputar-putar di dalam kepalanya, mengoyak logika hukum yang selama ini menjadi pegangan hidupnya.
Untuk pertama kalinya sejak merintis penyelidikan ini, Haryo menyadari sebuah kebenaran yang getir.
Perkara ini ternyata bukan sekadar soal mencari dokumen yang hilang, tinta yang memudar, atau lembaran berkas yang sengaja disembunyikan di balik laci birokrasi. Jauh lebih dalam dari itu, ada manusia-manusia yang masih merawat luka di kepala mereka.
Dan ingatan manusia, betapapun tajamnya, tidak akan pernah sepenuhnya selaras satu sama lain menyisakan teka-teki labirin yang harus ia tempuh seorang diri.
Semwntara itu di pesisir, Nirmala sedang menghadapi persoalan yang berbeda.
Pagi itu, salah satu pembeli yang sebelumnya pernah mengambil ikan darinya datang dengan permintaan yang tidak biasa.
"Saya membutuhkan ikan lebih banyak untuk besok," ujar lelaki itu. "Kalau kamu bisa menyediakan jumlah yang saya minta, saya bersedia membayar dengan harga yang sedikit lebih baik."
Nirmala memandangnya.
"Berapa banyak yang Bapak butuhkan?"
Setelah mendengar jumlahnya, Nirmala tidak langsung menjawab.
Permintaan itu lebih besar daripada hasil tangkapan yang biasa dibawa kakek nelayan. Jika ia menerima pesanan itu tanpa mempertimbangkan keadaan, ia berisiko tidak mampu memenuhinya.
Namun, jika ia menolak begitu saja, ia mungkin kehilangan kesempatan untuk memperluas penjualan.
Ia membuka buku catatannya dan memeriksa jumlah rata-rata ikan yang tersedia selama beberapa hari terakhir.
"Maaf, Pak. Saya belum bisa menjanjikan sebanyak itu."
Lelaki itu tampak kecewa.
"Kalau begitu, kamu tidak bisa menerima pesanan besar?"
"Untuk saat ini, belum. Saya masih harus memastikan jumlah ikan yang tersedia sebelum menerima pesanan."
Pembeli itu menghela napas.
"Saya mengerti. Tapi saya membutuhkan kepastian untuk mengatur kebutuhan warung."
Nirmala mengangguk.
"Bagaimana kalau saya memberi kabar setelah hasil tangkapan besok diketahui? Jika jumlahnya mencukupi, saya akan menghubungi Bapak. Kalau tidak, Bapak masih punya waktu untuk mencari kekurangannya dari pemasok lain."
Lelaki itu mempertimbangkan usulannya.
"Baiklah. Tapi jangan memberi kabar terlalu siang."
"Saya akan berusaha memberi kabar lebih awal."
Setelah pembeli itu pergi, Nirmala duduk di bangku kecil dekat lapaknya.
Ia menyadari bahwa peluang untuk menjual lebih banyak tidak selalu berarti ia harus segera menerimanya.
Ada perbedaan antara melihat kesempatan dan memaksakan diri mengambil sesuatu yang belum sanggup ia tanggung.
Ia teringat perkataan kakek nelayan tentang pentingnya menghitung kemampuan sendiri.
Nirmala tidak ingin mengecewakan pembeli.
Namun, ia juga tidak ingin membuat kakek nelayan melaut dengan tekanan bahwa setiap hasil tangkapan harus memenuhi jumlah tertentu.
Laut bukan gudang yang bisa dibuka kapan saja.
Ada cuaca, keselamatan, tenaga, dan banyak hal lain yang tidak bisa ditawar hanya demi memenuhi pesanan.
Ia menutup buku catatannya.
Untuk saat ini, ia akan tetap berjalan dengan kemampuan yang dimiliki.
Kalau suatu hari nanti ia ingin memperbesar usahanya, ia harus mencari cara yang benar-benar bisa dijalankan.
Bukan sekadar cara yang terlihat menguntungkan di atas kertas.
Senja mulai merayap turun, melaburkan warna keemasan yang lelah di atas riak ombak yang berdebur malas.
Sore itu, di bawah naungan rumah kayu yang setia bersandar pada bibir pantai, Nirmala duduk bersimpuh menemani sang kakek jemari lentiknya cekatan merajut dan merapikan simpul-simpul jaring yang koyak.
Angin laut bertiup perlahan, membawa serta aroma garam yang pekat, berpadu dengan bau kayu basah dan sisa-sisa amis tangkapan hari itu. Namun, di balik desau ombak yang tenang, ada keheningan ganjil yang tiba-tiba merayap pekat.
Udara terasa berat, seolah menyimpan desik rahasia yang tak kasat mata membuat bulu kaki meremang seketika, seakan semesta sendiri sedang berbisik memberi tanda tentang badai masa lalu yang perlahan mulai merangkak ke pesisir tempat Nirmala mangyuh langkahnya.
"Kek," kata Nirmala setelah beberapa saat, "kalau suatu hari nanti kita ingin menjual ikan lebih banyak, apa yang harus kita lakukan?"
Kakek nelayan tidak langsung menjawab.
Ia menarik ujung tali, memeriksa simpul yang baru saja dibuat, lalu meletakkan jaring di pangkuannya.
"Menurutmu sendiri, apa yang perlu dilakukan?"
Nirmala berpikir sejenak.
"Mungkin kita harus mencari cara supaya jumlah ikan yang tersedia lebih teratur."
"Itu salah satunya."
"Atau mencari pembeli yang tidak membutuhkan jumlah terlalu besar, tetapi membeli secara rutin."
Kakek nelayan tersenyum.
"Itu juga bisa."
Nirmala menatap lelaki tua itu.
"Tapi aku belum tahu bagaimana caranya."
"Kalau belum tahu, berarti masih ada yang harus Nirmala pelajari."
Jawaban itu membuat Nirmala tersenyum kecil.
Ia tahu kakek nelayan tidak akan memberikan semua jawaban kepadanya. Lelaki itu justru ingin membiarkannya belajar melalui pengalaman.
"Apakah Kakek pernah mengalami hal seperti ini?"
"Tentu saja."
Kakek nelayan memandang laut.
"Dahulu, Kakek pernah membawa hasil tangkapan terlalu banyak karena mengira ada pedagang yang akan membeli semuanya. Ternyata, pedagang itu tidak datang. Sebagian ikan akhirnya tidak bisa dijual dengan harga yang layak."
Nirmala mendengarkan dengan saksama.
"Apa yang Kakek lakukan?"
"Belajar untuk tidak mengandalkan satu janji saja."
Lelaki tua itu tersenyum tipis.
"Tapi jangan salah mengerti, Nak. Bukan berarti semua orang harus dicurigai. Kita hanya perlu membedakan antara sesuatu yang sudah pasti dan sesuatu yang baru mungkin terjadi."
Nirmala mengangguk perlahan. Di dalam dadanya, kesadaran itu mengakar pelan bahwa hidup tidak pernah benar-benar tunduk pada teori.
Pengalaman adalah guru paling sunyi, mengajarkan hal-hal yang takkan pernah ditemukan dalam lembaran buku atau deretan hitungan angka.
Manusia boleh merancang skenario paling sempurna, tetapi waktu dan takdir selalu punya cara sendiri untuk meretakkan rencana itu.
Pada akhirnya, yang bertahan hidup bukanlah mereka yang memiliki peta paling rapi, melainkan jiwa-jiwa yang cukup tabah untuk merajut ulang arah, tatkala kenyataan mendadak berubah menjadi labirin yang asing.
Namun, dunia berputar dalam misterinya sendiri. Jauh dari riuh debur ombak pesisir tempat Nirmala berpijak, benang takdir itu ternyata membentang melintasi sunyi, menembus kabut masa lalu yang diam-diam mulai bergerak mencari jalannya pulang.
Di ujung utara desa itu, sebuah rumah tua berdiri menciptakan suasana sepi di balik pagar rendah yang mulai merapuh. Tanaman merambat merayap pekat, merangkul separuh dinding kayunya dalam pelukan waktu yang panjang.
Di halaman depan, jejeran pot bunga berdiam seolah ingin mengungkap kisah kelam dalam kebisuannya, dan di dekat tangga kayu yang kian keropos menyeruak jejak jejak langkah kaki seakan menunjukkan keberadaan sesuatu yang teramat penting.
Di dalam rumah yang tenggelam dalam temaram sore itu, Rukayah tengah merapikan beberapa lembar kenangan ke dalam lemari usang. Jemarinya gemetar pelan, seolah ada desir angin tak kasat mata yang mendadak membawa hawa dingin ke dalam ruangan.
Hingga tiba-tiba... tiga ketukan pelan menggema di pintu depan, memecah kesunyian dan menghentikan debar waktu di tempatnya.
Ia menghentikan pekerjaannya.
"Sebentar," serunya.
Rukayah berjalan perlahan menuju pintu, lalu membukanya.
Seorang lelaki tua berdiri di hadapannya. Pakaiannya rapi, dan sebuah map tipis berada di tangan kirinya.
"Selamat sore, Bu. Apakah benar ini rumah Ibu Rukayah?"
Rukayah mengangguk.
"Benar. Ada keperluan apa?"
Lelaki itu memperkenalkan dirinya sebagai Haryo, seorang pengacara yang sedang mencari informasi tentang perkara lama di desa tersebut.
Pada mulanya, Rukayah mendengarkan dengan tenang.
Namun, ketika Haryo menyebut nama Raden Mas Arya, wajahnya berubah.
Tidak drastis.
Hanya ada jeda kecil sebelum ia kembali berbicara.
"Sudah lama sekali saya tidak mendengar nama itu."
Haryo memperhatikan reaksinya, tetapi tidak langsung menanyakannya.
"Apakah Ibu mengenal beliau?"
Rukayah memandangnya cukup lama sebelum menjawab.
"Saya pernah mendengar nama itu pada masa muda saya. Tetapi saya tidak tahu banyak tentang urusannya."
Haryo mengangguk.
"Saya mengerti. Saya tidak ingin membuat Ibu merasa tidak nyaman. Saya hanya sedang mencoba memahami sebuah kejadian yang tercatat dalam dokumen lama."
Rukayah membuka pintu lebih lebar.
"Silakan masuk."
Haryo memasuki ruang tamu yang sederhana.
Di atas sebuah meja kecil terdapat beberapa foto keluarga dalam bingkai kayu. Sebagian telah memudar, tetapi masih cukup jelas untuk menunjukkan wajah orang-orang yang pernah hidup di rumah itu.
Rukayah mempersilakannya duduk, lalu mengambilkan air minum.
Setelah beberapa saat, Haryo membuka pembicaraan.
"Maaf, Bu...Saya sedang menelusuri catatan tentang sebuah kecelakaan yang terjadi sekitar empat puluh lima tahun lalu. Saya menemukan beberapa dokumen yang mencantumkan nama Raden Mas Arya, tetapi informasi di dalamnya belum lengkap."
Rukayah duduk di kursi seberangnya.
"Kecelakaan di jalan lama, Pinggiran persawahan?"
Haryo terdiam sesaat.
"Ibu mengetahui kejadian itu?"
Rukayah menunduk.
"Saya tidak tahu apakah yang saya ingat benar-benar berkaitan dengan perkara yang sedang Tuan cari."
Haryo tidak menyela.
Rukayah mengusap kedua telapak tangannya perlahan.
"Dahulu, ada banyak kabar yang beredar setelah kejadian itu. Orang-orang membicarakannya selama beberapa waktu, lalu perlahan berhenti. Saya masih muda saat itu. Saya tidak berada di tempat kejadian, jadi saya tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi."
"Apakah Ibu pernah berbicara dengan seseorang yang terlibat langsung?"
Rukayah mengangkat wajah.
"Saya pernah mendengar percakapan yang membuat saya mengingat nama keluarga itu. Tetapi saya tidak tahu apakah orang yang berbicara benar-benar mengetahui semuanya."
Haryo membuka buku catatannya.
"Apakah Ibu masih mengingat siapa mereka?"
Rukayah tidak segera menjawab.
Ia memandang jendela, tempat cahaya sore mulai meredup, Remang dalam pandangan.
"Saya ingat salah satu nama yang disebutkan. Tapi sudah terlalu lama. Saya tidak ingin memberikan keterangan yang keliru."
Haryo mengangguk.
"Itu keputusan yang bijaksana, Bu. Saya lebih menghargai keterangan yang benar-benar Ibu ingat daripada jawaban yang dipaksakan."
Rukayah tampak sedikit lega.
Namun, ketika Haryo menyebutkan bahwa ia bekerja atas permintaan seseorang yang ingin membuka kembali perkara itu, perempuan tua itu kembali terlihat gelisah.
"Siapa nama orang yang meminta Tuan menyelidikinya?"
Haryo berhenti menulis.
Untuk sesaat, ia mempertimbangkan apakah nama Darta perlu disebutkan sekarang.
Akhirnya, ia menjawab dengan jujur.
"Namanya Darta."
Suasana ruang tamu mendadak terasa berbeda.
Rukayah tidak bergerak.
Tatapannya tertuju kepada Haryo, seolah sedang memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.
"Darta?" ulangnya pelan.
Haryo mengangguk.
"Benar, Bu. Apakah Ibu mengenal beliau?"
Rukayah segera mengalihkan pandangan.
"Saya tidak tahu. Nama itu mungkin pernah saya dengar, tetapi saya tidak bisa memastikan."
Jawabannya terdengar wajar.
Namun, Haryo menangkap keraguan yang tidak muncul ketika mereka membicarakan nama-nama lain.
Ia tidak mendesaknya.
Pengalamannya mengajarkan bahwa seseorang yang merasa terpojok mungkin akan menutup diri, bahkan ketika sebelumnya bersedia berbicara.
Karena itu, ia memilih mengakhiri kunjungan dengan sopan.
"Terima kasih atas waktu Ibu. Kalau nanti ada sesuatu yang kembali Ibu ingat, saya berharap Ibu bersedia menghubungi saya."
Haryo menyerahkan kartu namanya.
Rukayah menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Baik, Tuan."
Setelah Haryo berpamitan dan berjalan menuju mobilnya, Rukayah tetap berdiri di dekat pintu.
Ia menatap kartu nama yang berada di tangannya.
Nama Haryo tercetak jelas di sana.
Di bawahnya terdapat nomor telepon kantor dan alamat yang bisa dihubungi.
Rukayah menutup pintu perlahan.
Langkah kakinya bergeser berat menuju kamar tidur yang tenggelam dalam kelambu senja. Di sudut ruangan, sebuah lemari kayu tua berdiri kaku, menyimpan beribu rahasia yang puluhan tahun dibungkam debu dan kebisuan.
Ia tertegun sejenak. Mematung di hadapan pintu lemari, seolah bimbang antara melanjutkan niatnya atau membiarkan masa lalu terus terkubur abadi dalam gelap.
Perlahan, jemarinya yang bergetar menyentuh gagang pintu. Engselnya berderit panjang, merobek sunyi ruangan. Di dasar lemari paling bawah, di balik lipatan kain yang mulai lapuk, ia meraba dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Kotak itu tidak besar. Namun, begitu berpindah ke dalam genggamannya, bebannya terasa begitu pekat seolah menghimpun seluruh berat lara, kebohongan, dan rahasia kelam yang selama ini sengaja disembunyikan dari dunia luar.
Rukayah membawanya ke meja, lalu duduk.
Tangannya menyentuh permukaan kayu yang telah lama menyimpan benda itu.
Ia tidak membuka kotak itu.
Belum.
Sebaliknya, ia memandang kartu nama Haryo sekali lagi.
Darta.
Nama itu telah lama tidak hadir dalam kehidupannya.
Namun, kini seseorang datang ke rumahnya untuk menanyakan perkara lama, dan nama yang disebutkannya justru nama yang sama.
Rukayah menarik napas panjang.
Ia belum tahu apa tujuan Darta membuka kembali perkara itu.
Ia juga belum mengetahui apakah Haryo benar-benar hanya ingin menemukan kebenaran.
Tetapi satu hal mulai mengusik pikirannya.
Jika perkara itu kembali diperiksa, apakah orang-orang yang selama ini memilih diam masih mampu mempertahankan kesunyiannya?
Rukayah meletakkan kartu nama di atas meja.
Lalu, dengan gerakan perlahan, ia menarik kotak itu lebih dekat.
Kali ini, ia tidak lagi mengurungkan niatnya.
Jari-jarinya menyentuh pengunci kecil di bagian depan.
Namun, sebelum membukanya, ia berhenti sejenak dan memejamkan mata.
Ada sesuatu di dalam kotak itu yang tidak pernah benar-benar ingin ia lihat lagi.
Sesuatu yang selama puluhan tahun hanya berani ia ingat dalam diam.
Dan kini, setelah sekian lama, masa lalu kembali mengetuk pintunya.
Malam telah turun ketika Haryo kembali ke penginapannya.
Ia meletakkan map di atas meja, melepas kacamatanya, lalu duduk dengan tubuh yang terasa lebih lelah daripada ketika berangkat pagi tadi.
Perjalanan itu belum memberikan jawaban yang pasti.
Pak Samin hanya mengingat sebagian kejadian.
Rukayah pun belum memberikan keterangan yang dapat menghubungkan kecelakaan itu dengan dokumen yang ditemukan Haryo.
Namun, pertemuan dengan perempuan tua itu meninggalkan dua hal yang sulit diabaikannya.
Pertama, nama Raden Mas Arya tampaknya masih memiliki arti bagi sebagian orang di desa itu.
Kedua, ketika nama Darta disebutkan, Rukayah menunjukkan reaksi yang berbeda.
Haryo membuka buku catatannya.
Ia menuliskan kedua hal itu, lalu menambahkan satu kalimat di bawahnya.
Perlu diperiksa lebih lanjut. Belum cukup bukti untuk menarik kesimpulan.
Ia tidak ingin membiarkan kecurigaan berkembang menjadi keyakinan tanpa dasar.
Darta telah mempercayakan tugas ini kepadanya. Untuk saat ini, Haryo akan tetap menjalankan tugasnya.
Namun, ia juga harus memastikan bahwa penyelidikan tidak berhenti pada jawaban yang paling mudah diterima.
Ia mengambil telepon dan membuka nomor Darta.
Jarinya sempat berhenti di atas angka.
Ia bisa saja langsung menghubungi lelaki itu dan melaporkan hasil perjalanannya. Akan tetapi, ia belum memiliki informasi yang cukup untuk disampaikan sebagai perkembangan berarti.
Akhirnya, ia memutuskan untuk menunggu sampai memperoleh keterangan yang lebih jelas.
Bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu dari Darta.
Melainkan karena ia tidak ingin menyampaikan dugaan yang belum dapat dipertanggungjawabkan.
Haryo meletakkan teleponnya, kemudian memandang keluar jendela.
Pelita-pelita kecil di rumah-rumah desa berkedip sayu, diayun embusan angin malam yang kian mendingin. " mungkinkah ada hal yang sebenarnya sedang menghantui masalalu desa ini." Gumamnya lepas dari benaknya.
Sementara di jalanan yang tenggelam dalam kelam, paduan suara serangga malam berdengung panjang, merajut simfoni kesunyian yang memeluk erat alam.
Jauh di garis pantai tempat debur ombak tak pernah lelah bernapas, Nirmala mungkin tengah merebahkan diri, bersiap menyambut fajar penat esok harinya tanpa sedikit pun menyadari bahwa roda takdir telah berderit, menggeliatkan kembali sebuah perkara lama yang siap menyeretnya ke dalam arus.
Di sebuah rumah tua yang baru saja ditinggalkan Haryo, Rukayah tengah menatap nanar kotak kecil yang puluhan tahun dibiarkannya tersegel rapat dari jamahan dunia.
Dan di belahan kota yang masih lalulalang dengan suara kendaraan, Darta selalu bersandar dalam bayang-bayang penantian, menunggu kabar dari kepingan teka-teki yang ia percayakan penuh kepada Haryo.
Belum ada satu pun dari mereka yang mampu meraba garis akhir dari labirin ini.
Namun, satu hal yang pasti: masa lalu telah bangkit dari kuburnya, meninggalkan jejak tapak kaki yang takkan lagi bisa disembunyikan.
Sebab terkadang, hanya dengan munculnya kembali satu nama, seluruh keyakinan yang selama ini digenggam erat seketika runtuh berkeping-keping.
Bersambung......