Entri yang Diunggulkan
DUA JIWA, SATU TAKDIR...eps.1
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Tersesat dalam bayang dan kabut
Langit senja merendah, menumpahkan gerimis yang membasahi tanah liat di sepanjang tepian pematang sawah.
Udara dingin menyusup melalui celah kemejanya, membawa aroma tanah basah bercampur wangi jerami tua yang perlahan melapuk.
Di tempat itulah sang pemuda berdiri seorang diri, terdiam tanpa arah yang pasti, membiarkan rintik hujan membasuh wajahnya yang tampak lelah.
Di hadapannya, hamparan sawah membentang luas dalam balutan kabut tipis yang turun merayap dari kaki bukit.
Garis-garis pematang tampak samar, perlahan melebur bersama warna kelabu senja yang kian tenggelam di balik cakrawala.
Namun, di tengah kesunyian yang menyelimuti sore itu, pandangannya mendadak terpaku pada sesuatu.
Di ujung pematang, tak jauh dari deretan pohon bambu yang berdesir lirih ditiup angin, sesosok bayangan tampak berdiri.
Seorang gadis.
Parasnya begitu jelita, seolah menyimpan cahaya tersendiri di antara temaram senja. Bias sinar yang menembus tirai kabut menyentuh wajahnya, menghadirkan pesona yang nyaris terasa tidak nyata.
Gadis itu menoleh sejenak. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya, menyisakan kesan sendu yang sulit diterjemahkan.
Sesaat kemudian, ia berbalik dan melangkah perlahan menuju jalur hutan yang rimbun di tepi persawahan.
Degup jantung sang pemuda seketika menggila.
Ada sesuatu pada gadis itu yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan.
Entah sorot matanya, senyum sayunya, atau kelembutan paras yang sekilas tampak begitu memikat.
Semuanya seolah menyatu dalam pesona yang mengusik benaknya, menenggelamkan kewaspadaan yang semestinya ia miliki.
Tanpa sempat menimbang apa pun, ia pun melangkah mengejar.
“Tunggu…,” bisiknya, nyaris tenggelam di antara desir angin dan rintik gerimis.
Ia mempercepat langkah, meninggalkan jejak sepatu di atas lumpur yang lembek. Namun, semakin jauh ia berusaha mendekat, semakin samar pula sosok gadis itu terlihat.
Kabut yang menyelimuti jalur hutan perlahan menebal, seolah merentangkan tabir di antara dirinya dan bayangan yang hendak iakejar.
Langkah sang pemuda kian tergesa, menerobos semak belukar yang basah oleh air hujan.
Pepohonan tua berdiri rapat di sepanjang jalur yang mulai menyempit, menjulang tinggi dengan cabang-cabang yang saling bertaut, menutupi sebagian besar langit senja.
Cahaya yang tersisa hanya mampu menyelinap di antara dedaunan, membentuk bayang-bayang panjang yang berkelindan di atas tanah.
Gerimis yang semula turun perlahan kini semakin rapat.
Tetes-tetes air berjatuhan dari ujung dedaunan, beradu dengan ranting dan semak, menciptakan gemerisik yang bersahutan di tengah kesunyian hutan.
Di antara udara dingin yang merayap dan kabut yang kian rendah, sang pemuda terus mencari.
Lalu, sesuatu mengusik penciumannya.
Aroma tanah basah selepas hujan berpadu dengan keharuman samar yang masih tertinggal di antara embusan udara lembap.
Wanginya begitu tipis, nyaris larut dalam napas hutan, tetapi cukup untuk membangkitkan perasaan ganjil yang sulit dijelaskan.
Seolah-olah ia pernah mengenali keharuman itu.
Seolah-olah ada seseorang yang pernah begitu dekat dengannya, meninggalkan jejak kenangan yang belum sepenuhnya terhapus oleh waktu.
Ingatan itu berkelebat tanpa bentuk yang jelas, menghadirkan perasaan akrab yang membuat langkahnya melambat.
“Rani…,” gumamnya lirih.
Tiba-tiba, langkahnya terhenti.
Di atas tanah liat yang gembur, di antara jalinan akar pohon besar yang mencuat dari permukaan bumi, sebuah jejak kaki tercetak jelas.
Ukurannya kecil, dengan tepian yang masih tajam. Air hujan menggenang di dalam lekukannya, seakan jejak itu baru saja ditinggalkan oleh seseorang yang melintas beberapa saat sebelumnya.
Sang pemuda berjongkok, mengamati bekas tapak itu dengan saksama.
Jejak tersebut mengarah lurus ke dalam hutan, menuju sebuah jalur setapak yang semakin menyempit di antara bebatuan berlumut.
Jantungnya kembali berdegup kencang.
Ia menyadari bahwa dirinya telah melangkah semakin jauh dari batas aman perkampungan.
Namun, bayangan senyum sang gadis di ujung pematang tadi terus membekas di pelupuk matanya.
Ada daya tarik yang sulit ia lawan, seolah sesuatu yang tak kasatmata perlahan menuntunnya memasuki labirin alam yang kian sunyi.
Sejenak, ia terdiam.
Nalarnya seakan berbisik agar ia berhenti dan kembali ke perkampungan sebelum senja benar-benar lenyap.
Akan tetapi, rasa penasaran yang tumbuh di dalam dadanya justru semakin kuat, mengalahkan keraguan yang mulai menyusup ke benaknya.
Akhirnya, ia kembali berdiri dan mengikuti jejak-jejak kaki yang membekas di atas tanah basah.
Langkah demi langkah membawanya semakin dalam, menembus selimut kabut yang kian pekat.
Di sepanjang jalan, pepohonan tua menjulang seperti penjaga bisu yang menyimpan rahasia di balik rimbunnya dedaunan.
Batang-batangnya yang gelap tampak samar dalam remang, seakan menjadi saksi bagi sesuatu yang telah lama tersembunyi dari jangkauan manusia.
Sesekali, sesosok bayangan berkelebat di antara batang-batang pohon itu.
Samar.
Begitu cepat hingga nyaris dianggap sebagai permainan kabut dan cahaya senja. Namun, sang pemuda merasa yakin bahwa ia tidak sedang mengejar bayangan kosong.
Ada sosok yang bergerak di hadapannya, sesekali menampakkan diri sebelum kembali lenyap di balik rimbunnya pepohonan.
Ia mempercepat langkah.
“Rani… mengapa?” bisiknya lirih.
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, membawa kegelisahan yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.
Namun, tak ada jawaban.
Hanya desir angin yang menyelinap di antara pepohonan, disusul suara tetesan air yang jatuh dari dedaunan.
Sang pemuda terus menatap ke arah tempat bayangan itu terakhir terlihat, berharap sosok tersebut akan kembali menampakkan diri.
Sayangnya, yang tersisa hanyalah jalur setapak yang kian gelap, kabut yang merayap di antara akar-akar tua, dan kesunyian yang seolah menelan setiap suara.
Bayangan itu telah lenyap.
Namun, jejak kaki di hadapannya masih membentang menuju bagian hutan yang lebih dalam.
Dan entah mengapa, sang pemuda merasa bahwa langkahnya tak lagi sekadar mengikuti seseorang yang ingin ditemuinya.
Ada sesuatu yang menunggunya di balik kabut itu.
Sesuatu yang belum ia kenali, tetapi perlahan mulai menariknya ke dalam sebuah rahasia yang tersembunyi di balik pekatnya kabut.
Entah apa yang akan menantinya di ujung perjalanan itu. Tubuh sang pemuda mulai gemetar, sementara tatapannya tak lepas dari jejak-jejak kaki yang menghilang di antara pepohonan tua.
Ada kegelisahan yang perlahan mencengkeram dadanya, membisikkan peringatan agar ia segera berbalik dan meninggalkan tempat itu.
Namun, rasa penasaran yang menggelora justru semakin mengusik akal sehatnya.
Di antara keinginan untuk kembali dan dorongan untuk terus melangkah, ia terjebak dalam keraguan yang kian mencekik.
“Apakah aku harus menyusulnya? Bagaimana ini…?” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar di antara desir angin dan gemerisik dedaunan.
Untuk sesaat, ia hanya berdiri membisu, menimbang keputusan yang terasa semakin sulit.
Di hadapannya, jalur setapak itu masih membentang ke dalam kegelapan, seolah menyimpan jawaban atas segala kegelisahan yang kini memenuhi benaknya.
Sementara itu, bayangan sang gadis telah lama menghilang.
Dan kini, hanya ada dirinya, jejak-jejak kaki yang misterius, serta sebuah pilihan yang harus segera ia tentukan.
Bersambung…
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya