Entri yang Diunggulkan
SENYUM DI AKHIR KESUNYIAN MALAM..eps.8
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Lampu-lampu rumah mulai menyala, menggantikan cahaya senja yang sejak tadi perlahan meninggalkan halaman. Angin malam menyusup melalui celah jendela, membawa aroma tanah dan dedaunan yang masih menyimpan sisa kelembapan sore.
Laras duduk di sofa ruang tengah. Sebuah buku terbuka di pangkuannya, tetapi sejak beberapa menit lalu tidak ada satu halaman pun yang benar-benar ia baca.
Pikirannya masih tertinggal pada percakapan sore tadi.
Tentang seorang perempuan yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan lelaki yang kini berada di sampingnya.
Tentang sebuah perpisahan yang tidak disertai kebencian.
Dan tentang seseorang yang ternyata pernah kehilangan, tetapi memilih tidak banyak membicarakannya.
Lelaki itu datang membawa dua cangkir teh yang uapnya masih mengepul lembut di atas nya. Ia meletakkan salah satunya di meja, kemudian duduk di samping Laras.
"Kok belum tidur?"
Laras menutup bukunya perlahan.
"Belum mengantuk."
Lelaki itu tersenyum kecil, garis wajahnya melembut di bawah temaram lampu ruangan.
"Biasanya kalau sudah memegang buku, katanya mau membaca sampai ketiduran."
"Biasanya."
"Kalau sekarang?"
Laras memandangnya sebentar, menangkap binar teduh di mata lelaki itu.
"Sedang memikirkan sesuatu."
Lelaki itu mengangkat alis, menyunggingkan senyum tipis penuh godaan.
"Berbahaya kalau Laras sudah mulai berpikir."
Laras tertawa kecil, suara renyah yang memecah sunyi.
"Memangnya kenapa?"
"Biasanya pertanyaannya panjang."
"Memangnya Mas takut ditanya?"
"Nggak. Hanya sedang mempersiapkan jawaban."
Mereka tertawa ringan, menciptakan kehangatan kecil di tengah dinginnya malam. Namun setelah beberapa saat, tawa itu surut, dan Laras kembali terdiam.
"Mas..."
"Hm?"
"Aku boleh bertanya sesuatu?"
"Boleh."
"Tapi jangan jawab karena ingin menyenangkan aku."
Lelaki itu menoleh. Kali ini ia tidak langsung menjawab, membiarkan jeda merayap sejenak sebelum bersuara.
"Baik. Tanya saja."
Laras mengangkat tangan, menopang dagunya, sambil menatap lekat lelaki yang kini duduk tepat di hadapannya. Senyum manisnya tersungging lembut, seolah hanya tercipta untuk pria itu.
"Kalau dulu Mas pernah begitu mencintai seseorang, bagaimana Mas bisa yakin bahwa sekarang Mas benar-benar mencintaiku?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Tidak keras. Tidak pula terdengar seperti tuntutan. Namun ada sesuatu yang rapuh dan tersembunyi di baliknya.
Lelaki itu menatap Laras cukup lama, meresapi kesungguhan di manik mata perempuan itu, kemudian menghela napas pelan.
"Kamu sedang membandingkan dirimu dengan dia?"
Laras menggeleng pelan.
"Nggak tahu. Mungkin sedikit."
"Kenapa?"
"Karena aku baru tahu bahwa ternyata ada seseorang yang pernah begitu berarti dalam hidup Mas. Seseorang yang pernah Mas bayangkan menjadi bagian dari masa depan Mas."
Lelaki itu mengangguk perlahan, tidak menepis kenyataan.
"Memang pernah."
"Dan mungkin, kalau keadaan waktu itu berbeda, kalian masih bersama sampai sekarang."
Lelaki itu tersenyum tipis, senyum yang menyimpan sejuta kisah yang telah tuntas.
"Mungkin saja. Tapi kita tidak pernah benar-benar tahu kehidupan seperti apa yang akan terjadi kalau masa lalu mengambil jalan yang berbeda."
Laras menunduk, menatap jemarinya sendiri.
"Kadang aku berpikir, apakah aku datang setelah seseorang yang pernah Mas cintai begitu dalam?"
Lelaki itu menggeser duduknya sedikit lebih dekat, merengkuh jarak di antara mereka.
"Laras, kamu tahu sesuatu?"
Laras mengangkat wajahnya.
"Apa?"
"Kenangan dan cinta itu tidak selalu berada di tempat yang sama."
"Maksudnya?"
"Kenangan adalah sesuatu yang pernah kita alami. Kita bisa mengingatnya, menyimpannya, bahkan sesekali merindukan suasananya. Tetapi cinta yang sedang kita jalani adalah sesuatu yang membutuhkan kehadiran, perhatian, dan keputusan setiap hari."
Ia berhenti sebentar, membiarkan napas malam mengiringi kata-katanya.
"Dulu aku pernah membayangkan masa depan bersamanya. Itu benar. Tetapi kehidupan yang sekarang aku jalani bukan kelanjutan dari bayangan masa lalu itu."
Laras mendengarkan tanpa menyela, membiarkan tiap kata itu meresap ke dalam relung hatinya.
"Ketika aku bersamamu, aku tidak sedang mencari perempuan yang mirip dengannya. Aku juga tidak sedang mencoba mengganti seseorang yang pernah pergi. Aku mengenalmu sebagai dirimu sendiri."
Senyum itu terbit perlahan di bibir Laras bukan senyum yang dibuat-buat untuk menutupi gentar, melainkan senyum tipis yang membawa kelegaan luar biasa. Ada sebersit binar hangat di matanya, seperti bias cahaya lampu yang memantul di permukaan air yang tenang.
"Tapi apakah kenangan itu masih ada?" tanyanya lembut, suaranya melebur bersama desau angin malam.
"Masih."
Jawaban itu meluncur tanpa ragu, begitu bersahaja namun menghunjam tepat di dada. Tidak ada kalimat manis yang dibungkus kepalsuan, tidak ada pula upaya untuk meredam kebenaran demi menyenangkan hati. Lelaki itu menghadapinya dengan kejujuran paling murni.
Laras terdiam sejenak, membiarkan jeda itu mengisi ruang di antara detak jantung mereka.
Lelaki itu kemudian melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya.
"Aku tidak perlu berpura-pura lupa hanya supaya kamu merasa menjadi satu-satunya orang yang pernah berarti dalam hidupku. Sebab kenyataannya, kita semua datang membawa kehidupan sebelum bertemu satu sama lain."
"Jadi Mas masih bisa mengingatnya?"
"Bisa."
"Kadang merindukannya?"
Lelaki itu berpikir sejenak, menimbang rasa di dalam hatinya.
"Mungkin aku merindukan beberapa bagian dari masa itu. Percakapannya, suasananya, atau hal-hal sederhana yang dahulu pernah kami lakukan. Tapi itu tidak berarti aku ingin kembali menjalani hubungan yang sudah selesai."
Laras mengangguk pelan. Ada sesuatu yang perlahan ia pahami, meskipun belum sepenuhnya mampu ia jabarkan dengan kata-kata.
Selama ini ia sering mengira bahwa mencintai seseorang berarti harus menempatkannya sebagai satu-satunya kenangan yang boleh memiliki ruang di dalam hati. Namun ternyata, kehidupan manusia tidak sesederhana itu.
Seseorang bisa menyimpan kenangan tanpa harus menghidupkan kembali hubungan yang telah berlalu. Dan seseorang bisa mencintai hari ini tanpa harus menghapus seluruh cerita kemarin.
"Mas," Laras kembali membuka percakapan, memecah keheningan yang sempat singgah.
"Hm?"
"Kalau suatu hari aku bertanya tentang dia lagi, Mas keberatan?"
Lelaki itu tertawa kecil, mencairkan ketegangan yang tersisa.
"Kenapa? Kamu mau mewawancarainya?"
Laras ikut tertawa, bahunya bergetar pelan.
"Siapa tahu masih ada bagian cerita yang belum Mas ceritakan."
"Memangnya belum cukup?"
"Belum tentu."
"Dasar."
Mereka kembali tertawa. Namun kali ini Laras tidak segera mengalihkan pembicaraan. Ia menyandarkan punggungnya, lalu memandang lelaki itu dengan tatapan yang jauh lebih serius.
"Aku sebenarnya bukan takut Mas masih mengingatnya."
"Terus?"
"Aku hanya takut suatu saat aku menjadi seseorang yang sekadar mengisi tempat kosong yang ditinggalkannya."
Lelaki itu terdiam. Sorot matanya berubah teduh. Ia memahami bahwa pertanyaan Laras bukan lagi tentang perempuan dari masa lalunya, melainkan tentang ketakutan yang jauh lebih halus ketakutan bahwa dirinya mungkin hanya hadir sebagai pelarian, bukan sebagai seseorang yang benar-benar dipilih.
Lelaki itu meraih tangan Laras, menggenggamnya erat.
"Dengar, ya."
Laras menatapnya lekat.
"Tempat kosong itu memang pernah ada. Tetapi aku tidak menjalani kehidupan ini untuk terus mengisinya dengan orang lain."
Ibu jarinya mengusap punggung tangan Laras dengan lembut.
"Aku bersamamu bukan karena seseorang tidak jadi tinggal. Aku bersamamu karena kita memilih untuk menjalani kehidupan bersama."
Laras tersenyum. Kali ini senyumnya jauh lebih tenang, menghapus segala mendung yang sempat menggelayut di kepalanya.
"Jawaban Mas bagus juga."
"Memangnya selama ini jelek?"
"Kadang."
"Wah, ternyata ada penilaian tersembunyi."
Laras tertawa renyah, lalu tanpa ragu menyandarkan kepalanya ke bahu lelaki itu.
Beberapa saat berlalu dalam diam, membiarkan kehangatan tubuh mereka berbicara. Lalu, dengan suara yang hampir seperti bisikan, Laras kembali bersuara,
"Mas..."
"Hm?"
"Kalau aku boleh jujur, sebenarnya aku senang mendengar cerita Mas tadi sore."
"Kenapa?"
"Karena sekarang aku tahu, Mas juga punya bagian kehidupan yang tidak selalu mudah."
Lelaki itu merangkulnya lebih dekat.
"Memangnya kamu kira aku ini tidak pernah punya cerita?"
Laras terkekeh kecil.
"Selama ini Mas lebih sering menjadi pendengar. Jadi aku hampir lupa kalau Mas juga pernah menjadi seseorang yang menunggu." Ia berhenti sejenak, napasnya berhembus teratur di bahu sang lelaki. "Dan mungkin pernah menjadi seseorang yang ditinggalkan."
Lelaki itu tersenyum tipis, menatap lurus ke depan.
"Begitulah kehidupan."
Malam semakin larut. Di luar, angin bergerak semakin pelan. Tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan malam itu.
Namun sebelum beranjak sepenuhnya dalam kantuk, Laras mengangkat wajahnya sekali lagi.
"Mas, satu pertanyaan terakhir."
Lelaki itu menghela napas pura-pura lelah, meski ada senyum tertahan di sudut bibirnya.
"Nah, kan. Katanya terakhir."
"Benar, ini terakhir."
"Apa?"
Laras menatap matanya lekat-lekat.
"Kalau dulu dia adalah perempuan yang pernah Mas bayangkan menjadi masa depan, sekarang aku ini siapa?"
Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia memandang Laras sejenak, seolah merangkum seluruh semesta di dalam diri perempuan itu, lalu tersenyum tulus.
"Kamu adalah perempuan yang sedang menjalani masa depanku bersamaku."
Laras tertawa kecil, suara yang terdengar begitu bahagia.
"Jawabannya romantis sekali."
"Memangnya salah?"
"Nggak."
Ia kemudian mengeratkan pelukannya pada lelaki itu.
Tidak ada kecemburuan yang perlu dipertahankan. Tidak ada masa lalu yang harus diperebutkan. Setidaknya malam itu, Laras merasa tidak sedang berdiri di bawah bayang-bayang seseorang yang pernah datang lebih dahulu.
Namun manusia tidak selalu selesai dengan satu jawaban. Kadang sebuah jawaban justru melahirkan pemahaman yang lebih dalam.
Malam itu Laras mulai mengerti bahwa masa lalu tidak harus dihapus agar masa kini terasa berarti. Tetapi ia juga menyadari bahwa mencintai seseorang bukan sekadar menerima cerita yang pernah terjadi sebelum dirinya hadir, melainkan memahami bahwa setiap orang memiliki kebebasan untuk mengenang, sekaligus tanggung jawab untuk menjaga rumah yang sedang mereka bangun bersama.
Sedangkan di luar jendela, rembulan menggantung sempurna di langit malam, memancarkan aura lembut berwarna keemasan yang berpadu indah dengan gumpalan awan temaram. Cahayanya merayap tenang menembus kaca, menyiram ruangan dengan kehangatan yang meredam segala resah.
Di sampingnya, lelaki itu memejamkan mata dengan tenang.
Sementara Laras masih terjaga beberapa saat, memikirkan betapa indahnya perjalanan hati mereka. Ada sesuatu yang kini terasa jauh lebih dekat bukan karena ia telah mengetahui seluruh rahasia masa lalu lelaki itu, melainkan karena untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar utuh dicintai.
Dan di antara kenangan yang telah berlalu dan hari esok yang menanti, satu hal yang pasti telah tumbuh:
Kepercayaan.
Bukan keyakinan bahwa masa lalu tidak akan pernah melintas sekilas, melainkan kepastian bahwa seseorang dapat mengingat apa yang telah usai, tanpa pernah sedikit pun berniat meninggalkan kehidupan yang sedang ia perjuangkan sekarang.
Sebab cinta sejati tidak pernah meminta seseorang melupakan siapa yang pernah hadir.
Ia hanya membutuhkan ketulusan untuk memastikan bahwa di antara begitu banyak cerita lama, ia adalah pelabuhan terakhir yang tidak akan pernah tergantikan.
Selesai.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya