Entri yang Diunggulkan

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

Gambar
--- Pagi itu, udara terasa segar setelah hujan semalam. Embun masih menempel di ujung daun, dan suara ayam peliharaan mulai ramai di belakang rumah. Gadis itu baru saja selesai menyapu halaman saat ibunya memanggil dari dalam rumah. “Ndok… ada tamu.” Ia melangkah ke ruang tamu dengan langkah santai. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Di sana, lelaki itu duduk rapi, mengenakan kemeja putih yang jarang dipakainya, celana hitam, dan wajah yang sedikit pucat mungkin karena gugup. Di sampingnya, ada dua orang: ibunya, dan seorang paman dari kota. Gadis itu tercekat. Pandangan mereka bertemu. Lelaki itu tidak senyum seperti biasa wajahnya serius, tapi matanya tetap hangat. “Aku datang… bukan cuma untuk ngobrol atau ngopi,” katanya pelan. “Aku datang untuk minta izin.” Gadis itu menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu hidup kita nggak mewah, nggak sempurna. Tapi aku mau kita jalanin bareng. Aku mau bangun pagi dan ngelihat kamu lagi masak air. Aku m...

SENYUM DI AKHIR KESUNYIAN MALAM..eps.6

Di balik asmara yang berbisa

Ada kalimat yang terdengar begitu indah ketika seseorang mengucapkannya di hadapan kita.

Kalimat yang meredakan badai.
Kalimat yang membuat kita percaya bahwa apa pun yang terjadi, akan selalu ada seseorang yang tetap tinggal.

“Aku bisa menunggu.”

Bagi Laras, kalimat itu pernah terasa seperti pegangan.

Ia menggenggamnya erat-erat, seolah kalimat itu adalah bukti bahwa Arga benar-benar mencintainya. Bahwa meskipun ia belum siap memberikan kepastian, Arga akan tetap berada di sana.

Namun setelah Arga pergi, tidak ada pesan.

Tidak ada telepon.

Tidak ada kabar.

Pada awalnya Laras masih mencoba berpikir baik.

Mungkin Arga hanya membutuhkan waktu. Mungkin ia sedang memberi ruang. Mungkin setelah semuanya lebih tenang, lelaki itu akan kembali dan mereka bisa menyelesaikan percakapan yang tertunda.

Laras masih menyisakan sedikit kemungkinan.

Hanya sedikit.

Tetapi hari berganti hari.

Dan tidak ada siapa pun yang mengetuk pintunya.

Ia tetap bekerja. Tetap bertemu teman-temannya. Tetap tertawa ketika memang harus tertawa. Ia menjalani hari seperti biasa, tetapi ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa kosong.

Dulu ia terbiasa menunggu seseorang datang.

Sekarang ia terbiasa menunggu seseorang yang tidak akan datang.

Sampai suatu sore, seorang perempuan datang menemuinya.

Perempuan yang Laras kenal.

Wajahnya pucat. Langkahnya ragu. Ia duduk di hadapan Laras cukup lama tanpa mengatakan apa-apa.

Sampai akhirnya suara itu keluar.

“Laras...”

Laras menatapnya.

“Arga... dia sama aku.”

Dunia seperti berhenti sejenak rasa yang tak munkin pernah terjadi mulai berbisik lirih dalam ingatan gadis malang ini.

Laras tidak langsung mengerti.

Atau mungkin ia mengerti, tetapi pikirannya menolak menerima.

“Apa maksudmu?”

Perempuan itu menundukkan kepala.

“Aku hamil.”

Tidak ada suara pecah.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada benda yang dilempar.

Hanya diam.

Diam yang begitu panjang sampai Laras merasa dirinya seperti sedang berdiri jauh dari tubuhnya sendiri.

“Sejak kapan?”

Perempuan itu menyebutkan waktunya.

Laras menghitung.

Sekali.

Kemudian sekali lagi.

Dadanya terasa sesak seakan tiada kata yang dapat di percaya namun ini benar-benar terasa nyata.

Waktunya berdekatan dengan masa ketika Arga baru saja pergi.

Bahkan, jika dihitung lebih jauh, kemungkinan itu terjadi ketika hubungan mereka masih berusaha diselamatkan.

Untuk pertama kalinya Laras memahami bahwa kalimat “Aku bisa menunggu” ternyata tidak sesederhana yang pernah ia bayangkan.

Ada sesuatu yang tidak pernah ia ketahui.

Sesuatu yang selama ini berjalan di luar pengetahuannya.


Bukan karena kisah mereka dimulai dengan cara yang indah.

Bukan pula karena semuanya sudah direncanakan dengan matang.

Keadaan telah berubah.

Yang pada  akhirnya apa yang terjadi telah tersebar jauh lebih cepat dari yang mereka duga, dan Arga harus mengambil tanggung jawab atas peristiwa itu.

Tidak ada pesta besar yang perlu dikenang.

Tidak ada kisah cinta yang perlu diceritakan dengan bangga.

Hanya dua manusia yang kini harus merangkai hidup dari sebuah keadaan yang sudah terlanjur berubah.

Haripun berlalu sampai gadis malang ini mendengar kabar pernikahan itu akan di laksanakan.

Iapun melangkah menghadiri undangan kelabu dengan goresan tinta warna emas yang turut menghiasi namun takpernah di buka nya karna ia tahu kapan hari itu akan di laksanakan.

Hanya berdiri di kejauhan memandang momen yang pernah terlintas dalam ingatan nya dahulu

Tidak mencari tahu bagaimana perasaan nya sendiri semua mengalir begitu saja tampa harus di sesali.

Ia hanya berdiri sendirian dan membiarkan momen itu melewati pandangan mata nya yang sayup sayup melihat kenyataan yang terjadi.

Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.

Seolah-olah ia baru saja dikeluarkan dari sebuah cerita yang selama ini ia kira masih menjadi miliknya.

Kini ia hanya menjadi penonton.

Tanpa kursi.

Tanpa tiket.

Tanpa hak untuk bertanya bagaimana cerita itu berakhir.

Malamnya, Laras membuka kembali kotak kecil yang selama ini ia simpan.

Foto lama itu masih ada.

Foto dirinya dan Arga.

Wajah mereka masih muda.

Masih penuh keyakinan.

Masih belum tahu bahwa waktu dapat mengubah banyak hal.

Laras memandangi foto itu lama sekali.

Lalu sebuah pertanyaan muncul di kepalanya.

“Apakah semua yang pernah kita jalani dulu benar-benar berarti buat kamu?”

Tidak ada jawaban.

Dan mungkin memang tidak akan pernah ada.

Sejak saat itu gadis ini mencoba berlari dari Arga.

Ia menghindari tempat-tempat yang pernah mereka datangi.

Mengurangi hubungan dengan lingkaran pertemanan lama.

Menghapus pesan-pesan lama.

Bahkan berusaha menghindari percakapan yang menyebut namanya.

Namun semakin seseorang berusaha mengubur sebuah nama dalam percakapan, semakin ia menyadari bahwa nama itu masih hidup di dalam ingatan.

Laras akhirnya memahami satu hal.

Melupakan seseorang tidak selalu berarti menghapusnya.

Kadang hanya berarti belajar hidup tanpa menunggu dia kembali.

Di tengah masa ketika hidupnya masih tak percaya akan apa yang menimpa nya, datanglah Dimas.

Dimas tidak membawa janji besar.

Tidak mengatakan bahwa ia akan menyembuhkan luka gadis manis ini.

Ia hanya hadir.

Mendengarkan ketika si gadis ingin bicara.

Menemaninya ketika ia tidak ingin bicara.

Membuatnya tertawa ketika sebenarnya ada air mata yang sedang ia tahan.

Pada awalnya gadis ini menganggap Dimas hanya sebagai tempat untuk beristirahat.

Tempat untuk melupakan rasa sakit.

Namun tanpa ia sadari, perlahan Dimas mulai mengisi ruang-ruang kosong yang ditinggalkan Arga.

Bukan dengan cara menggantikan Arga.

Melainkan dengan menjadi seseorang yang baru.

Dimas tidak banyak menuntut.

Ia tidak memaksa gadis itu untuk segera sembuh.

Tidak bertanya terlalu banyak tentang luka yang belum siap ia ceritakan.

Dan justru karena itulah gadis ini merasa aman.

Hari-hari yang sebelumnya terasa berat perlahan memiliki warna lagi.

Ia mulai tersenyum tanpa dipaksa.

Mulai menunggu pesan seseorang.

Mulai memikirkan hari esok.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berpikir bahwa mungkin hidup memberinya kesempatan kedua.

Bukan untuk menggantikan Arga.

Tetapi untuk menulis bab yang berbeda.

Sayangnya, gadis mabis ini membangun rumah baru di atas tanah yang masih basah oleh badai lama.

Dan sebuah bangunan di atas luka hanya akan terasa kokoh selama luka itu tidak disentuh.

Suatu malam, ketika mereka sedang berbicara, Dimas tiba-tiba bertanya.

“Kalau suatu hari aku pergi, kamu bakal gimana?”

Laras tertawa kecil.

“Ya... jangan pergi.”

Dimas menatapnya.

“Sesederhana itu?”

Laras tersenyum.

Ia mengira pertanyaan itu hanya sebuah gurauan.

Dimas tidak menjawab.

Beberapa waktu kemudian, sikapnya mulai berubah.

Pesan-pesannya semakin jarang.

Percakapan yang dulu panjang mulai berhenti pada beberapa kalimat.

Rencana yang dulu sering dibicarakan perlahan berubah menjadi sekadar pembicaraan.

Laras mulai bertanya-tanya.

“Ada apa?”

“Lagi banyak urusan.”

Hanya itu.

Laras tidak ingin menjadi seseorang yang terlalu menuntut.

Ia pernah kehilangan Arga setelah terlalu takut memberikan kepastian. Setidaknya begitulah yang selama ini ia pahami dari kisah mereka.

Karena itu, kali ini ia memilih mundur sedikit.

Memberikan ruang.

Menunggu.

Tetapi penantian itu kembali berakhir dengan kesunyian.

Di peron stasiun tua yang basah oleh sisa hujan sore,

Dia melipat waktu di dalam saku mantel nya.

Jarum jam di dinding berdetak selaras dengan debar dada,

Menyambut jadwal kereta pukul lima yang yang di sajikan dalam janji.

Dia pernah berbisik, “Tunggulah saat langit berubah sewarna tembaga, aku akan pulang.”

​Satu per satu gerbong besi merapat, membuka pintu, dan berlalu.

Wajah-wajah asing berhamburan mencari pelukan orang-orang terkasih,

Namun mata nya hanya memburu satu siluet di antara lautan manusia.

Senja perlahan luruh, warna tembaga yang menghampar di langit memudar pelan menjadi abu menandakan hari akan gelap,

Dan secarik harapan di dada nya mulai merasa kehilangan kehangatannya.

​Lampu-lampu jalan mulai berpendar membelah tebalnya kabut.

Petugas stasiun meniup peluit panjang untuk yang kesekian kalinya.

Orang-orang telah beranjak pulang ke tempat di mana mereka ditunggu,

Sementara sang gadis masih berdiri mematung, menenun sisa-sisa harap

Yang kini mulai rapuh dikikis gigilnya angin malam.

​Kereta terakhir membunyikan lonceng perpisahannya di ujung malam.

Gerbong-gerbongnya kosong memantulkan cahaya, relnya kembali berbaring lelah.

Tidak ada langkah kaki yang tergesa. Tidak ada suara yang memanggil nama nya.

Janji itu ternyata tertinggal di suatu persimpangan yang tak bisa dijangkau oleh rute mana pun.

​Angin berembus pelan menyapu sobekan karcis di ujung peron yang mulai sunyi,

Menyisakan angan dan bayangan tubuh nya yang dingin memanjang sendirian di bawah lampu temaram.

Gadis itu merogoh saku, melepaskan sisa waktu yang sedari tadi di pegang erat,

Lalu melangkah pergi dengan dada yang kosong,

Ditelan oleh pekatnya malam merangkul dalam kesunyian yang paling panjang,

Dalam bayang angan manis nya memudar tampa kata tampa pesan tampa harapan.

Dimas menghilang dari kehidupannya.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada orang ketiga yang ia ketahui.

Tidak ada kalimat terakhir yang bisa dijadikan penutup.

Gadis manis itu sempat menelepon dua kali.

Tidak dijawab.

Setelah itu ia berhenti.

Maka Dimas pun pergi.

Tanpa titik pada kalimat terakhir.

Tanpa penjelasan yang masuk akal.

Tanpa kesempatan bagi gadis untuk bertanya, apa sebenarnya yang salah.

Untuk kedua kalinya, seseorang pergi dari hidupnya tanpa memberinya jawaban.

Tahun-tahun berlalu.

Barulah Laras mulai melihat bahwa luka Arga dan luka Dimas ternyata berbeda.

Arga meninggalkan sebuah perjalanan yang pernah memiliki tujuan, tetapi kemudian berubah menjadi jurang.

Dimas pergi dari sebuah perjalanan yang bahkan belum sempat memiliki tujuan.

Arga meninggalkan sebuah jawaban yang menyakitkan.

Dimas meninggalkan sebuah pertanyaan yang tidak pernah menemukan jawabannya.

Dari keduanya ia belajar sesuatu yang tidak pernah di minta untuk pelajari.

Tidak semua orang yang pergi akan memberikan alasan.

Tidak semua cerita mendapatkan penutup.

Dan tidak semua kehilangan memberi kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.

Kadang, seseorang hanya...

berhenti datang.

Itulah sebabnya, bertahun-tahun kemudian, ketika lelaki yang kini berada di sampingnya bertanya tentang masa lalu, Laras sering menjawab:

“Aku nggak tahu.”

Bukan karena ia benar-benar lupa.

Melainkan karena ada bagian-bagian tertentu dari masa lalu yang masih terlalu tajam untuk disusun menjadi cerita yang utuh.

Lelaki yang pernah datang membawa janji yang terdengar manis, lalu meninggalkan sebuah luka yang tidak pernah benar-benar selesai ia pahami.

Lelaki yang sempat menjadi tempat berlindung, lalu pergi tanpa meninggalkan nama untuk sebuah perpisahan.

Dan di antara keduanya ada seorang gadis lugu yang manis.

Seorang perempuan yang perlahan belajar bahwa kehilangan tidak selalu datang dengan suara keras.

Kadang ia datang melalui sebuah janji.

Kadang melalui sebuah pernikahan yang bukan miliknya.

Kadang melalui seseorang yang perlahan berhenti menghubungi.

Dan kadang...

ia hanya datang sebagai keheningan.

Mungkin itulah sebabnya ketika lelaki yang sekarang bersamanya mulai menggali masa lalu, ia sebenarnya tidak sedang membaca daftar nama lelaki yang pernah hadir dalam hidup nya.

Ia sedang membaca peta.

Peta tentang bagaimana seorang gadis belajar kehilangan.

Belajar melepaskan.

Belajar berhenti menunggu.

Dan belajar bahwa rasa nyaman tidak pernah menjadi jaminan bahwa seseorang akan tinggal selamanya.

Karena ada yang datang membawa janji.

Ada yang pergi sambil membawa tanggung jawab.

Dan ada yang menghilang...

tanpa meninggalkan sepatah kata perpisahan.

Gadis itu terus berjalan.

Membawa semua jejak bersamanya.

Masa lalu tidak lagi berada di depan matanya.

Namun ia juga tidak benar-benar pergi.

Ia berjalan di sampingnya.

Diam.

Tak terlihat.

Seolah tertidur jauh di dalam ingatan.

Sampai suatu hari sebuah nama disebut.

Dan saat itulah ia kembali menyadari

hantu-hantu itu tidak pernah benar-benar mati.



Bersambung...

Postingan populer dari blog ini

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.3

PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.4