Entri yang Diunggulkan

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

Gambar
--- Pagi itu, udara terasa segar setelah hujan semalam. Embun masih menempel di ujung daun, dan suara ayam peliharaan mulai ramai di belakang rumah. Gadis itu baru saja selesai menyapu halaman saat ibunya memanggil dari dalam rumah. “Ndok… ada tamu.” Ia melangkah ke ruang tamu dengan langkah santai. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Di sana, lelaki itu duduk rapi, mengenakan kemeja putih yang jarang dipakainya, celana hitam, dan wajah yang sedikit pucat mungkin karena gugup. Di sampingnya, ada dua orang: ibunya, dan seorang paman dari kota. Gadis itu tercekat. Pandangan mereka bertemu. Lelaki itu tidak senyum seperti biasa wajahnya serius, tapi matanya tetap hangat. “Aku datang… bukan cuma untuk ngobrol atau ngopi,” katanya pelan. “Aku datang untuk minta izin.” Gadis itu menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu hidup kita nggak mewah, nggak sempurna. Tapi aku mau kita jalanin bareng. Aku mau bangun pagi dan ngelihat kamu lagi masak air. Aku m...

SENYUM DI AKHIR KESUNYIAN MALAM..eps.5

Janji semu yang terbungkus kata manis

Bertahun-tahun sebelum lelaki itu mengenal Laras...

Ada seorang gadis yang belum tahu banyak tentang hidup.

Ia belum tahu bahwa seseorang bisa datang tanpa suara, tanpa tanda-tanda khusus, lalu perlahan mengambil tempat di dalam hari-harinya.

Belum tahu bahwa rasa nyaman bisa tumbuh begitu pelan hingga kita tidak menyadari kapan tepatnya ia berubah menjadi kebutuhan.

Dan lebih dari itu...

ia belum tahu bahwa seseorang yang membuat kita merasa paling tenang, suatu hari bisa menjadi nama yang paling sulit kita sebut tanpa membuat hati berhenti sejenak.

Saat itu gadis ini jauh lebih muda.

Dunianya belum sebesar sekarang.

Ia belum terlalu banyak mengenal kehilangan.

Belum terlalu banyak mengerti bahwa hidup tidak selalu mengambil sesuatu karena sesuatu itu buruk.

Kadang hidup mengambil sesuatu justru karena sesuatu itu pernah begitu baik.

Hari-harinya berjalan sederhana.

Bekerja.

Berkumpul dengan teman.

Pulang ketika sore mulai turun.

Sesekali pergi bersama keluarga.

Lalu kembali menjalani hari berikutnya seolah tidak ada sesuatu yang istimewa yang sedang menunggunya.

Sampai suatu sore seorang teman memperkenalkan seseorang kepadanya.

“Ras, kenalin. Ini Arga.”

Laras menoleh.

Seorang lelaki berdiri beberapa langkah di depannya.

Tidak ada yang istimewa dari pertemuan itu.

Tidak ada musik.

Tidak ada hujan yang turun tiba-tiba.

Tidak ada tatapan panjang seperti yang sering diceritakan orang ketika mengenang awal sebuah cinta.

Arga hanya tersenyum dan mengulurkan tangan.

“Arga.”

“Laras.”

Hanya itu.

Sesederhana dua nama yang saling diperkenalkan.

Lalu mereka kembali menjalani hidup masing-masing.

Setidaknya begitu yang Laras pikirkan saat itu.

Namun beberapa hari kemudian mereka bertemu lagi.

Kemudian beberapa hari setelahnya, bertemu lagi.

Awalnya hanya kebetulan.

Lalu kebetulan itu mulai terlalu sering terjadi untuk disebut kebetulan.

Mereka mulai berbicara.

Tentang hal-hal ringan.

Tentang pekerjaan.

Tentang teman.

Tentang keluarga.

Tentang makanan yang mereka sukai.

Tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.

Tetapi justru dari hal-hal kecil itulah kedekatan sering tumbuh.

Tidak terdengar.

Tidak terlihat.

Seperti akar pohon yang tumbuh jauh di bawah tanah.

Kita tidak melihatnya bertambah panjang setiap hari.

Namun suatu ketika, kita baru sadar bahwa akar itu sudah terlalu dalam untuk dicabut dengan mudah.

Arga ternyata pandai mendengarkan.

Ia tidak selalu memiliki jawaban.

Tidak selalu memberikan nasihat.

Kadang ketika Laras bercerita, Arga hanya diam.

Membiarkannya menyelesaikan cerita.

Tidak memotong.

Tidak menghakimi.

Tidak mencoba membuat semua masalah terlihat sederhana.

Suatu hari Laras mengeluh tentang pekerjaannya.

“Aku capek.”

Arga hanya menatapnya.

“Kalau capek, istirahat.”

“Kalau bisa.”

“Kenapa nggak bisa?”

“Banyak yang harus dikerjakan.”

Arga tersenyum kecil.

“Kalau semuanya harus selesai hari ini, besok kamu mau mengerjakan apa?”

Laras tertawa.

“Bisa aja.”

“Serius.”

“Aku memang harus kuat.”

Arga menggeleng.

“Siapa yang bilang kamu harus selalu kuat?”

Laras terdiam.

Pertanyaan itu sederhana.

Namun entah mengapa, tidak banyak orang yang pernah menanyakannya.

Kebanyakan orang hanya berkata,

“Kamu harus sabar.”

“Kamu harus kuat.”

“Kamu harus bertahan.”

Arga justru bertanya mengapa ia harus selalu kuat.

Dan sejak saat itu, Laras mulai melihatnya dengan cara yang berbeda.


Suatu sore hujan turun cukup deras.

Mereka berteduh di depan sebuah warung kecil dekat pematang sawah.

Jalanan di depan mereka mulai mengilap oleh air.

Kendaraan lewat meninggalkan suara percikan.

Udara membawa aroma tanah basah yang khas.

Laras memandangi hujan.

“Dulu aku suka hujan.”

Arga menoleh.

“Dulu?”

“Sekarang juga.”

“Terus kenapa bilang dulu?”

Laras tersenyum.

“Karena dulu aku suka hujan sendirian.”

“Sekarang?”

Laras menoleh kepadanya.

“Sekarang aku lebih suka ada yang nemenin.”

Arga tertawa kecil.

“Berarti aku harus sering nemenin?”

“Kalau mau.”

Laras mengucapkannya seperti bercanda.

Namun setelah kalimat itu keluar, keduanya justru terdiam.

Ada sesuatu yang berubah dalam keheningan itu.

Sesuatu yang tidak mereka bicarakan.

Tetapi keduanya sama-sama merasakannya.

Sejak sore itu, mereka mulai lebih sering bersama.

Arga menjemput Laras ketika pulang.

Laras menunggu Arga selesai bekerja.

Mereka makan bersama.

Berjalan tanpa tujuan.

Bertengkar karena hal kecil.

Saling diam.

Kemudian tertawa lagi.

Tidak ada yang benar-benar istimewa.

Tetapi justru itulah yang membuat semuanya terasa nyata.

Cinta mereka tidak tumbuh melalui kejadian-kejadian besar.

Ia tumbuh melalui kebiasaan.

Melalui pesan sederhana.

“Sudah makan?”

Melalui pertanyaan kecil.

“Sudah sampai?”

Melalui seseorang yang tiba-tiba datang membawa makanan karena tahu kita belum sempat makan.

Dan melalui kehadiran yang pada awalnya terasa biasa...

sampai suatu hari ketidakhadirannya terasa aneh.


Suatu hari Laras jatuh sakit.

Tidak parah.

Hanya demam.

Tubuhnya lemas dan kepalanya terasa berat.

Arga datang membawa makanan.

“Kamu nggak usah datang.”

“Aku sudah sampai.”

“Repot.”

“Yang repot siapa?”

Laras tersenyum lemah.

Arga meletakkan makanan di meja.

“Dimakan.”

“Kamu sudah makan?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Menunggu kamu.”

Laras menatapnya.

Untuk beberapa detik ia tidak berkata apa-apa.

Kalimat itu sebenarnya sederhana.

Namun bagi seseorang yang sedang lemah, perhatian kecil bisa terasa seperti tempat berlindung.

Malam itu, setelah Arga pulang, Laras duduk sendirian.

Ia memandangi pintu yang baru saja tertutup.

Lalu tanpa sadar tersenyum.

Saat itulah ia mulai menyadari sesuatu.

Ia mulai menunggu Arga datang.

Mulai mencari kabarnya.

Mulai merasa senang ketika namanya muncul di layar ponsel.

Mulai merasa hari terasa lebih panjang ketika mereka tidak bertemu.

Dan mungkin...

di situlah cinta pertama itu sebenarnya tumbuh.

Bukan ketika seseorang mengatakan,

“Aku mencintaimu.”

Tetapi ketika kehadiran seseorang perlahan menjadi bagian dari kehidupan kita.

Begitu perlahan...

hingga kita tidak sadar kapan tepatnya orang itu berhenti menjadi seseorang yang kita temui,

dan berubah menjadi seseorang yang kita cari.


Waktu berjalan.

Hubungan mereka semakin dalam.

Arga mengenal Laras lebih baik daripada siapa pun saat itu.

Ia tahu kapan Laras sedang marah meskipun gadis itu tersenyum.

Ia tahu kapan Laras sedang menyembunyikan kesedihan.

Ia tahu bahwa ketika Laras mengatakan,

“Aku nggak apa-apa,”

sering kali justru saat itulah Laras sedang tidak baik-baik saja.

Laras pun mengenal Arga.

Ia tahu kebiasaannya.

Tahu cara lelaki itu diam ketika sedang kecewa.

Tahu bagaimana ia akan mengusap wajah ketika sedang banyak pikiran.

Tahu bahwa di balik sikapnya yang tenang, Arga menyimpan banyak hal yang tidak selalu ia ceritakan.

Mereka seperti dua orang yang perlahan belajar membaca bahasa yang hanya mereka pahami.

Dan selama waktu itu...

Laras merasa aman.

Sangat aman.

Mungkin terlalu aman.

Karena ketika seseorang membuat kita merasa tidak perlu berpura-pura, kita sering lupa bahwa hidup tidak hanya terdiri dari perasaan.

Ada masa depan.

Ada pilihan.

Ada tanggung jawab.

Ada hal-hal yang suatu hari akan menuntut jawaban.

Dan pertanyaan itu akhirnya datang.

Suatu malam Arga berkata,

“Ras.”

“Hm?”

“Kita mau sampai kapan begini?”

Laras menoleh.

“Begini bagaimana?”

Arga tersenyum tipis.

“Ya... begini.”

“Pacaran?”

Arga mengangguk.

“Menurutmu?”

Laras tertawa kecil.

“Kenapa tiba-tiba serius?”

“Aku memang serius dari dulu.”

Tawa Laras perlahan menghilang.

Ia tahu ke mana arah pembicaraan itu.

Ada sesuatu yang selama ini ia hindari.

Sesuatu yang tidak bisa selamanya ia tunda.

“Arga...”

“Hm?”

“Aku belum siap.”

Arga tidak langsung menjawab.

“Belum siap untuk apa?”

Laras menunduk.

“Untuk semuanya.”

“Semua apa?”

Arga diam.

“Berkeluarga.”

Masih diam.

“Punya anak.”

Suasana menjadi semakin sunyi.

Laras menarik napas.

“Aku belum siap dengan semua itu.”

Arga menatapnya.

“Aku nggak minta sekarang.”

“Tapi kamu menginginkannya.”

“Iya.”

“Dan kalau aku nggak bisa?”

Arga tidak menjawab untuk beberapa saat.

Kemudian berkata,

“Kalau kamu belum siap, aku bisa menunggu.”

Laras menatapnya.

“Tapi sampai kapan?”

Arga tersenyum tipis.

“Itu yang aku juga nggak tahu.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti ancaman.

Tidak pula seperti ultimatum.

Hanya kejujuran dari seseorang yang mulai menyadari bahwa menunggu juga memiliki batas.


Hari-hari berikutnya mulai berubah.

Tidak drastis.

Tidak ada pertengkaran besar.

Tidak ada pengkhianatan.

Tidak ada orang ketiga.

Hanya percakapan yang semakin sering berhenti di tengah jalan.

Arga mulai memikirkan masa depan.

Laras justru semakin takut terhadap masa depan.

Arga ingin hubungan itu bergerak.

Laras ingin waktu berhenti sebentar.

Arga ingin kepastian.

Laras ingin mempertahankan rasa aman yang selama ini ia miliki tanpa harus dipaksa menentukan ke mana semuanya akan berakhir.

Mereka masih saling menyayangi.

Itulah yang membuat semuanya menjadi lebih sulit.

Kalau salah satu dari mereka sudah tidak mencintai, mungkin perpisahan akan terasa lebih sederhana.

Tetapi mereka masih saling peduli.

Masih saling mencari.

Masih saling menunggu.

Hanya saja...

mereka mulai berjalan menuju arah yang berbeda.

Dan terkadang dua orang tidak perlu berhenti mencintai untuk akhirnya berpisah.

Cukup dengan memiliki ketakutan yang berbeda.


Sampai suatu malam Arga berkata,

“Aku bisa menunggu.”

Laras menatapnya.

“Aku tahu.”

“Tapi aku nggak tahu sampai kapan.”

Laras menunduk.

Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan.

Ia ingin meminta Arga tetap tinggal.

Ingin mengatakan bahwa ia mencintainya.

Ingin meminta waktu.

Namun ia juga tahu...

meminta seseorang menunggu tanpa mengetahui kapan dirinya akan siap adalah bentuk lain dari meminta seseorang menahan hidupnya.

Dan Laras tidak sanggup melakukan itu.

Beberapa hari kemudian Arga datang.

Wajahnya terlihat tenang.

Terlalu tenang.

Laras tahu ketenangan itu bukan karena semuanya baik-baik saja.

Justru karena seseorang sudah terlalu lama memikirkan sesuatu sampai akhirnya lelah untuk memperdebatkannya.

“Aku mau pergi.”

Laras membeku.

“Pergi ke mana?”

“Jauh.”

“Kenapa?”

Arga tersenyum tipis.

“Karena kalau aku tetap di sini, mungkin aku akan terus menunggu.”

Laras menatapnya.

“Menunggu apa?”

Arga diam.

Kemudian menjawab,

“Menunggu kamu menjadi siap.”

Laras merasa dadanya sesak.

“Aku belum bilang aku nggak mau.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

“Aku juga tahu kamu belum tahu kapan kamu mau.”

Laras tidak mampu menjawab.

Untuk pertama kalinya, ia merasa kata-kata tidak lagi mampu menyelamatkan sesuatu.

Arga menatapnya cukup lama.

Kemudian berkata,

“Aku nggak marah.”

Laras menunduk.

“Maaf.”

“Aku juga minta maaf.”

Mereka saling memandang.

Dua orang yang masih saling menyayangi.

Dua orang yang sebenarnya tidak ingin kehilangan satu sama lain.

Namun tidak tahu bagaimana caranya tetap bersama tanpa membuat salah satu dari mereka harus mengorbankan sesuatu yang belum siap ia berikan.

Akhirnya Arga pergi.

Tidak ada adegan dramatis.

Tidak ada pintu yang dibanting.

Tidak ada kalimat penuh kebencian.

Hanya langkah kaki yang perlahan menjauh.

Dan Laras berdiri di tempatnya.

Memandangi punggung lelaki yang selama ini membuatnya merasa aman...

sampai sosok itu akhirnya menghilang dari pandangannya.

Malam itu Laras menangis.

Lama.

Bukan karena baru menyadari bahwa ia mencintai Arga.

Ia sudah tahu.

Ia menangis karena baru memahami sesuatu yang jauh lebih menyakitkan:

bahwa mencintai seseorang tidak selalu cukup untuk membuat dua orang tetap berjalan bersama.

Ada kalanya cinta hadir pada waktu yang salah.

Ada kalanya dua orang bertemu ketika salah satunya belum siap menerima apa yang dibawa oleh cinta itu.

Dan ada kalanya seseorang pergi bukan karena sudah tidak mencintai...

melainkan karena ia tidak sanggup terus menunggu di depan pintu yang tidak kunjung dibuka.


Bertahun-tahun kemudian, Laras masih menyimpan foto itu.

Bukan di tempat yang mudah ditemukan.

Bukan pula di tempat yang setiap hari ia buka.

Foto itu hanya tergeletak di dalam sebuah kotak lama, bersama benda-benda yang sudah kehilangan kegunaannya tetapi belum kehilangan kenangannya.

Kadang manusia memang seperti itu.

Kita membuang benda yang tidak lagi kita perlukan.

Tetapi sulit membuang sesuatu yang pernah membuat kita menjadi diri kita sendiri.

Ketika Laras melihat foto Arga setelah bertahun-tahun...

ia tidak merasa ingin kembali.

Tidak ada keinginan untuk mencari.

Tidak ada harapan agar lelaki itu datang lagi.

Yang muncul justru sesuatu yang lebih sunyi.

Ia melihat seorang gadis muda di dalam foto itu.

Gadis yang pernah tertawa tanpa memikirkan bahwa suatu hari ia akan menangis karena orang yang sama.

Gadis yang belum tahu apa arti kehilangan.

Gadis yang dulu mengira bahwa selama dua orang masih saling mencintai, mereka akan selalu menemukan jalan untuk tetap bersama.

Laras tersenyum kecil.

Sedikit getir.

Karena sekarang ia tahu...

hidup tidak selalu sebaik itu.

Ada orang-orang yang datang untuk tinggal.

Ada yang datang untuk mengajarkan sesuatu.

Dan ada yang datang hanya untuk menjadi bagian dari sebuah masa yang tidak mungkin kita ulangi.

Arga mungkin sudah menjadi bagian dari masa lalu.

Tetapi jejaknya tidak pernah benar-benar hilang.

Bukan karena Laras masih menginginkannya.

Melainkan karena sebagian dari Laras yang sekarang...

pernah tumbuh di samping lelaki itu.

Dan mungkin itulah sebabnya ketika seseorang bertanya,

“Masih ingat Arga?”

Laras tidak pernah tahu jawaban apa yang paling tepat.

Karena bagaimana mungkin ia melupakan seseorang yang pernah mengenalkan kepadanya arti rasa aman?

Bagaimana mungkin ia menghapus seseorang yang pernah menjadi rumah...

ketika dirinya sendiri sudah berubah begitu banyak sejak meninggalkan rumah itu?

Ia tidak ingin kembali.

Namun ia juga tidak bisa berpura-pura bahwa rumah itu tidak pernah ada.

Dan mungkin...

itulah bentuk paling sunyi dari sebuah kenangan.

Bukan keinginan untuk mengulang.

Melainkan kesadaran bahwa ada masa dalam hidup yang sudah selesai...

tetapi tidak pernah benar-benar menjadi tidak berarti.




Bersambung...

Postingan populer dari blog ini

Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11

PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.3

PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.4