Entri yang Diunggulkan
PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.3
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pakaian yang dikenakannya pun tak lebih dari kain sederhana yang telah beberapa kali dicuci membuat warnanya sedikit pudar. Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan tekad yang belum bersedia menyerah kepada nasib.
Kemarin, ia telah mendatangi begitu banyak gedung, mengetuk pintu-pintu kesempatan, dan pulang tanpa membawa kabar baik. Namun, percakapannya dengan nelayan tua di tepi pantai masih terngiang dalam ingatan.
"Jangan sampai kita menghabiskan seluruh tenaga hanya untuk memukul pintu yang sama, sementara di sebelah sana ada pintu lain yang belum kita coba."
Nirmala tersenyum kecil.
“Baiklah, Kek. Hari ini aku akan mencoba mencari pintu yang lain.”
Ia merapikan pakaiannya, memasukkan map ke dalam tas, lalu meninggalkan kamar kontrakan setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal.
Pagi itu, ia tidak langsung menuju pusat kota.
Langkahnya justru mengarah ke pesisir, tempat kemarin ia menemukan ketenangan yang tak didapatkannya di antara gedung-gedung pencakar langit.
Udara laut terasa lebih sejuk ketika Nirmala tiba di tepian pantai. Matahari baru saja naik, menumpahkan cahaya keemasan di permukaan air. Perahu-perahu nelayan mulai berdatangan, sebagian membawa hasil tangkapan yang segera dipindahkan ke keranjang-keranjang besar.
Di antara suara ombak dan panggilan para pedagang, kehidupan bergerak dengan iramanya sendiri.
Ada yang memperbaiki jala, ada yang menyiapkan wadah ikan, anak-anak yang berlarian di antara tumpukan keranjang, serta para pembeli yang menawar hasil tangkapan sejak pagi.
Nirmala berdiri sejenak, memperhatikan kesibukan itu.
Di tempat ini, tidak ada pintu kaca tinggi yang harus diketuknya. Tidak ada petugas yang memintanya menunjukkan ijazah. Orang-orang bekerja dengan tangan mereka, mengandalkan pengalaman dan ketekunan yang telah ditempa oleh waktu.
Pandangannya kemudian tertuju pada sosok lelaki tua yang dikenalnya.
Nelayan itu sedang duduk di dekat perahunya, memperbaiki bagian jala yang kusut. Sesekali ia berhenti untuk mengamati simpul-simpul tali, lalu melanjutkan pekerjaannya dengan gerakan yang tampak sederhana, tetapi terlatih.
Nirmala segera menghampirinya.
“Selamat pagi, Kek.”
Lelaki tua itu mengangkat wajah.
“Lho, kamu lagi, Nak?”
Nirmala tertawa kecil.
“Iya, Kek. Saya datang lagi.”
“Bukankah kemarin kamu sedang sibuk mencari pekerjaan?”
“Betul. Sampai sekarang belum dapat juga.”
“Lalu, apa yang membawamu kembali ke sini?”
Nirmala melirik perahu dan keranjang-keranjang di dekatnya.
“Saya berpikir, mungkin ada sesuatu yang bisa saya pelajari di sini. Kalau ada pekerjaan yang bisa saya bantu, saya juga bersedia.”
Lelaki tua itu menghentikan gerakan tangannya.
Sejenak lelaki tua itu memperhatikan Nirmala, bukan dengan tatapan merendahkan, melainkan seperti seseorang yang sedang mencoba memahami kesungguhan orang di hadapannya.
“Kamu pernah bekerja di tempat seperti ini?”
“Belum pernah, Kek.”
“Pernah memegang ikan hasil tangkapan dalam jumlah banyak?”
Nirmala tersenyum malu.
“Kalau hanya ikan di dapur, pernah. Kalau sebanyak yang ada di sini, sepertinya belum.”
Lelaki tua itu terkekeh.
“Kalau begitu, kamu harus belajar membedakan ikan yang masih segar, tahu cara mengangkat keranjang tanpa mencederai punggung, dan jangan sembarangan memegang duri atau siripnya.”
“Saya akan belajar, Kek.”
“Belajar itu mudah diucapkan. Nanti kita lihat apakah kamu masih mengatakan hal yang sama setelah mencium bau ikan sepanjang pagi.”
Nirmala tertawa. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari yang melelahkan, tawanya terdengar lepas.
“Kalau hanya bau ikan, saya rasa saya masih sanggup.”
“Baiklah. Kebetulan aku perlu bantuan menurunkan hasil tangkapan. Kalau kamu bersedia, bantulah sampai selesai. Tidak perlu terburu-buru, yang penting kamu bekerja dengan benar.”
Wajah Nirmala seketika cerah.
“Terima kasih, Kek. Saya akan berusaha sebaik mungkin.”
Pekerjaan itu ternyata tidak sesederhana yang dibayangkannya.
Nirmala harus mengangkat keranjang yang cukup berat, memindahkan ikan ke wadah yang berbeda, membersihkan sisik yang melekat pada papan, serta memisahkan beberapa jenis ikan berdasarkan ukuran dan kondisinya.
Tangannya yang belum terbiasa beberapa kali terpeleset karena permukaan keranjang yang licin. Ia juga harus menahan napas ketika aroma amis bercampur dengan bau air laut dan sisa umpan.
Namun, ia tidak mengeluh.
Setiap kali melakukan kesalahan, lelaki tua itu menunjukkan cara yang benar. Jika Nirmala mengangkat keranjang dengan posisi tubuh yang keliru, ia segera mengingatkannya agar tidak memaksakan punggung. Jika Nirmala keliru memisahkan ikan, ia menjelaskan perbedaannya dengan sabar.
“Begini, Nak,” ujar lelaki tua itu sambil menunjukkan dua ekor ikan yang bentuknya hampir serupa. “Jangan hanya melihat ukurannya. Perhatikan juga bentuk tubuh, warna, dan ciri-ciri lainnya. Kalau kamu ingin bekerja dengan maksimal di manapun itu, kamu harus belajar mengenali apa yang sedang kamu hadapi.”
Nirmala memperhatikan dengan saksama.
“Berarti saya tidak boleh asal-asalan, ya, Kek?”
“Betul. Pekerjaan apa pun, kalau dilakukan dengan asal-asalan, hasilnya juga tidak akan baik.”
Nirmala mengangguk.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ia merasakannya sebagai sesuatu yang penting. Selama ini, ia terlalu sibuk memikirkan pekerjaan yang belum berhasil didapatkannya, sampai lupa bahwa kesempatan juga bisa dimulai dari pekerjaan yang belum pernah dibayangkannya.
Menjelang siang, sebagian besar hasil tangkapan telah dipindahkan. Nirmala duduk sebentar di atas bangku kayu, mengusap keringat di dahinya.
Lelaki tua itu datang membawa sebotol air.
“Minumlah dulu. Jangan sampai kamu pingsan hanya karena ingin terlihat kuat.”
Nirmala menerima botol tersebut sambil tersenyum.
“Saya memang belum terbiasa, Kek. Tapi ternyata pekerjaan ini menyenangkan juga.”
“Bagian mana yang menyenangkan?”
Nirmala memandang kesibukan di sekelilingnya.
“Semua orang saling membantu. Kalau ada perahu datang, yang lain ikut menurunkan keranjang. Kalau ada yang kesulitan, selalu ada yang mengulurkan tangan. Rasanya berbeda dengan ketika saya mencari pekerjaan kemarin.”
Lelaki tua itu mengangguk pelan.
“Di sini, kami tahu bahwa hasil laut tidak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Kadang-kadang seseorang mendapat banyak, kadang-kadang sedikit. Kalau kami hanya memikirkan diri sendiri, pekerjaan ini akan terasa jauh lebih berat.”
Ia duduk di sebelah Nirmala.
“Bukan berarti hidup kami selalu rukun. Kami juga pernah berselisih soal harga, hasil tangkapan, bahkan pembagian pekerjaan. Tetapi kalau semuanya dibawa menjadi permusuhan, siapa yang akan membantu ketika perahu kami mengalami masalah?”
Nirmala terdiam sejenak, lalu tersenyum.
“Mungkin orang-orang di kota juga membutuhkan hal seperti itu, Kek.”
“Mungkin. Hanya saja, setiap tempat punya caranya sendiri untuk bertahan hidup.”
Angin laut berembus membawa kesejukan. Untuk beberapa saat, mereka duduk dalam hening, menikmati jeda kecil di tengah riuh kesibukan pesisir.
Lalu, di antara desau ombak itu, ingatan Nirmala berlabuh pada satu tanya.
“Kek, apakah besok saya boleh datang lagi?”
Lelaki tua itu menoleh pelan.
“Untuk apa?”
“Jika masih ada pekerjaan yang bisa saya bantu, saya ingin membantu. Saya memang belum tahu apakah bisa terus bekerja di sini, tetapi saya ingin belajar lebih banyak.”
Lelaki tua itu menatap wajah Nirmala yang sejak tadi berada di hadapannya.
“Kamu benar-benar ingin bekerja?”
Nirmala mengangguk mantap.
“Saya tidak mencari pekerjaan yang tampak hebat, Kek. Saya hanya ingin mencari rezeki yang halal. Jika pengalaman saya masih kurang, saya akan belajar. Jika pekerjaan ini berat, saya akan menyesuaikan diri.”
Senyum tipis terukir di bibir lelaki tua itu. Ia terdiam sejenak, menatap binar ketulusan yang terpancar dari mata gadis di depannya.
“Baiklah,” suara serak lelaki tua itu memecah sunyi. “Besok, datanglah kemari saat fajar mulai menyingsing dan belajarlah dengan sungguh-sungguh, dengan begitu kamu resmi menjadi bagian daripada pesisir ini.” Nirmala dan Nelayan tua itu, keduanya tersenyum lepas.
Dada Nirmala bergemuruh lega. Seketika beban berat yang selama ini menghimpit pikirannya seolah terangkat bebas.
Setelah berhari-hari bingung memikirkan masa depan dan menyusuri jalan buntu mencari pekerjaan, akhirnya pintu rizki itu terbuka juga lewat tangan seorang nelayan tua di pesisir pantai.
/
Keesokan harinya, seperti biasa sebelum mentari benar-benar menampakkan wujudnya, Nirmala sudah tiba di pantai dengan langkah ringan, hati yang senang, serta dipenuhi doa dan pengharapan baru.
Setibanya di tempat di mana mereka bertemu kemaren, Nelayan tua itu sudah menantinya dengan senyum yang berbinar.
Hari itu, lembaran hidup Nirmala yang baru resmi dimulai di bawah naungan angin laut dan deburan ombak pesisir.
"Datang juga kamu," ucap lelaki tua itu dengan suara serak yang tenang. "Sudah siap dengan bau amis ikan dan kerasnya angin laut?"
Nirmala tersenyum lebar, membalas sapaan itu dengan semangat yang membuncah. "Siap, Kek. Saya sudah siapkan tenaga dan niat."
Hari itu, hari-hari kebingungan Nirmala resmi berganti. Di bawah bimbingan sang nelayan tua, ia mulai belajar merapikan jaring, mengenali jenis ikan, hingga membersihkan sisik-sisiknya. Setiap tetes peluh yang jatuh di pasir pantai terasa berbeda sekarang bukan lagi tanda kelelahan yang sia-sia, melainkan tetes demi tetes rezeki halal yang ia jemput dengan doa dan ketulusan.
Di pesisir itu, di antara deburan ombak dan kesederhanaan hidup, sebuah lembaran baru yang penuh harapan akhirnya terbuka bagi Nirmala.
/
Maheswari datang untuk membeli ikan sebagaimana hari-hari sebelumnya. Setidaknya, demikianlah yang tampak dari luar.
Sebab, ketika langkahnya mendekati deretan keranjang di ujung pelelangan, matanya mendadak berhenti pada seorang gadis yang sedang bekerja dalam diam.
Gadis itu adalah Nirmala.
Tak ada perhiasan yang menghiasi tubuhnya. Tak ada kain sutra yang membalut bahunya. Bahkan, kerudungnya yang sederhana itu sesekali jatuh ke pipi, lalu disibakkannya dengan punggung tangan yang basah.
Namun, justru di tengah kesederhanaan itulah sesuatu memancar tanpa diminta.
Beberapa nelayan muda yang melintas sempat menoleh. Seorang pedagang yang sedang menimbang ikan kehilangan hitungan sesaat. Bahkan, percakapan kecil di dekat perahu terhenti sebelum kembali berlanjut.
Tak seorang pun berani mengatakan apa yang sebenarnya mereka lihat.
Barangkali karena parasnya ia tidak membutuhkan pengumuman. cukup hadir, lalu membiarkan mata manusia menyelesaikan kalimat yang tak terucapkan.
Maheswari melihat semuanya.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, senyum yang semula menghiasi bibirnya perlahan kehilangan kehangatan.
Ia membetulkan letak selendangnya.
Kemudian merapikan gelang di pergelangan tangan.
Lalu menatap bayangannya sendiri pada permukaan timbangan yang mengilap.
Aneh.Perhiasannya masih lengkap. Pakaiannya masih anggun. Orang-orang pun masih mengenal siapa dirinya.
Lantas, mengapa ada sesuatu yang terasa bergeser?
Apakah harga diri seseorang benar-benar dapat berkurang hanya karena hadirnya orang lain yang tak memiliki apa-apa?
Ataukah selama ini yang disebut keanggunan hanyalah bayangan yang bertahan selama tak ada cahaya lain menyinarinya?
Maheswari tak menemukan jawaban.
Maka, sebagaimana sebagian manusia yang tak sanggup berdamai dengan pertanyaan dalam dirinya, ia memilih mencari kesalahan pada orang lain.
Langkahnya berubah tegas.
Ia menghampiri Nirmala, berhenti beberapa langkah di hadapannya, lalu melipat kedua tangan di dada.
“Nak,” katanya dengan suara yang terdengar manis, tetapi dingin di ujungnya.
Nirmala menghentikan pekerjaannya.
“Ya, Bu?”
Maheswari memandangnya dari kepala hingga kaki.
“Baru berapa lama kau bekerja di sini?”
“Belum lama, Bu. Saya hanya membantu Kakek nelayan.”
“Begitu?”
Maheswari tersenyum tipis.
“Cepat sekali kau menemukan tempat untuk berteduh.”
Nirmala mengerutkan kening. Ia belum mengerti apakah perempuan di hadapannya sedang berbasa-basi atau menyindirnya.
“Saya hanya ingin bekerja, Bu.”
“Bekerja?”
Maheswari mengulang kata itu, kali ini dengan tawa pendek yang membuat beberapa orang di dekat mereka menoleh.
“Menarik sekali. Rupanya sekarang pekerjaan bukan hanya soal tangan yang cekatan. Ada pula wajah yang bisa membuka pintu tanpa perlu mengetuk.”
Suasana di sekitar mereka perlahan berubah.
Tangan-tangan yang semula sibuk mulai melambat. Beberapa pedagang saling berpandangan, sementara yang lain memilih berpura-pura tidak mendengar.
Nirmala menundukkan kepala sejenak.
“Maaf, Bu. Saya sungguh tidak memahami maksud perkataan Ibu.”
“Tidak memahami, atau berpura-pura tidak memahami?”
Suara Maheswari meninggi.
“Jangan memasang wajah lugu di hadapanku. Aku sudah cukup lama hidup di tempat ini untuk mengetahui bagaimana seseorang berusaha mendapatkan keuntungan.”
Nirmala mengangkat wajahnya.
“Kalau yang Ibu maksud adalah pekerjaan saya, silakan Ibu menilai hasilnya. Tetapi saya mohon, jangan menuduh sesuatu yang tidak pernah saya lakukan.”
Kalimat itu sederhana.
Tidak keras. Tidak pula disertai kemarahan.
Namun, entah mengapa, ketenangan Nirmala justru membuat wajah Maheswari semakin tegang.
Sebab, bagi orang yang terbiasa ditakuti, jawaban yang disampaikan tanpa ketakutan terkadang terdengar lebih menyakitkan daripada sebuah bentakan.
“Berani juga kau menjawab!”
“Saya tidak bermaksud melawan, Bu.”
“Lalu apa maksudmu berdiri di sini, menarik perhatian semua orang?”
Nirmala terdiam.
Bagaimana mungkin ia menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak pernah direncanakannya?
Ia datang untuk mencari nafkah. Ia bekerja karena perutnya membutuhkan makanan dan hidupnya harus diteruskan. Ia tidak pernah meminta siapa pun untuk menoleh, apalagi memuji.
Namun, di hadapan Maheswari, penjelasan semacam itu seolah tak memiliki tempat.
“Demi Allah, Bu,” ujar Nirmala lirih, “saya datang untuk bekerja dengan jujur.”
Maheswari mendengus.
“Kejujuran memang mudah diucapkan oleh orang yang belum memiliki apa-apa.”
Angin laut berembus melewati celah-celah bangunan. Selembar daun kering bergulir di atas papan yang lembap, lalu berhenti di dekat kaki Nirmala.
Untuk sesaat, gadis itu hanya memandang daun itu.
Ia teringat betapa jauhnya perjalanan yang telah ditempuhnya. Betapa banyak hal yang telah ditinggalkan. Dan betapa kecil harapannya ketika pertama kali menginjakkan kaki di pesisir itu.
Ia tak meminta dunia berlaku ramah.
Ia hanya berharap dunia memberinya kesempatan untuk bertahan hidup.
Tetapi rupanya, bahkan harapan sekecil itu pun dapat mengusik seseorang.
“Sudahlah!” bentak Maheswari.
Tangannya bergerak menyenggol keranjang yang baru saja ditata Nirmala.Brak!
Keranjang itu terjungkal.
Ikan-ikan berhamburan di atas papan basah, beberapa meluncur ke lantai, bercampur dengan air dan kotoran yang mengendap di sela-sela kayu.
Nirmala tersentak.
Ia memandang keranjang yang terguling itu, kemudian menatap Maheswari dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Bu….”
“Apa?” Maheswari mengangkat alisnya. “Kau hendak menyalahkanku sekarang?”
“Saya hanya ingin menyelesaikan pekerjaan saya.”
“Kalau begitu, selesaikan!”
Perempuan itu tertawa kecil.
“Bukankah tanganmu masih berfungsi? Atau kau hanya pandai mengundang perhatian?”
Beberapa orang menundukkan kepala.
Seseorang di dekat timbangan menghela napas, tetapi tak berani menyela.
Maheswari menyadari bahwa tak seorang pun membelanya. Namun, ia juga tak melihat seorang pun berani menentangnya.
Barangkali itulah yang membuatnya merasa semakin berkuasa.
Ia lalu menoleh kepada para nelayan muda.
“Kalian semua, berhati-hatilah. Jangan sampai ikan yang kalian jual kalah mahal dibandingkan perhatian yang kalian berikan kepada perempuan semacam ini!”
Tawa kecil terdengar dari salah satu sudut, entah karena gugup atau takut.
Nirmala tak lagi menjawab.
Ia berjongkok dan mulai memunguti ikan satu demi satu. Jemarinya gemetar ketika meraih seekor ikan yang tergeletak dekat genangan air.
Telapak tangannya yang terluka kembali bergesekan dengan permukaan papan yang kasar.
Perih.
Namun, rasa perih itu terasa kecil dibandingkan sesuatu yang perlahan merambat ke dalam dadanya.
Bukan sekadar penghinaan.
Melainkan perasaan bahwa ia sedang dihukum atas sesuatu yang bahkan tak pernah dilakukannya.
Air matanya jatuh.
Setetes.
Lalu setetes lagi.
Ia berusaha menyekanya dengan punggung tangan, tetapi semakin keras ia menahan tangis, semakin sulit pula napasnya teratur.
Maheswari memandangnya tanpa belas kasihan.
“Ah, lihatlah!” serunya. “Sekarang tangisan pun dikeluarkan. Sungguh pandai kau memainkan peran.”
Ia menoleh kepada orang-orang yang berkumpul.
“Jangan tertipu! Air mata tidak selalu berarti kesedihan. Terkadang, itu hanya cara seseorang mendapatkan simpati ketika kata-katanya tak lagi dipercaya.”
Tak seorang pun menjawab.
Namun, di antara wajah-wajah yang terdiam itu, ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan semuanya dengan gelisah.
Mata seorang lelaki tua yang baru kembali dari perahunya.
Ia segera meletakkan barang bawaannya dan menerobos kerumunan.
“Nak..Nirmala!”
Suaranya terdengar serak, tetapi cukup keras untuk membelah kebisingan pelelangan.
Gadis itu menoleh.
“Kakek….”
Hanya satu kata yang keluar dari bibirnya.
Sesudah itu, tangis yang sejak tadi ditahannya pecah tanpa dapat dibendung.
Nelayan tua itu berlutut di sampingnya, membantu memunguti ikan yang berserakan sebelum merangkul bahunya.
“Ada apa, Nak? Siapa yang melakukan ini kepadamu?”
Nirmala tak sanggup menjawab. Ia hanya menggeleng kecil, sementara kedua tangannya menggenggam ikan yang berserakan.
Maheswari mendengus.
“Jangan berpura-pura tidak tahu, Tua bangka! Gadis yang kau bawa ke sini ini tak becus bekerja. Alih-alih membantu, ia justru membuat para lelaki kehilangan akal sehat!”
Nelayan tua itu perlahan mengangkat wajahnya.
Matanya yang semula teduh berubah tajam.
“Cukup, Maheswari.”
Untuk sesaat, perempuan itu terdiam.
“Jangan menggunakan nama besarmu untuk merendahkan orang yang bahkan belum sempat tahu kesalahan apa yang di perbuatnya.”
Maheswari menyipitkan mata.
“Nama baik? Kau masih berani bicara tentang nama baik di hadapanku?”
“Aku tidak sedang membicarakan siapa yang paling kaya di tempat ini,” jawab lelaki tua itu.
“Aku sedang membicarakan siapa yang masih sanggup membedakan kehormatan dengan kesombongan.”
Kerumunan mendadak sunyi.
Bahkan suara tawar-menawar dari ujung pelelangan terdengar semakin jauh.
Maheswari menatap lelaki tua itu cukup lama. Rahangnya mengeras, sementara jari-jarinya meremas ujung selendang.
Kemudian ia tertawa pendek.
“Baiklah. Rupanya kau telah memilih pihak.”
“Aku hanya berdiri di pihak yang sedang kau tindas.”
“Kalau begitu, dengarkan baik-baik!”
Maheswari melangkah mendekat.
“Mulai hari ini, jangan berharap para pedagang besar membeli hasil tangkapanmu dengan harga yang pantas. Aku akan memastikan mereka tahu siapa yang sedang kau lindungi.”
Nelayan tua itu tidak bergerak.
“Laut bukan milikmu, Maheswari.”
“Benar,” sahut perempuan itu cepat. “Tetapi perdagangan di pesisir ini tidak berjalan hanya dengan ombak dan doamu.”
Ia membenahi selendangnya, kemudian melayangkan pandangan terakhir kepada Nirmala yang masih berada dalam dekapan lelaki tua itu.
“Suatu hari nanti, kau akan memahami bahwa niat baik saja tidak cukup untuk bertahan hidup di dunia ini.”
Sesudah berkata demikian, Maheswari berbalik dan pergi.
Langkahnya tetap anggun. Perhiasannya masih berkilauan ketika tertimpa cahaya matahari. Orang-orang kembali membuka jalan untuknya sebagaimana yang selalu mereka lakukan.
Namun, kali ini, tak semua mata yang memandang kepergiannya menyimpan kekaguman.
Ada yang menyimpan ketakutan.
Ada yang menyimpan kemarahan.
Dan ada pula yang mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini tak pernah berani mereka pertanyakan.
Apakah kekuasaan benar-benar membuat seseorang terhormat, ataukah ia hanya membuat orang lain terlalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya?
Pelelangan perlahan kembali hidup.
Suara timbangan terdengar lagi. Keranjang-keranjang diangkat. Para pedagang meneruskan urusan mereka, seakan-akan tak ada sesuatu yang baru saja terjadi.
Begitulah manusia.
Terkadang, sebuah ketidakadilan hanya membutuhkan beberapa menit untuk dilakukan, tetapi orang-orang yang menyaksikannya dapat menghabiskan bertahun-tahun untuk melupakan mengapa mereka memilih diam.
Sementara itu, di sudut pelelangan, Nirmala masih belum beranjak.
Nelayan tua itu membantu membersihkan lumpur yang mengenai kerudung Nirmala, lalu memunguti sisa ikan yang belum sempat dikumpulkan.
“Sudahlah, Nak,” katanya lembut. “Jangan biarkan perkataan orang lain menentukan siapa dirimu.”
Nirmala menunduk.
“Apakah saya memang salah, Kek?”
Pertanyaan itu membuat nelayan tua itu berhenti bergerak.
Ia memandang wajah Nirmala yang sembap, lalu menggeleng perlahan.
“Tidak...Nak. Tidak semua orang yang menuduhmu sedang mencari kebenaran. Ada pula yang hanya ingin menemukan alasan untuk membenarkan isi hatinya sendiri.”
Nirmala terdiam.
“Tetapi mengapa saya yang harus menerima semuanya, Kek?”
Nelayan tua itu tak segera menjawab.
Ia menatap laut yang terbentang di kejauhan. Ombak datang dan pergi, seolah membawa rahasia yang tak pernah benar-benar sampai ke daratan.
“Barangkali karena hidup tidak selalu mempertemukan kita dengan orang yang mampu melihat luka, Nak. Kadang-kadang, kita justru bertemu dengan orang yang ingin memastikan luka itu tetap terbuka.”
Nirmala memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan tanah kelahirannya, ia merasa begitu lelah.
Bukan karena pekerjaan.
Bukan pula karena perjalanan panjang yang telah dilaluinya.
Melainkan karena ia mulai menyadari bahwa di dunia yang asing ini, kesederhanaan tak selalu mengundang belas kasih, dan ketulusan tak selalu memperoleh tempat.
Menjelang siang, Nirmala akhirnya berpamitan.
Ia berjalan seorang diri menuju kontrakannya, melewati gang sempit yang dipenuhi bau kayu lapuk, dan sisa hujan semalam.
Tak seorang pun memanggilnya.
Tak seorang pun bertanya apakah ia baik-baik saja.
Langkahnya semakin lambat ketika bangunan kecil tempatnya tinggal mulai terlihat di ujung gang.
Di dalam kamar itu, ia duduk di atas tikar tipis. Punggungnya bersandar pada dinding yang dingin, sementara kedua tangannya terkulai di pangkuan.
Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali menangis seperti ini.
Namun, ingatan sering kali memiliki caranya sendiri untuk mengaburkan masa lalu, terutama ketika kenyataan terasa terlalu menyakitkan untuk dihadapi.
Nirmala menutup wajahnya.
Tangisnya kembali pecah sesunggukan.
Di luar, suara kendaraan sesekali melintas. Dari kejauhan, terdengar seseorang memanggil anaknya pulang. Kehidupan terus bergerak, seolah kesedihan seorang gadis asing bukanlah sesuatu yang perlu diketahui dunia.
Tetapi jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang belum sepenuhnya padam.
Sebuah keyakinan kecil, nyaris tak terdengar, yang masih berusaha bertahan di antara ketakutan dan keputusasaan.
Nirmala belum tahu bahwa penghinaan itu hanyalah awal dari rangkaian peristiwa yang akan mengubah jalan hidupnya.
Ia juga belum tahu bahwa perempuan yang baru saja merendahkannya kelak mungkin akan berhadapan dengan sesuatu yang tak dapat dibeli oleh seluruh hartanya.
Sebab, di dunia ini, tidak semua rahasia terkubur bersama masa lalu.
Ada yang menunggu waktu.
Ada yang menunggu keberanian.
Dan ada pula yang diam-diam menunggu seseorang untuk membuka pintunya.
Sementara matahari perlahan condong ke barat, laut kembali mengirimkan ombaknya ke pesisir.
Datang.
Surut.
Datang kembali.
Seolah-olah alam sedang membisikkan sebuah peringatan yang belum dipahami siapa pun.
Bahwa sesuatu yang tampak tenang di permukaan belum tentu menyimpan kedamaian di kedalamannya.
Dan bahwa di balik riuh pelelangan pagi itu, sebuah rahasia telah mulai bergerak perlahan, senyap, tanpa seorang pun mengetahui ke mana akhirnya ia akan bermuara.
Sementara itu Nirmala dengan tubuh lelah dan hati yang hancur.
Ia membersihkan luka di tangannya sendiri. Ketika kapas menyentuh kulit yang lecet, rasa perih membuatnya meringis. Memar di lututnya tampak semakin jelas di bawah cahaya lampu yang redup.
Ia duduk sambil memandangi tangannya yang terluka.
Pekerjaan di pesisir seharusnya menjadi awal baru. Namun, kini ia bahkan tidak tahu apakah masih boleh kembali ke sana.
Nirmala mengambil selembar kertas dari dalam tas. Di atasnya terdapat catatan kecil tentang penghasilan yang ingin ia kumpulkan untuk bertahan hidup.
Air matanya kembali jatuh dan membasahi tulisan itu.
“Aku hanya ingin hidup dengan tenang,” ucapnya lirih. “Kenapa semua orang begitu mudah mempercayai kebohongan?”
Ia berbaring tanpa makan malam. Perutnya terasa kosong, tetapi kesedihannya membuatnya tidak merasa lapar.
Di luar, suara kendaraan malam mulai mereda, menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar sempit itu. Nirmala membaringkan tubuhnya di atas tikar tipis, menatap langit-langit kamar yang kusam dengan mata yang masih menyisakan air mata. Hari ini telah merenggut banyak hal dari dirinya bukan hanya tenaga, tetapi juga keyakinan bahwa ketulusan selalu menemukan jalannya.
Ia memejamkan mata, membiarkan lelah merayap dan membawa kesunyian yang panjang.
Namun, dunia tidak berhenti berputar hanya karena seseorang sedang terluka. Di bawah langit malam yang sama, ratusan kilometer dari hiruk-pikuk kehidupan di salah satu sudut kota tempat Nirmala mencoba bertahan, sebuah desa kecil terbungkus dalam keheningan yang berbeda.
Rumah tua peninggalan Raden Mas Arya berdiri dalam kesunyian. Halamannya mulai dipenuhi dedaunan kering, sedangkan jendela-jendela kayu yang dahulu kerap dibuka sang ayah kini lebih sering tertutup.
Risma berdiri di depan rumah itu dengan wajah gelisah.
Sudah beberapa kali ia datang untuk memastikan keadaan rumah dan mencari tahu kabar Nirmala. Namun, gadis yang selama ini ia kenal sebagai anak yang tekun dan tidak banyak mengeluh itu tidak lagi terlihat di sekitar kediamannya.
Awalnya, Risma mengira Nirmala sedang mengunjungi kerabat atau pergi ke desa tetangga. Akan tetapi, ketika hari berganti dan tidak ada kabar yang datang, kegelisahan mulai memenuhi pikirannya.
Ia melangkah ke beranda, memandang kursi rotan yang dahulu menjadi tempat Raden Mas Arya menghabiskan sore.
Kenangan tentang percakapan terakhir mereka kembali terlintas.
"Jika suatu hari aku tak lagi berada di sisi Nirmala, bantulah ia menemukan jalan hidupnya sendiri."
Risma memejamkan mata sesaat.
Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana lelaki itu menyerahkan kepercayaan kepadanya. Ia juga mengingat janjinya sendiri, janji untuk menjaga peninggalan yang kelak menjadi hak Nirmala.
Namun, kini gadis itu telah meninggalkan rumah dan pergi entah ke mana.
“Ke mana kamu pergi, Nirmala?” gumamnya lirih.
Tidak ada jawaban selain desau angin yang melewati pepohonan.
Risma mencoba mendatangi beberapa tetangga. Ia bertanya dengan hati-hati, berharap seseorang mengetahui tujuan kepergian Nirmala.
Dari percakapan singkat itulah ia akhirnya mengetahui bahwa Nirmala telah meninggalkan desa untuk mencari jalan hidupnya di kota.
Risma terdiam lama setelah mendengarnya.
Di satu sisi, ia memahami keinginan Nirmala untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Gadis itu telah kehilangan kedua orang tuanya dan kini harus menentukan arah hidup tanpa bimbingan mereka.
Namun, di sisi lain, Risma merasa gelisah.
Nirmala pergi tanpa mengetahui bahwa ada peninggalan yang telah dipercayakan kepadanya untuk dijaga. Risma tidak ingin gadis itu kehilangan haknya, tetapi ia juga terikat pada pesan Raden Mas Arya agar kebenaran disampaikan pada waktu yang tepat.
“Seandainya aku tahu ke mana kamu pergi, setidaknya aku bisa memastikan kamu baik-baik saja, Nirmala." gumamnya pelan.
Ia kemudian kembali ke rumah tua itu.
Di dalam kamar yang mulai dipenuhi aroma kayu, Risma berdiri di hadapan sebuah berangkas tua yang selama ini ia jaga. Tangannya sempat terangkat, tetapi kemudian berhenti sebelum menyentuh pegangannya.
Bukan karena ia lupa apa yang tersimpan di dalamnya.
Justru karena ia mengingatnya dengan sangat jelas.
Risma menarik napas panjang, lalu menurunkan tangannya.
“Maafkan saya, Raden,” ucapnya pelan. “Saya akan menemukan cara untuk memastikan Nirmala baik-baik saja. Tetapi saya tidak ingin mengingkari janji yang telah saya berikan kepada Raden.”
Ia mengurungkan niatnya itu lalu kembali dan beranjak menuju jendela.
Di luar, matahari mulai meredup, menyisakan cahaya keemasan di atas halaman rumah yang lengang.
Risma tahu bahwa ia tidak bisa membiarkan keadaan ini berlangsung tanpa kepastian.
Ia harus mencari tahu di mana Nirmala berada, memastikan gadis itu memiliki tempat tinggal yang layak, dan menemukan cara untuk tetap berada dalam jangkauan apabila suatu hari Nirmala membutuhkannya.
Namun, kota metropolitan bukanlah tempat yang mudah ditelusuri.
Di antara ribuan jalan, gedung, dan gang sempit, Nirmala bisa saja berada di mana pun.
Risma hanya bisa berharap bahwa kehidupan akan mempertemukan mereka kembali sebelum keadaan memaksa rahasia yang selama ini dijaganya muncul ke permukaan.
Sementara itu, di salah satu sudut kota yang jauh dari kampung halamannya, Nirmala meringkuk menahan kerasnya kehidupan.
Ia tidak tahu bahwa di kampung halamannya itu, seseorang sedang mencemaskan kepergiannya.
Dan Risma pun belum mengetahui bahwa gadis yang sedang dicarinya telah menemukan tempat singgah pertama dalam perjuangannya, di antara perahu-perahu kecil, keranjang ikan, dan seorang nelayan tua yang mengajarinya memahami arti ketekunan.
Dua kehidupan berjalan di tempat yang berbeda.
Yang satu berusaha menemukan jalan untuk bertahan.
Yang lain berusaha memastikan bahwa sebuah janji lama tidak hilang ditelan waktu.
Dan di antara keduanya, rahasia itu tetap tersimpan, menunggu saat ketika perjalanan mereka kembali bersinggungan.
Bersambung...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya