Entri yang Diunggulkan
PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.2
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kepingan Asa yang Tak Pernah Sirna
Perlahan pagi itu mulai merayap di balik gedung-gedung pencakar langit yang menjulang angkuh, memantulkan pijar matahari pada dinding-dinding kaca yang berkilauan. Di pusat kota, kehidupan berdenyut dalam irama yang nyaris tak memberi ruang bagi siapa pun untuk sekadar berhenti.
Kendaraan berdesakan di ruas jalan, langkah-langkah kaki bergegas menembus kerasnya trotoar, dan wajah-wajah manusia tampak sibuk mengejar sesuatu yang tak selalu dapat dipahami oleh sesama.
Di tengah riuhnya nadi kota, langkah seorang gadis terayun pelan. Sebuah map tipis ia dekap erat di dadanya, seolah menjadi benteng pertahanan terakhir dari dunia yang begitu bising.
Nirmala.
Di balik sampul map itu, tersimpan selembar ijazah sekolah menengah yang tertahan pintunya menuju gerbang sarjana, beberapa lembar salinan dokumen, serta sisa-sisa asa yang sejak fajar ia jaga agar tak lebur diterpa angin keras.
Nirmala baru saja meninggalkan gang sempit tempat ia melepas lelah. Hari itu, ia bertekad mencari pekerjaan yang lebih layak pekerjaan yang setidaknya mampu memberinya kepastian untuk membayar kontrakan dan menyambung hidup tanpa harus menghitung setiap keping uang yang tersisa di dompetnya.
Langkahnya terhenti di hadapan sebuah gedung pencakar langit.
Lehernya sedikit mendongak. Dinding kaca gedung itu menjulang tinggi, seakan hendak merengkuh langit yang membentang tanpa batas. Orang-orang berpakaian rapi keluar masuk melalui pintu utama; sebagian berbicara di telepon, sementara yang lain melangkah cepat dengan tas kerja di tangan.
Untuk beberapa saat, Nirmala hanya berdiri memandangnya.
Ada kekaguman yang diam-diam menyelinap ke dalam hati. Betapa luasnya dunia yang selama ini hanya ia kenal dari kejauhan.
Ia membayangkan bagaimana rasanya bekerja di dalam bangunan semegah itu, duduk di ruangan yang nyaman, memiliki penghasilan tetap, dan menjalani hari tanpa dihantui kecemasan tentang kebutuhan esok pagi.
Namun, khayalan itu segera surut ketika ia menunduk, melihat ujung sepatunya yang mulai usang.
“Barangkali suatu saat nanti..,” gumamnya lirih.
Ia menarik napas dalam-dalam, memperbaiki letak map di tangannya, lalu melangkah menyongsong pintu kaca gedung itu.
Di meja resepsionis, ia menyampaikan maksud kedatangannya dengan santun. Petugas yang berjaga memeriksa dokumen yang dibawanya, lalu menjelaskan dengan senyum tipis bahwa lowongan yang tersedia saat itu mensyaratkan pengalaman kerja dan kualifikasi yang belum dimilikinya.
Nirmala mengangguk.
“Baik, Pak. Terima kasih sudah meluangkan waktu.”
Ia meninggalkan gedung itu tanpa banyak bicara.
Tiada keluhan. Tiada sikap menyalahkan keadaan. Hanya langkah kaki yang terasa sedikit lebih lambat dari saat ia datang.
Di trotoar, ia kembali membuka mapnya, memastikan semua dokumen masih tersimpan rapi. Kemudian, ia melanjutkan perjalanan menuju gedung berikutnya.
Satu gedung.
Dua gedung.
Lalu gedung-gedung lainnya.
Ia mendatangi kantor perusahaan, bangunan perniagaan, hingga beberapa tempat usaha yang memasang pengumuman pencarian karyawan. Di setiap tempat, ia membawa niat yang sama, memperkenalkan diri dengan suara yang dijaga agar tetap mantap, lalu menyerahkan salinan ijazah yang menjadi bekal utamanya.
Namun, jawaban yang diterimanya hampir selalu serupa.
Ada yang membutuhkan pengalaman bertahun-tahun. Ada yang mencari lulusan dengan keahlian khusus. Ada pula yang sekadar memintanya meninggalkan nomor telepon, tanpa memberikan kepastian kapan akan dihubungi kembali.
Semakin jauh ia berjalan, semakin berat map yang sejak pagi terasa ringan itu di tangannya.
Bukan karena isinya bertambah, melainkan karena harapan yang ia dekap perlahan diuji oleh kenyataan.
Menjelang siang, Nirmala berhenti di bawah bayang-bayang sebuah gedung yang jauh lebih megah dari bangunan-bangunan sebelumnya. Ia mendongak sekali lagi.
Gedung itu berdiri dengan wibawa yang berbeda. Deretan kaca kebiruan membentang dari lantai dasar hingga puncak tertingginya, sementara halaman depannya tertata rapi dengan lanskap hijau yang luas.
Entah mengapa, ada sesuatu pada bangunan itu yang membuatnya terpaku lebih lama.
Ia tidak tahu bahwa gedung itu merupakan salah satu aset perusahaan yang kepemilikannya berkaitan dengan peninggalan sang ayah.
Tidak ada nama keluarga yang dikenalnya di sana. Tidak ada petunjuk yang menghubungkannya dengan kehidupan sederhana yang kini ia jalani. Bagi Nirmala, gedung itu hanyalah satu lagi pintu yang mungkin sudi memberinya kesempatan.
Ia pun melangkah masuk.
Namun, setelah menunggu cukup lama dan mengutarakan harapannya kepada petugas yang berwenang, ia kembali menerima jawaban yang belum berpihak kepadanya.
Kali ini, Nirmala tidak langsung beranjak.
Ia berdiri sejenak di dekat pintu keluar, memandang orang-orang yang melintas di lobi dengan langkah penuh keyakinan. Sebagian tampak seusianya membawa kartu identitas, mengenakan setelan formal, dan membincangkan urusan yang belum mampu ia jamah.
Di antara lalu-lalang itu, beberapa karyawan senior yang tak sengaja melewatinya mendadak memperlambat langkah. Mereka saling berbisik pelan, mencuri pandang pada raut wajah sang gadis. Ada bayang-bayang masa lalu yang berkelebat di kepala mereka mengingatkan pada sepasang wajah yang dulu kerap datang dengan penuh wibawa: Rani, sang ibunda, bersama Raden Mas Arya, yang beberapa kali pernah menginjakkan kaki di lobi megah itu dengan hormat.
Namun, bisikan-bisikan tertahan itu segera tenggelam oleh derap sepatu dan kesibukan kantor. Nirmala tidak mendengar apa pun.
Ia hanya berdiri dalam senyapnya sendiri, masih harus bergelut memikirkan cara mendapatkan pekerjaan pertama.
Senyum tipis terbit di bibirnya, tetapi gagal menjangkau matanya.
“Rupanya ijazah saja belum cukup,” bisiknya pada diri sendiri. “Masih banyak lembar kehidupan yang harus kupelajari.”
Ia tidak menyadari bahwa di balik pintu-pintu megah yang baru saja ia lewati, tersimpan sebuah rahasia takdir dan jejak orang tuanya yang belum waktunya terungkap.
Maka, sekali lagi, ia memilih melangkah pergi.
Matahari telah condong ke barat ketika Nirmala akhirnya menjauh dari jantung kota.
Kakinya mulai terasa nyeri. Perutnya kosong sejak fajar, sementara air dalam botol minumnya tinggal menyisakan beberapa teguk. Ia sebenarnya bisa saja kembali ke kamar sewanya, tetapi membayangkan harus menghabiskan sisa hari dengan tangan kosong membuatnya enggan pulang terlalu cepat.
Ia terus berjalan tanpa arah yang pasti.
Hingga deru mesin kendaraan perlahan mereda, tergantikan oleh desir angin yang membawa aroma asin khas lautan.
Nirmala telah tiba di kawasan pesisir.
Di hadapannya, hamparan air membentang luas, berkilauan memantulkan bias cahaya senja. Perahu-perahu kecil bergoyang lembut di kejauhan, sementara buih ombak datang silih berganti, menyentuh pasir pantai sebelum kembali surut ke tengah samudra.
Ia menemukan sebongkah batu besar di tepian, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan helaan napas yang panjang.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia tidak perlu mengetuk pintu siapa pun. Tidak perlu memperkenalkan diri. Tidak perlu membuktikan mengapa ia pantas diberi kesempatan.
Di hadapan laut yang tak bertepi itu, ia hanyalah seorang perempuan muda yang lelah oleh dunia.
Nirmala meletakkan map di pangkuannya. Jemarinya meraba ujung kertas yang mulai melengkung, lalu memandang garis cakrawala dengan tatapan kosong.
“Kenapa mencari pekerjaan saja terasa begitu sulit?” gumamnya lirih.Suaranya nyaris tenggelam di antara debur ombak.
“Di desa, kukira kota akan merangkulku dengan lebih banyak peluang. Gedungnya tinggi, usahanya besar, dan orang-orangnya tampak memiliki segalanya. Tapi ternyata... untuk sekadar bertahan hidup pun aku harus berjalan sejauh ini.”
Ia menunduk, membiarkan ujung dari kerudungnya yang tertiup angin menyapu pipi.
Sesaat, bayang kedua orang tuanya berkelebat dalam ingatan. Ia teringat tangan ayahnya yang mulai renta, suara lembut ibunya yang kini hanya tinggal gema, serta rumah tua yang berubah menjadi kenangan.
Ada hasrat untuk mengeluh, untuk menangis dan mengaku bahwa ia lelah, bahwa terkadang sunyi membuatnya takut menghadapi hari esok.
Namun, kepada siapa keluh itu hendak diadukan?
Ayah dan ibunya telah lama tiada. Dan hidup, betapapun beratnya, tetap menuntutnya untuk terus bernapas.
Nirmala mengusap wajahnya, lalu menegakkan punggungnya.
“Tidak apa-apa,” bisiknya pada diri sendiri, memberi kekuatan pada satu-satunya sandaran yang ia miliki. “Besok aku akan mencoba lagi.”
Ia tak tahu apakah kalimat itu lahir dari keyakinan yang utuh, atau sekadar kata agar ia tak menyerah. Namun untuk saat ini, kalimat itu cukup untuk membuatnya bertahan.
Tak jauh dari tempatnya duduk, terdengar suara kayu beradu dengan lambung perahu.
Nirmala menoleh.
Seorang kakek tua dengan punggung yang mulai membungkuk, rambut putih yang mendominasi, dan kulit legam terpanggang matahari tengah berjuang menambatkan perahu kecilnya di bibir pantai. Di dalam perahu, beberapa keranjang ikan hasil tangkapan bergoyang mengikuti irama air.
Meski usianya tak lagi muda, tangan lelaki tua itu masih cekatan mengikat tali tambatan. Namun, ketika ia hendak mengangkat sebuah keranjang ikan yang cukup besar ke daratan, tubuhnya terlihat kesulitan menjaga keseimbangan.Tanpa berpikir panjang, Nirmala bangkit.
“Sebentar, Kek! Biar saya bantu.”
Sebelum sang kakek sempat menolak, Nirmala telah melangkah mendekat dan memegang sisi keranjang yang lain.
“Pelan-pelan, Nak. Itu cukup berat,” ujar sang kakek dengan suara serak.
“Tidak apa-apa, Kek. Kita angkat bersama.”
Dengan sedikit tenaga tambahan, keranjang itu berhasil mendarat di atas papan kayu di tepi pantai. Nirmala kemudian sigap membantu menurunkan keranjang-keranjang berikutnya hingga semuanya tersusun rapi.
Sang kakek menegakkan tubuhnya, menyeka pelipisnya yang berkeringat, lalu tersenyum hangat.
“Terima kasih, Nak. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku masih harus bergelut dengan keranjang ini sampai matahari terbenam.”
Nirmala tersenyum simpul. “Memangnya Kakek selalu melaut sendirian?”
“Sudah lama begitu.”
“Tidak ada yang menemani atau membantu?”
“Ada kalanya seseorang harus mengerjakan banyak hal dengan tangannya sendiri. Laut tidak selalu memberi hasil yang cukup untuk membayar orang lain membantu kita.”
Nirmala terdiam sejenak.
Kalimat itu terasa begitu dekat dengan kehidupannya sendiri.
“Kalau begitu, Kakek setiap hari harus bekerja keras?”
“Kalau tidak bekerja, bagaimana bisa makan, Nak?”
Sang kakek mengucapkannya sambil tertawa kecil, seolah pertanyaan itu merupakan sesuatu yang terlalu sederhana untuk dipikirkan.
Nirmala ikut tersenyum.
“Tapi Kakek sudah tua. Seharusnya Kakek beristirahat lebih banyak.”
“Beristirahat tentu perlu. Tapi selama tangan ini masih sanggup menarik jala, kaki masih bisa melangkah, dan laut masih mengizinkanku pulang membawa ikan, mengapa harus berhenti?”
Ia mengangkat sebuah keranjang, lalu meletakkannya di tempat yang lebih teduh.
“Tentu saja, kalau badan sudah tidak kuat, aku tidak akan memaksa. Laut itu tidak bisa dilawan hanya dengan keberanian.”
Nirmala memperhatikan wajah keriput lelaki tua itu. Di sana tidak ada kemegahan seperti yang dilihatnya di pusat kota. Tidak ada pakaian mahal, gedung tinggi, atau kendaraan yang mengilap.
Namun, ada ketenangan yang sulit ia temukan pada orang-orang yang sejak pagi ditemuinya.
“Kek,” katanya setelah beberapa saat, “apa Kakek tidak pernah merasa lelah menjalani hidup seperti ini?”
Lelaki tua itu menghentikan gerakannya. Ia memandang lautan luas yang mulai bersemu jingga, lalu mengusap janggutnya yang memutih.
“Lelah itu pasti, Nak. Orang yang bekerja keras pun bisa lelah. Orang yang punya banyak uang juga bisa lelah. Bedanya, tidak semua orang tahu bagaimana cara menerima kelelahan itu.”
Nirmala mendengarkan dengan saksama.
“Kadang-kadang,” lanjut sang kakek, “yang membuat hidup terasa berat bukan hanya pekerjaan kita. Pikiran kita sendiri sering menambah beban yang sebenarnya belum tentu terjadi.”
Nirmala menunduk, meresapi setiap kalimat yang singgah di hatinya. “Lalu, bagaimana jika seseorang sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi hasil yang dinanti tak kunjung datang?”
Kakek itu tersenyum samar.
“Ya, esok dicoba lagi. Tapi bukan berarti kita harus mengulangi cara yang sama jika terbukti jalan itu tertutup.”
Nirmala mengangkat wajahnya. “Maksud Kakek?”
“Jika hari ini jala dilempar ke sudut yang sama dan tidak ada ikan yang tersangkut, seorang nelayan sejati harus belajar membaca arah arus. Bisa jadi ikannya berpindah tempat. Bisa jadi waktunya yang belum tepat. Atau... barangkali jalanya yang perlu diperbaiki.”
Ia menunjuk perahu kecilnya. “Begitu juga hidup. Berusaha itu wajib, tapi belajar dari kegagalan adalah kunci. Jangan habiskan seluruh sisa tenagamu hanya untuk memukul satu pintu yang sama, sementara di sisi lain ada pintu-pintu lain yang menunggu untuk diketuk.”
Nirmala terpaku.
Bayangan gedung-gedung megah yang ia datangi sejak pagi berkelebat di benaknya. Kegagalannya, penolakannya, dan langkahnya yang hampa semuanya tiba-tiba mendapatkan bentuk pemahaman baru.
Barangkali, ia memang belum mengetuk pintu yang tepat.
“Terima kasih, Kek,” ucap Nirmala tulus. “Hari ini... saya merasa sangat beruntung bisa mendengar nasihat ini.”
Sang kakek menatapnya lekat. “Sedang mencari pekerjaan di kota?”
Nirmala mengangguk pelan. “Sudah ke mana-mana, Kek. Tapi belum ada yang mau menerima. Ijazah saya hanya sekolah menengah, dan pengalaman saya masih belum cukup.”
“Lalu, pekerjaan apa yang kamu inginkan?”
“Apa saja yang halal dan sanggup saya kerjakan. Saya tidak mau menjadi beban bagi siapa pun.”
“Itu niat yang baik. Tapi jangan merendahkan dirimu hanya karena ijazahmu belum pantas atau pengalamanmu belum banyak. Setiap orang memulai hidup dari suatu tempat. Tidak ada yang langsung sampai di tujuan pada langkah pertama.”
Ia mengambil seutas tali yang tergeletak di dekat keranjang, lalu mulai menggulungnya dengan rapi.
“Dahulu, ketika aku pertama kali melaut, aku bahkan tidak tahu bagaimana membaca perubahan angin. Berkali-kali aku pulang dengan tangan kosong. Ada hari-hari ketika hasil tangkapan tidak cukup untuk membeli beras. Tetapi aku belajar sedikit demi sedikit.”
Kata-kata itu bagai tetesan air sejuk di tengah padang pasir bagi dada Nirmala.
Ia kembali teringat kedua orang tuanya bagaimana mereka merajut hidup dengan kesabaran meski dunia sering kali tak adil. Kini ia mengerti, keteguhan bukanlah tentang bagaimana cara berdiri tanpa pernah terjatuh, melainkan tentang kerelaan untuk bangkit setiap kali tersungkur.
Nirmala kemudian membantu menyusun ikan ke dalam keranjang yang lebih kecil.
“Kalau begitu, Kakek mengizinkan saya membantu membereskan ini sampai selesai, ya?”
Sang kakek tertawa.
“Lho, kamu ini tadi datang untuk duduk merenung, sekarang malah ikut bekerja.”
Nirmala tersenyum malu-malu. “Daripada hanya meratapi hari yang buruk, lebih baik saya melakukan sesuatu yang bermanfaat.”
“Nah, itu baru anak pintar.”
Mereka menyelesaikan sisa pekerjaan dalam kehangatan yang tak terduga. Sang kakek sesekali berbagi cerita tentang lika-liku hidup di pesisir, tentang badai yang datang silih berganti, dan tentang bagaimana laut selalu mengajarkan kesabaran.
Untuk pertama kalinya sejak matahari terbit, Nirmala merasa kegagalannya bukanlah sebuah aib yang harus disembunyikan. Di hadapan seorang nelayan tua yang sederhana, ia menemukan ruang untuk bernapas tanpa harus berpura-pura kuat.
Ketika seluruh keranjang telah tertata rapi, langit senja mulai menghias cakrawala dengan warna jingga keemasan. Sang kakek duduk di atas bangku kayu, menyeka peluh di keningnya, lalu mengambil sebuah wadah kecil dari dalam perahu.
“Kamu sudah makan, Nak?”
Nirmala terdiam sejenak. “Belum, Kek. Tadi saya terlalu sibuk mencari pekerjaan sampai lupa waktu.”
Sang kakek mengangkat alisnya. “Sejak pagi?”
Nirmala mengangguk kecil, tersipu.
Tanpa banyak bicara, lelaki tua itu membuka sebuah wadah sederhana yang tersimpan di dalam perahunya. Di dalamnya terdapat beberapa potong singkong rebus dan sebotol air minum.
“Ini tidak seberapa. jangan biarkan perutmu dalam keadaan kosong, makanlah dulu"
Nirmala sempat ragu.
“Tidak usah, Kek. Itu bekal Kakek.”
“Kalau aku tidak membaginya dengan orang yang sedang lapar, untuk apa aku membawa bekal lebih?”
Ia menyodorkan singkong itu sekali lagi.
“Ambillah. Besok, kalau kamu sudah mendapatkan pekerjaan, kamu bisa membeli makananmu sendiri. Hari ini, biarkan aku berbagi.”
Nirmala menerima pemberian itu dengan kedua tangan.
“Terima kasih, Kek.”
Nirmala memandang laut sambil menggenggam sisa singkong di tangannya.
Hari itu ia belum mendapatkan pekerjaan. Ia belum mengetahui bagaimana caranya membayar kebutuhan bulan berikutnya. Dan ia masih belum memahami rahasia yang telah lama disimpan seseorang atas nama masa depannya.
Namun, untuk pertama kalinya sejak meninggalkan gang sempit tempatnya tinggal, ia merasa sedikit lebih ringan.
Mungkin kehidupan memang tidak selalu memberikan jawaban ketika seseorang membutuhkannya. Terkadang, kehidupan hanya mempertemukannya dengan orang sederhana yang mengingatkan bahwa esok hari masih layak diperjuangkan.
Dan di bawah langit senja yang perlahan kehilangan cahaya, Nirmala kembali menumbuhkan harapan kecil di dalam hatinya.
Ia akan mencoba lagi.
Bukan karena ia yakin jalan di hadapannya akan mudah, melainkan karena ia mulai memahami bahwa kegagalan hari ini tidak harus menjadi akhir dari seluruh perjalanannya.
Bersambung....
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya