Entri yang Diunggulkan
PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.12
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sang surya tergelincir dalam peraduannya, meninggalkan semburat jingga yang perlahan memudar di balik punggung bukit. Senja merayap turun, menyelimuti desa dengan selendang temaram, seakan hendak meredam segala hiruk-pikuk dunia dan mengubur kegelisahan yang sejak pagi tak kunjung menemukan muaranya.
Haryo kembali menyusuri jalan kecil menuju rumah Rukayah. Udara desa masih sejuk. Beberapa warga terlihat menyapu halaman, sementara asap tipis mengepul dari dapur-dapur rumah yang mulai menyiapkan sarapan. Di tangannya terdapat sebuah buku catatan dan salinan kecil dari salah satu dokumen yang ditemukan dalam arsip lama.Ia tidak datang dengan harapan akan mendapatkan jawaban lengkap."Saya berharap kedatangan saya kemarin tidak membuat Ibu merasa terganggu."
Rukayah menggeleng pelan.
"Tidak. Hanya saja, sudah lama sekali tidak ada orang yang bertanya tentang peristiwa itu."
"Karena itulah saya datang. Ada beberapa dokumen lama yang tidak memberikan penjelasan lengkap."
Rukayah memandang halaman di hadapannya.
"Dokumen kadang-kadang memang tidak menceritakan semuanya, Pak. Ada hal-hal yang hanya diketahui orang yang berada di sana."
Haryo memperhatikan jawabannya.
"Apakah Ibu termasuk salah satu orang yang berada di sana?"
Rukayah tidak segera menjawab.
Ia meremas ujung kain yang menutupi lututnya, kemudian mengangkat wajah.
"Saya tidak berada di tempat kecelakaan itu terjadi. Saya juga tidak melihat bagaimana peristiwa itu berlangsung."
Haryo mengangguk, membiarkannya melanjutkan.
"Tetapi saya pernah mendengar pembicaraan tentang kejadian itu. Bukan hanya sekali."
"Siapa yang berbicara, Bu?"
"Saya tidak bisa memastikan semuanya. Waktu itu saya masih muda. Saya hanya mengingat beberapa potongan percakapan."
"Apakah salah satunya menyebut nama Raden Mas Arya?"
Rukayah mengangguk perlahan.
"Nama itu pernah saya dengar."
Haryo membuka bukunya, tetapi belum menuliskan apa pun.
"Apakah Ibu tahu hubungannya dengan kecelakaan itu?"
"Tidak secara pasti."
Jawaban itu terdengar tegas, meskipun wajah Rukayah menunjukkan bahwa masih ada sesuatu yang belum selesai dalam pikirannya.
Haryo tidak mendesaknya.
Sebaliknya, ia mengeluarkan salinan dokumen yang dibawanya.
"Saya ingin menunjukkan sesuatu. Mungkin Ibu pernah melihatnya, mungkin juga tidak."
Ia meletakkan dokumen itu di atas meja kecil di antara mereka.
Rukayah menunduk.
Tulisan pada dokumen itu sudah cukup pudar, tetapi satu bagian masih dapat dibaca. Ada keterangan mengenai sebuah kecelakaan dan catatan tentang orang-orang yang mendatangi desa setelah kejadian itu.
Rukayah membaca perlahan.
Ketika matanya sampai pada satu baris di bagian bawah, ia mendadak berhenti.
Haryo melihat perubahan ekspresinya.
"Ada sesuatu yang Ibu kenali?"
Rukayah mengangkat wajah.
"Di mana Bapak mendapatkan dokumen ini?"
"Dari arsip lama yang sedang saya periksa."
"Apakah masih ada dokumen lainnya?"
"Ada. Tetapi beberapa di antaranya belum lengkap."
Rukayah kembali menatap kertas itu.
"Saya pernah mendengar bahwa setelah kejadian itu, ada orang yang datang untuk mencari seseorang."
Haryo tidak menyela.
"Mereka tidak datang bersama-sama. Ada yang datang pada hari berbeda. Saya tidak tahu apakah mereka saling mengenal."
"Apakah Ibu ingat siapa yang mereka cari?"
Rukayah terdiam cukup lama.
Kemudian ia menggeleng.
"Tidak. Saya hanya ingat bahwa orang-orang di desa membicarakannya dengan hati-hati. Seolah-olah ada sesuatu yang tidak boleh disampaikan sembarangan."
Haryo menuliskan keterangannya.
Bukan sebagai kesimpulan, melainkan sebagai petunjuk yang perlu diperiksa.
"Bu, apakah Ibu bersedia berbicara lagi jika nanti ada pertanyaan tambahan?"
Rukayah memandangnya.
"Kalau saya bisa membantu menjelaskan apa yang benar-benar saya ingat, saya bersedia."
Haryo mengangguk.
"Itu sudah cukup untuk sekarang."
Ia tidak memaksa Rukayah membuka seluruh ingatannya hari itu.
Namun, sebelum Haryo berdiri, perempuan tua itu memanggilnya.
"Pak."
"Ya, Bu?"
"Apakah orang yang meminta Bapak menyelidiki perkara ini masih hidup?"
Haryo terdiam sesaat sebelum menjawab.
"Masih. Namanya Darta."
Rukayah menunduk.
Kali ini, ia tidak berusaha menyembunyikan kegelisahannya secepat kemarin.
"Saya mengerti," katanya lirih.
Haryo ingin bertanya lebih jauh, tetapi ia mengurungkan niatnya.
Perempuan itu belum memberikan alasan atas reaksinya. Dan selama belum ada keterangan yang jelas, ia tidak berhak mengisi kekosongan itu dengan dugaannya sendiri.
Haryo berpamitan, lalu meninggalkan rumahnya.
Di belakangnya, Rukayah tetap duduk di teras.
Pandangannya mengikuti langkah lelaki itu sampai menghilang di tikungan jalan.
Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, ia merasa bahwa ingatan yang selama ini disimpannya mungkin akan segera diminta untuk berbicara.
Dan ia belum tahu apakah dirinya benar-benar siap mendengarkannya kembali.
Sementara itu Haryo menuju ke kantor desa untuk mencari informasi mengenai arsip kependudukan lama. Ia tidak berharap menemukan dokumen lengkap setelah sekian lama, tetapi ingin mengetahui apakah masih ada catatan tentang keluarga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian.
Kepala desa menyambutnya dengan ramah.
Setelah menjelaskan tujuan kedatangannya dan menunjukkan surat yang diperlukan, Haryo diperbolehkan memeriksa beberapa buku pencatatan lama yang masih tersimpan.
Sebagian halaman telah menguning. Beberapa tulisan sulit dibaca, sedangkan sebagian lain rusak akibat kelembapan.
Haryo bekerja dengan teliti.
Ia mencatat nama, tanggal, dan keterangan yang mungkin berhubungan dengan perkara itu.
Tidak semua catatan memberikan hasil.
Namun, pada sebuah daftar lama, ia menemukan nama keluarga yang pernah disebut dalam salah satu dokumen arsip.
Nama itu tercatat sebagai penghuni sebuah rumah yang berada tidak jauh dari jalan tempat kecelakaan terjadi.
Haryo memeriksa tanggalnya sekali lagi.
Lalu mencocokkannya dengan catatan yang sudah dimilikinya.
Ada selisih waktu beberapa hari antara tanggal dalam satu dokumen dan tanggal dalam dokumen lainnya.
Selisih itu belum tentu berarti ada sesuatu yang disembunyikan. Bisa saja pencatatan dilakukan terlambat atau terdapat kekeliruan administratif.
Namun, ia tidak ingin mengabaikannya.
Haryo meminta izin untuk mencatat nomor arsip dan nama-nama yang tercantum di dalamnya. Ia juga menanyakan apakah masih ada catatan mengenai perpindahan penduduk dari masa yang sama.
Sayangnya, sebagian besar dokumen terkait sudah tidak ditemukan.
"Sudah banyak berkas lama yang rusak atau dipindahkan, Pak," jelas petugas desa. "Kami hanya bisa memberikan yang masih tersedia."
"Saya mengerti. Saya tidak ingin Bapak mencari sesuatu yang memang sudah tidak ada."
Haryo menutup buku catatannya.
Satu hal mulai jelas baginya: penyelidikan ini tidak bisa hanya mengandalkan ingatan saksi.
Ia harus menemukan dokumen lain yang dapat menguatkan atau membantah keterangan mereka.
Jika tidak, setiap petunjuk akan selalu terbuka terhadap penafsiran yang berbeda.
Sebelum meninggalkan kantor desa, Haryo mencatat satu pekerjaan tambahan.
Ia perlu mencari tahu siapa yang tinggal di rumah itu sebelum dan sesudah kecelakaan.
Bukan karena ia sudah yakin rumah itu memiliki hubungan langsung dengan perkara.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia memiliki titik yang bisa diperiksa lebih lanjut.
Sebab di antara puing-puing sejarah yang telah lama terkubur waktu, satu butir kebenaran yang teruji jauh lebih berharga daripada seribu asumsi yang berserakan.
Langkah waktu yang terhenti itu pun perlahan membawanya pada garis pantai yang basah oleh sisa air mata ombak tempat Nirmala tengah bergulat dengan badai batinnya sendiri.
Pagi itu, sebelum fajar sempat menyapu pekat di ufuk timur, kakek nelayan itu telah kembali merengkuh lautan. Di atas perahu kayu yang berderit menantang gelombang, ia melepas jangkar dengan secercah harap: semoga samudera sudi berbaik hati, memulangkan secuil rezeki untuk menyambung hari.
Nirmala menunggu di dekat tempat pelelangan sambil memeriksa catatan pesanan.
Salah satu warung meminta ikan dikirim sebelum tengah hari. Jumlahnya tidak terlalu besar, tetapi cukup penting bagi usaha kecil yang sedang dirintisnya.
Masalahnya, hingga waktu yang dijanjikan semakin dekat, perahu kakek nelayan belum terlihat.
Nirmala berdiri di tepi dermaga, memandang garis laut yang mulai terang.
Ia tahu bahwa laut tidak bisa diatur hanya karena seseorang memiliki pesanan.
Namun, pembeli juga memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi.
Ia mengambil langkah dan mendatangi pemilik warung itu.
"Selamat pagi, Bu. Saya ingin mengabari bahwa perahu belum kembali. Saya belum bisa memastikan jumlah ikan yang tersedia."
Di warung, suara perempuan itu terdengar kurang senang.
"Padahal saya sudah menunggu, Nak. Nanti dapur saya bisa terlambat menyiapkan bahan."
Angin bercampur terik matahari berhembus pelan, membawa aroma aspal dan sisa-sisa uap amis yang belum sepenuhnya sirna dari tangannya. Nirmala berdiri terpaku di hadapan calon pembelinya, merasakan beban berat merayap di dadanya. Ada getir yang tertahan di balik kerongkongan, saat ia harus menatap mata orang yang menaruh harap padanya, namun menunggu dengan tangan hampa.
"Saya mengerti, Bu. Maaf karena belum bisa memberi kepastian. Saya tidak ingin menjanjikan jumlah yang ternyata tidak ada," ucap Nirmala dengan suara yang hampir tenggelam di antara bising kendaraan.
Perempuan di hadapannya itu menghela napas panjang, menyembunyikan kekecewaan yang teramat sangat di balik senyum tipis yang dipaksakan.
"Kalau sampai siang belum datang, saya terpaksa membeli dari tempat lain."
Kalimat itu meluncur begitu saja, tetapi bagi Nirmala, setiap kata terdengar seperti hantaman palu yang memecah sisa-sisa keyakinannya. Kerjasama yang telah lama dirajut kini terasa begitu rapuh, terancam oleh ketidakpastian laut yang tak bisa ia ajak bernegosiasi.
Nirmala menelan kekecewaannya. Ia menunduk sejenak, membiarkan angin menyibak helaian benang krudungnya begitu rapuh dan basah oleh uap air laut, menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokan, dan mencoba menegakkan kembali sisa-sisa harga dirinya sebagai seorang gadis yang di tampung nelayan tua ia tahu bagaimana cara berpasrah pada badai.
"Baik, Bu. Saya mengerti. Kalau nanti tangkapan sudah tersedia dan ibu masih membutuhkan, saya akan segera menghubungi ibu," pungkasnya dengan nada yang bergetar halus, menyimpan sejuta doa agar lautan lekas bermurah hati memulangkan perahu nelayan tua itu dengan selamat.
Nirmala menatap langit beberapa saat sebelum kembali kepesisir.
Ia baru saja kehilangan kemungkinan penjualan yang sudah diperhitungkannya sejak malam sebelumnya.
Tetapi ia tidak menyesali keputusannya untuk bersikap jujur.
Apa gunanya mendapatkan pesanan hari ini jika ia harus mengarang alasan ketika tidak mampu memenuhinya?
Meski demikian, ia tidak bisa berpura-pura bahwa kejadian itu tidak merugikannya.
Ia telah menghabiskan waktu menunggu. Pembeli mungkin akan lebih berhati-hati jika memesan kepadanya lagi. Dan ia masih belum memiliki pemasok lain yang bisa diandalkan ketika tangkapan kakek nelayan tua itu terlambat.
Untuk beberapa saat, Nirmala hanya berdiri diam.
Kemudian ia membuka buku catatannya.
Di bawah daftar pesanan, ia menuliskan sebuah kalimat pendek:
Jangan menerima pesanan berdasarkan harapan. Hitung berdasarkan kemampuan.
Ia membaca kembali kalimat itu.
Barangkali terdengar sederhana.
Namun, ia tahu bahwa dirinya masih harus belajar menerapkannya.
Tidak lama kemudian, beberapa perahu mulai terlihat mendekati pantai.
Salah satunya adalah perahu kakek nelayan.
Nirmala segera menghampiri ketika perahu itu merapat.
"Bagaimana, Kek?"
Kakek nelayan mengangkat beberapa keranjang dengan bantuan seorang buruh angkut.
"Syukurlah, masih ada hasilnya."
Nirmala membantu memeriksa tangkapan.
Jumlahnya cukup untuk dijual, tetapi tidak sebanyak yang ia harapkan. Beberapa jenis ikan yang dibutuhkan pembeli bahkan tidak ada dalam keranjang.
Ia menceritakan apa yang terjadi kepada kakek nelayan.
Orang tua itu mendengarkan tanpa menyalahkan siapa pun.
"Pembelinya kecewa, Nak?" tanyanya.
"Mungkin, Kek."
"Kalau begitu, nanti kau bisa menghubunginya lagi. Bukan untuk memaksanya membeli, tetapi untuk memberitahukan apa yang benar-benar kita punya."
Nirmala mengangguk.
Ia memilih ikan yang masih segar, menghitung jumlahnya, lalu mendatangi warung itu sekali lagi.
Seperti yang sudah diperkirakannya, pemilik warung telah membeli sebagian kebutuhan dari pemasok lain.
Namun, perempuan itu masih bersedia menerima sejumlah kecil ikan untuk melengkapi persediaannya.
Jumlahnya tidak banyak.
Keuntungan yang diperoleh Nirmala juga lebih kecil daripada perkiraan awal.
Tetapi ia tetap mencatat transaksi itu dengan teliti.
Sebelum mengakhiri percakapan, pemilik warung berkata, "Lain kali kabari saya lebih awal kalau memang ada kemungkinan terlambat, Nak."
Nirmala mengangguk meskipun perempuan itu tidak bisa melihatnya.
"Baik, Bu. Saya akan berusaha memberikan kabar lebih awal."
Kali ini, ia memperoleh pelajaran yang berbeda.
Kejujuran memang penting, tetapi dalam perdagangan, kejujuran juga harus disertai komunikasi yang baik.
Ia tidak bisa mengendalikan laut.
Namun, ia masih bisa mengendalikan cara dirinya memberikan informasi kepada pemesan.
Dan mulai besok, ia akan berusaha melakukannya dengan lebih baik.
Siang hari itu, kabar mengenai keterlambatan pasokan Nirmala sampai ke telinga Maheswari.
Anak buahnya melaporkan bahwa salah satu warung yang sempat membeli ikan dari Nirmala akhirnya mengambil sebagian kebutuhan dari pemasok lain.
Maheswari mendengarkan laporan itu sambil memeriksa catatan pembelian.
"Apakah warung itu membatalkan seluruh pesanannya?"
"Tidak, Nyonya. Mereka tetap mengambil sebagian ikan dari Nirmala setelah perahunya tiba."
Maheswari mengangkat wajah.
"Jadi, dia masih bisa menjual meskipun terlambat?"
"Ya, Nyonya. Tetapi jumlahnya lebih sedikit daripada yang direncanakan."
Maheswari terdiam sejenak.
Ia tidak menganggap kejadian itu sebagai bukti bahwa Nirmala akan gagal.
Keterlambatan pasokan merupakan persoalan yang bisa dialami siapa pun, bahkan oleh usaha yang jauh lebih besar.
Yang lebih menarik baginya adalah keputusan Nirmala untuk tetap menghubungi pembelinya dan menyampaikan keadaan sebenarnya.
"Apakah dia memberikan alasan kepada warung itu?" tanya Maheswari.
"Sejauh yang saya tau, dia hanya mengatakan bahwa perahunya belum kembali."
Maheswari kembali melihat catatan di tangannya.
"Kalau begitu, dia tahu bahwa kebohongan tidak akan menyelesaikan masalahnya."
Lelaki itu menunggu instruksi berikutnya.
Namun, Maheswari tidak memberikan perintah untuk mendekati warung itu atau menekan Nirmala.
Ia hanya meminta laporan pembelian seperti biasa.
"Jangan mencampuri urusannya. Kita punya usaha sendiri yang harus dijalankan."
"Baik, Nyonya."
Setelah lelaki itu pergi, Maheswari kembali memeriksa angka-angka di hadapannya.
Ia tahu bahwa harga beli yang lebih tinggi telah membantu menarik sebagian nelayan kembali. Namun, ia juga harus menjaga agar keuntungan usahanya tidak terus terkikis.
Ia mulai mempertimbangkan untuk mengevaluasi harga beberapa jenis ikan pada pekan berikutnya, berdasarkan jumlah pasokan dan permintaan pembeli.
Keputusan itu tidak berkaitan semata-mata dengan Nirmala.
Setidaknya, secara bisnis, memang demikian seharusnya.
Namun, Maheswari tidak dapat menyangkal bahwa ia kini mulai memperhatikan gadis itu lebih sering daripada sebelumnya.
Bukan karena Nirmala sudah menjadi pesaing besar.
Justru karena Nirmala masih kecil, belum memiliki banyak modal, dan belum menguasai pasar.
Tetapi ia terus berusaha.
Maheswari pernah melihat banyak orang menyerah ketika menghadapi kesulitan pertama.
Nirmala belum melakukannya.
Dan meskipun itu belum cukup untuk mengubah pandangan Maheswari terhadapnya, perempuan itu mulai menyadari bahwa perjalanan mereka mungkin tidak akan selesai dalam waktu singkat.
Sementara itu di desa, Haryo kembali ke penginapan dengan membawa beberapa catatan tambahan.
Ia duduk di dekat jendela, membuka buku yang sejak pagi tidak pernah jauh dari tangannya, kemudian menuliskan hasil penyelidikan hari itu.
Ada tiga hal yang kini dapat dipisahkan dengan lebih jelas.
Pertama, dokumen lama mencatat sebuah kecelakaan dan kedatangan beberapa orang setelah kejadian itu.
Kedua, Rukayah mengingat adanya pencarian terhadap seseorang, tetapi belum mengetahui dengan pasti siapa yang dicari.
Ketiga, arsip desa menyimpan nama sebuah keluarga yang pernah tinggal tidak jauh dari lokasi kejadian.
Belum satu pun dari ketiga hal itu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, ketiganya memberikan arah bagi penyelidikan berikutnya.
Haryo membuka salinan dokumen yang ditunjukkan kepada Rukayah pagi tadi.
Ia memeriksa kembali tulisan yang memudar di bagian bawah.
Ada satu keterangan yang sejak awal mengusiknya.
Bukan nama orang.
Melainkan catatan tentang seseorang yang datang beberapa hari setelah kecelakaan.
Catatan itu tidak menjelaskan identitasnya secara lengkap. Hanya menyebutkan bahwa orang itu meminta agar keterangan mengenai kejadiannya disimpan bersama berkas keluarga yang bersangkutan.
Haryo membaca kalimat itu berulang kali.
Mengapa keterangan mengenai sebuah kecelakaan harus disimpan bersama berkas keluarga?
Apakah itu sekadar prosedur administratif?
Atau ada alasan lain yang belum ia ketahui?
Ia tidak ingin menebak.
Besok, ia akan meminta izin untuk menelusuri asal dokumen itu dan mencari tahu siapa yang menyusun catatannya.
Jika identitas penulisnya bisa ditemukan, mungkin ia akan mendapatkan petunjuk yang lebih kuat daripada ingatan yang telah melewati puluhan tahun.
Haryo menutup berkas itu.
Sebelum menyimpan buku catatannya, ia teringat pada pertanyaan Rukayah tentang Darta.
Perempuan itu tampak mengenal nama lelaki berjas rapi itu, tetapi belum memberikan penjelasan.
Haryo bisa saja meneleponnya kembali dan meminta jawaban yang lebih tegas.
Namun, ia memilih menunggu sampai memiliki sesuatu yang lebih konkret untuk ditanyakan.
Penyelidikan bukan perlombaan untuk menjadi orang pertama yang mengetahui rahasia.
Tugasnya adalah memastikan bahwa apa yang akhirnya ditemukan benar-benar mendekati kebenaran.
Dan jika kebenaran itu menyangkut kehidupan seseorang, ia tidak boleh memperlakukannya sebagai sekadar teka-teki yang harus segera diselesaikan.
Dan di pesisir pinggiran kota di kamar yang sederhana, Nirmala menyelesaikan catatan hasil penjualan hari itu.
Ia menghitung pemasukan, mengurangi biaya yang telah dikeluarkan, lalu memisahkan uang yang harus diserahkan kepada kakek nelayan.
Hasilnya tidak besar.
Bahkan, setelah mengalami keterlambatan pengiriman, ia harus menerima keuntungan yang lebih kecil daripada perkiraan semula.
Ia tidak ingin menutupi kerugian kecil hanya karena takut melihat kenyataan.
Usai menuntaskan catatan terakhirnya, Nirmala menutup buku itu perlahan seolah takut memecah keheningan yang telanjur pekat. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding kamar yang kian lusuh dimakan waktu, membiarkan temaram cahaya lampu menemani letih yang merayap di sekujur tubuh dan sisa-sisa sesak di dadanya.
Ia memikirkan hari esok.
Sedangkan Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala, meninggalkan sisa bias keemasan yang memantul redup di atas tumpukan arsip yang berserakan. Kepingan-kepingan puzzle yang tadinya tercerai-berai kini mulai menemukan jalurnya, merajut sebuah benang merah yang perlahan-lahan menguak tabir kelam masa lalu.
Titik terang itu akhirnya berpendar, menembus pekatnya kabut misteri yang selama bertahun-tahun sengaja dikubur dalam sunyi. Namun, setiap rahasia yang terungkap bukanlah akhir dari perjalanan; ia justru menjelma menjadi pintu gerbang baru yang memanggil untuk terus diselidiki.
Di antara derit lembaran kertas tua dan bayang-bayang kenangan yang kian benderang, pencarian ini menuntut kesabaran yang lebih dalam menyongsong kebenaran utuh yang tinggal selangkah lagi menyapa terang.
Namun, Haryo tahu harus mulai mencari dari mana.
Bersambung....
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya