Entri yang Diunggulkan
PELANGI CINTA DI UFUK SENJA...eps.1
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Waktu telah mendewasakan Nirmala, membawa garis ketenangan di keningnya yang diwarisi langsung dari mata teduh sang ibu,Rani. Di sudut kamar tua itu, di atas sebuah meja kayu berpelitur kusam, tersimpan dua benda pusaka yang menjadi kompas hidupnya: buku bersampul kulit kusam catatan sang ayah dan sebuah liontin perak milik sang ibu.
Setiap kali jemari Nirmala menyentuh halaman demi halaman diary itu, ia seperti mendengar kembali suara Raden Mas Arya yang mulai renta. Buku harian itu bukan sekadar catatan harian, melainkan monolog penyesalan sekaligus keajaiban.
Tertulis dengan tinta yang mulai memudar bagaimana sang ayah dengan kepala kosong tanpa ingatan masa lalu tertarik oleh bisikan gaib ke dalam hutan berkabut, mengejar bayangan seorang perempuan berparas jelita yang terus berbisik jauh di dalam nadinya.
Di halaman-halaman akhir, ayahnya kerap menulis tentang betapa berdosanya ia karena terlambat menemukan Rani, dan bagaimana kehadiran Nirmala adalah satu-satunya obat penawar luka atas penderitaan sang ibu yang sempat terbuang di balik dinding dinginnya rumah sakit jiwa akibat fitnah keji sehabatnya sendiri.
Dan tepat di sebelah buku harian itu, tergeletak liontin perak milik Rani. Liontin yang sama yang menuntun langkah Raden Mas Arya menembus kabut tebal dusun itu, membimbingnya pulang menuju wanita yang setia menanti hingga akalnya direnggut paksa oleh kejinya ilmu hitam.
Ketika Nirmala menggenggam liontin itu di dadanya, ia bisa merasakan degup jantung kedua orang tuanya yang menyatu dalam dirinya sebuah bukti bahwa cinta mereka jauh lebih kuat daripada maut dan sihir mana pun di dunia.
---
Sore itu, langkah Nirmala terayun pelan menuju tanah wakaf di ujung desa, tempat dua gundukan tanah bersanding damai di bawah naungan pohon kamboja tua.
Di sanalah mereka bersemayam. Pusara sang ibu, Rani, yang berpulang lebih dulu saat Nirmala masih belia, dan pusara sang ayah, Raden Mas Arya, yang menyusul di penghujung usianya yang senja.
Nirmala bersimpuh membersihkan kelopak bunga yang berserakan di atas dua nisan kayu berjejer rapi. Tidak ada ratapan air mata yang pecah kali ini; yang ada hanyalah keheningan yang sarat makna.
Ia mengusap nisan sang ibu, membayangkan betapa berat penderitaan wanita itu dahulu dikhianati oleh sahabatnya sendiri, difitnah, diisolasi, namun tetap tegak dalam kesetiaan hingga takdir mempertemukannya kembali dengan lelaki yang bahkan lupa siapa dirinya.
Lalu pandangannya beralih ke nisan sang ayah. Lelaki yang telah memikul beban ingatan yang hilang, yang menuntun hari-hari tuanya di rumah sunyi itu sambil membesarkan Nirmala dengan sisa-sisa tenaga dan kasih sayang yang teramat besar.
"ayah...ibu..." bisik Nirmala lirih, suaranya berpadu dengan desau angin sore yang menyibak kerudungnya.
"Nirmala telah tumbuh dewasa. Ia masih di sini, menjaga rumah yang pernah menjadi tempat kalian merajut cinta, merawat kenangan yang tak sempat kalian jaga bersama. Luka itu memang pernah membuatnya rapuh, tetapi waktu mengajarinya tumbuh tanpa harus melupakan."
Nirmala terdiam sejenak. Matanya menatap nisan itu dengan linangan air mata yang tertahan. Ada begitu banyak hal yang ingin ia ceritakan, begitu banyak rindu yang tak lagi memiliki tempat untuk berlabuh.
“Berbahagialah di sana, Ayah... Ibu.... Semoga dengan rahmat Ilahi senantiasa menaungi kalian. Biarlah rindu ini tetap tinggal di hati Nirmala, sementara kalian beristirahat dalam damai.”
Duduk bersimpuh di antara dua pusara itu, Nirmala menyadari satu hal: ia bukan anak yang sebatang kara. Ia adalah rangkuman dari kesetiaan ibunya yang tak lekang oleh noda, dan ketulusan ayahnya yang pulang kembali pada takdir.
Sisa-sisa kenangan itu bukan lagi beban yang menyesakkan, melainkan pelita yang menuntun langkah dewasanya menyongsong hari esok.
---
Batu nisan telah ditinggal di punggung bukit, dan warisan rahasia itu masih terkunci rapat di tempat yang belum tersentuh waktu. Kini, Nirmala berdiri di persimpangan dunia yang sama sekali berbeda meninggalkan tanah kelahiran untuk menelan debu dan bisingnya kota metropolitan yang asing, tanpa tahu bahwa di balik kesederhanaannya, ia sebenarnya adalah seorang pewaris yang duduk di atas gundukan emas permata.
---
Kota ini tidak menyambut Nirmala dengan karpet merah, melainkan dengan bau aspal basah, deru knalpot yang memekakkan telinga, dan ribuan pasang kaki yang berlari tanpa arah yang jelas.
Langkah kakinya membimbingnya ke sebuah gang sempit di jantung kota sebuah labirin beton tempat matahari seolah enggan menyapanya.
Di sana, di antara himpitan dinding-dinding papan yang mulai lapuk dan jemuran yang bergelantungan semrawut, Nirmala menyewa sebuah kontrakan seadanya. Ukurannya begitu kecil, cukup untuk membentangkan sehelai tikar tipis dan sebuah koper usang tempat ia menyimpan buku harian sang ayah serta liontin perak milik ibunya.
Setiap malam tiba, kamar petak itu diterangi oleh sebuah lampu pijar 5 watt berwarna kuning temaram yang tergantung lemah dari langit-langit berdebu. Bayangan dinding meliuk-liuk mengikuti ritme angin malam yang menyusup lewat celah jendela. Di bawah cahaya remang-remang itulah, Nirmala sering termenung.
Ia memegang liontin perak ibunya di dada, lalu membuka lembaran demi lembaran diary sang ayah. Di tengah kesunyian malam yang diwarnai suara tetangga sebelah berdebat atau suara derit kereta di kejauhan, Nirmala meresapi tempaan hidup yang sesungguhnya.
Nirmala memilih jalan yang terjal. Meskipun ia bisa saja hidup dalam kenyamanan jika ia tahu surat-surat wasiat di brankas tua di desa itu terbuka. Sang Ayah mendidiknya bukan untuk menjadi rapuh, melainkan untuk menjadi tangguh seperti Rani, ibunya, yang bertahan dalam badai.
Pagi-pagi sekali, sebelum kabut kota sempat berganti menjadi asap polusi, Nirmala sudah keluar dari gang sempit. Ia menerima apa saja pekerjaan halal yang bisa menyambung hidup: menjadi buruh sortir di pabrik konveksi kecil, atau membantu di warung kopi sederhana dekat terminal.
Tangannya yang dulu terbiasa merawat sang ayah di desa, kini mulai kasar, kapalan, dan memerah karena air deterjen serta debu jalanan.
Pada suatu malam, seusai bekerja lembur dengan upah yang hanya pas untuk membeli sebungkus nasi, Nirmala terduduk lemas di ambang pintu kontrakannya. Kakinya pegal luar biasa, pundaknya terasa remuk. Ia menatap lampu temaram di kamarnya yang berkedip-kedip malas.
Air matanya nyaris tumpah. Dalam benaknya, terbayang wajah-wajah yang selalu menyayanginya, wajah-wajah yang kini hanya dapat ia temui dalam ingatan. Namun, segera diusapnya dengan punggung tangan yang ternoda sisa tinta sablon. Sebuah senyum tipis mengembang di bibirnya, samar dalam temaram cahaya.
“Ayah... Ibu...” bisiknya lirih, seolah berbicara kepada dua sosok yang masih hidup dalam relung jiwanya.
“Nirmala sedang belajar melangkah dengan kaki sendiri. Biarlah dunia di luar sana menguji keteguhan hatiku. Sebab, ada cinta yang kalian wariskan, ada kesetiaan yang kalian tanamkan. Dan semuanya akan tetap hidup dalam diriku.”
Di balik kesederhanaan itu, Nirmala belum mengetahui bahwa kepergian kedua orang tuanya, masih menyimpan peninggalan yang kelak dapat mengubah jalan hidupnya. Baginya, masa depan masih berupa jalan panjang yang harus ditempuh dengan keringat dan keteguhan hati.
---
Pada waktu itu Raden Mas Arya membuat wasiat tepat pada sore hari, matahari menyelinap di antara dedaunan, jatuh membentuk bayangan panjang di beranda rumah yang mulai lengang. Raden Mas Arya duduk bersandar pada kursi rotan kesayangannya. Tubuhnya semakin kurus, sementara ingatannya kerap mengabur, meninggalkan serpihan masa lalu yang terkadang sulit ia rangkai kembali.
Di hadapannya, Risma meletakkan secangkir teh hangat. Perempuan yang telah mengenal perjalanan hidupnya sejak bertahun-tahun silam itu memandangnya dengan kecemasan yang berusaha disembunyikan.
“Raden belum meminum tehnya,” ujar Risma pelan.
Raden Mas Arya menatap cangkir itu, lalu tersenyum tipis.
“Kadang-kadang, Risma, aku merasa waktu berjalan lebih cepat daripada yang sanggup kuikuti.”
Risma menarik kursi dan duduk di sampingnya.
“Jangan berkata begitu. Raden masih memiliki Nirmala. Masih banyak hal yang bisa Raden lakukan untuknya.”
“Justru karena Nirmala, aku memikirkan banyak hal yang belum sempat kuselesaikan.”
Ia terdiam sejenak. Pandangannya beralih ke halaman, tempat angin sore menggoyangkan pucuk-pucuk tanaman.
“Risma, bolehkah aku menitipkan sesuatu kepadamu?”
Risma mengernyit.
“Apakah ada sesuatu yang perlu saya urus?”
“Bukan sekadar sesuatu yang perlu diurus.” Arya menghela napas. “Ini tentang masa depan Nirmala.”
Seketika, wajah Risma berubah serius.
“Ada apa dengan Nirmala, Raden?”
“Anak itu belum mengerti betapa kerasnya dunia. Selama ini, aku berusaha menjaganya semampuku. Tetapi aku tahu, suatu hari nanti, ia harus menghadapi semuanya tanpa kehadiranku.”
“Raden tidak boleh berpikir bahwa Nirmala akan sendirian. Selama saya masih ada, saya akan berusaha membantunya.”
Raden Mas Arya menoleh kepadanya. Ada kelegaan kecil di balik sorot matanya.
“Itulah sebabnya aku memanggilmu.”
Ia kemudian meminta Risma mengambil sebuah map cokelat yang tersimpan di dalam laci meja. Di dalamnya terdapat beberapa dokumen yang tersusun rapi, sebagian telah menguning dimakan usia.
Risma membuka map itu perlahan. Dahinya berkerut ketika melihat lembaran-lembaran yang ada di dalamnya.
“Raden, ini...”
“Dokumen yang berkaitan dengan harta peninggalan keluarga. Ada kepemilikan yang selama ini kusimpan, termasuk saham yang menjadi bagian penting dari masa depan Nirmala.”
Risma mengangkat wajahnya, terkejut.
“Apakah Nirmala sudah mengetahui semua ini?”
Arya menggeleng perlahan.
“Belum. Dan untuk saat ini, aku ingin ia tetap menjalani hidupnya sebagaimana yang ia pahami. Aku tidak ingin kekayaan membuatnya kehilangan kesempatan untuk mengenal arti perjuangan, tetapi aku juga tidak ingin haknya hilang hanya karena ia tidak mengetahui keberadaannya.”
Risma menutup map itu dengan hati-hati.
“Lalu, apa yang Raden harapkan dari saya?”
“Jagalah dokumen ini. Pastikan semuanya tetap utuh dan berada di tempat yang aman. Jika suatu hari aku tak lagi mampu menjelaskan apa pun kepadanya, aku ingin ada seseorang yang dapat menuntunnya menemukan apa yang memang menjadi haknya.”
Risma terdiam cukup lama. Ia memahami bahwa permintaan itu bukan sekadar urusan dokumen atau kekayaan. Raden Mas Arya sedang menitipkan sesuatu yang jauh lebih besar: masa depan seorang anak yang mungkin akan kehilangan arah ketika orang terakhir yang menjadi tempatnya bersandar telah tiada.
“Raden,” pada akhirnya, “saya akan menjaganya. Bukan semata-mata karena harta yang Raden titipkan, melainkan karena saya tahu betapa besar kasih sayang Raden kepada Nirmala.”
Untuk pertama kalinya sore itu, Raden Mas Arya tersenyum lebih lepas.
“Ada satu hal lagi yang ingin kuminta darimu.”
“Katakanlah, Raden.”
“Jangan biarkan Nirmala mengetahui semuanya hanya karena ia sedang terluka atau terdesak keadaan. Aku ingin ia memahami bahwa peninggalan itu bukan pengganti kasih sayang yang telah hilang, bukan pula jalan pintas untuk melupakan kesedihannya.”
Raden Mas Arya berhenti sejenak, menelan napas yang terasa berat.
“Jika waktunya tiba, tuntunlah ia dengan baik. Biarkan ia mengetahui kebenaran tanpa merasa bahwa seluruh hidupnya selama ini hanyalah sebuah kebohongan.”
Risma menggenggam map itu erat-erat.
“Saya berjanji, Raden.”
Angin sore berembus melewati beranda. Untuk sesaat, keduanya membiarkan kesunyian mengisi ruang di antara mereka.
Lalu Radwn Mas Arya kembali berbicara, kali ini dengan suara yang jauh lebih lirih.
“Dahulu, kamulah yang menuntunku menemukan Rani. Kamu tahu betapa panjang jalan yang harus kutempuh sebelum akhirnya aku dapat memeluknya kembali. Kini aku meminta bantuanmu sekali lagi, Risma. Jika suatu hari aku tak lagi berada di sisi Nirmala, bantulah ia menemukan jalan hidupnya sendiri.”
Mata Risma mulai berkaca-kaca. Perempuan paruh baya itu mengingat kembali pada masa-masa ketika ia menuntun Raden Mas Arya menemukan Rani.
“Raden tidak perlu meragukan saya. Ada janji yang akan tetap saya pegang, bahkan ketika Raden sudah tidak lagi berada di sini.”
Raden Mas Arya mengangguk pelan. Ia kemudian memandang langit yang perlahan berubah jingga.
“Kalau begitu, aku bisa sedikit lebih tenang.”
Sore itu berlalu tanpa banyak kata. Risma membawa pulang map itu dan menyimpannya dengan penuh kehati-hatian. Sejak saat itu, ia memikul sebuah rahasia yang tak boleh dibuka sebelum waktunya tiba.
Sementara itu, Raden Mas Arya terus menjalani hari-harinya bersama Nirmala, tanpa pernah benar-benar mengetahui berapa banyak waktu yang masih tersisa baginya.
Tentang peninggalan itu, hanya Risma yang mengetahui keberadaannya selain Raden Mas Arya.”
Sementara Nirmala terus melangkah, meniti hari-hari dengan keringat dan keteguhan hati, tanpa pernah membayangkan bahwa jauh sebelum kepergian sang ayah, sebuah rahasia telah dipercayakan kepada seseorang yang kelak akan mengubah arah hidupnya.
Ia mengira masa depan harus dibangun dari nol.
Padahal, tanpa sepengetahuannya, sebagian dari masa depan itu telah lama menunggunya.
Bersambung...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya