SISA CINTA DI AKHIR CERITA
Ada perjalanan yang begitu jauh bukan karena panjangnya jalan, melainkan karena waktu yang dibutuhkan untuk menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang.
Bagi Raden Mas Arya, perjalanan itu telah berlangsung bertahun-tahun.
Ia telah menyusuri pematang sawah, menembus hutan berkabut, mengetuk pintu-pintu kenangan, dan mengumpulkan serpihan masa lalu yang tak lagi utuh dalam ingatannya. Sebuah liontin, foto yang mulai memudar, serta janji yang terus bergaung di dalam dada telah menuntunnya menuju satu nama yang tak pernah benar-benar lenyap: Rani.
Nama itu kini bukan lagi sekadar bayangan yang berkelebat di antara kabut. Bukan pula sosok samar yang menghilang setiap kali hendak ia dekati. Rani berada di suatu tempat. Dan kali ini, pemuda itu tidak akan membiarkan dirinya kembali pulang hanya dengan membawa kerinduan.
Namun, ia belum tahu bahwa di ujung pencarian, ada kenyataan yang jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan.
Sebab, terkadang, takdir tidak mengembalikan seseorang dalam keadaan yang sama seperti ketika ia pergi. Takdir terkadang hanya mempertemukan dua jiwa yang masih menyimpan sisa cinta, sementara waktu dan penderitaan telah mengubah hampir segala sesuatu di antara keduanya.
Pagi itu, Raden Mas Arya kembali mendatangi rumah tua tempat ia pertama kali memperoleh petunjuk tentang Rani.
Udara masih menyisakan dingin malam. Embun bergelayut di ujung dedaunan, sementara cahaya matahari perlahan merambat di sela-sela pepohonan, membawa kehangatan yang enggan singgah di hatinya.
Di beranda, seorang perempuan paruh baya yang pernah membantunya menemukan jejak masa lalu sedang duduk memandangi tanaman yang selalu dirawatnya dengan penuh kesabaran.
Dari kejauhan, Arya menghampirinya dengan langkah penuh harap.
“Bi, saya ingin bertanya lagi tentang Rani.”
Perempuan itu menoleh. Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Arya seketika menghentikan langkah.
“Den Arya ... bagaimana apa sudah tahu di mana dia berada?” tanyanya lirih.
Arya menggeleng pelan.
“Belum, Bi. Tapi saya merasa semakin dekat.”
Perempuan itu terdiam cukup lama, seolah sedang menimbang beban rahasia yang telah lama ia simpan di dalam dada. Kemudian, ia berbisik pelan, “Mungkin sudah waktunya Aden bertemu seseorang yang bisa membantu.”
“Siapa, Bi?”
“Risma. Dia sahabat Rani. Selama ini, dialah yang paling sering menjenguknya.”
Nama itu terdengar asing di telinga Arya, tetapi setitik harapan yang nyaris padam kembali menyala.
“Bisakah Bibi memberi tahu saya di mana bisa menemuinya?”
Perempuan paruh baya itu menyebutkan alamat sebuah rumah sederhana di ujung desa. Sebelum Arya pergi, ia sempat menggenggam jemari pemuda itu.
“Den Aryaa ... ada hal yang harus aden terima dan pahami sebelum bertemu Rani.”
Arya menatapnya lekat-lekat.
“Perempuan yang den arya cari mungkin tidak lagi sama seperti yang aden cintai dahulu. Waktu telah merenggut banyak hal dari hidupnya.”
Arya menunduk. Jemarinya meremas liontin perak di dalam saku.
“Saya mengerti, Bi.”
Namun, sesungguhnya ia belum benar-benar mengerti. Ia hanya tahu satu hal: tak peduli seperti apa keadaan Rani sekarang, ia ingin melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Rumah Risma berdiri di tepi jalan kecil, dinaungi keteduhan pohon-pohon tua. Bangunannya bersahaja, dengan halaman yang dipenuhi pot bunga dan sebuah bangku kayu di dekat jendela.
Raden Mas Arya menghampiri rumah itu dengan langkah tergesa, bahkan lebih cepat daripada debar jantungnya sendiri.
Tak lama kemudian, seorang perempuan seusianya muncul dari dalam rumah. Ia menatap Arya dengan kerutan tipis di dahi.
“Maaf, mencari siapa?”
“Saya Arya. Saya sedang mencari Risma.”
Perempuan itu terdiam. Matanya menyusuri wajah pemuda itu, seakan sedang mencocokkan sosok di hadapannya dengan cerita yang telah lama tersimpan dalam ingatan.
“Saya Risma,” jawabnya lembut.
Raden Mas Arya menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan perlahan untuk meredam kegugupannya.
“Saya ingin bertanya tentang Rani.”
Sekejap, wajah Risma berubah. Tangannya yang semula memegang gagang pintu perlahan mengendur.
“Siapa kamu sebenarnya?” tanyanya, kali ini dengan suara yang lebih waspada.
Raden Mas Arya mengeluarkan sebuah foto lama dari sakunya. Foto dirinya dan Rani di bawah senja yang mulai temaram.
Risma mengambil foto itu. Jemarinya bergetar saat menyentuh gambar perempuan yang bersandar manja di bahu seorang pemuda. Matanya seketika berkaca-kaca.
“Duh, Gusti ...” bisiknya, seakan tak percaya. “Jadi, kau benar-benar kembali.”
Raden Mas Arya terdiam sejenak.
“Kau mengenalku?”
Risma mengangguk perlahan.
“Rani pernah bercerita tentangmu berkali-kali. Bahkan ketika semua orang menyuruhnya berhenti menunggu, dia selalu percaya bahwa suatu hari nanti kau akan pulang.”
Kalimat itu menghantam tepat di dada Arya, menyisakan rasa sesak yang teramat dalam.
“Di mana dia, Risma?”
Risma menatapnya lama. Ada belas kasih, keraguan, sekaligus duka yang teramat dalam di matanya.
“Dia masih dirawat.”
Arya menelan ludah dengan susah payah.
“Apakah ... apakah saya boleh menemuinya?”
Risma memejamkan mata sejenak sebelum mengangguk.
“Boleh. Aku akan mengantarmu.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara nyaris berbisik, seolah menyampaikan sebuah permohonan terakhir.
“Tapi berjanjilah, jangan mengharapkan Rani yang sama seperti dalam foto itu.”
Radwn Mas Arya menatap kembali foto di genggamannya.
Perempuan dalam foto itu tersenyum begitu manis. Matanya berbinar, pipinya kemerahan, memancarkan kebahagiaan yang seolah utuh tanpa cela. Arya mengusap permukaan foto itu dengan ibu jarinya.
“Aku tidak datang untuk mencari wajah yang sempurna, Risma,” ucapnya parau. “Aku datang karena dia adalah Rani, gadis yang dengan tulus pernah menemani suka dan dukaku.”
Perjalanan menuju rumah sakit jiwa di kota itu terasa jauh lebih panjang daripada yang tertera di peta.
Sepanjang jalan, Risma bercerita tentang hari-hari Rani. Tidak semuanya, hanya hal-hal mendasar agar Arya tidak datang dengan angan-angan yang keliru.
Rani kerap kehilangan jejak waktu. Ingatannya bagai pecahan cermin; kadang ia tenang menikmati bias cahaya matahari, kadang pula gelisah dan tersesat di dalam labirin pikirannya sendiri.
“Aku sering membawakan bunga,” kenang Risma lirih. “Kadang dia menyukainya. Kadang dia hanya menatapnya kosong, lalu bertanya apakah bunga itu milik seseorang.”
Raden Mas Arya mendengarkan dalam sunyi.
Pikirannya melayang pada sore-sore di masa lalu, ketika tawa Rani menjadi melodi terindah di telinganya, ketika janji-janji manis terucap di bawah naungan senja.
Dan kini, jangankan menepati janjinya, mengenali wajahnya pun mungkin menjadi sesuatu yang sulit bagi Rani.
Tak lama kemudian, bangunan berpagar tinggi itu tampak di hadapan mereka.
Arya melangkah turun dengan kaki yang terasa berat oleh timbunan rindu dan kecemasan. Risma membimbingnya menyusuri koridor berlantai putih.
Di ujung lorong, langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu kayu bernomor tampak samar.
Di baliknya, duduk seorang perempuan yang bertahun-tahun merajut sepi dalam penantian yang tak berujung.
Mereka menemukannya di dekat jendela yang menghadap ke halaman sepi. Rani duduk mematung, mengenakan pakaian sederhana berwarna pucat. Tangannya tertangkup longgar di pangkuan, sementara pandangannya terpaku pada dedaunan kering yang gugur ditiup angin.
Untuk beberapa saat, Arya hanya terpaku di ambang pintu. Kakinya seolah berakar di lantai.
Perempuan di hadapannya jauh, amat jauh berbeda dari sosok yang selama ini tersimpan dalam kenangannya.
Tubuhnya begitu kurus. Bahunya tampak ringkih di balik pakaian yang dikenakannya. Rambutnya kusam, kehilangan kilaunya. Wajahnya pucat, dengan lingkaran gelap yang membingkai mata cekungnya. Tak ada lagi keceriaan yang dahulu membuat hati Arya berbunga-bunga.
Yang tersisa hanyalah seorang perempuan yang telah lama bergulat dengan penderitaan dan kesendirian.
Inikah Rani? batin Arya menjerit.
Air matanya tumpah sebelum sempat ia cegah. Risma berdiri di sampingnya, membiarkan Raden Mas Arya menghadapi pahitnya kenyataan.
“Rani ...” panggil Risma lembut.
Perempuan di dekat jendela itu tak bergeming sedikit pun. Alisnya berkerut tipis dalam kebingungan yang senyap.
“Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”
Rani menoleh perlahan kepada Risma, lalu mengalihkan pandangannya pada sosok asing di hadapannya.
Tidak ada kilat pengenalan. Tidak ada senyum yang merekah. Hanya sepasang mata lelah yang menatap seorang asing dengan rasa ingin tahu yang samar.
Arya melangkah mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Setiap jengkal jarak terasa seperti jurang pemisah antara masa lalu dan kenyataan saat ini.
“Rani ...” bisiknya gemetar.
Rani menatapnya lebih lekat. Keningnya semakin berkerut, seakan berusaha menggali sesuatu dari dasar pikirannya yang telah kabur oleh kabut tebal.
Raden Mas Arya perlahan tersimpuh di hadapannya. Ia tak peduli pada air mata yang membasahi wajahnya, tak peduli pada rongga dadanya yang terasa sesak oleh napasnya sendiri.
“Aku pulang, Sayang ...”
Kalimat itu akhirnya terucap, sebuah kalimat yang terlambat bertahun-tahun lamanya.
“Aku pulang ... Maafkan aku karena begitu lama.”
Rani tidak menjawab. Tatapannya berganti-ganti antara wajah Arya dan jemari lelaki itu yang terulur ke arahnya.
Dengan sangat berhati-hati, Arya meraih tangan Rani. Jemari itu terasa begitu dingin, kecil, dan rapuh laksana ranting kering di musim kemarau. Ia mengecup punggung tangan itu, lalu menempelkannya perlahan ke dadanya sendiri.
“Dengar ... ini aku. Orang yang pernah menemanimu. Orang yang berjanji akan selalu bersamamu.”
Suara Arya tercekat di tenggorokan.
“Maafkan aku ...”
Rani tertegun. Ia memandang lelaki yang kini tersedu di hadapannya. Perlahan, dengan gerakan kaku, Rani mengangkat tangannya. Ujung jemarinya yang kurus menyentuh pipi Arya, mengusap jejak air mata di sana dengan keheranan yang polos.
“Kenapa ...?” bisiknya lemah.
Dengan tatapan sayu, Rani melontarkan pertanyaan sederhana itu.
“Kenapa kamu menangis?”
Pertanyaan tersebut membuat pertahanan terakhir Arya runtuh. Ia tersenyum getir di antara isak tangisnya.
“Karena aku menemukanmu, Sayang ... Karena aku mencarimu.”
Rani terdiam. Ada denyut asing yang bergetar di lubuk hatinya, seperti gema melodi lama yang liriknya telah lama sirna. Bibirnya bergetar, dan perlahan, air mata menetes dari matanya sendiri tanpa ia ketahui alasannya.
“Aku ... aku tidak tahu,” lirih Rani dengan suara serak. “Aku tidak tahu kenapa rasanya sedih sekali.”
Melihat air mata itu, Arya tak sanggup lagi menahan diri. Ia merengkuh tubuh ringkih itu ke dalam dekapannya, membawanya ke dalam kehangatan yang telah lama dirindukannya.
Rani sempat menegang. Namun, beberapa saat kemudian, ia mulai merasa tenang dalam dekapan yang terasa begitu akrab bagi jiwanya, meski asing bagi ingatannya.
Ia mencengkeram erat pakaian Arya, menenggelamkan wajah di dada lelaki itu, lalu menangis sejadi-jadinya.
Bukan karena ia ingat siapa Arya, melainkan karena kehangatan itu memberinya rasa aman yang telah lama hilang.
“Jangan pergi ...” bisik Rani di sela-sela isak tangisnya.
Arya memejamkan mata, mempererat dekapannya seolah ingin menyatukan kembali serpihan jiwa Rani yang berserakan.
“Tidak, Sayang ... Aku di sini. Aku tidak akan pergi.”
Di sudut ruangan, Risma menyeka air matanya dalam diam.
Ia tahu, pertemuan itu tidak serta-merta mengembalikan ingatan Rani. Namun, setidaknya, ada dua jiwa yang saling menemukan di tengah reruntuhan waktu: yang satu menangis karena rindu, sementara yang lain menangis karena kehangatan yang kembali menyapa sunyi.
Ketika tangis Rani mereda, ia masih bersandar nyaman di dada Arya. Jemarinya masih setia meremas kain kemeja lelaki itu.
Arya mengelus rambut Rani dengan tulus.
“Dulu,” bisiknya lembut, “kamu selalu marah kalau aku datang terlambat. Kamu melipat tangan di dada dan pura-pura tidak peduli.”
Rani mendongak, menatap wajah Arya dengan mata sayunya.
“Apakah ... kita pernah bersama sebelumnya?”
Arya tersenyum tipis, meski hatinya bergemuruh hebat.
“Iya,” jawabnya penuh keyakinan. “Kita pernah bersama sayang... Tapi kamu tidak perlu memaksakan diri mengingat semuanya hari ini.”
Ia menggenggam jemari Rani dengan lembut.
“Kita bisa berkenalan sekali lagi, Pelan-pelan.”
Rani tidak menjawab. Namun, dekapannya semakin erat, seolah takut lelaki itu kembali lenyap ditelan kabut.
Di luar jendela, sang surya perlahan bergeser, menyinari ruangan putih itu dengan bias keemasan.
Sebuah permulaan baru telah tumbuh di atas reruntuhan masa lalu. Bukan kepulangan yang serta-merta menghapus luka, melainkan ketulusan untuk tetap tinggal dan merawat setiap serpihan rapuh yang tersisa.
Namun, jauh di balik keheningan kamar rumah sakit itu, badai lain masih menunggu untuk menerjang.
Di dalam dada Raden Mas Arya, terselip bara amarah yang tak lagi sanggup ia padamkan.
Kilas balik masalalu berkelebat, membawa satu nama yang selama ini ikut mengunci takdir kelam Rani. Sebuah nama milik seseorang yang tega merobek kebahagiaan mereka dengan cara yang paling pengecut.
Tokecang.
Sahabatnya sendiri.
Orang yang paling ia percaya, tetapi justru menjadi duri paling tajam di balik kehancuran hidup Rani.
Kepalan tangan Arya mengeras. Amarah membakar dadanya, mendesak naik, menuntut sebuah perhitungan yang belum tuntas.
Malam itu, di bawah temaram lampu-lampu pelita desa yang sunyi, bara dalam dada Raden Mas Arya menjelma badai yang tak terperi.
Ia teringat bagaimana sahabat yang dahulu dipercayainya telah menjadi dalang di balik kehancuran hidup Rani melalui praktik ilmu hitam yang keji.
Dengan langkah tegas dan sisa-sisa amarah yang tertahan, Arya mendatangi tempat persembunyian Tokecang di balik perbukitan.
Tidak ada perkelahian yang riuh. Tidak ada pertarungan panjang yang mengguncang malam.
Pada akhirnya, Tokecang harus menanggung akibat dari perbuatannya sendiri. Ia hidup dalam keterasingan, dibayangi ketakutan dan dihantui kehancuran batinnya. Ilmu hitam yang selama ini ia banggakan justru menjadi sumber ketakutan yang perlahan meremukkan sisa-sisa hidupnya.
Arya meninggalkan tempat itu tanpa kemenangan yang perlu dirayakan.
Sebab, baginya, tidak ada kemenangan sejati dalam kehancuran orang lain. Ia hanya ingin menutup lembaran kelam yang selama bertahun-tahun telah merenggut kebahagiaannya dan Rani.
Setelah badai masa lalu itu berlalu, Arya kembali ke rumah sakit.
Ia tidak lagi datang sebagai lelaki yang sekadar mencari. Kali ini, ia datang dengan tekad untuk menemani.
Dengan persetujuan dan pendampingan yang diperlukan, ia membawa Rani menuju kehidupan baru. Bukan kembali ke masa lalu yang telah direnggut paksa, melainkan menuju sebuah rumah sederhana di tepian kota yang dikelilingi semilir angin dan aroma tanah basah.
Pusara takdir.
Kesembuhan Rani tidak datang dalam semalam.
Hari-hari mereka dipenuhi proses yang panjang. Ada saat-saat ketika Rani mampu tersenyum dan berbincang dengan tenang, tetapi ada pula masa ketika pikirannya kembali diselimuti kebingungan. Arya belajar memahami bahwa cinta bukanlah kekuatan ajaib yang mampu menghapus seluruh luka, melainkan kesediaan untuk mendampingi seseorang melewati hari-hari yang tidak selalu mudah.
Dengan dukungan perawatan yang tepat, pendampingan, serta kasih sayang yang tak pernah putus, perlahan-lahan Rani mulai menemukan kembali ketenangan dalam hidupnya.
Raden Mas Arya pun menepati janjinya.
Ia tidak memaksakan Rani mengingat masa lalu. Ia tidak menuntut perempuan itu kembali menjadi sosok yang pernah dikenalnya. Ia hanya berusaha menghadirkan hari-hari yang aman, hangat, dan penuh kesabaran.
Setelah keadaan Rani semakin stabil, keduanya akhirnya mengikat kembali cinta mereka dalam sebuah talipernikahan.
Di bawah satu atap yang halal, mereka mulai merajut kehidupan baru. Bukan sebagai dua manusia yang kembali utuh seperti dahulu, melainkan sebagai dua jiwa yang telah mengenal kehilangan dan memilih untuk tetap berjalan bersama.
Perlahan-lahan, senyum Rani kembali menghiasi rumah kecil mereka.
Dan tak lama berselang, tangis seorang bayi perempuan memecah keheningan rumah itu.
Anugerah terindah akhirnya hadir di tengah kehidupan mereka: seorang putri kecil yang diberi nama Nirmala.
Kehadiran Nirmala membawa kehangatan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Tangisnya menjadi melodi baru di antara dinding rumah, sementara senyum mungilnya menghadirkan alasan untuk terus menatap hari esok.
Nirmala tumbuh dengan binar mata Rani yang dahulu begitu dicintai Arya. Dalam setiap senyumnya, Arya seolah menemukan kembali serpihan kebahagiaan yang pernah hilang.
Bagi mereka, Nirmala bukan sekadar buah cinta, melainkan lambang harapan yang tumbuh setelah bertahun-tahun diliputi penderitaan.
Ia menjadi penawar luka, malaikat kecil yang menyatukan hari-hari mereka dalam kehangatan keluarga.
Namun, kebahagiaan manusia kerap kali diuji oleh batas waktu.
Tahun-tahun berlalu begitu cepat, hingga pada suatu senja yang temaram, takdir yang telah digariskan oleh Ilahi memanggil Rani kembali ke pangkuan Sang Pencipta.
Penyakit yang diam-diam menggerogoti tubuh ringkihnya akhirnya merenggut napas terakhir Rani di sisi Arya.
Perempuan itu pergi, meninggalkan sunyi yang teramat dalam.
Arya menggenggam tangan istrinya yang mulai dingin. Matanya basah, tetapi bibirnya tetap berusaha menyunggingkan senyum.
Ia teringat janji-janji yang pernah mereka ucapkan di bawah langit senja. Tentang kesetiaan, tentang kepulangan, dan tentang keinginan sederhana untuk menua bersama.
Namun, takdir hanya mengizinkannya menepati sebagian dari janji itu.
Rani telah pergi lebih dahulu.
Sejak hari itu, Raden Mas Arya menjalani sisa usianya di rumah yang sama, ditemani bayang-bayang kenangan tentang perempuan yang telah mengajarkannya arti kesetiaan.
Tahun-tahun berlalu bagai desau angin senja, membawa terbang masa muda. Rambutnya kini seputih salju yang turun di puncak usia, sementara langkahnya bergeser pelan, berdampingan dengan sunyi yang kian lekat memeluk hari-harinya.
Meski demikian, ia tetap merawat rumah kecil mereka. Pot-pot bunga di beranda masih disiraminya setiap pagi. Sesekali, ia duduk di kursi rotan dekat jendela, memandangi halaman yang dahulu menjadi saksi kebahagiaan mereka.
Di sanalah ia sering mengingat Rani.
Bukan hanya Rani yang terbaring lemah di rumah sakit, melainkan juga perempuan muda yang dahulu tertawa lepas di bawah senja, yang menemaninya melewati masa-masa sulit, dan yang akhirnya menjadi rumah bagi hatinya.
Kini, Nirmala telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik jelita.
Wajah, senyum, dan kelembutan hatinya begitu mirip dengan almarhumah ibunya, seolah takdir sengaja menitipkan sebagian pesona Rani dalam diri putri mereka.
Namun, Nirmala bukanlah pengganti ibunya.
Ia adalah dirinya sendiri, dengan kehidupan, harapan, dan masa depan yang harus ditempuhnya.
Dari sang ibu, ia mewarisi kelembutan. Dari sang ayah, ia belajar keteguhan dan kesetiaan.
Dengan penuh kasih sayang, Nirmala merawat Raden Mas Arya yang semakin renta. Ia menemani hari-hari ayahnya, menyiapkan makanan, mengingatkan jadwal pengobatan, dan mendengarkan cerita-cerita lama yang tak pernah bosan diulang oleh lelaki tua itu.
Terkadang, Arya bercerita tentang masa mudanya bersama Rani.
Terkadang, ia hanya diam, menatap foto usang yang tersimpan di atas meja.
Nirmala memahami bahwa di balik kesunyian ayahnya, ada cinta yang tak pernah benar-benar berakhir.
Di ujung senja itu...
Waktu terus berjalan hingga akhirnya tibalah hari ketika tubuh Raden Mas Arya tak lagi mampu menopang sisa-sisa kehidupannya.
Di ambang kepulangannya menyusul Rani, ia berbaring lemah di ranjang. Napasnya pendek, sementara tatapannya mulai kabur dimakan usia.
Nirmala duduk di sisi ranjang ayahnya, ia duduk tepat di hadapan sang ayah menggenggam tangan orangtua itu penuh harap.
“Ayah ...” panggilnya lirih.
Arya membuka mata perlahan.
“Nirmala ... kemarilah, Nak.”
Nirmala mendekatkan wajahnya. Dengan tangan yang gemetar, Arya meraih jemari putrinya dan menggenggamnya erat-erat.
“Ada sesuatu yang ingin Ayah sampaikan kepadamu.”
Nirmala menahan air mata.
“Iya, Ayah. Nirmala mendengarkan.”
Raden Mas Arya menarik napas perlahan. Ia menoleh ke arah jendela, tempat cahaya senja mulai memudar dan malam perlahan mengambil alih cakrawala.
“Nirmala, anakku ... lihatlah ke luar jendela itu. Malam akan segera berganti fajar, dan angin senja selalu tahu ke mana ia harus pulang.”
Ia berhenti sejenak, mengumpulkan sisa tenaganya.
“Jangan tangisi kepergian Ayah. Sebab, di ujung jalan sana, ibumu telah lama menanti dengan senyum yang sama seperti hari pertama ia memeluk hatiku.”
Air mata mengalir di pipi Nirmala.
Raden Mas Arya tersenyum tipis, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin lirih.
“Hidup ini fana, Nak. Tetapi cinta yang tulus tidak pernah benar-benar mati. Ia menjelma embun di daun-daun, menjelma rintik hujan di kaca jendela, dan menjelma dirimu ... bukti terindah bahwa waktu tidak pernah benar-benar mampu memisahkan dua jiwa yang telah menemukan takdirnya.”
Nirmala menggenggam tangan ayahnya semakin erat.
“Ayah, jangan tinggalkan Nirmala ...”
Raden Mas Arya menatap putrinya dengan kelembutan yang sama seperti ketika ia dahulu memandang Rani.
“Nirmala, anakku..., tidak ada yang benar-benar pergi selama cinta masih hidup di dalam hati.”
Meski tampak di paksakan, senyum tipis itu kembali menghiasi wajah Nirmala.
Sesaat kemudian, genggaman tangan Arya mengendur perlahan. Napasnya terembus untuk terakhir kalinya, mengantarkan kepergiannya dalam ketenangan, seolah ia akhirnya telah sampai di tempat yang selama ini dirindukannya.
Di sana, dalam bayang-bayang akhir kehidupannya, ia membayangkan Rani menunggu dengan senyum yang tak pernah lekang oleh waktu.
Nirmala mendekap tubuh sang ayah, membiarkan air matanya jatuh dalam keheningan malam.
Malam itu, ia kehilangan kedua orang tuanya untuk kedua kalinya: ibunya telah lebih dahulu pergi, dan kini ayahnya menyusul dalam perjalanan yang tak dapat ditunda.
Namun, dari keduanya, ia mewarisi sesuatu yang tak akan pernah mampu direnggut oleh kematian.
Cinta.
Udara pagi di halaman rumah itu masih membawa aroma tanah basah dan sisa embun yang menggantung di ujung dedaunan.
Namun, bagi Nirmala, rumah sederhana di tepian kota itu kini terasa jauh lebih luas dan sepi.
Hari-hari yang biasanya diisi oleh suara langkah pelan sang ayah, derit kursi rotan, atau isyarat tangan meminta secangkir kopi hangat, kini telah digantikan oleh keheningan yang panjang.
Raden Mas Arya telah pergi, menyusul perempuan yang selama bertahun-tahun hidup dalam kenangan dan dekapannya: ibunya, Rani.
Nirmala berdiri di beranda, memandangi pot-pot bunga yang dahulu dirawat ayahnya dengan telaten.
Di usia mudanya, ia kini harus memikul warisan terberat yang ditinggalkan kedua orang tuanya. Bukan harta benda, melainkan kisah kehidupan yang penuh luka, keteguhan yang ditempa penderitaan, serta warisan cinta yang begitu tulus sekaligus menyayat hati.
Wajahnya yang jelita, senyumnya yang tenang, serta garis matanya yang teduh mengingatkan siapa pun pada sang ibu, Rani.
Namun, keteguhan di dadanya adalah tempaan sang ayah, lelaki yang menghabiskan sisa usianya merawat cinta di tengah badai ingatan yang rapuh.
Nirmala mengangkat wajah, memandangi langit yang perlahan cerah.
Ia tahu, suatu hari nanti, dirinya pun akan melangkah menuju takdirnya sendiri. Akan ada perjalanan yang harus ditempuh, kehilangan yang mungkin harus diterima, serta cinta yang kelak harus diperjuangkan dengan caranya sendiri.
Di dalam takdirnya, dua jiwa telah menyelesaikan perjalanan mereka.
Namun, cinta yang mereka tinggalkan masih hidup dalam dirinya.
Di antara bunga-bunga yang menyimpan embun pagi, Nirmala akhirnya memahami bahwa cinta tidak selalu meninggalkan seseorang dalam wujud yang dapat dipeluk.
Terkadang, cinta tinggal sebagai kenangan, tumbuh sebagai keteguhan, lalu mekar kembali dalam kehidupan seseorang yang bahkan belum pernah menyaksikan awal kisah.
Dan pagi itu, di bawah langit yang perlahan membiru, Nirmala melangkah meninggalkan beranda.
Ia tidak tahu ke mana takdir akan membawanya.
Namun, ia tahu satu hal: cinta kedua orang tuanya bukanlah akhir dari perjalanannya.
Sebab, setelah senja paling panjang sekalipun, selalu ada ufuk tempat pelangi menunggu untuk dilahirkan.
Dua jiwa, satu takdir.
Selesai.
---
Nantikan dalam kisah berikutnya:
PELANGI CINTA DI UFUK SENJA
Nirmala