Entri yang Diunggulkan
--- Pagi itu, udara terasa segar setelah hujan semalam. Embun masih menempel di ujung daun, dan suara ayam peliharaan mulai ramai di belakang rumah. Gadis itu baru saja selesai menyapu halaman saat ibunya memanggil dari dalam rumah. “Ndok… ada tamu.” Ia melangkah ke ruang tamu dengan langkah santai. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Di sana, lelaki itu duduk rapi, mengenakan kemeja putih yang jarang dipakainya, celana hitam, dan wajah yang sedikit pucat mungkin karena gugup. Di sampingnya, ada dua orang: ibunya, dan seorang paman dari kota. Gadis itu tercekat. Pandangan mereka bertemu. Lelaki itu tidak senyum seperti biasa wajahnya serius, tapi matanya tetap hangat. “Aku datang… bukan cuma untuk ngobrol atau ngopi,” katanya pelan. “Aku datang untuk minta izin.” Gadis itu menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu hidup kita nggak mewah, nggak sempurna. Tapi aku mau kita jalanin bareng. Aku mau bangun pagi dan ngelihat kamu lagi masak air. Aku m...
DUA JIWA, SATU TAKDIR...eps.7
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
DI BALIK PERASAAN DAN KEINGINAN
Malam merangkak turun di atas desa itu.
Kabut tipis menyelimuti pematang sawah, sementara suara hewan malam bersahutan dari balik rerumputan.
Di beranda rumah tua, pemuda itu duduk termenung, menggenggam liontin perak yang seolah menyimpan serpihan masa lalu.
Perkataan lelaki tua yang pernah ia temui beberapa waktu lalu kembali terngiang di benaknya.
“Terkadang, orang yang paling dekat dengan kita adalah orang yang paling tahu di mana harus menyembunyikan kebenaran.”
Tokecang.
Nama itu berulang kali melintas dalam pikirannya.
“Tokecang, aku berharap kau tidak akan pernah mengkhianatiku.”
Gumaman itu meluncur lirih, tetapi mengandung ketegasan yang tak pernah terdengar sebelumnya. Raden Mas Arya bukanlah lelaki yang gemar menghardik siapa pun. Namun, kali ini, kecurigaan yang tumbuh di dalam dadanya mulai mengusik ketenangan yang selama ini ia pertahankan.
"Apakah dia menyembunyikan sesuatu dariku?"
Sahabat lama yang menyambutnya dengan senyum, tetapi menyisakan keganjilan di balik setiap perkataannya.
Mengapa lelaki itu tampak gelisah ketika ditanya tentang kecelakaan?
Mengapa ia mengetahui begitu banyak tentang penderitaan Rani, tetapi tidak mampu menjelaskan ke mana perempuan itu menghilang?
Dan mengapa, setiap kali nama Rani disebut, tatapan Tokecang seolah menyimpan sesuatu yang enggan dibiarkan terungkap?
Sang pemuda itu masih belum menemukan jawabannya.
Namun, jauh sebelum dirinya kembali menginjakkan kaki di desa itu, ada sebuah rahasia yang telah lama membusuk dalam diam.
Rahasia tentang seorang sahabat yang mencintai perempuan yang salah atau mungkin, mencintai dengan cara yang membabi buta.
Bertahun-tahun silam, Tokecang bukanlah orang asing dalam kehidupan Rani.
Ia mengenal perempuan itu sejak mereka masih sangat muda. Ia tahu makanan kesukaannya, tempat-tempat yang sering dikunjunginya, bahkan kebiasaannya menyelipkan rambut ke belakang telinga ketika sedang gugup.
Tokecang menyimpan semua hal kecil itu dalam ingatan.
Sayangnya, ada satu hal yang tak pernah berhasil ia dapatkan.
Hati Rani.
Perempuan itu selalu memperlakukannya sebagai sahabat. Tak lebih dari itu.
Setiap kali Tokecang menawarkan bantuan, Rani menerimanya dengan tulus.
Dan setiap kali lelaki itu melontarkan lelucon, Rani tertawa sewajarnya. Namun, ketika Tokecang mencoba mendekat dengan perasaan yang lebih dalam, perempuan itu selalu menarik garis batas yang sama.
“Aku senang berteman denganmu, Cang. Bukankah kau tahu Mas Arya juga sahabatmu?” Rani menatapnya dengan lembut. “Kau juga tahu, hatiku sudah memilihnya.”
Jawaban itu sederhana, tetapi menghantam Tokecang lebih keras daripada yang ingin ia akui.
Ia tahu siapa lelaki yang dimaksud Rani.
Sahabatnya sendiri.
Pemuda yang kini bahkan tak mampu mengingat namanya.
Sejak saat itu, sesuatu perlahan berubah dalam diri Tokecang.
Persahabatan yang dahulu terasa hangat mulai bercampur dengan iri hati.
Senyum yang ia tunjukkan kepada sang pemuda tetap sama, tetapi di baliknya tumbuh keinginan yang semakin sulit dikendalikan.
Ia mulai membenci hal-hal kecil.
Cara Rani memandang pemuda itu.
Cara perempuan itu tertawa ketika mereka berjalan bersama.
Bahkan janji sederhana untuk pergi ke dermaga yang pernah mereka bicarakan terasa seperti duri yang terus menusuk harga dirinya.
Mengapa dia?
Pertanyaan itu menghantui Tokecang setiap malam.
Apa yang dimilikinya hingga Rani rela menunggunya, sementara aku selalu ada di dekatnya?
Ia tidak pernah menyadari bahwa cinta bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling lama hadir atau siapa yang paling banyak berkorban.
Dan ketika seseorang mulai menganggap cinta sebagai sesuatu yang harus direbut, ia bisa kehilangan batas antara keinginan dan kehancuran.
Malam itu, setelah usahanya kembali ditolak oleh Rani, Tokecang memutuskan pergi dari desa tanpa pamit kepada siapapun.
Ia membawa serta hasil penjualan surat tanah warisan perkebunan tebu dari orang tuanya.
Terbiasa hidup dimanja sejak kecil sebagai pemuda terpandang di kampung, Tokecang tumbuh menjadi sosok yang tak tahan menolak keinginannya sendiri.
Tanpa pernah berpikir panjang bahwa tindakan gegabah itu kelak menuntunnya pada hidup yang terlunta-lunta.
Langkah kakinya menempuh jalanan berbatu, menanjak menuju sebuah rumah terpencil di balik perbukitan.
Rumah itu nyaris tak pernah dijamah warga.
Orang-orang hanya mengenalnya dari desas-desus tentang seorang lelaki tua yang konon mampu mengubah nasib lewat ritual dan ilmu gaib.
Tokecang datang bukan untuk mencari ketenangan.
Ia datang membawa sebuah keinginan yang telah berubah menjadi obsesi.
Di dalam rumah yang diterangi lampu minyak itu, seorang lelaki tua duduk bersila.
Wajahnya keriput, sementara matanya menatap Tokecang seolah mampu membaca kegelisahan yang berusaha disembunyikannya.
“Apa yang kau cari sampai datang kemari pada malam begini?” tanyanya.
“Ada seorang perempuan,” jawabnya pelan. “Aku mencintainya. Tapi hatinya milik orang lain.”
Lelaki tua itu tidak segera menjawab.
“Lalu, apa yang kau inginkan darinya?”
Tokecang menunduk sesaat sebelum mengangkat wajahnya.
“Aku ingin dia melupakan lelaki itu.”
Keheningan memenuhi ruangan.
Lelaki tua itu kemudian menghela napas panjang.
“Kau ingin dia mencintaimu, atau kau hanya tidak sanggup melihatnya mencintai orang lain?”
Pertanyaan itu membuat Tokecang terdiam.
Sebab, untuk pertama kalinya, seseorang mengucapkan sesuatu yang selama ini berusaha ia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.
“Aku hanya ingin dia menjadi milikku.”
Akhirnya, kalimat itu terucap juga. Bukan lagi sebagai harapan yang disembunyikan, melainkan sebagai keinginan yang telah lama tumbuh dan perlahan menelan akal sehatnya.
Malam itu, Tokecang menerima sebuah ritual yang dijanjikan dapat mengubah jalan hatinya. Ia pulang membawa benda-benda yang dimintanya untuk disiapkan, serta keyakinan bahwa kali ini ia akan berhasil.
Ia tidak tahu perbuatan ini akan membuat kerusakan bagi jiwa dan pikirannya, bagi lelaki tua yang ditemuinya mungkin hanya sebuah permintaan.
Ia juga tidak menyadari bahwa keinginannya untuk menguasai hati Rani telah membawanya semakin jauh dari orang yang dahulu ia sebut sahabat.
Namun, satu hal segera terbukti.
Usahanya itupun tetap gagal, dan suatu saat nanti perbuatan itu malah akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Hari-hari berlalu, tetapi Rani tidak menunjukkan perubahan perasaan kepadanya.
Perempuan itu masih menyebut nama sang pemuda dengan kelembutan yang sama. Bahkan ketika lelaki yang dicintainya tak kunjung datang, Rani tetap mempertahankan keyakinan bahwa suatu hari mereka akan bertemu kembali.
Bagi Tokecang, itulah kekalahan yang tak sanggup ia terima.
Dan dari situlah, niat buruknya mulai mencari jalan lain.
Beberapa waktu kemudian, kabar tentang kecelakaan sang pemuda menyebar di desa.
Ia mengalami kecelakaan di jalan ketika sedang dalam perjalanan untuk menemui Rani.
Kondisinya memburuk, ingatannya terganggu, dan keluarganya membawanya pergi ke kota yang jauh untuk mendapatkan perawatan.
Bagi sebagian orang, peristiwa itu adalah kemalangan.
Namun bagi Tokecang, berita tersebut menghadirkan kesempatan yang tak pernah berani ia bayangkan sebelumnya.
Lelaki yang selama ini berdiri di antara dirinya dan Rani telah menghilang.
Akan tetapi, Rani masih menunggu.
Perempuan itu mendatangi tempat-tempat yang biasa mereka kunjungi. Ia bertanya kepada orang-orang yang mungkin mengetahui keberadaan kekasihnya. Berkali-kali ia pulang dengan tangan kosong, tetapi keesokan harinya ia kembali mencari.
Tokecang menyaksikan semuanya.
Pada mulanya, ia hanya diam.
Kemudian, ketika melihat Rani semakin kehilangan ketenangan, ia mulai mengambil keputusan yang kelak akan menghancurkan lebih dari satu kehidupan.
Ia mendatangi Rani dan menyampaikan kabar yang telah diubahnya.
“Sudahlah, Ran,” ucapnya suatu sore. “Mungkin dia memang tidak ingin kembali.”
Rani menatapnya tak percaya.
“Jangan bicara begitu, caang. Kau tahu dia berjanji akan datang.”
Tokecang memalingkan wajah.
“Janji bisa berubah.”
“Tidak.” Suara Rani bergetar. “Dia bukan orang seperti itu.”
Untuk sesaat, Tokecang hampir mengurungkan niatnya. Ia melihat ketulusan yang begitu besar dalam mata perempuan itu ketulusan yang selama ini ia dambakan, tetapi tak pernah berhasil ia dapatkan.
Namun, rasa iri kembali membutakan pikirannya.
“Kalau begitu, tunggulah,” jawabnya dingin. “Sampai kau sendiri sadar bahwa yang kau tunggu mungkin tidak akan pernah kembali.”
Ia pergi meninggalkan Rani yang berdiri terpaku di bawah langit mendung.
Tokecang mengira kebohongan itu akan membuat Rani menyerah.
Ia salah.
Rani justru semakin tulus mempertahankan harapannya.
Hari demi hari, perempuan itu terus menunggu kabar. Ia sulit tidur, kehilangan selera makan, dan mulai menghabiskan waktu dengan menatap jalan yang dahulu biasa dilalui sang pemuda.
Kadang-kadang ia berbicara seolah kekasihnya berada di dekatnya.
Kadang-kadang ia menangis tanpa mampu menjelaskan apa yang sedang dirasakannya.
Ketika seseorang memanggil namanya, ia sering tersentak, lalu bertanya apakah lelaki yang ditunggunya telah pulang.
Keadaannya semakin memburuk.
Orang-orang yang semula menganggap Rani hanya sedang patah hati mulai menyadari bahwa ia membutuhkan pertolongan yang lebih serius.
Keluarganya berusaha merawat Rani, tetapi keadaan perempuan itu terus memburuk.
Setelah berbagai upaya tak membuahkan hasil, ia akhirnya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan kesehatan jiwa.
Di balik dinding-dinding putih tempatnya dirawat, hari-hari Rani berjalan dalam kebingungan.
Ingatan datang dan pergi tanpa pola. Ada kalanya ia tampak tenang, tetapi pada saat lain ia menangis sambil memanggil nama seseorang yang tak mampu lagi ia jelaskan dengan utuh.
Di tempat itulah Rani menjalani hari-hari yang tak lagi dikenalnya.
Ingatan tentang masa lalu datang dan pergi tanpa pola. Ada saat-saat ketika ia tampak tenang, tetapi ada pula saat-saat ketika ia ketakutan, kebingungan, dan memanggil seseorang yang tak kunjung muncul.
Ia tidak lagi mampu menjelaskan dengan utuh siapa yang sedang ditunggunya.
Namun, jauh di balik kebingungan itu, ada satu nama yang sesekali masih meluncur dari bibirnya.
Nama lelaki yang pernah berjanji akan kembali.
Bertahun-tahun kemudian, di desa yang sama, Tokecang berdiri sendirian di belakang rumahnya.
Di tangannya terdapat sebuah benda kecil yang telah lama ia simpan: secarik kertas kusam dengan lipatan yang mulai rapuh.
Ia membukanya perlahan.
Tulisan di atasnya sudah memudar, tetapi satu kalimat masih dapat dibaca dengan jelas.
“Jika sesuatu terjadi padaku, tolong beri tahu Rani bahwa aku sedang dalam perjalanan menemuinya kapanpun itu.”
Tokecang memejamkan mata.
Kertas itu bukan surat dari sang pemuda.
Itu adalah pesan yang pernah sampai ke tangannya pada hari kecelakaan terjadi pesan yang tak pernah ia sampaikan kepada Rani.
Selama bertahun-tahun, ia menyimpan kertas tersebut seperti seseorang menyembunyikan bara di dalam genggaman. Ia tahu bahwa
suatu hari bara itu akan membakar seluruh rahasianya.
Dan kini, pemuda itu telah kembali.
Tokecang meremas kertas tersebut, lalu memasukkannya ke dalam saku.
“Kenapa kau harus kembali sekarang?” bisiknya.
Ia mengira waktu akan mengubur semuanya.
Ia mengira Rani akan melupakan sang kekasih, sedangkan pemuda itu menjalani hidup tanpa pernah mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.
Namun, ia lupa bahwa kebenaran tidak selalu mati hanya karena seseorang berusaha menguburnya.
Di kejauhan, suara langkah terdengar mendekat.
Tokecang segera menyembunyikan kertas itu.
Ketika ia menoleh, pemuda itu berdiri di ambang pintu pagar, menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
“Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu.”
Tokecang berusaha tersenyum.
“Tentang apa?”
Raden Mas Arya mengeluarkan liontin perak dari sakunya, lalu menggenggamnya erat.
“Dulu, saat aku mengalami kecelakaan… apakah kau ada di sana?”
Senyum Tokecang membeku.
Untuk beberapa detik, ia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Lelaki yang bertanya dengan nada datar itu melangkah mendekat, menghampiri.
“Kenapa wajahmu berubah?”
Tokecang menelan ludah. Matanya bergerak gelisah, seolah sedang mencari jalan keluar dari sebuah ruangan yang pintunya telah tertutup rapat.
Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia menjawab,
“Siapa yang mengatakan bahwa aku ada di sana?”
Pemuda itupun tidak menjawab.
Namun, untuk pertama kalinya sejak kembali ke desa, ia merasa bahwa kabut dalam ingatannya mulai terbelah.
Bukan karena ia telah menemukan seluruh kebenaran.
Melainkan karena seseorang di hadapannya baru saja menunjukkan rasa takut yang terlalu besar untuk sebuah pertanyaan sederhana.
Dan di balik ketakutan itu, masih ada rahasia yang lebih kelam.
Bersambung....
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan populer dari blog ini
Harapan yang tak Pernah pupus...eps.11
--- Pagi itu, udara terasa segar setelah hujan semalam. Embun masih menempel di ujung daun, dan suara ayam peliharaan mulai ramai di belakang rumah. Gadis itu baru saja selesai menyapu halaman saat ibunya memanggil dari dalam rumah. “Ndok… ada tamu.” Ia melangkah ke ruang tamu dengan langkah santai. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Di sana, lelaki itu duduk rapi, mengenakan kemeja putih yang jarang dipakainya, celana hitam, dan wajah yang sedikit pucat mungkin karena gugup. Di sampingnya, ada dua orang: ibunya, dan seorang paman dari kota. Gadis itu tercekat. Pandangan mereka bertemu. Lelaki itu tidak senyum seperti biasa wajahnya serius, tapi matanya tetap hangat. “Aku datang… bukan cuma untuk ngobrol atau ngopi,” katanya pelan. “Aku datang untuk minta izin.” Gadis itu menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu hidup kita nggak mewah, nggak sempurna. Tapi aku mau kita jalanin bareng. Aku mau bangun pagi dan ngelihat kamu lagi masak air. Aku m...
PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.3
Sudah tiga bulan berlalu sejak pesan terakhir yang tak dibalas itu. Di papan kalender kecil di dinding kontrakan, setiap tanggal yang ditandai lingkaran merah kini mulai memudar warnanya. Ia masih menghitung hari bukan karena janji, tapi karena rindu yang belum menemukan ujung. Sore itu, ia menerima kabar dari teman sekampung. "Katanya gadismu sering terlihat sama seseorang… yang itu, karibmu sendiri." Kata-kata itu datang ringan, tapi menancap seperti paku di dada. Ia terdiam lama. Lalu tersenyum kecut. “Ah, mungkin cuma salah lihat,” katanya pelan. Namun, malam itu, ia tak bisa memejamkan mata. Ia mencoba menulis surat balasan tapi setiap kalimat berhenti di tengah. "Aku percaya padamu" terasa terlalu berat, sedangkan ...
PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.4
Pagi itu turun dengan perlahan, seperti seseorang yang tak ingin membangunkan rumah yang sedang berduka. Ia bangun tanpa terburu-buru, tanpa mimpi semalam, tanpa beban yang memaksa dada bergetar. Hanya ada keheningan jenis keheningan yang dulu menakutkan, tapi kini terasa seperti ruang kosong yang menunggu diisi sesuatu yang baru. Sudah tiga hari sejak ia kembali. Sudah tiga hari sejak dunia yang ia genggam retak dan pecah tanpa suara. Tiga hari yang awalnya ia kira akan menjadi neraka, tapi justru menjadi cermin yang memantulkan siapa dirinya sebenarnya. Patah hati, rupanya, bukan akhir. Hanya transisi. Hanya ruang untuk bertumbuh. Ia berjalan tanpa tujuan, mengikuti jalan desa yang dulu mengikat kenangan. Melewati pematang sawah yang hijau, udara pagi yang dingin, dan jejak-jejak kecil masa lalu yang bertebaran seperti daun kering. Dulu setiap sudut memanggil sakit. Sekarang hanya memanggil ingatan. Dan ia tersenyum, kecil sekali, hampir tak terlihat. Bukan senyum bahagia. Bukan seny...