Entri yang Diunggulkan
DUA JIWA, SATU TAKDIR...eps.5
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Jejak langkah Rani
Langkah sang pemuda menyusuri jalan berbatu yang masih menyisakan genangan air hujan. Di belakangnya, rumah tua dengan tanaman obat yang tertata rapi perlahan menjauh, meninggalkan kesan ganjil yang sejak tadi mengusik benaknya.
Di seberang jalan, sebuah rumah berdinding kayu berdiri setengah tersembunyi di balik rimbunnya dedaunan. Bingkai jendelanya telah kusam dimakan usia, sementara beberapa bagian dindingnya tampak menghitam akibat kelembapan.
Rumah itu seolah telah lama berdamai dengan kesunyian, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan di luar sana.
Pemuda itu berhenti tepat di depan pintunya.
Entah mengapa, ada dorongan aneh yang membuatnya ingin mengetuk rumah itu, meskipun ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dicarinya.
Setelah pintu di ketuk.
Beberapa saat berlalu sebelum terdengar langkah kaki dari dalam. Pintu kayu itu kemudian terbuka perlahan, memperlihatkan seorang perempuan paruh baya dengan rambut beruban di bagian pelipisnya.
Begitu melihat wajah sang pemuda, perempuan itu mendadak terdiam.
Tatapannya menyapu wajah tamunya itu, seolah sedang mencocokkan sosok yang berdiri di hadapannya dengan sebuah kenangan yang telah lama tersimpan.
Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak ada suara yang segera keluar.
“Ya Gusti…,” desahnya lirih.
Sang pemuda mengernyit, tak memahami perubahan raut wajahnya.
“Maaf, Bibi. Apa saya mengganggu?”
Perempuan paruh baya itu seperti tersadar dari lamunannya.
Ia melangkah sedikit mendekat, menatap wajah lelaki yang berdiri tapat di hadapannya itu dengan sorot mata yang masih menyimpan sedikit keraguan.
“Denmas Arya…?”
Di saat itulah pemuda itu tertegun.
“Maaf, siapa?”
“Denmas Arya, benar ini kamu den?”
Perempuan itu mengulang pertanyaannya, kali ini dengan suara bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca, seolah nama yang baru saja diucapkannya telah membuka kembali pintu kenangan yang selama bertahun-tahun tertutup rapat.
Arya menatapnya kebingungan.
“Bagaimana bibi tahu nama saya? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
Perempuan itu menghela napas panjang. Senyum tipis terbit di wajahnya, bercampur dengan kesedihan yang sulit disembunyikan.
“Ya ampun, Den… tentu saja Bibi mengenalmu. Bibi sudah lama sekali menunggu kabar tentangmu.”
Ia berhenti sejenak, menundukkan kepala sebelum kembali menatap Arya.
“Bibi sampai mengira aden tidak akan pernah kembali ke dusun ini.”
Arya terdiam.
Kata-kata itu terdengar begitu akrab di telinganya, tetapi ia tak menemukan satu pun ingatan yang dapat menjelaskan maknanya.
“Maaf, Bi,” ucapnya hati-hati. “Saya sungguh tidak mengerti. Mengapa Bibi menunggu saya? Sebenarnya, siapa saya bagi Bibi?”
Pertanyaan itu membuat perempuan paruh baya itu terdiam lebih lama.
Ada sesuatu dalam tatapan Arya yang membuatnya mengurungkan niat untuk bertanya lebih jauh.
Lelaki muda itu memang memiliki wajah yang sama dengan seseorang yang pernah dikenalnya, tetapi sorot matanya menyimpan kebingungan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
“Sudahlah, Den. Jangan berdiri di luar terus. Masuklah dulu. Ada sesuatu yang mungkin perlu aden lihat.”
Perempuan itu membuka pintu lebih lebar, lalu mempersilakan tamunya masuk.
Bagian dalam rumah itu sederhana. Perabot kayu tua tertata rapi, sementara aroma kayu kering dan rempah-rempah samar memenuhi ruangan. Sebuah lampu minyak menggantung di sudut ruang tengah, memancarkan cahaya kekuningan yang bergetar setiap kali angin menyusup melalui celah dinding.
Arya duduk di sebuah kursi kayu dekat meja.
Tak lama kemudian, perempuan itu muncul dari kamar bagian dalam sambil membawa sebuah kotak kayu berukir. Permukaannya telah kusam, dengan beberapa bagian ukiran yang mulai terkikis usia.
Ia meletakkan kotak itu di atas meja, lalu mengusap debu tipis yang menempel pada tutupnya.
“Benda ini sudah Bibi simpan bertahun-tahun,” katanya pelan. “Dulu, seseorang menitipkannya kepada Bibi. Ia berpesan agar benda ini dijaga baik-baik.”
Arya memandangi kotak itu dengan penuh tanda tanya.
“Siapa yang menitipkannya, Bi?”
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Jemarinya berhenti di atas ukiran kayu, seolah nama yang hendak disebutnya terasa terlalu berat untuk diucapkan.
“Rani.”
Nama itu seketika membuat Arya menegakkan tubuhnya.
“Rani…?”
Perempuan itu mengangkat wajah.
“Denmas mengenalnya?”
Arya mencoba mengingat. Bayangan seorang gadis di ujung pematang kembali melintas di benaknya, disusul keharuman samar yang sejak tadi terasa begitu akrab.
Namun, semakin keras ia berusaha mengingat, semakin jauh pula bayangan itu seolah menjauh dari jangkauannya.
“Saya tidak tahu, Bi,” jawabnya lirih. “Nama itu terasa akrab. Tapi setiap kali saya mencoba mengingatnya, yang muncul hanya bayangan samar.”
Perempuan paruhbaya itu menatapnya lekat-lekat. Ada kesedihan yang perlahan merayap ke wajahnya, tetapi ia memilih untuk tidak mendesak.
Dengan gerakan hati-hati, ia membuka kotak kayu itu.
Di dalamnya terbaring sebuah buku harian bersampul kulit cokelat kusam. Sudut-sudutnya telah mengelupas, sementara tali pengikatnya tampak rapuh dimakan waktu.
“Ini milik Rani,” ucap perempuan itu. “Bibi tak tahu apakah semua yang tertulis di dalamnya masih berarti bagi Denmas. Tapi mungkin, ada sesuatu yang perlu Denmas ketahui.”
Arya mengulurkan tangan, kemudian berhenti sesaat sebelum menyentuh sampul buku itu.
Entah mengapa, dadanya terasa sesak.
Ia bahkan belum membuka satu halaman pun, tetapi ada perasaan ganjil yang membuat jemarinya gemetar.
“Bolehkah saya membacanya, Bi?”
Perempuan itu mengangguk pelan.
“Bacalah, Den. Barangkali selama ini ada sesuatu yang belum sempat tersampaikan.”
Di bawah temaram cahaya lampu minyak, Arya membuka buku harian itu perlahan.
Lembar-lembar kertasnya menguning, sebagian tepinya mulai rapuh. Aroma kertas tua dan debu tipis terangkat ketika halaman pertama dibalik, seolah waktu yang lama terkurung di dalamnya kembali memperoleh udara.
Tulisan tangan Rani menyambut pandangannya.
Rapi, tetapi pada beberapa bagian tampak tergesa-gesa, seakan kata-kata itu dituliskan oleh seseorang yang sedang berusaha menahan gejolak perasaannya sendiri.
Arya mulai membaca.
“Sampai detik ini, aku masih menunggumu.
Ke mana engkau pergi,? Bukankah kau pernah berjanji akan datang menemuiku di bawah pohon randu ini, setelah senja reda? Bukankah kita telah sepakat untuk membicarakan hari-hari yang pernah kita impikan bersama.
Aku sudah datang lebih awal. Kupikir, kali ini aku tak ingin membuatmu menunggu. Aku bahkan sempat tersenyum sendiri ketika membayangkan apa yang akan kita bicarakan nanti.
Namun, senja perlahan berlalu. Langit menggelap, dan angin malam mulai menyusup di antara dedaunan.
Aku masih bertahan di sana.
Barangkali kau terlambat. Barangkali ada sesuatu yang menghalangimu.
Aku mencoba mencari alasan agar hatiku tidak buru-buru kecewa. Tetapi ketika malam semakin larut dan tempat itu tetap kosong, aku mulai bertanya-tanya…
Apakah menunggu memang harus sesakit ini?”
Pemuda itu seketika menghentikan bacaannya.
Jemarinya mencengkeram sisi buku harian itu tanpa sadar. Ada sesuatu yang terasa menghantam dadanya, begitu dalam hingga ia harus menarik napas panjang untuk meredakan sesak yang tiba-tiba muncul.
Pohon randu.
Senja.
Sebuah janji.
Ketiga hal itu terasa seperti potongan-potongan gambar yang pernah ia lihat, tetapi tak mampu ia susun menjadi sebuah kenangan yang utuh.
Ia memejamkan mata, mencoba menggali sesuatu dari kedalaman pikirannya.
Sekilas, muncul bayangan sebuah jalan basah. Suara seseorang memanggil dari kejauhan. Lalu cahaya yang berkelebat di antara gelap.
Namun, semuanya lenyap sebelum ia sempat memahami apa yang sebenarnya dilihatnya.
Arya membuka mata dengan napas tak teratur.
“Bi…,” panggilnya pelan.
Perempuan paruh baya yang duduk tak jauh darinya segera menoleh.
“Ya, Den?”
“Apakah saya benar-benar pernah berjanji kepada Rani?”
Perempuan itu terdiam.
Matanya beralih pada buku harian yang terbuka di tangan Arya. Ada keraguan di wajahnya, seolah ia sedang menimbang antara menjawab pertanyaan itu atau membiarkan Arya menemukan jawabannya sendiri.
“Bibi tidak tahu den; apa yang masih Denmas arya ingat,” ujarnya.
“Tapi Rani pernah menunggu seseorang di tempat itu. Dan selama bertahun-tahun, ia tak pernah benar-benar berhenti membicarakan janji tersebut.”
Arya menunduk kembali.
“Lalu… mengapa saya tidak ingat apa-apa tentangnya?”
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka.
Perempuan paruh baya itu menghela napas panjang, sesekali menggelengkan kepalanya pelan.
“terkadang waktu membawa seseorang pergi begitu jauh hingga ia sendiri lupa jalan pulang. Tetapi bukan berarti semua yang ditinggalkannya ikut menghilang.”
Arya mengangkat wajah.
Untuk sesaat, ia merasa perempuan itu mengetahui sesuatu yang belum sanggup ia pahami.
Namun, sebelum sempat bertanya lebih jauh, perempuan itu bangkit dan berjalan menuju dapur, dan pertanyaan-pertanyaan yang semakin memenuhi benak samg pemuda.
Arya kembali membalik halaman.
Beberapa lembar berikutnya berisi catatan-catatan pendek tentang hari-hari yang berlalu.
Tentang gerimis yang turun menjelang petang, tentang pohon randu yang tetap berdiri di tempatnya, dan tentang seseorang yang namanya berulang kali muncul di antara baris-baris tulisan itu.
Namanya sendiri.
Arya membaca setiap kalimat dengan dada yang kian berat. Ia belum mengingat siapa Rani sebenarnya, tetapi kesedihan dalam tulisan itu terasa begitu dekat, seolah setiap kata sedang mengetuk pintu yang selama ini terkunci di dalam dirinya.
Kemudian, ia sampai pada sebuah halaman yang tulisannya tampak berbeda.
Tinta di sana sedikit memudar. Beberapa kata tergores tidak rata, seolah ditulis dalam keadaan tergesa atau dengan tangan yang gemetar.
Pemuda itu dengan mantap mendekatkan halaman yang baru di bukanya ke cahaya lampu.
“Hari ini aku mendengar kabar yang membuatku kembali berharap. Namun, aku takut berharap terlalu jauh.
Bagaimana jika aku kembali menunggu? Bagaimana jika kali ini pun aku harus pulang dengan membawa pertanyaan yang sama?
Ada begitu banyak hal yang ingin kutanyakan kepadamu, Ada begitu banyak kata yang telah kusimpan selama ini.
Aku hanya ingin tahu satu hal.
Apakah kau benar-benar melupakanku, atau ada sesuatu yang membuatmu tak pernah bisa kembali?”
Napas Arya tertahan.
Kalimat terakhir itu seolah menembus sesuatu yang jauh di dalam dirinya.
Apakah kau benar-benar melupakanku?
Ia membacanya sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
Tanpa sadar, tangannya bergetar semakin hebat.
“Tidak mungkin…,” gumamnya.
Ia tidak tahu mengapa kalimat itu terasa seperti tuduhan yang ditujukan tepat kepadanya. Ia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di antara dirinya dan perempuan bernama Rani itu.
Namun, untuk pertama kalinya sejak tiba di dusun itu, ia merasakan sesuatu yang lebih berat daripada rasa penasaran.
Kehilangan.
Sebuah kehilangan yang tak mampu ia jelaskan, tetapi terasa begitu nyata.
Pemuda itu terus membalik halaman demi halaman hingga akhirnya ia menemukan bagian terakhir yang ditulisi. Setelahnya, lembar-lembar kosong terbentang, seakan kisah yang hendak dilanjutkan telah terhenti di tengah perjalanan.
Di bagian bawah halaman terakhir itu, tertulis sebuah kalimat pendek.
“Jika suatu hari kita dipertemukan kembali oleh takdir, aku ingin kau tahu jiwaku tidak pernah membencimu.
Aku hanya lelah menunggu seseorang yang tak pernah kutahu alasanya mengapa tidak pernah kembali.”
Lama Arya terpaku pada tulisan tersebut.
Kemudian, setetes air mata jatuh ke atas kertas yang menguning.
Ia segera menyekanya dengan ujung jari, tetapi air mata berikutnya telanjur mengalir di pipinya.
Mengapa ia menangis?
Apa yang sebenarnya telah hilang dari hidupnya?
Dan mengapa nama Rani terasa seperti sesuatu yang seharusnya ia lindungi, tetapi justru telah ia tinggalkan begitu saja?
Tak satu pun pertanyaan itu memiliki jawaban.
Dari balik jendela, suara angin malam menyusup di antara celah-celah kayu. Pemuda itu mengangkat wajah, menatap kegelapan di luar rumah.
Sekilas, ia teringat pada sosok gadis yang dilihatnya di tengah kabut waktu itu. Senyum sayu itu, tatapan yang seolah menyimpan sesuatu, serta keharuman samar yang mengikutinya di antara pepohonan.
Apakah gadis itu benar-benar Rani?
Ataukah ingatannya sedang berusaha menunjukkan sesuatu yang selama ini tak mampu ia pahami?
Arya tak berani memastikan.
Ia hanya tahu bahwa ada bagian dari masa lalunya yang tertinggal di dusun ini, dan buku harian di tangannya telah membuka sedikit celah menuju sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar janji yang tak terpenuhi.
Perlahan, ia menutup buku harian itu.
Di seberang meja, perempuan paruh baya itu kembali duduk. Ia memandang Arya dengan tatapan penuh iba, tetapi tetap menyimpan kata-kata yang belum sanggup diucapkannya.
“Bi,” kata Arya setelah cukup lama terdiam. “Apakah Rani masih tinggal di dusun ini?”
Perempuan itu menundukkan pandangan.
Untuk beberapa saat, ia tidak menjawab.
Kemudian, dengan suara yang hampir menyerupai bisikan, ia berkata, “Ada pertanyaan yang sebaiknya Denmas cari jawabannya sendiri.”
Arya mengernyit.
“Maksud Bibi?”
Perempuan itu mengangkat wajahnya kembali.
“Kalau Denmas benar-benar ingin mengetahui apa yang terjadi, mulailah dari tempat kalian pernah berjanji untuk bertemu.”
Arya terdiam.
“Pohon randu itu masih ada, Den,” lanjutnya. “Tetapi tidak semua yang pernah menunggu di bawahnya masih bisa Denmas temui.”
Kata-kata itu membuat udara di dalam ruangan terasa semakin dingin.
Arya menatap buku harian di pangkuannya, kemudian beralih ke arah jendela yang gelap.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa perjalanan ke dusun kecil ini bukan sekadar dorongan aneh yang tak dapat dijelaskan.
Ada sesuatu yang belum selesai di tempat ini, sesuatu yang mungkin telah lama menunggunya tanpa ia sadari.
Namun, semakin dekat ia merasa dengan masa lalunya, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul.
Siapakah Rani baginya?
Mengapa perempuan itu menunggunya selama bertahun-tahun?
Dan apa yang sebenarnya terjadi pada hari ketika janji tersebut seharusnya ditepati?
Arya belum menemukan jawabannya.
Ia hanya menggenggam buku harian itu erat-erat, seolah benda tua itu merupakan satu-satunya penghubung antara dirinya dan kehidupan yang tak lagi mampu ia ingat.
Di luar, angin malam berembus melewati dedaunan, membawa aroma tanah lembap yang samar.
Dan jauh di dalam benaknya, sebuah nama kembali terdengar, lirih tetapi semakin nyata.
Rani.
Bersambung…
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya