Rumah yang tak menyimpan nama
Pagi telah meninggi ketika sang pemuda akhirnya tiba di sebuah dusunkecil.
Jalan tanah yang semalam ditinggalkannya kini mulai mengering di bawah sinar matahari.
Di sepanjang tepian jalan, genangan air masih tersisa di antara bebatuan, memantulkan cahaya yang bergetar setiap kali langkah-langkah penduduk melintasinya, menyeret pagi ke dalam denyut kehidupan dusun yang perlahan terjaga.
Asap tipis mengepul dari beberapa dapur rumah penduduk. Suara burung saling bersahutan di atas ketinggian pepohonan yang tampak rindang, sementara dari kejauhan seorang perempuan tua menyapu halaman di bawah pohon randu.
Segalanya terlihat biasa.
Terlalu biasa, bahkan, jika dibandingkan dengan malam yang baru saja dilewatinya.
Sang pemuda berjalan perlahan, membiarkan pandangannya menyusuri rumah-rumah yang berjajar di sepanjang jalan. Ia mengenali beberapa di antaranya, meskipun sebagian telah berubah sejak terakhir kali ia memperhatikan perkampungan itu dengan saksama.
Namun, pikirannya tak benar-benar berada di sana.
Sesekali, tangannya meraba saku kemeja, memastikan liontin perak itu masih tersimpan di dalam.
Benda kecil itu terasa seperti beban yang tak seberapa berat, tetapi menyimpan sesuatu yang jauh lebih sulit dipikul.
Sebuah wajah.
Sebuah nama.
Dan sebuah masa lalu yang mulai mengetuk pintu ingatannya.
Rani.
Ia mengucapkan nama itu dalam hati, berulang kali, seolah berharap pengulangan tersebut dapat membuka jalan menuju kenangan yang masih tertutup kabut.
Namun, yang muncul tetaplah serpihan-serpihan yang tak utuh.
Senyum di bawah cahaya senja.
Suara tawa yang terasa akrab.
Dan perasaan kehilangan yang tak dapat ia jelaskan asal-usulnya.
Ia menghela napas, lalu melanjutkan langkah.
Jika ingin menemukan jawaban, ia harus memulainya dari suatu tempat.
Pemuda itu membawa satu tanya yang rapuh: "Barangkali di dusun ini ada seseorang yang dapat kutemui....
"Baiklah,"bisiknya lirih.
Langkahnya mengayun pelan, menuntunnya pada sebuah rumah di ujung jalan berbatu tak jauh dari surau kecil yang dilingkupi teduh pepohonan.
Bangunannya berdiri bersahaja. Dinding kayunya telah legam dan memudar, menyimpan jejak waktu yang terus berputar tanpa pernah berhenti. Atap jerami yang menaungi nya menghitam dimakan usia, seolah telah lama memikul beban musim yang datang dan pergi.”
Namun di tanah yang sama, kontras hadir di halaman depan: deretan tanaman obat dan rumpun bunga dirawat begitu telaten, menyebarkan napas kehidupan di tengah kesunyian.
pemuda itu berhenti di depan pagar bambu.
Rumah itu terasa tidak asing baginya, meski ingatannya tak mampu menjelaskan kapan terakhir kali ia berdiri di sana.
Ia menatap terasnya cukup lama, mencoba mencari sesuatu yang dapat menjelaskan perasaan yang muncul begitu saja.
Lalu, seorang lelaki tua keluar dari samping rumah sambil membawa keranjang berisi kayu bakar.
Rambutnya telah memutih. Punggungnya sedikit membungkuk, tetapi sorot matanya masih tampak tajam.
Lelaki itu mengangkat wajah.
Untuk sesaat, keduanya saling memandang.
Sementara, lelakitua itu menyipitkan mata, seolah sedang memastikan sesuatu yang sulit dipercayainya.
“Kamu?”
Sang pemuda mengangguk pelan.
“Selamat pagi, Pak.”
Lelaki tua itu meletakkan keranjangnya di dekat pagar.
“Sudah lama sekali kamu tidak kemari.”
Ada kehangatan dalam sapaan itu, tetapi juga sesuatu yang membuat sang pemuda merasa tidak sepenuhnya diterima oleh masa lalu yang sedang berusaha ia datangi kembali.
Ia tersenyum canggung.
“Maaf, Pak. Saya… sebenarnya ingin menanyakan sesuatu.”
Lelaki tua itu memperhatikannya dari ujung kepala hingga kaki.
Pakaiannya masih kusut. Sepatunya dipenuhi lumpur kering, sementara wajahnya memperlihatkan kelelahan yang sulit disembunyikan.
“Kamu habis dari mana? Seperti orang yang baru pulang dari perjalanan jauh.”
Sang pemuda terdiam sesaat.
“Dari hutan di belakang sawah, Pak.”
Wajah lelaki tua itu berubah.
“Hutan?”
Ia memandang sang pemuda lebih lama.
“Untuk apa kamu masuk ke sana?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi membuat sang pemuda kembali teringat pada kabut, genangan air, dan sosok gadis yang menghilang di antara pepohonan.
Ia menggeleng pelan.
“Saya sendiri belum tahu bagaimana menjelaskannya.”
Lelaki tua itu tidak segera menjawab.
Angin berembus melewati halaman, menggerakkan dedaunan yang jatuh di atas tanah.
Akhirnya, ia membuka pagar bambu.
“Masuklah dulu. Kamu kelihatan lelah.”
Sang pemuda mengikuti langkahnya menuju teras.
Di sanalah dahulu ia pernah duduk entah berapa lama, meskipun ia tak mampu mengingat kapan terakhir kali mengunjungi rumah itu.
Ketika duduk di bangku kayu, pandangannya tertuju pada sebuah foto lama yang tergantung di sebuah dinding.
Foto itu memperlihatkan beberapa orang berdiri di depan bangunan surauw yang tampak tidak asing baginya.
Wajah-wajah mereka masih muda, dengan pakaian sederhana dan senyum yang tampak begitu lepas.
Sang pemuda bangkit perlahan.
Ia mendekati foto itu dengan langkah tertahan. Ada ketidakpercayaan yang menguasai pikirannya, tetapi perasaan akrab yang muncul justru mendorongnya untuk melihat lebih dekat.
Di antara beberapa wajah yang hampir tak dikenalnya, ada seorang gadis berdiri di barisan depan.
Rambutnya terurai sebahu.
Matanya teduh.
Senyumnya begitu akrab.
Napas sang pemuda tertahan.
Ia mengenali wajah itu.
Rani.
“Pak…” panggilnya lirih.
Lelaki tua yang baru saja meletakkan dua gelas teh di atas meja menoleh.
Sang pemuda menunjuk foto tersebut.
“Perempuan ini… siapa?”
Lelaki tua itu mengikuti arah pandangannya.
Untuk beberapa saat, ia hanya diam.
Kemudian, ia menghela napas panjang.
“Kamu benar-benar sudah lupa, ya?”
Sang pemuda menoleh.
“Apa maksud Bapak?”
Lelaki tua itu menarik kursi, lalu duduk di hadapannya.
“Namanya Rani. Dulu, dia sering datang kemari bersama teman-temannya. Rumah ini pernah menjadi tempat mereka berkumpul, terutama ketika masih sekolah.”
Ia berhenti sejenak, menatap foto itu dengan mata yang mulai menerawang.
“Dan kamu dulu hampir setiap sore datang menjemputnya.”
Sang pemuda terdiam.
Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang seharusnya ia ketahui, sesuatu yang semestinya tidak perlu dijelaskan kepadanya oleh orang lain.
Namun, ingatannya tetap tak memberikan jawaban.
“Saya… sering menjemputnya?”
Lelaki tua itu mengangguk.
“Bukan hanya menjemput. Kamu juga sering duduk di teras itu, menunggunya selesai membantu pekerjaan rumah. Kadang sampai matahari hampir tenggelam.”
Sang pemuda menatap bangku kayu di dekat jendela.
Sekilas, sebuah gambaran muncul dalam pikirannya.
Seorang gadis duduk di sana sambil tertawa kecil.
Seseorang menyodorkan segelas teh.
Dan suara langkah kaki yang terdengar dari halaman.
Namun, gambaran itu terlalu cepat menghilang.
Ia memejamkan mata, berusaha mempertahankannya.
Tak berhasil.
Ketika kembali membuka mata, ia hanya menemukan lelaki tua yang sedang memperhatikannya dengan raut prihatin.
“Kenapa kamu mencari Rani sekarang?”
Pertanyaan itu membuat sang pemuda terdiam lama.
Ia tak tahu harus menjawab apa.
Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa semalam ia mengejar bayangan seorang gadis di tengah hutan, lalu menemukan liontin yang menyimpan foto perempuan yang sama?
Bagaimana mungkin ia menceritakan bahwa suara Rani masih terdengar begitu nyata, meskipun ia tak mampu memastikan apakah pertemuan itu benar-benar terjadi?
Akhirnya, ia merogoh saku kemejanya.
Ia mengeluarkan liontin perak yang telah kusam, kemudian meletakkannya di atas meja.
“Apakah Bapak mengenali benda ini?”
Lelaki tua itu menunduk.
Begitu melihat liontin tersebut, tangannya mendadak berhenti di atas meja.
Ia mengangkatnya dengan hati-hati, mengamati ukiran pada tutupnya, lalu membukanya perlahan.
Foto kecil Rani terlihat di dalamnya.
Wajah lelaki tua itu berubah semakin muram.
“Dari mana kamu mendapatkannya?”
“Di hutan, dekat pohon beringin.”
Lelaki tua itu menutup liontin tersebut.
Beberapa saat ia hanya diam, seolah sedang mempertimbangkan apakah ada sesuatu yang sebaiknya disampaikan atau justru dibiarkan tetap menjadi bagian dari masa lalu.
Akhirnya, ia meletakkan liontin itu kembali di atas meja.
“Benda ini milik Rani.”
Sang pemuda menahan napas.
“Bapak yakin?”
“Sangat yakin.”
Lelaki tua itu mengangguk perlahan.
“Dulu, dia selalu membawanya. Katanya, benda itu menyimpan kenangan yang tak ingin ia kehilangan.”
Sang pemuda menatap liontin tersebut.
“Kenangan tentang siapa, Pak?”
Lelaki tua itu tidak segera menjawab.
Tatapannya beralih ke foto lama di dinding.
Lalu, ia kembali memandang sang pemuda.
“Tentang seseorang yang pernah berjanji akan selalu ada untuknya.”
Dada sang pemuda terasa mengencang.
Ia ingin bertanya lebih jauh, tetapi sesuatu dalam dirinya mendadak terasa berat.
Seseorang yang pernah berjanji.
Seseorang yang selalu menjemputnya.
Seseorang yang mungkin telah meninggalkannya.
Apakah orang itu dirinya?
Ia menelan ludah.
“Pak… apakah saya pernah menyakiti Rani?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja.
Lelaki tua tersebut memandangnya lama.
Tidak ada kemarahan dalam tatapannya. Tidak pula keinginan untuk menghakimi.
Hanya kelelahan seseorang yang telah menyaksikan sebuah kisah berjalan terlalu jauh hingga orang-orang di dalamnya tak lagi mampu memperbaiki apa yang pernah terjadi.
“Ada hal-hal yang tidak bisa dijawab hanya dengan mengatakan siapa yang salah,” katanya pelan.
Ia menarik napas sebelum melanjutkan.
“Kalian masih muda waktu itu. Sama-sama punya harapan, sama-sama punya ketakutan. Kadang, seseorang menyakiti orang lain bukan karena sudah tidak mencintainya, melainkan karena tidak tahu bagaimana menghadapi masalah yang datang.”
Sang pemuda menunduk.
Kata-kata itu tidak memberinya kepastian, tetapi justru membuatnya semakin ingin mengingat.
“Lalu, apa yang terjadi pada Rani?”
Lelaki tua itu memandang ke luar jendela.
“Dia pergi.”
“Pergi ke mana?”
“Itulah yang tidak banyak diketahui orang.”
Suara lelaki tua tersebut semakin pelan.
“Suatu hari, dia meninggalkan kampung ini. Tidak lama setelah itu, kabar tentangnya semakin jarang terdengar. Orang-orang punya kesibukan masing-masing. Waktu berjalan. Dan akhirnya, banyak yang berhenti bertanya.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi sebelum pergi, Rani pernah datang ke rumah ini.”
Sang pemuda mengangkat wajah.
“Kapan, Pak?”
“Sudah lama sekali.”
Lelaki tua itu mengusap dagunya, mencoba mengingat.
“Dia duduk di teras, di tempat kamu sekarang duduk. Waktu itu hujan turun cukup deras. Dia membawa tas kecil dan terlihat seperti baru saja menangis.”
Sang pemuda tak bergerak.
“Dia tidak banyak bercerita. Hanya mengatakan bahwa ada seseorang yang belum memenuhi janjinya.”
Ruangan itu terasa semakin sunyi.
“Lalu, sebelum pulang, dia bertanya kepada saya apakah seseorang bisa benar-benar melupakan orang yang pernah dicintainya.”
Lelaki tua itu tersenyum tipis, tetapi senyum tersebut menyimpan kesedihan.
“Saya menjawab bahwa manusia bisa melupakan banyak hal, tetapi tidak selalu bisa menghapus akibat dari apa yang pernah dilakukannya.”
Sang pemuda menunduk semakin dalam.
Ada sesuatu yang mulai bergerak di balik ingatannya.
Sebuah sore.
Langit mendung.
Seorang gadis berdiri di ujung pematang, menunggunya datang.
Dan dirinya sendiri, berjalan menjauh sambil meyakinkan diri bahwa masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya nanti.
Namun, gambaran itu kembali terputus.
Ia membuka mata dengan napas berat.
“Pak, apakah Rani masih hidup?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar.
Lelaki tua itu terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Sejujurnya, saya tidak tahu.”
Jawaban tersebut terasa sederhana, tetapi justru itulah yang membuatnya begitu menyakitkan.
Tidak ada kabar kematian.
Tidak ada kepastian bahwa Rani masih berada di suatu tempat.
Tidak pula jawaban yang dapat mengakhiri penantiannya.
Hanya ketidaktahuan yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Sang pemuda menggenggam liontin di atas meja.
Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa menemukan benda peninggalan Rani tidak berarti menemukan Rani itu sendiri.
Ia telah mendapatkan sebuah petunjuk, tetapi belum menemukan kebenaran yang dicarinya.
“Kalau saya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, saya harus mulai dari mana?”
Lelaki tua itu mengangkat wajah.
“Mulailah dari dirimu sendiri.”
Sang pemuda terdiam.
“Jangan hanya mencari tahu ke mana Rani pergi,” lanjut lelaki tua itu. “Cobalah mengingat mengapa dia harus pergi. Kadang, kita terlalu sibuk mencari orang yang hilang sampai lupa bertanya apakah kita sendiri pernah menjadi alasan kepergiannya.”
Kalimat itu menghantam sesuatu di dalam dadanya.
Ia tidak membantah.
Tidak pula mencoba mencari pembenaran.
Sebab, untuk pertama kalinya, kemungkinan bahwa dirinya pernah melukai Rani terasa lebih nyata daripada ketakutannya terhadap misteri hutan.
Ia memasukkan kembali liontin ke dalam saku.
Kemudian, pemuda itu berdiri dan berpamitan.
Sebelum sang pemuda melangkah keluar, lelaki tua itu memanggilnya sekali lagi.
“Tunggu.”
Ia berbalik.
Lelaki tua tersebut menunjuk sebuah rumah yang terletak di seberang jalan, sebagian tersembunyi di balik pepohonan yang tampak lebat.
“Kalau kamu sungguh ingin mengingat semuanya, temuilah seseorang di rumah itu.”
pemuda itu mengikuti arah telunjuknya.
“Siapa beliau?”
“Orang yang paling sering melihat kalian bersama dahulu.”
Lelaki tua itu menatapnya dengan sungguh-sungguh.
“Dan mungkin, satu-satunya orang yang masih menyimpan sesuatu yang pernah ditinggalkan Rani.”
Sang pemuda terdiam.
Angin pagi berembus melewati halaman, membawa aroma tanah yang mulai mengering.
Ia menatap rumah di seberang jalan itu cukup lama.
Di dalam dadanya, rasa penasaran kembali tumbuh. Namun, kali ini bukan semata-mata keinginan untuk mengejar sosok yang menghilang di balik kabut.
Ia ingin mengetahui siapa dirinya dalam kisah Rani.
Apakah ia pernah menjadi tempat gadis itu pulang?
Ataukah justru dirinya yang membuat Rani kehilangan tempat untuk kembali?
Ia belum memiliki jawaban.
Namun, ia tahu bahwa perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.
Dengan langkah perlahan, ia menyeberangi jalan menuju rumah yang ditunjuk lelaki tua tadi.
Sementara liontin perak di dalam sakunya berayun mengikuti gerakan tubuhnya, membawa sebuah nama yang tak lagi ingin ia biarkan terkubur.
Ia tak lagi ingin mengejar bayangan. Ia ingin menemukan kebenaran yang selama ini bersembunyi di balik kabut ingatannya.
Sebab apa yang tampak samar bukan berarti tidak menyimpan sesuatu.
Bersambung....