Entri yang Diunggulkan
DUA JIWA, SATU TAKDIR...eps.3
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Liontin Kenangan
Malam perlahan kehilangan pekatnya.
Di balik rimbunnya kanopi hutan, semburat cahaya fajar mulai merayap, menembus sela-sela dedaunan yang basah oleh embun.
Kabut yang sejak semalam mencengkeram pepohonan perlahan menipis, menyisakan selimut putih yang menggantung rendah di antara batang-batang tua.
Di bawah sebuah pohon beringin berakar besar, sang pemuda masih tersimpuh lesu dan tanpa sadar tubuhnya bersandar pada batang yang lembap.
Ia tak tahu berapa lama telah berlalu sejak sosok Rani menghilang di balik pusaran kabut.
Malam terasa begitu panjang, seolah waktu sengaja berhenti untuk membiarkannya berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu ia jawab.
Kata-kata terakhir gadis itu terus terngiang di telinganya.
Pulanglah… sebelum kau mengingat semuanya.
Apa sebenarnya yang harus ia ingat?
Mengapa nama Rani terasa begitu dekat, sementara wajah dan suaranya seolah berasal dari kehidupan yang telah lama terkubur?
Sang pemuda menunduk, menatap kedua tangannya yang kotor oleh lumpur.
Di antara jemarinya, kelopak cempaka putih yang semalam ia genggam telah layu, warnanya memudar oleh embun dan sisa hujan.
Ia menghela napas panjang.
Barangkali ia hanya perlu meninggalkan tempat itu. Kembali ke perkampungan, menjauh dari hutan yang telah menguras tenaga sekaligus mengacaukan pikirannya.
Namun, ketika ia hendak bangkit, sesuatu di dekat kakinya memantulkan cahaya fajar.
Sebuah kilau kecil muncul di antara tumpukan daun basah.
Ia berhenti.
Dengan gerakan perlahan, ia menyingkirkan dedaunan yang menutupinya.
Di bawah lapisan tanah lembap, tampak sebuah liontin perak usang yang tergantung pada seutas tali kusam.
Benda itu kecil, permukaannya telah menghitam di beberapa bagian, tetapi ukiran pada tutupnya masih terlihat samar.
Entah mengapa, dadanya mendadak terasa sesak.
Ia mengenali benda itu.
Bukan sekadar karena bentuknya, melainkan karena perasaan aneh yang muncul begitu jemarinya menyentuh permukaan logam yang dingin.
Seolah benda tersebut pernah begitu dekat dengannya.
Seolah ia pernah menggenggamnya dalam keadaan yang jauh berbeda dari pagi itu.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengangkat liontin tersebut, membersihkan sisa tanah yang menempel pada permukaannya.
Lalu, perlahan, ia membuka tutupnya.
Di dalam tersimpan sebuah foto kecil yang warnanya telah memudar dimakan waktu.
Seorang gadis tersenyum di dalam bingkai mungil itu.
Rambutnya terurai lembut. Matanya teduh, sementara senyum tipis di bibirnya menyimpan kehangatan yang terasa begitu akrab.
Sang pemuda membeku.
Ia mengenali wajah itu.
Wajah yang semalam muncul di balik kabut.
Wajah yang menatapnya dari permukaan genangan air.
Wajah yang memanggilnya untuk mengingat sesuatu yang bahkan tak lagi mampu ia temukan dalam pikirannya sendiri.
“Rani…”
Nama itu keluar dalam bisikan yang bergetar.
Kali ini, nama tersebut tidak terasa asing.
Justru sebaliknya.
Ia seperti mendengar gema dari sebuah masa yang pernah menjadi bagian paling berharga dalam hidupnya.
Jemarinya mengusap tepi foto itu dengan hati-hati. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali melihat liontin tersebut, siapa yang menyimpannya, dan bagaimana benda itu bisa tertinggal di tengah hutan.
Namun, ingatan tidak datang sebagai jawaban yang utuh.
Ia hanya menerima serpihan-serpihan kecil.
Sebuah sore dengan langit berwarna keemasan.
Hamparan pematang sawah yang membentang di antara rerumputan.
Tawa seorang gadis yang terdengar ringan di tengah desir angin.
Dan sebuah janji yang pernah diucapkan dengan keyakinan bahwa waktu tak akan pernah mampu memisahkan dua orang yang saling menyayangi.
Sang pemuda memejamkan mata.
Gambaran-gambaran itu terasa begitu dekat, tetapi setiap kali ia berusaha menangkapnya, semuanya kembali buyar seperti kabut yang tersapu angin.
Ia membuka mata dengan napas tertahan.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada kita,?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Hutan tak memberikan jawaban.
Hanya suara tetesan embun yang jatuh dari ujung dedaunan, mengiringi kesunyian yang perlahan berubah menjadi pagi.
Sang pemuda kembali menatap foto di dalam liontin.
Kini ia menyadari bahwa pencariannya semalam mungkin bukan sekadar perjalanan untuk menemukan seorang gadis yang menghilang di ujung pematang.
Ada sesuatu yang lebih dalam.
Sesuatu yang telah lama tertinggal di belakang langkah-langkah kehidupannya, terkubur oleh waktu, kesibukan, dan berbagai keputusan yang pernah ia ambil.
Mungkin ia telah terlalu lama berjalan menjauh hingga lupa bahwa ada bagian dari dirinya yang belum pernah benar-benar pulang.
Ia menggenggam liontin itu erat-erat.
Dahulu, ia mungkin pernah percaya bahwa melupakan adalah cara terbaik untuk meninggalkan luka.
Bahwa selama waktu terus berjalan, kenangan akan kehilangan kekuatannya dan segala sesuatu yang menyakitkan pada akhirnya akan menghilang dengan sendirinya.
Namun, pagi itu mengajarinya sesuatu yang berbeda.
Kenangan tidak selalu lenyap hanya karena seseorang berhenti membicarakannya.
Kadang-kadang, kenangan hanya berdiam di sudut terdalam pikiran, menunggu saat ketika seseorang cukup berani untuk menoleh kembali.
Dan mungkin, yang selama ini ia hindari bukanlah Rani.
Melainkan dirinya sendiri ketika masih menjadi seseorang yang pernah mencintai gadis itu.
Angin pagi berembus lembut, mengibaskan sisa kabut di antara akar-akar beringin.
Sang pemuda mengangkat wajah.
Cahaya matahari mulai menyentuh tanah lapang, menerangi tempat yang semalam terasa begitu asing dan menakutkan.
Pepohonan yang sebelumnya tampak seperti penjaga bisu kini terlihat tak lebih dari pohon-pohon tua yang berdiri di tengah hutan.
Namun, ketenangan pagi itu tidak serta-merta menghapus pertanyaan yang masih tersisa.
Ia belum mengetahui mengapa liontin tersebut berada di sana.
Ia belum memahami apa yang sebenarnya terjadi pada malam sebelumnya.
Dan ia belum tahu apakah Rani yang dilihatnya merupakan sosok yang benar-benar hadir atau kenangan yang mengambil rupa dalam kesunyian hutan.
Tetapi setidaknya, kini ia memiliki sesuatu yang dapat disentuh.
Sesuatu yang nyata.
Sebuah liontin tua dengan foto seorang gadis yang pernah begitu berarti baginya.
Ia memasukkan benda itu ke dalam saku kemejanya, tepat di dekat dadanya.
Kemudian, dengan gerakan perlahan, ia berdiri.
Tubuhnya masih terasa letih.
Pakaiannya kusut dan lembap, sementara kedua kakinya dipenuhi lumpur setelah semalaman menyusuri jalur hutan yang tak dikenalnya.
Ia menoleh ke belakang, ke arah tempat kabut terakhir kali menelan sosok Rani.
Tak ada siapa-siapa di sana.
Hanya pepohonan, akar-akar tua, dan jalan setapak yang perlahan mulai terlihat di bawah cahaya pagi.
Untuk sesaat, ia ingin memanggil nama gadis itu sekali lagi.
Namun, ia mengurungkan niatnya.
Ia tak ingin kembali mengejar bayangan tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya sedang dicarinya.
Kali ini, ia memilih pulang.
Perjalanan keluar dari hutan terasa berbeda.
Jalur yang semalam tampak seperti labirin tanpa ujung kini perlahan membuka jalan. Cahaya fajar menuntunnya melewati rumpun bambu, akar-akar yang melintang, serta semak belukar yang basah oleh sisa hujan.
Beberapa kali ia berhenti untuk memastikan arah.
Sesekali, tangannya menyentuh saku kemeja, memastikan liontin itu masih berada di sana.
Benda kecil tersebut seolah menjadi pengingat bahwa malam yang baru saja dilaluinya bukan sesuatu yang dapat begitu saja ia abaikan.
Setelah berjalan cukup lama, ia akhirnya melihat cahaya terbuka di antara pepohonan.
Ia mempercepat langkah.
Dan tak lama kemudian, batas hutan pun terlewati.
Di hadapannya, hamparan sawah kembali terbentang luas.
Pematang tanah liat yang semalam ia tinggalkan kini disinari cahaya pagi.
Butiran embun berkilauan di ujung helai rumput, sementara aroma tanah basah dan jerami menyambutnya dengan keakraban yang sulit dijelaskan.
Sang pemuda berhenti di tempat yang sama.
Tempat ketika semuanya bermula.
Ia menatap ujung pematang, tempat pertama kali melihat sosok gadis yang kemudian membawanya masuk ke dalam hutan.
Tak ada bayangan putih.
Tak ada senyum tipis di antara kabut.
Tak ada pula suara lirih yang memanggilnya untuk mengingat.
Hanya hamparan sawah yang terbentang tenang di bawah langit pagi.
Ia menarik napas panjang, membiarkan udara segar memenuhi dadanya.
Entah mengapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak perlu memaksakan jawaban atas segala sesuatu yang belum dipahaminya.
Mungkin beberapa pertanyaan memang membutuhkan waktu.
Mungkin ada kenangan yang tidak bisa dipulihkan hanya dengan sekali membuka mata.
Dan mungkin, ada kehilangan yang tidak harus dihapus agar seseorang bisa kembali menjalani hidupnya.
Tangannya meraba liontin di dalam saku.
Di balik benda kecil itu, tersimpan wajah Rani dan sebagian kisah yang belum sepenuhnya ia ingat.
Ia belum tahu apakah suatu hari nanti akan mampu mengingat semuanya.
Namun, pagi itu ia memahami satu hal: melanjutkan hidup tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu sejauh mungkin.
Terkadang, seseorang perlu berani menoleh ke belakang, mengakui apa yang pernah terjadi, lalu menerima bahwa waktu tidak pernah benar-benar berjalan mundur.
Sang pemuda memejamkan mata sejenak.
Angin pagi menyentuh wajahnya, membawa aroma rumput basah dan keharuman samar bunga cempaka yang entah berasal dari mana.
Senyum tipis terbit di bibirnya.
Bukan senyum seseorang yang telah menemukan seluruh jawaban, melainkan senyum seseorang yang akhirnya bersedia menerima bahwa masih ada hal-hal yang belum ia mengerti.
Ia kemudian melangkah meninggalkan pematang.
Di belakangnya, sawah tetap terbentang, sementara hutan berkabut berdiri diam di kejauhan, menyimpan rahasia yang belum selesai diceritakan.
Dan di antara keduanya, seorang pemuda berjalan pulang dengan sebuah liontin tua di dalam saku serta kenangan yang perlahan mulai menemukan jalannya kembali.
Rani
Di antara seberkas cahaya pagi dan barisan ilalang yang basah,
engkau melangkah pergi menuju ujung dunia yang tak terarah.
Tanpa pesan, tanpa sapaan terakhir yang tertinggal,
namamu kini hanya angin yang berbisik di pelataran.
Entah di belahan bumi mana ragamu berteduh,
di bawah langit asing yang mungkin menyimpan kisah pilu.
Kuajak sepi berbicara, menitipkan doa pada rembulan malam,
“Semoga engkau di sana baik-baik saja, dalam langkah dan harapan.”
Waktu telah mengalir, merajut kembali hari-hari yang nyaris patah,
menyembuhkan luka dengan kesabaran yang perlahan menghapus darah.
Hati ini telah belajar ikhlas, berdamai dengan perih yang pernah merajam,
namun sisa hangat dekapmu… sungguh, tak pernah sirna ditelan malam.
Engkau tinggal sebagai pijar kecil di dalam dada,
abadi dalam kenangan, meski rupa dan suaramu kini hanya gema.
Dan bila suatu hari angin kembali membawa namamu,
biarlah ia singgah sejenak tanpa harus mengembalikan waktu.
Bersambung…
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya