Pagi datang seperti biasa.
Tidak ada yang berubah di rumah itu.
Cahaya matahari masuk dari sela-sela tirai. Suara kendaraan sesekali terdengar dari jalan depan. Gadis itu sibuk menyiapkan sarapan, sementara lelaki itu duduk di meja sambil memandangi secangkir kopi yang sejak tadi tidak disentuh.
Namun sejak malam tadi, ada sesuatu yang berbeda di dalam pikirannya.
Bukan rasa curiga.
Bukan pula cemburu.
Hanya sebuah rasa ingin tahu yang semakin sulit ia abaikan.
Lelaki pertama.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Bukan Dimas.
Bukan lelaki yang pernah ia dengar sebelumnya.
Seseorang yang bahkan namanya belum ia ketahui.
“Kenapa diam?”
Suara gadis itu membuat lamunannya terputus.
“Enggak.”
“Dari tadi bengong.”
Lelaki itu tersenyum.
“Lagi mikir.”
“Mikir apa?”
Ia menatap gadis itu beberapa detik.
Kemudian tersenyum lagi.
“Enggak jadi.”
Gadis itu mengernyit.
“Kamu aneh.”
“Katanya aku memang aneh.”
Gadis itu tertawa kecil lalu kembali sibuk.
Percakapan sederhana itu seharusnya selesai.
Tetapi beberapa menit kemudian lelaki itu berkata,
“Laras.”
“Hm?”
“Orang yang di foto itu...”
Gerakan tangan gadis itu berhenti.
Hanya sebentar.
Kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Kenapa?”
“Namanya siapa?”
Tidak ada jawaban.
Lelaki itu tidak mengulang pertanyaannya.
Ia hanya menunggu.
Beberapa detik kemudian, gadis itu menarik napas pelan.
“Namanya Arga.”
Nama itu akhirnya keluar.
Sederhana.
Pendek.
Namun entah mengapa, setelah mendengarnya, lelaki itu merasa seperti baru saja menemukan potongan puzzle yang selama ini hilang.
“Arga.”
“Iya.”
“Dulu kalian pacaran?”
Gadis itu tersenyum kecil.
“Kalau bukan pacaran, menurutmu apa?”
“Enggak tahu.”
“Ya... pacaran.”
“Berapa lama?”
Gadis itu terdiam sebentar.
“Lumayan lama.”
“Lebih lama dari Dimas?”
Gadis itu menatapnya.
“Kok kamu tahu Dimas?”
“Kan kamu yang cerita.”
Gadis itu tersenyum.
“Lebih lama.”
Lelaki itu mengangguk.
Tidak bertanya lagi.
Tetapi kali ini justru gadis itu yang melanjutkan.
“Arga itu...”
Ia berhenti.
Seperti sedang mencari kata yang tepat.
“Dia orang pertama yang membuatku merasa...”
Kalimatnya menggantung.
“Merasa apa?”
Gadis itu menatap meja.
“Merasa tenang.”
Lelaki itu terdiam.
Kata itu terdengar sederhana.
Tetapi ia pernah mendengar kata yang sama dari mulut gadis itu sebelumnya, dalam berbagai bentuk.
Tenang.
Nyaman.
Tidak perlu berpura-pura.
Seolah-olah berada di samping seseorang dan tidak harus menjadi siapa-siapa selain dirinya sendiri.
“Cuma itu?”
Gadis itu menggeleng.
“Bukan cuma itu.”
“Terus?”
Ia tersenyum kecil.
“Aku susah menjelaskannya.”
“Coba.”
“Kadang memang nggak semua hal bisa dijelaskan.”
Lelaki itu tersenyum.
“Jawabanmu selalu begitu.”
“Karena memang begitu.”
Mereka terdiam.
Dari luar terdengar suara burung dan bising kendaraan yang semakin ramai.
Lelaki itu kemudian bertanya lagi.
“Kenapa putus?”
Kali ini senyum gadis itu perlahan menghilang.
Ia tidak langsung menjawab.
“Karena waktu itu kami masih muda.”
“Cuma itu?”
“Tidak.”
“Terus?”
Gadis itu menghela napas.
“Banyak hal.”
“Misalnya?”
Gadis itu menatap lelaki di depannya.
“Dia ingin sesuatu yang aku belum siap berikan.”
Lelaki itu mengernyit.
“Apa?”
Gadis itu tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, ia terlihat benar-benar ragu.
“Bukan sesuatu yang buruk,” katanya akhirnya.
“Lalu?”
“Dia ingin hubungan kami dibawa lebih jauh.”
Lelaki itu diam.
Ia tidak mengejar jawaban itu lebih jauh.
Ia tahu ada bagian tertentu dari masa lalu yang tidak perlu dibongkar hanya karena rasa penasaran.
Namun gadis itu justru berkata,
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kalau aku salah memilih.”
Lelaki itu menatapnya.
“Dan akhirnya kamu memilih pergi?”
Gadis itu menggeleng pelan.
“Bukan aku yang pergi.”
Jawaban itu membuat suasana berubah.
“Dia?”
Gadis itu mengangguk.
“Dia yang pergi.”
“Karena kamu belum siap?”
“Entahlah.”
Kembali sebuah jawaban yang sama.
Entahlah.
Tetapi kali ini lelaki itu mulai memahami bahwa kata itu mungkin bukan berarti si gadis tidak tahu.
Mungkin ada beberapa jawaban yang terlalu rumit untuk disederhanakan menjadi satu kalimat.
“Setelah dia pergi, kalian pernah bertemu lagi?”
Gadis itu menggeleng.
“Tidak.”
“Benar-benar tidak pernah?”
“Pernah.”
Lelaki itu tersenyum tipis.
“Katanya tidak pernah.”
“Ya... maksudku tidak pernah bicara.”
“Kapan?”
“Beberapa tahun setelah itu.”
“Terus?”
“Cuma berpapasan.”
“Ngomong?”
Gadis itu menggeleng.
“Tidak.”
“Kenapa?”
Gadis itu tersenyum kecil.
“Karena waktu itu kami sudah menjadi orang yang berbeda.”
Kalimat itu membuat lelaki tersebut terdiam.
Ia memandang gadis di depannya cukup lama.
Untuk pertama kalinya, ia mulai melihat bahwa kisah masa lalu itu bukan sekadar tentang seorang lelaki yang pernah dicintai.
Ada sebuah masa.
Ada seorang gadis muda.
Ada keputusan yang pernah dibuat.
Dan ada sesuatu yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai, meskipun hubungan mereka telah berakhir.
Lelaki itu kemudian bertanya pelan,
“Kalau kamu bisa kembali ke masa itu...”
Gadis itu menatapnya.
“Kamu akan memilih Arga?”
Gadis itu tidak langsung menjawab.
Lama.
Sangat lama.
Kemudian ia tersenyum.
“Kalau aku kembali sebagai diriku yang sekarang?”
“Iya.”
Gadis itu memandang ke luar jendela.
“Pertanyaanmu susah.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak tahu apakah aku akan memilih dia... atau memilih diriku sendiri.”
Lelaki itu terdiam.
Jawaban itu terasa lebih dalam daripada yang ia duga.
Gadis itu lalu menoleh kepadanya.
“Tapi ada satu hal yang aku tahu.”
“Apa?”
“Kalau aku tidak pernah bertemu Arga... mungkin aku tidak akan menjadi diriku yang sekarang.”
Lelaki itu tersenyum kecil.
“Berarti dia penting.”
Gadis itu mengangguk.
“Penting.”
“Masih?”
Gadis itu berpikir sebentar.
“Sebagai bagian dari hidupku, iya.”
“Sebagai seseorang yang masih kamu inginkan?”
Gadis itu langsung menatapnya.
“Tidak.”
Jawabannya kali ini tegas.
Lelaki itu mengangguk.
Ia percaya pada jawaban itu.
Namun entah mengapa, setelah percakapan tersebut, satu hal justru semakin mengganggunya.
Bukan tentang apakah gadis itu masih mencintai Arga.
Melainkan...
apa sebenarnya yang membuat seorang perempuan mengingat seseorang bukan karena ingin kembali kepadanya, tetapi karena sebagian dari dirinya terbentuk ketika bersama orang itu?
Dan mungkin, tanpa disadari gadis itu sendiri...
jawaban dari pertanyaan tersebut akan membawa mereka kepada bagian masa lalu yang jauh lebih dalam.
Karena Arga bukan hanya lelaki pertama yang pernah dicintainya.
Ia adalah lelaki yang datang pada saat gadis itu bahkan belum mengenal dirinya sendiri.
Dan terkadang...
orang pertama yang mengenalkan kita pada rasa tertentu akan meninggalkan jejak yang tidak bisa dihapus hanya dengan berlalunya waktu.