Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.4

Pagi itu turun dengan perlahan, seperti seseorang yang tak ingin membangunkan rumah yang sedang berduka. Ia bangun tanpa terburu-buru, tanpa mimpi semalam, tanpa beban yang memaksa dada bergetar. Hanya ada keheningan jenis keheningan yang dulu menakutkan, tapi kini terasa seperti ruang kosong yang menunggu diisi sesuatu yang baru. Sudah tiga hari sejak ia kembali. Sudah tiga hari sejak dunia yang ia genggam retak dan pecah tanpa suara. Tiga hari yang awalnya ia kira akan menjadi neraka, tapi justru menjadi cermin yang memantulkan siapa dirinya sebenarnya. Patah hati, rupanya, bukan akhir. Hanya transisi. Hanya ruang untuk bertumbuh. Ia berjalan tanpa tujuan, mengikuti jalan desa yang dulu mengikat kenangan. Melewati pematang sawah yang hijau, udara pagi yang dingin, dan jejak-jejak kecil masa lalu yang bertebaran seperti daun kering. Dulu setiap sudut memanggil sakit. Sekarang hanya memanggil ingatan. Dan ia tersenyum, kecil sekali, hampir tak terlihat. Bukan senyum bahagia. Bukan seny...

PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.3

Sudah tiga bulan berlalu sejak pesan terakhir yang tak dibalas itu. Di papan kalender kecil di dinding kontrakan, setiap tanggal yang ditandai lingkaran merah kini mulai memudar warnanya. Ia masih menghitung hari bukan karena janji, tapi karena rindu yang belum menemukan ujung. Sore itu, ia menerima kabar dari teman sekampung.                            "Katanya gadismu sering terlihat sama seseorang… yang itu, karibmu sendiri." Kata-kata itu datang ringan, tapi menancap seperti paku di dada. Ia terdiam lama. Lalu tersenyum kecut.                    “Ah, mungkin cuma salah lihat,” katanya pelan. Namun, malam itu, ia tak bisa memejamkan mata. Ia mencoba menulis surat balasan tapi setiap kalimat berhenti di tengah.               "Aku percaya padamu"  terasa terlalu berat, sedangkan              ...

PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.1

Sore itu, langit berwarna tembaga. Matahari seperti enggan tenggelam, seolah tahu ada dua hati yang sebentar lagi akan berpisah. Di bawah pohon di halaman rumahnya, ia berdiri dengan raut wajah yang sulit disembunyikan antara tekad dan kesedihan.   “Lima bulan saja,” ucapnya pelan. “Lima bulan aku pergi, lalu kembali membawa harapan untuk kita.”   Perempuan di depannya menunduk. Jarinya bermain di ujung kain, menahan getar yang tak bisa diucapkan. “Kenapa harus sejauh itu?” tanyanya nyaris berbisik. “Karena di sini aku tak bisa menjanjikan apa-apa,” jawabnya, menatap lurus ke mata kekasihnya.  “Aku ingin sesuatu yang layak untukmu.”  Suasana hening sejenak. Hanya suara burung sore yang berbalas di kejauhan, seakan ikut menahan napas. Ia melangkah satu langkah lebih dekat.  “Percayalah padaku, aku akan kembali. Aku janji, tidak akan ada yang bisa menggantikanmu di hati ini.” Perempuan itu tersenyum tipis, senyum yang berusaha tegar, tapi matanya basah....

PENGORBANAN SEBUAH JANJI...eps.2

Malam di kota itu tak pernah benar-benar sepi. Lampu-lampu jalan berbaris seperti bintang buatan, dan suara kendaraan menjadi musik yang tak pernah berhenti. Bagi sebagian orang, itu pertanda kehidupan. Bagi dia, itu pengingat bahwa ia jauh dari rumah. Tiga minggu sudah berlalu sejak kepergiannya. Surat-suratnya belum sempat dikirim terlalu lelah setiap pulang dari kerja. Ia bekerja pagi,siang dan malam di salah satu sudut kota, tempat suara jalanan lalulalang beradu jadi irama harian. Tangannya penuh luka kecil, tapi ia selalu tersenyum. Setiap kali hawa aspal jalan yang panas sesekali menyambar, yang ia lihat bukan rasa gerah di badan ,melainkan wajah seseorang yang menunggu di kejauhan. Kadang saat malam turun, ia keluar ke beranda kontrakannya yang sempit. Menatap langit tanpa bintang, ia membayangkan desa nya yang teduh. Bayangan itu sederhana: Gadis itu itu menyapu halaman, menatap jalanan yang kosong, berharap ada bayangan dirinya datang di ujung sore. Tapi seiring waktu, rasa s...