Jumat, 24 April 2026

arsip luka yang tak pernah usang

Di sudut ingatan yang berdebu,
aku menemukan diriku
terlipat seperti surat lama
yang tak pernah sempat dikirimkan.
Waktu adalah hujan yang tak tahu berhenti,
ia meluruhkan wajah-wajah
yang dulu kupanggil rumah
kini tinggal bayang di kaca retak.
Aku berjalan di lorong kenangan,
dindingnya dilapisi suara tawa
yang telah berubah menjadi gema,
dingin, dan asing.
Hatiku adalah jam tua
yang jarumnya patah di detik perpisahan,
berdetak hanya untuk mengulang
apa yang tak bisa diperbaiki.
Dan kau
adalah senja yang terlalu cepat tenggelam,
meninggalkan langitku
dalam warna yang tak sempat kupahami.
Kini aku hanya penjaga museum luka,
mengelap debu dari kenangan
yang terus hidup,
meski aku sudah lama mati di dalamnya.

Label: